Radar TNI AD

Radar TNI AL

Radar TNI AU

Radar Terbaru

Frigat Oliver Hazard Perry, Reaktivasi atau Dihibahkan ke Negara Sahabat?

Frigat Oliver Hazard Perry
Frigat Oliver Hazard Perry 

AL AS kekurangan kapal dalam jumlah besar. Sejak inisiatif besar di era Presiden Reagan, AL AS tidak pernah lagi kebagian kapal-kapal baru dalam jumlah besar, pun kapal baru yang dipesan harganya juga naik berkali-kali lipat. Dengan mandat untuk memiliki kapal tempur dengan jumlah 355 agar mampu mengimbangi Rusia, Iran, dan Korea Utara, AL AS saat ini sedang mempertimbangkan untuk melakukan reaktivasi atas kapal-kapal perang tuanya.
Salah satu yang hendak dijadikan fokus untuk reaktivasi adalah frigat kelas Oliver Hazard Perry (OHP). AL AS begitu mencintai frigat ini, bahkan program frigat baru FFX pun didasarkan pada desain OHP. Dalam masa hidupnya, kapal ini begitu kenyang pengalaman tempur. Keputusan AL AS untuk memensiunkan frigat OHP pada 2015 nampaknya terlalu terburu-buru memensiunkan OHP dari flight pertama dan menjadikannya sasaran tembak rudal.
Pun ketika jadi sasaran tembak, desain OHP yang baik menyebabkannya susah tenggelam. Sebagai contoh, USS Thach yang jadi sasaran tembak dalam latihan SINKEX 2016 di Hawaii harus dihantam tiga rudal Harpoon, lebih dari empat rudal Hellfire, bom Mk 84 seberat 2.000 pon, dan bom berpemandu laser GBU-12, serta tak lupa torpedo Mk.48 dari kapal selam AL AS. Setelah 12 jam dihujani berbagai macam senjata, barulah USS Thach tenggelam. Itulah bukti hebatnya desain OHP.
Dari total 51 frigat OHP yang pernah dibangun untuk AL AS, 12 setidaknya ada dalam fasilitas perawatan kapal perang Inaktif yang masih dirawat dan bisa diaktifkan lagi dengan segera di Pearl Harbor, Philadelphia, dan Bremerton, Washington. Sisanya sudah dihibahkan ke Turki, Mesir, dan Pakistan begitu mereka dinyatakan tidak aktif lagi.
AL AS berniat untuk melakukan reaktivasi atas setidaknya 12 frigat OHP yang sudah tidak bertugas lagi tersebut, melengkapinya dengan sensor dan persenjataan baru, lalu mengirimkannya ke manapun armada AL AS yang perkasa akan pergi. Ini merupakan sesuatu hal yang lebih mudah dan cepat dibandingkan dengan harus membangun kapal baru, terlebih kelas kapal yang menggantikan OHP yaitu LCS (Littoral Combat Ship) atau kapal perang pesisir dilanda banyak masalah dan tidak punya daya gempur sebaik OHP.
Namun pendapat lain datang dari kongres, dimana Rep. Rob Witmann selaku Kepala Sub-Komite Kekuatan dan Proyeksi Laut setuju untuk dapat memodernisasi frigat OHP, tetapi dengan tujuan untuk menghibahkannya kepada sekutu-sekutu AS untuk meningkatkan jaringan kekuatan dan pengetahuan di seluruh dunia. Hal ini dapat mengurangi kebutuhan dan biaya yang dikeluarkan AS untuk mengirimkan armada perangnya, dan alih-alih mengandalkan rekan kawasan untuk menjaga kepentingan bersama di wilayah tersebut.
Wittman sendiri mengakui kalau ide menghibahkan frigat sekelas OHP dengan kemampuannya yang potensial di saat AL AS sendiri membutuhkan kapal tersebut merupakan usulan yang sedikit tidak masuk di akal, namun AS sendiri punya kepentingan di banyak kawasan yang akan terwakili dengan pemberian sistem kapal secanggih fregat OHP, menunjukkan komitmen AS kepada negara-negara kawan tersebut. 12 kapal tersebut bisa didistribusikan kepada mitra AS di Pasifik, dan apabila timbul kegentingan, dapat beroperasi bersama armada AL AS karena kesamaan sistem komunikasi Link 16 yang dimiliki.
Rekan penulis, Weka G. Cha Bi dan Purwo secara aktif telah menyosialisasikan betapa TNI AL bisa memperoleh keuntungan apabila mengoperasikan frigat sekelas Oliver Hazard Perry yang memiliki tonase dan persenjataan di atas kelas fiIgat SIGMA kelas Martadinata, terlebih dengan kemampuan anggaran Pertahanan Republik Indonesia yang kemampuannya sangat terbatas untuk dapat membeli frigat-frigat baru dalam jumlah besar setiap tahunnya. Apakah OHP akan dihibahkan ke Indonesia? Kita tunggu perkembangan selanjutnya. (Aryo Nugroho)

