Radar TNI AD

Radar TNI AL

Radar TNI AU

Radar Terbaru

Boustead Heavy Industries Corp Bhd's (BHIC) Dapatkan Kontrak dari Kementerian Pertahanan Malaysia

TLDM
Frigat TLDM 

Boustead Heavy Industries Corp Bhd's (BHIC) anak perusahaan dari BHIC Defence Techservices Sdn Bhd telah mendapatkan kontrak senilai RM19,5 juta dari Kementerian Pertahanan Malaysia untuk penyediaan dan pengiriman komunikasi untuk frigat Skuadron 23 Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM).
Dalam sebuah pengajuan yang telah dilakukan kemarin, pihak BHIC mengatakan kontrak diadakan untuk periode dua tahun dan kontrak formal antara pemerintah dan perusahaan akan ditandatangani di kemudian hari.
"Kontrak tersebut tidak akan berdampak material terhadap pendapatan perusahaan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2017 namun akan memberikan kontribusi positif bagi pendapatan grup BHIC di masa depan," katanya. (TSM)

Jepang Tunda Pengembangan Pesawat Tempur Stealth Baru

X-2 "Shinshin"
X-2 "Shinshin" 

Jepang akan menunda keputusan untuk mengembangkan jet tempur generasi kelima yang baru, menurut laporan media.
Jepang memulai program pengembangan pesawat tempur stealth sendiri pada tahun 2000an setelah Amerika Serikat
menolak untuk menjual pesawat tempur stealth superioritas udara Lockheed-Martin F-22 Raptor. Pada bulan April 2016, pesawat tempur demonstrasi teknologi eksperimental generasi kelima Mitsubishi Heavy Industries X-2 "Shinshin" (sebelumnya ATD-X) terbang ke angkasa untuk pertama kalinya.
Prototipe X-2 berfungsi sebagai dasar pengembangan pesawat tempur stealth Jepang yang dirancang secara mandiri, yang dinamai sebagai F-3. Prototipe pesawat tersebut melakukan lusinan penerbangan uji coba pada tahun 2016 dan 2017. Pada awalnya uji terbang dijadwalkan selesai pada tahun 2018, dengan pesawat F-3 pertama akan mengangkasa pada tahun 2027.
Namun, "arahannya adalah keputusan F-3 untuk ditunda," kata satu narasumber yang mengetahui program tersebut kepada Reuters.
Dengan memulai program F-3, tujuan Jepang yang pertama dan terutama adalah untuk menguji kapasitas industri pesawat terbangnya untuk mengembangkan pesawat tempur stealth termasuk mesin jet next generation. Pejabat Jepang telah mengindikasikan pada tahun 2016 bahwa keputusan akhir tentang masa depan program F-3 kemungkinan tidak akan dilakukan sampai sekitar tahun 2018. "Mengenai keputusan F-3, termasuk pilihan apakah kita akan menundanya, kita belum sampai pada kesimpulan apapun," kata juru bicara Badan Pengadaan Teknologi dan Logistik (Acquisition Technology & Logistics Agency - ATLA) Departemen Pertahanan Jepang kepada Reuters minggu ini.
Pemerintah Jepang melihat program tempur stealth dalam negeri ini sebagai salah satu dari banyak pilihan.
Jepang direncanakan akan membeli hingga 100 pesawat tempur superioritas udara generasi kelima baru pada tahun 2030an. Diperkirakan kontrak senilai $ 40 miliar diharapkan akan diberikan pada musim panas 2018.
Jepang memiliki tiga pilihan untuk pengadaan pesawat baru tersebut: "Pertama, mengembangkan pesawat tempur superioritas dalam negeri. Kedua, bermitra dengan kontraktor pertahanan asing dan memproduksi secara lisensi pesawat baru. Ketiga, mengimpor atau mengupgrade platform yang ada." Studi bersama Inggris-Jepang memilih pilihan kedua untuk bermitra dengan pembuat pesawat luar negeri.
Namun, pembuat pesawat Amerika Serikat akan tetap menjadi pilihan utama bagi Jepang untuk proyek pengembangan bersama jet tempur masa depan.
Keputusan mengenai masa depan program F-3 akan dibuat dalam enam bulan pertama tahun 2018. Jika tidak, akan terlambat untuk memasukkan program tersebut dalam rencana pertahanan lima tahun kementerian pertahanan Jepang yang baru, yang akan dirilis pada akhir tahun depan. Sementara itu, Japan Air Self-Defense Force (JASDF) akan mulai mengoperasikan total 42 F-35A ke dalam jajarannya pada tahun-tahun mendatang.(Franz-Stefan Gady) (Angga Saja - TSM)