Ini Daftar Pejabat Negara Lain yang Pernah Ditolak Masuk AS

Amerika Serikat (AS)
Amerika Serikat (AS)  

Ditolak masuknya Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo untuk memasuki Amerika Serikat (AS) menjadi perbicangan hangat saat ini. Namun, Gatot bukanlah pejabat negara pertama yang pernah ditolak masuk AS.
Sejumlah pejabat negara lain yang pernah dicekal oleh AS. Mereka dicekal atas berbagai alasan, mulai karena kerap melemparkan protes pada AS, hingga dianggap terlibat dalam kegiatan yang dianggap ilegal di AS.
Berikut adalah nama-nama pejabat negara lain yang pernah ditolak masuk oleh AS.
  1. Hamid Aboutalebi, Utusan Iran untuk PBB itu dilarang masuk ke AS pada tahun 2014 karena perannya sebagai penerjemah bagi militan yang menyerang Kedutaan Besar Amerika di Teheran pada tahun 1979, dan menahan 52 warga negara Amerika yang sandera selama 444 hari.
  2. Gerry Adams, politisi sayap kanan Irlandia, yang juga merupakan Presiden Sien Fien, kelompok politik sayap kanan Irlandia ini beberapa kali dilarang masuk ke AS karena dinilai sebagai otak dari sejumlah kekerasan yang terjadi di Irlandia pada era 1990an.
  3. Narendra Modi, dia dilarang masuk ke AS pada tahun 2005, atau saat dia menjabat sebagai Menteri Utama negara bagian Gujarat. AS menolak visa diplomatik A-2 Mpdi. Selain itu, visa B-1 / B-2 yang sebelumnya diberikan kepadanya dicabut, di bawah bagian Undang-Undang Imigrasi dan Kewarganegaraan AS yang membuat pejabat pemerintah asing yang bertanggung jawab atau terlibat langsung, terutama terkait pelanggaran berat kebebasan beragama tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan visa. Modi akhirnya kembali di izinkan masuk ke AS setelah menjabat sebagai Perdana Menteri India.
  4. Tarek William Saab, Presiden Dewan Moral Venezuela, dan mantan Kepala Komisi Kebiajakan Luar Negeri Venezuela ditolak masuk ke AS pada tahun 2002. Saab ditolak masuk ke AS karena diduga memiliki hubungan dengan organisasi kriminal. Saab membantah memiliki hubungan tersebut.
  5. Kurt dan Elisabeth Waldheim. Kurs yang diplomat dan politisi Austria, yang juga pernah menjabat sebagai Utusan Khusus Australia, bersama sang istri, Elisabeth dilarang masuk ke AS pada tahun 1987. Keduanya dilarang masuk AS karena memiliki hubungan dengan Nazi. (Victor Maulana)

TNI AL Tunda Jadwal Pensiun Frigat Van Speijk Class

Frigat Van Speijk Class
Frigat Van Speijk Class 

Pada Februari 2016 tersiar kabar bahwa Mabes TNI AL secara bertahap akan mulai memensiunkan keenam frigat Van Speijk Class (Ahmad Yani Class) mulai tahun 2017 hingga berakhir di tahun 2022. Rencana TNI AL tersebut tentu sangat masuk akal, mengingat Van Speijk Class telah mengabdi 30 tahun lebih di Satuan Kapal Eskorta (Satkor) TNI AL, dan setengah abad berlayar sejak dioperasikan AL Kerajaan Belanda pada dekade 60-an. Namun kini ada kabar terbaru, bahwa jadwal pensiun armada Van Speijk Class TNI ditunda, dan sang frigat ini masih akan terus melaut.
Seperti dikutip dari Janes.com (19/10/2017), ditunda tentu bukan berarti dibatalkan, sumber di Koarmabar menyebut bahwa jadwal pensiun Van Speijk Class ditunda hingga satu tahun kedepan. Pertimbangan penundaan periode pensiun Van Speijk Class didasarkan atas risiko kesenjangan tingkat operasional armada kapal perang utama TNI AL. Saat ini memang flagship kapal kombatan TNI AL berada di PKR (Perusak Kawal Rudal) RE Martadinata Class (KRI RE Martadinata-331 dan KRI I Gusti Ngurah Rai-332), namun level kesiapan tempur kedua PKR tersebut dinilai belum memadai, lantaran beberapa sistem senjata andalan di kedua kapal perang tersebut belum terpasang.
Alasan lain terkait penundaan pensiun, dikarenakan beberapa Van Speijk Class masih sangat diandalkan untuk meronda di kawasan Laut China Selatan. Menyandang status sebagai frigat, menjadikan Van Speijk Class unggul untuk misi dengan endurance yang lebih panjang ketimbang korvet. Belum lagi, kapasitas personel yang dibawa juga lebih besar. Maka tak salah bila Van Speijk Class yang dipercaya untuk menjalankan misi tempur lintas laut jarak jauh (Satgas Merah Putih) dalam operasi pembebasan sandera MV Sinar Kudus dari tangan perompak Somalia pada Maret 2011. Saat itu dua Van Speijk, KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355 dan KRI Yos Sudarso-352 digeber untuk berlayar secepatnya ke Perairan Somalia.
Dari segi latalitas, Van Spejk Class juga dinilai masih mencitrakan kapal kombatan terunggul bagi TNI AL, dimana KRI Oswald Siahaan-354 didapuk sebagai satu-satunya kapal perang yang mengusung peluncur rudal jelajah anti kapal Yakhont.
Karena masuk kategori alutsista strategis, beragam program peremajaan dikebut TNI AL untuk memaksimalkan kemampuan tempur Van Speijk, selain upgrade sistem persenjataan rudal hanud (pertahanan udara) dan rudal anti kapal (anti ship missile), TNI AL juga merogoh kocek yang tak kecil untuk merenovasi sistem elektronik, seperti Combat Management System yang baru dipasok oleh PT Len.
Dari sisi permesinan, sejak dekade silam Van Speijk TNI AL sudah dilakukan program repowering. Aslinya Van Speijk class sepasang mesin turbin uap (steamed turbin) yang mampu menyemburkan daya sebesar 30.000 shp. Daya sebesar itu mampu menggeber kapal hingga 28 knots (52 km per jam). Harus diakui jika mesin turbin uap tergolong berat, relatif boros bahan bakar, dan keseluruhan sistemnya makan tempat serta cenderung sulit dalam perawatan.
Menyikap hal tersebut, TNI yang punya budget serba ngepas, secara bertahap mulai tahun 2003, mulai melakukan penggantian sistem propulsi sebagai bagian dari upaya peningatan performa Van Speijk class. Proyek pertama dimulai pada KRI Karel Satsuit Tubun-356 yang diganti mesinnya dengan jenis diesel Caterpillar CAT DITA, disusul kapal lainnya dalam kurun 2007 - 2008. Pengecualian ada pada KRI Oswald Siahaan-354 yang mesinnya diganti dengan diesel SEMT Pielstick, mirip (meski dari sub tipe berbeda) dengan yang mentenagai korvet SIGMA class TNI AL. Dengan repowering, kini Van Speijk class mampu ngebut 24 knots (45 km per jam).
Van Speijk Class TNI AL terdiri dari KRI Ahmad Yani-351, KRI Slamet Riyadi-352, KRI Yos Sudarso-353, KRI Oswald Siahaan-354, KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355, dan KRI Karel Satsuit Tubun-356. Saat tiba di Indonesia pada rentang 1986 - 1989, TNI AL juga pernah mengoperasikan frigat kelas dunia yang juga battle proven, yakni tiga unit Tribal Class yang berasal dari bekas pakai AL Kerajaan Inggris. (Bayu Pamungkas)