AD Korea Selatan Uji Tembak Rudal Hellfire dari Helikopter Apache

Korea Selatan Uji Tembak Rudal Hellfire
Korea Selatan Uji Tembak Rudal Hellfire  

Angkatan Darat Korea Selatan melakukan uji penembakan rudal udara-ke-permukaan Hellfire yang diluncurkan dari delapan helikopter serang Apache pada hari Senin (13/11).
Masing-masing helikopter tersebut menembakkan satu rudal Hellfire pada fasilitas penembakan di perairan di lepas pantai barat kota Gunsan, menurut pihak AD Korea Selatan sebagaimana dilaporkan oleh Yonhap pada hari Senin.
Helikopter-helikopter itu terbang sejauh 60 kilometer sebelum menembak dan semuanya tepat mengenai sasaran di laut. Rudal Hellfire diluncurkan dari jarak yang berbeda dan dengan cara yang berbeda sehingga pilot dapat lebih mengenal peluru kendali tersebut dengan baik, kata pihak AD Korea Selatan.
Angkatan Darat meresmikan 36 helikopter Apache yang diproduksi oleh Boeing pada bulan Mei tahun lalu dan mengoperasikannya pada bulan Januari 2017.
Empat helikopter Apache lainnya juga mengikuti latihan live-fire sebagai pesawat komando dan pesawat cadangan.
"Sesuai dengan namanya, Hellfire adalah peluru kendali yang kuat yang benar-benar dapat menghancurkan sasaran musuh. Ini adalah pertama kalinya militer Korea Selatan melakukan latihan live-fire dengan rudal tersebut," kata pihak Angkatan Darat.
Dengan jangkauan 8 km, Hellfire telah digunakan oleh militer AS di Irak dan Afghanistan. Satu helikopter Apache bisa membawa hingga 16 rudal Hellfire.
Unit Apache Angkatan Darat Korea Selatan, dengan peralatan dan personelnya, mampu menghancurkan 570 tank musuh, menurut pihak Angkatan Darat.
Helikopter AS akan dimobilisasi untuk menyerang tank Korea Utara dan air-cushion craft jika terjadi konflik bersenjata. Helikopter-helikopter itu juga akan menjadi yang pertama yang dikirim jika Korea Utara meluncurkan pendaratan mendadak di kepulauan Korea Selatan di antara kedua Korea tersebut.
Saat ini pasukan Amerika Serikat di Korea Selatan mengoperasikan 48 helikopter Apache. (Angga Saja - TSM)

KRI Bima Suci Telah Sampai dan Berlabuh di Dermaga Tanjung Priok Jakarta

KRI Bima Suci
 KRI Bima Suci  

Kapal Republik Indonesia (KRI) Bima Suci telah berlabuh di Jakarta, Kamis, 16 November 2017. Kapal buatan Freire Shipyard, di Vigo, Spanyol ini disambut kedatangannya oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi bersama dengan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu serta Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.
KRI Bima Suci berlabuh di dermaga Jakarta Internasional Container Terminal di kawasan Tanjung Priok, Jakarta. Kapal layar latih terbaru milik TNl Angkatan Laut ini merupakan penerus kapal legendaris KRI Dewa Ruci.
Ryamizard mengatakan KRI Bima Suci merupakan kapal yang lebih baik dari kapal latih KRI Dewa Ruci. "Bisa kita lihat sendiri, jauh lebih baik, jauh lebih bagus," ujarnya kepada awak media.
Sebelum tiba di Jakarta, KRI Bima Suci terlebih dahulu singgah di Padang, Sumatera Barat. KRI Bima Suci melaksanakan pelayaran dari Spanyol sejak 18 September 2017. Kapal buatan Freire Shipyard di Vigo, Spanyol ini dikomandani oleh Letnan Kolonel (Laut) Widyatmoko Baruno Aji sebagai komandan pertama di kapal tersebut.
Ryamizard berujar, KRI Bima Suci diharapkan akan berlayar lebih lama di lautan. Dia mengatakan kapal sebelumnya KRI Dewa Ruci telah berlayar selama 64 tahun. "Diharapkan Bima Suci 100 tahunlah," ucapnya.
Penamaan KRI Bima Suci diambil dari lakon wayang Mahabarata. Lakon Bima Suci mengisahkan perjalanan spiritual Bima hingga bertemu Dewa Ruci. Hal ini menjadi inspirasi dan motivasi TNI AL untuk menamakan kapal latih terbaru para Taruna Akademi Angkatan Laut dengan nama KRI Bima Suci.
KRI Bima Suci memiliki 26 layar dengan luas keseluruhan layar 3.351 meter persegi. Keistimewaan kapal ini terletak pada instrumen navigasi pelayarannya yang lebih canggih, instrumen pemurnian air laut menjadi air tawar, hingga alat komunikasi dan data digitalnya.
Komandan KRI Bima Suci Letkol Widyatmoko mengatakan fasilitas di kapal ini sangat moderen. Menurut dia kapal ini dapat melaju dengan kecepatan hingga 16 Knot. "Kapal didesain untuk lomba layar dan bisa melaju sangat cepat," tuturnya.
KRI Bima Suci memiliki ukuran panjang totalnya 111,2 meter dengan lebar 13,5 meter. Kedalaman draft kapal ini adalah 5,95 meter serta memiliki tinggi pada ketiga tiangnya yaitu tiang haluan 51,15 meter, tiang tengah 51,87 meter, serta tiang buritan 49,51 meter.
Ade Supandi mengatakan KRI Bima Suci lebih besar dari KRI Dewa Ruci. Dia berujar KRI Dewa Ruci sebelumnya hanya bisa mengakomodasi 50 taruna, yang mana sekarang kondisi pendidikan AL sudah 110 taruna. "Maka butuh kapal latih yang lebih besar sehingga peralatannya lebih canggih juga untuk pendidikan di dalam kapal," tuturnya.
KRI Bima Suci merupakan kapal kelas bark (barque) dengan tiga tiang. Sebelum tiba di Jakarta, KRI Bima Suci telah melalui berbagai negara serta berbagai belahan kota di dunia dengan rute pelayaran dari Vigo, (Spanyol), Roma (Italia), Port Said (Mesir), Jeddah (Arab Saudi), Oman, Colombo (Srilanka), Padang.
Susi Pudjiastuti: Indonesia Harusnya Punya 10 KRI Bima Suci
Kapal Republik Indonesia (KRI) Bima Suci-945 tiba di dermaga Jakarta Internasional Container Terminal, Kamis, 16 November 2017. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menilai KRI Bima Suci bisa menjadi bagian menuju visi Indonesia menjadi poros maritim.
"Dalam hal ini Kementerian Pertahanan sudah mengarah kepada visinya pemerintah menuju laut masa depan bangsa," ujar Susi Pudjiastuti di kawasan Tanjung Priok, Jakarta.
Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi menerima KRI Bima Suci-945 Kamis siang. Hadir pada acara itu antara lain Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu serta Susi Pudjiastuti.
KRI Bima Suci dibuat di galangan Freire Shipyard, Vigo Spanyol. Kapal diluncurkan pada 17 Oktober 2016 dan dibawa berlayar ke Indonesia oleh TNI AL. Di bawah pimpinan Letnan Kolonel (Laut) Widyatmoko Baruno Aji, KRI Bima Suci berlayar ke Indonesia pada 18 September 2017.
Susi mengaku senang TNI AL memiliki kapal seperti KRI Bima Suci. Menurut dia, Indonesia seharusnya memiliki lebih banyak kapal seperti itu. "Kalau saya senangnya punya sepuluh yang kayak begini," katanya.
Ryamizard Ryacudu mengatakan KRI Bima Suci merupakan kapal yang jauh lebih baik dari kapal latih sebelumnya, yaitu KRI Dewa Ruci. Menurut dia KRI Bima Suci nantinya dapat berlayar lebih lama dari KRI Dewa Ruci. "Diharapkan Bima Suci 100 tahun," ucapnya.
Ade Supandi menuturkan KRI Bima Sakti merupakan kapal yang lebih besar dari KRI Dewa Ruci. Menurutnya KRI Dewa Ruci sebelumnya hanya untuk mengakomodasi 50 taruna dan sekarang kondisi pendidikan AL sudah 110 taruna. "Maka butuh kapal latih yang lebih besar sehingga peralatannya lebih canggih juga untuk pendidikan di dalam kapal," tuturnya.