Kekurangan Pilot Kronis, AU AS Akan Panggil Kembali Para Veteran

Veteran
Veteran 

Di dalam militer AS, seorang prajurit, dari kecabangan manapun, biasanya tidak akan menghabiskan karirnya sampai selesai. Di sana menjadi tentara bukanlah pengabdian tuntas, kalau ada tawaran yang lebih baik, kenapa tidak? Hal ini menyebabkan banyak pilot, baik angkut maupun tempur dan serang, keluar kalau dapat tawaran menggiurkan dari maskapai penerbangan. Alasan lainnya, stres karena harus berpisah dari keluarga dan bertugas di medan tempur dalam waktu lama di negeri-negeri yang jauh.
Buat Angkatan Udara AS, yang tidak mungkin mencetak seorang pilot dalam waktu singkat, tingginya angka pilot yang keluar ini telah menyebabkan masalah yang besar. AU AS kekurangan 1.555 pilot pada akhir tahun 2016, dan angka ini akan terus tumbuh. Jenderal Stephen Wilson di depan Kongres menyatakan bahwa AU AS kekurangan 1.555 pilot dan 3.400 teknisi yang bertugas merawat pesawat.
AU AS sendiri bukannya berdiam diri. Mereka telah berusaha menaikkan tunjangan bagi pilot yang didasarkan pada jam terbang bagi perwira dan berlaku di bulan Oktober 2017. Kemudian ada lagi bonus bagi pilot yang memperpanjang kontraknya dengan AU AS apabila mau diikat lagi untuk masa tugas 2 tahun berikutnya. Program ketiga, yang paling kontroversial, adalah memanggil para pilot veteran yang sudah pensiun untuk bertugas kembali di seluruh lini.
Langkah AU AS ini didukung oleh Presiden Trump, yang menandatangani Keputusan Presiden yang memberi mandat kepada AU AS untuk memanggil sebanyak 1.000 pilot veteran yang telah pensiun untuk kembali ke garis depan. Program yang disusun oleh AU AS ini diberi nama VRRAD (Voluntary Retired Return to Active Duty Program) atau Program Dinas Sukarela Pensiunan untuk Kembali ke Tugas Aktif, dan terbuka bagi mereka yang pernah memegang peran sebagai pilot untuk mendaftarkan dirinya sebelum 31 Desember 2018.
Mereka yang bisa mendaftarkan diri adalah para mantan pilot yang belum berumur 60 tahun, telah pensiun dalam waktu kurang dari lima tahun, menyandang pangkat Kapten, Mayor, atau Letnan Kolonel. Mereka yang mendaftar akan dikirimkan ke garis depan selama satu tahun. AU AS dapat menggunakan para veteran penerbang ini terutama untuk tugas-tugas kargo, dimana tingkat perputaran logistik yang tinggi antar teater membutuhkan banyak pilot dan teknisi untuk mengawaki pesawat angkut seperti C-17, C-130, dan C-5. (Aryo Nugroho)

Dubes AS Minta Maaf atas Insiden Ditolaknya Panglima TNI

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo 

Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Joseph Donovan meminta maaf atas insiden pelarangan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memasuki wilayah Washington DC. Permohonan tersebut disampaikan melalui Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi.
"Duta Besar A.S. Joseph Donovan telah meminta maaf kepada Menteri Luar Negeri Retno Marsudi atas ketidaknyamanannya terhadap Jenderal Gatot," tulis Kedutaan Besar AS dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Minggu 22 Oktober 2017.
Dalam keterangan tertulisnya juga, Kedutaan Amerika Serikat menyatakan Panglima Angkatan Bersenjata AS Jenderal Joseph Dunford mengundang Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Acaranya adalah menghadiri Chiefs of Defense Conference on Countering Violent Extremist Organization, yang melibatkan 78 negara Asia Pasifik, pada 23-24 Oktober 2017.
Namun, Panglima TNI tidak dapat melakukan perjalanan sesuai rencana. Kedutaan Besar pun telah berkoordinasi dengan staf panglima mengenai masalah ini untuk memfasilitasi kunjungan Jenderal Gatot dan delegasi.
Kedutaan Besar A.S. pun menyatakan siap memfasilitasi perjalanan Jenderal ke Amerika Serikat. "Kami tetap berkomitmen untuk Kemitraan Strategis dengan Indonesia sebagai cara untuk memberikan keamanan dan kemakmuran bagi bangsa dan masyarakat kita," tulis keterangan kedutaan AS.
Juru bicara Markas Besar TNI Brigadir Jenderal Wuryanto mengatakan pihaknya menunggu keterangan resmi AS terkait sebab pelarangan tersebut. Ia memastikan kunjungan Panglima TNI atas undangan dan perintah Presiden untuk mewakili Indonesia. "Kita sedang menunggu penjelasan Amerika," ujarnya. (Arkhelaus. W)