CETME Modelo L, Senapan Serbu Buatan Spanyol yang Takluk di Negeri Sendiri

CETME Modelo L
CETME Modelo L 

Menjadi yang pertama tidak jaminan akan bertahan selamanya. Jika saja pepatah tersebut dipegang para petinggi CETME, saat ini mereka tidak akan menghamba dan bisa berdiri dengan kepala tegak dengan desain asli keluaran pabrikan yang berjaya di era 1960an dan 1970an ini. CETME awalnya dikenal sebagai pabrik senjata revolusioner yang berhasil memproduksi senapan tempur otomatis, yang pertama sejak Perang Dunia II.
Pada saat Eropa mengadopsi amunisi 5,56x45mm tipe SS109 berinti baja pada kontes yang diadakan pada 1978, Spanyol dengan segera mengeluarkan proposal untuk produksi senapan serbu yang taat pada standar ini. CETME menjawab dengan memodifikasi habis-habisan senapan tempur (battle rifle) Modelo C, dan melakukan ‘pengecilan’ sehingga senapan baru ini mampu mengadopsi proyektil kaliber 5,56x45mm SS109.
Hasil akhirnya, entah disengaja atau tidak, jadi seperti mengikuti pola pabrikan HK yang merilis HK33. Senapan serbu yang diberi kode Modelo L oleh CETME ini tetap mengadopsi roller-delayed blowback, mengandalkan dua roller untuk memperlambat gerak bolt kebelakang untuk menurunkan tekanan gas. Senapan yang dihasilkan memiliki bobot yang enteng karena tidak memerlukan komponen tambahan seperti tabung gas, namun dengan bentuk yang agak kaku.
Yang terpenting, Mod. L bisa dimasuki magasen M16, syarat penting yang dituntut beserta kompatibilitas dengan SS109. Fitur andalan lainnya adalah sistem bidik yang cukup kompleks. Berbeda dengan senapan lain, pejera pada Mod. L dibuat dengan sistem 2 tiang, tiang tipis untuk tembak jitu dan tiang tebal untuk penggunaan umum. Sementara untuk bagian lainnya, seperti popor dan pistol grip berbahan plastik, masih mendapatkan pengaruh dari Mod. C.
CETME Model L menjadi senjata yang terlalu berat, karena desainnya sebenarnya adalah desain senapan tempur yang diciptakan untuk mengadopsi peluru yang lebih besar. Senapan ini juga tidak ramah pada sistem optik, yang saat itu mulai berkembang dan jadi aksesoris standar untuk senapan serbu.
Sayangnya, seperti kata pepatah what can went wrong, really went wrong, ternyata diketemukan banyak masalah pada Mod. L, baik dari desain maupun komponen lainnya. Dimulai dari depan, handguard pada Mod. L yang mengotak menghadapi masalah panas dari laras karena minim ventilasi, sementara tiang pejera tipis seringkali bengkok atau malah patah karena terbentur atau jatuh.
Handguard atau pegangan tangan didesain ulang dengan bentuk yang mirip dengan FNC, namun masalah pejera tak diketemukan solusinya. Peluru SS109 racikan pabrik lokal INI memiliki spek yang agak mengerikan: tekanannya jauh diatas standar NATO dan mesiu yang digunakan cenderung kotor-meningkatkan fouling pada laras dan kamar peluru, dan menaikkan suhu laras akibat penembakan yang berujung pada menurunnya keandalan.
Tekanan yang besar sering membengkakkan dimensi kelongsong sehingga terjepit dan tidak bisa ditarik keluar dari kamar peluru, yang diobati dengan membuat ceruk memanjang pada kamar peluru (fluted chamber) agar ada sisa ruang/ meniadakan kemungkinan kelongsong yang membengkak menciptakan ruang hampa.
Biarpun bisa diperbaiki, kerusakan sudah terjadi. Senapan yang dikembangkan dalam varian L, LC (karabin), dan LV (Visor/ tembak jitu) dengan teleskop SUSAT kadung tidak laku di pasaran. Sudah terlambat, kualitas tidak yahud pula. Akibatnya, senapan yang diadopsi pada 1982 oleh Spanyol tersebut tidak pernah laku terjual keluar dari negaranya. CETME Modelo L di Angkatan Darat Spanyol akhirnya digantikan oleh HK G36 pada tahun 1996 yang dibuat secara lisensi oleh pabrikan Santa Barbara Sistemas. (Aryo Nugroho)

AL Singapura Resmikan Dua Kapal LMV Baru

RSS Sovereignty (16) dan RSS Unity (17)
RSS Sovereignty (16) dan RSS Unity (17) 

Angkatan Laut Republik Singapura (RSN) telah meresmikan dua kapal littoral mission vessels (LMV) kelas Independence terbarunya, RSS Sovereignty and RSS Unity pada hari Selasa lalu (14/11).
Menteri Pertahanan Singapura Dr Ng Eng Hen menyebut bahwa dua kapal baru tersebut siap menghadapi masa depan pada upacara peresmiannya yang dilakukan di RSS Singapura – Changi Naval Base. Hen menambahkan: "LMVs mencerminkan lompatan kuantum dibandingkan pendahulunya, kapal patroli kelas Fearless.
"Apakah itu segi kemampuan kecepatan, endurance, pertahanan udara atau kemampuan komando, kendali, komunikasi dan komputer (C4), LMVs mengungguli dengan pesatnya kapal patroli yang dibangun pada 1990-an."
"Dengan peresmian hari ini, RSS Sovereignty (16) dan RSS Unity (17) akan bergabung dengan RSS Independence (15) untuk memperluas jangkauan dan efektivitas dalam misi."
Kapal-kapal tersebut akan bergabung dengan armada RSN lainnya yang saat ini dikerahkan untuk melindungi perairan Singapura, melindungi jalur komunikasi lautnya dan menjaga perdamaian dan keamanan regional, sekaligus meningkatkan usaha angkatan laut Singapura untuk memperkuat kemampuannya.
Kapal-kapal tersebut dibangun untuk memenuhi berbagai persyaratan misi dan mendukung peran Angkatan Laut Singapura dalam menjaga agar komunikasi laut Singapura tetap aman dan mudah diakses, yang akan membantu memastikan pertumbuhan dan kemakmuran negara tersebut.
Delapan LMV varian Independence RSN dikembangkan bersama oleh Angkatan Laut Singapura dan Badan Sains dan Teknologi Pertahanan Singapura (Defence Science and Technology Agency).
Kapal yang bertumpu pada jaringan (network-centric) tersebut dilengkapi dengan teknologi cerdas dan kemampuan yang dirancang untuk memungkinkan angkatan laut Singapura beroperasi secara lebih efisien dan efektif.
Kapal-kapal tersebut memiliki radar dan sensor canggih, selain pandangan 360° keluar jendela dan sistem kecerdasan canggih (sense-making system) untuk meningkatkan kesadaran situasional dan mempercepat pengambilan keputusan.
Sebagai tambahan, LMV memiliki serangkaian pilihan untuk menggunakan senjata mematikan dan tidak-mematikan, memungkinkan angkatan laut untuk memberikan respon yang sesuai untuk mencegah dan mempertahankan diri dari berbagai ancaman. 
RSS Sovereignty dan RSS Unity adalah kapal kedua dan ketiga dari armada LMV kelas Independence. LMV pertama diresmikan pada tanggal 5 Mei 2017, sementara lima kapal berikutnya dari kelas tersebut diharapkan beroperasi pada tahun 2020. (Angga Saja - TSM)

Airbus Menangkan Penjualan Lima C-295MW ke UEA

C-295MW
C-295MW  

Angkatan Bersenjata Uni Emirat Arab (UEA) telah mengumumkan pembelian lima pesawat angkut militer C-295MW (Military-Winglet) dan kebutuhan terkait dari Airbus Defence and Space pada hari Rabu (15/11).
Pembelian pesawat tersebut diumumkan oleh Mayor Jenderal Ishaq Al Balushi, pimpinan Executive Administration of Industries and Development of Defensive Capabilities pada Kementerian Pertahanan UEA dan deputi pimpinan Supreme Organising Committee UEA.
Dalam pernyataannya, pembelian tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk membangun angkatan bersenjata UEA dan menyediakan angkatan bersenjata UEA dengan sumberdaya yang diperlukan untuk dapat melaksanakan tanggungjawab dan tugasnya. (Angga Saja -TSM)

AC-235 Gunship, Sang Penggebuk Berbasis Pesawat Angkut Sedang

AC-235 Gunship
AC-235 Gunship 

Di Dubai AirShow 2017, Airbus Defence and Space (ADS) menampilkan pesawat C-295 versi Armed ISR (Intelligence Surveillance & Reconnaissance), karena ada embel-embel kata “armed” maka bisa dipastikan inilah gunship terbaru yang dirilis pihak ADS. Namun flashback ke tahun 2011, titisan dari senior C-295, yakni CN-235 sudah mengangkasa sebagai gunship yang eksis di Timur Tengah, persisnya menyandang label AC-235.
AC-235 hingga kini berstatus the only one, hanya dioperasikan oleh AU Yordania yang melakukan konversi pada dua unit C-235 standar menjadi sosok pesawat pelibas sasaran darat alias Close Air Support (CAS). Meski pesawatnya berasal dari Spanyol, jeroan dan sistem senjatanya dicomot dari Amerika Serikat yang kondang mengoperasikan AC-130. Sosok dibalik konversi tersebut adalah ATK (Alliant Techsystems) Defense Group. Sementara penggarapan proyek dipimpin oleh KADDB (King Abdullah Design & Development Beureu).
Gunship yang digadang untuk mengawal wilayah perbatasan ini memang telah menjelma sebagai pesawat penggebuk canggih, sebelum bicara soal senjata, urusan proteksi justru harus dikedepankan, mengingat dengan kecepatan yang rendah AC-235 rawan terkena terjangan proyektil dari kanon hanud. Untuk itu pada bagian kokpit dilakukan penambahan pelat keramik dan kevlar anti peluru, plus ada modifikasi self sealing fuel tank untum menjaga kemungkinan sel bahan bakar terbakar saat terkena tembakan.
Pada bagian kiri pesawat yang menjadi tempat dudukan kanon, terutama di bagian pintu kiri belakang, dilakukan modifikasi dengan rangka titanium dan perkuatan sebagai tempat posisi laras kanon 30 mm.
Untuk urusan persenjataan, penekanan utama yakni pada adanya sponson depan kiri dan kanan untuk pemasangan stub wing. Di stub wing ini menjadi tempat cantelan bagi peluncur roket FFAR 70 mm (2,75 inchi) dan rudal anti tank AGM-114 Hellfire. Stub wing pada AC-235 dibuat menghadap ke bawah 10 derajat, untuk memudahkan pembidikan sasaran tanpa pesawat perlu menukik terlalu ekstrim.
Kru misi mengendalikan sistem sensor penemakkan melalui layar MFD (Multi Function Display) Avedon 18 inchi yang mampu menampilkan pembacaan dari seluruh sensor yang terpasang di pesawat. Untuk mengendus sasaran di permukaan, AC-235 dilengkapi sistem optronik yang cukup mumpuni, berupa electo optic/infra red yang dapat berputar 360 derajat. Konsol tersebut menggunakan tipe WESCAM MX-15Di besutan L3 Communication, terdiri dari enam macam sensor yang mencakup kamera berwarna untuk kondisi siang yang dilengkapi lensa zoom, kamera monokrom dengan lensa bidang sempit (narrow field of view) dan kamera infra-merah dengan empat kali pembesaran.
Tidak itu saja, MX-15Di juga dilengkapi laser target designator, laser illuminator. dan laser spot tracker. Laser target designator ini bertugas memandu penembakkan rudal Hellfire dan kanon 30 mm. Untuk sistem pertahanan, AC235 dilengkapi AAR-47/ ALE-47 Defensive Countermeasures System. AAR-47 merupakan sistem deteksi multispektrum yang bisa memperingatkan pesawat pembawa dari ancaman rudal, laser, dan bahkan amunisi tak berpemandu seperti rudal dan peluru dari kanon hanud lawan.
Selain senjata yang disematkan pada stub wing, senjata maut yang jadi ciri khas gunship ini adalah kanon GAU-23/ M230, jenis kanon laras tunggal kaliber 30 mm yang serupa digunakan pada helikopter tempur AH-64 Apache. M230 dikembangkan Hughes dan kini diproduksi oleh Alliant Techsystems. M230 mampu menembakan peluru sebanyak 625 butir per menitnya. Sementara kecepatan luncur proyektil mencapai 805 meter per detik dengan jarak tembak efektif 1.500 meter. (Bayu Pamungkas)

Airbus Pamerkan Pesawat C295 ISR Bersenjata pada Dubai Airshow 2017

Pesawat C295 ISR
Pesawat C295 ISR  

Airbus Defence and Space memamerkan versi intelligence surveillance and reconnaissance (ISR) Bersenjata dari pesawat angkut taktis C295 untuk pertama kalinya di Dubai Air Show 2017. Pesawat tersebut berhasil menarik minat yang signifikan dari pelanggan di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara yang mencari pesawat intai (ISR) dan serang ringan yang mampu terbang dalam jangka waktu lama. Penggunaan pesawat angkut taktis sebagai platform daripada menggunakan pesawat tempur ringan khusus, memungkinkan pemasangan sensor, pertahanan perlindungan diri dan senjata yang lebih banyak, serta melipatgandakan lama terbang patrolinya.
Inti dari ​pesawat ​C295 ISR Bersenjata tersebut adalah adalah sistem misi Airbus FITS (fully integrated tactical system) yang telah dipasang di lebih dari 90 pesawat pengintai darat/maritim. Generasi terbaru dari FITS dapat dipasang di C295 dengan konfigurasi fixed atau roll-on/roll-off, dan dapat mengatur pengoperasian sensor dan senjata.
Sesuai dengan keinginan pelanggan, pengembangan C295 bersenjata telah menempuh dua jalan yang berbeda, yaitu versi bersenjata ringan dan pesawat bersenjata berat. Keduanya dapat dilengkapi dengan sensor elektro-optik pada turret dibawah hidung, radar pengawas di bawah fuselage pesawat dan perangkat komunikasi komprehensif dan suite perlindungan diri.
Dalam versi ringan, dimana pesawat pertama dijadwalkan untuk diserahkan kepada pelanggan pada akhir tahun ini, memiliki FITS dengan konfigurasi roll-on/roll-off dan dua senapan mesin yang dibidikkan secara manual yang terpasang di pintu belakang. Sebagaimana pada pesawat yang dipamerkan di Dubai, versi bersenjata ringan menggunakan senapan M3D 0,5 inci (12,7 mm) dengan rate of fire 950 rpm. Senjata dipasang pada dudukan senjata buatan Nobles Amerika Serikat yang bisa dipasang sekitar 30 menit pada lantai ruang kargo. Sampai 1.250 butir peluru dapat dipasang per senjata, yang dapat digunakan untuk fire suppression ketika melakukan serangan. Pemasangan door gun tersebut memerlukan beberapa modifikasi lokal kecil pada pintu belakang untuk mengurangi blast effect, dan modifikasi ini akan diterapkan pada semua produksi C295 di masa depan. Uji coba senapan mesin tersebut sudah selesai dilakukan.
Dalam versi senjata berat, pesawat ditawarkan dengan instalasi FITS tetap. Pesawat ini dimaksudkan untuk memiliki empat hardpoint dibawah sayap, dua di antaranya telah dikembangkan sepenuhnya sebelumnya untuk versi maritim yang membawa torpedo atau rudal anti-kapal. Sepasang hardpoint kedua akan ditambahkan pada sisi luar, dimana pekerjaan pembuatannya yang akan selesai pada tahun depan. Hanya sedikit modifikasi penguatan yang diperlukan untuk pemasangan hardpoint-hardpoint tersebut, dan dapat dilakukan pada final assembly line.
Airbus telah bekerja sama dengan Roketsan Turki untuk menyediakan paket senjata berpemandu, walaupun senjata lainnya dapat diintegrasikan. Setiap hardpoint dapat membawa empat rudal L-UMTAS, pod untuk roket berpemandu laser Cirit, dan bom berpemandu laser Teber-82 dengan hulu ledak buatan Explosivos Alaveses (Expal) Spanyol. Selain itu, C295 dapat membawa pod roket buatan Equipaer Brasil yang berisi tujuh roket untuk menembakkan roket tak berpemandu Expal CAT-70. Dengan muatan total 16 rudal L-UMTAS, C295 memiliki daya tahan lama terbang delapan hingga sembilan jam.
Kemampuan "gunship" C295 yang sesungguhnya diberikan oleh pemasangan kanon otomatis Mauser BK 27 kaliber 27mm yang dipasang pada dudukan yang direkayasa khusus untuk C295 oleh Escribano Spanyol. Kanon ini dikendalikan oleh turret elektro-optik kedua yang dipasang di sisi kiri bawah fuselage pesawat. Kanon tersebut mampu menembakkan amunisi discharging sabot FAP-DS yang memberikan muzzle velocity yang tinggi, yang pada akhirnya memberikan akurasi yang tinggi pada jarak hingga 2,5 mil (4 km).
Sebuah tinjauan desain kritis akan selesai sebelum akhir tahun, dimana uji darat akan dimulai musim panas mendatang. Beberapa elemen, seperti peluncur empat rudal untuk L-UMTAS, telah dilakukan fit-check. Flight test dijadwalkan dimulai pada akhir musim panas/awal musim gugur 2018 dengan menggunakan pesawat testbed milik perusahaan. Pesawat tersebut saat ini sedang menguji modifikasi yang dipersyaratkan oleh program pesawat Fixed-Wing SAR (FWSAR) Kanada, dan kemudian akan dimodifikasi kembali dengan persyaratan ujicoba ISR Bersenjata saat pekerjaan FWSAR tersebut selesai. Uji coba versi bersenjata dijadwalkan akan selesai pada musim panas 2019.(David Donald) (Angga Saja -TSM)

Punya Koleksi 5 Jet Tempur Membuat Uni Emirat Arab Jawara di Timur Tengah

Uni Emirat Arab (UEA) sebagai sekutu Arab Saudi dalam melancarkan operasi militer ke Yaman justru tampil lebih garang soal urusan alutsista. Dibandingkan Arab Saudi yang adem ayem, saat ini UEA justru tengah meluncurkan lima program pengadaan atau peningkatan kemampuan pesawat-pesawat tempurnya, sesuatu yang tidak atau belum pernah terjadi di negara-negara Timur Tengah.
Langkah strategis tersebut bisa pula dipandang sebagai strategi persiapan Liga Arab dalam menghadapi kebandelan Iran yang mencoba merebut pengaruh di Timur tengah. Berikut adalah lima program alutsista udara UEA tersebut:
1. F-16 Block 60
UEA adalah negara yang meminta pengembangan khusus varian F-16E/F Block 60 yang disebut Desert Falcon. Ketika itu UEA menginvestasikan dana senilai 3 Milyar dolar AS untuk membuat varian khusus F-16 yang dilengkapi radar AESA APG-80.
F-16 Block 60
F-16 Block 60 
Seakan belum puas, UEA mengumumkan program senilai US$ 1,6 Milyar untuk meningkatkan kemampuan 80 pesawat yang sudah ada dengan penanaman chip prosesor data baru, dengan peningkatan pada kemampuan serang darat pada radar yang membuatnya setara dengan APG-83 SABR. Kokpit F-16 Block 60 pun kabarnya akan ditingkatkan dengan pemasangan kokpit standar F-16 Block 70/72.
2. Mirage 2000-9
UEA memiliki 62 unit jet tempur Perancis Dassault Mirage 2000, yang terbagi atas 32 unit varian Mirage 2000-9 yang baru dan 30 unit Mirage 2000-5 yang ditingkatkan kemampuannya setara Mirage 2000-9. Mirage 2000-9 sendiri memiliki kemampuan dan avionik yang disamakan dengan jet tempur Perancis Rafale, yang diadakan melalui program Bader 21 yang ditandatangani pada 1998.
 Mirage 2000-9
 Mirage 2000-9 
Mirage 2000-9 merupakan jet tempur dengan kemampuan serang mumpuni, dengan kemampuan membawa rudal jelajah buatan Perancis MBDA Storm Shadow untuk serangan jarak jauh. Belum diketahui nilai kontrak dan cakupan pengerjaan yang ditawarkan untuk memodernisasi Mirage 2000-9 yang sudah canggih itu.
3. Sukhoi Su-35 Super Flanker
UEA juga berniat untuk memborong Su-35 Flanker-E sebagai bagian dari strategi mendiversifikasi alutsista udaranya. Jumlah yang dibeli kurang lebih satu atau dua skadron dari Rusia. Saat ini pembicaraan tengah berlangsung untuk paket penjualan Su-35 yang diinginkan UEA. Diperkirakan pada akhir tahun nanti kontrak sudah bisa ditandatangani, yang mengancam posisi Indonesia sebagai calon negara kedua yang memiliki Su-35.
Sukhoi Su-35 Super Flanker
Sukhoi Su-35 Super Flanker 

4. F-35 Lightning II
UEA naksir dengan pesawat tempur F-35, walaupun jet tempur yang satu ini dipenuhi dengan problem pengembangan yang nyata. UEA punya dana, dan AS ingin agar biaya F-35 turun, jadi menjualnya ke sekutu adalah jalan untuk menambah unit diproduksi dan menurunkan harga F-35. UEA hendak membeli kurang lebih 24 unit F-35, tentu saja apabila Kongres AS menyetujui rencana pembelian ini. Arab Saudi juga dikatakan naksir pada F-35.
F-35 Lightning II
F-35 Lightning II 

5. LWNGF
LWNGF atau Light Weight Next Generation Fighter adalah program pembuatan pesawat tempur ringan yang digagas UEA bersama dengan Rusia, serta beberapa negara lainnya. UEA memang ingin mengembangkan industri aviasinya secara mandiri, lepas dari ketergantungan Barat dan Timur yang selama ini menjadi pemasok tradisional alutsista Timur Tengah. Langkah ini juga dipandang dapat membantu UEA dan Arab Saudi untuk lepas dari ketergantungan dari minyak sebagai sumber utama keuangan negara. (Aryo Nugroho)

Radar Acak