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo Ditolak Masuk Amerika Serikat

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo 

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dikabarkan ditolak masuk ke Amerika Serikat oleh Pemerintah AS.
Kabar itu diterima Jenderal TNI Gatot Nurmantyo melalui pemberitahuan penolakan yang disampaikan pihak maskapai Emirates.
Maskapai ini sedianya akan membawa Gatot dan istri ke Amerika Serikat menghadiri sebuah acara konferensi memenuhi undangan Panglima Angkatan Bersenjata Amerika Serikat Jenderal Joseph F Durford, Jr. di Kota Washington, atas permintaan otoritas keamanan dalam negeri Amerika Serikat.
Gatot Nurmantyo seharusnya terbang ke Amerika Serikat menggunakan maskapai penerbangan Emirates EK 0357, Sabtu (21/10/2017) sekitar pukul 17.00 WIB.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Wuryanto membenarkan bahwa Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo ditolak masuk wilayah Amerika Serikat ketika akan berangkat ke negara itu guna menghadiri acara Chiefs of Defense Conference on Country Violent Extremist Organization (VEOs) yang akan dilaksanakan Senin dan Selasa 23 dan 24 Oktober ini di Washington DC, AS.
"Jenderal TNI Gatot Nurmantyo beserta isteri dan delegasi telah mengurus visa dan administrasi lainnya untuk persiapan keberangkata. Kemudian pada Sabtu (21/10), Panglima TNI siap berangkat menggunakan maskapai penerbangan Emirates, namun beberapa saat sebelum keberangkatan ada pemberitahuan dari maskapai penerbangan bahwa Panglima TNI beserta delegasi tidak boleh memasuki wilayah AS oleh US Custom and Border Protection," kata Wuryanto di Jakarta, Minggu.
Karena ditolak, lanjut dia, Gatot Nurmantyo urung menghadiri acara tersebut.
Wuryanto menjelaskan Gatot mendapat undangan secara resmi yang dikirim panglima angkatan bersenjata AS Jenderal Joseph F Dunford Jr dan kemudian Gatot membalas surat tersebut dan mengkonfimasi kehadirannya sebagai bentuk penghargaan dan perhatian.
"Panglima TNI mengirim surat balasan tersebut karena menghormati Jenderal Joseph F. Dunford Jr yang merupakan sahabat sekaligus senior Jenderal TNI Gatot Nurmantyo," Kata Wuryanto.
Menanggapi peristiwa itu, Gatot telah melapor kepada Presiden melalui ajudan, Menteri Luar Negeri dan Menko Polhukam serta berkirim surat kepada Joseph Dunford dan saat ini masih menunggu penjelasan atas insiden ini.
"Kepergian ke Amerika atas undangan Pangab dan atas hubungan baik dua negara serta hubungan baik antara Pangab Amerika dan Panglima TNI. Oleh sebab itu Panglima TNI beserta isteri dan delegasi memutuskan tidak akan menghadiri undangan Pangab Amerika Serikat sampai ada penjelesan resmi dari pihak Amerika," tegas Wuryanto.
Gatot Nurmantyo dan istri sebelumnya sudah mengurus visa untuk keberangkatan tersebut.
Gatot Nurmantyo mengetahui ditolak masuk Amerika Serikat beberapa saat sebelum terbang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng, Banten.
Panglima TNI sudah melaporkan insiden penolakan ini ke Presiden Joko Widodo, Menteri Luar Negeri Retno LP Masudi dan Menko Polhukam Wiranto.
Kemlu RI Minta Penjelasan AS soal Larangan Panglima TNI Memasuki AS
Pemerintah Indonesia langsung meminta penjelasan otoritas Amerika Serikat perihal larangan bagi Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo memasuki Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Retno LP Masudi menjelaskan, KBRI di Washington D.C telah mengirim nota diplomatik kepada Kementerian Luar Negeri AS untuk meminta klarifikasi.
"Permintaan tersebut diperkuat dengan nota diplomatik Kemlu RI ke Kedubes AS," kata Retno dalam pesan singkat, Minggu (22/10/2017).
Menlu Retno juga sudah melakukan pembicaraan melalui telepon dengan duta besar AS untuk Indonesia. Kebetulan, Dubes AS tidak berada di Jakarta.
"Dubes AS juga sedang menunggu info dari capital," kata Retno.
Rencananya, Retno juga akan memanggil Wakil Dubes AS pada Senin (23/10/2017).
Gatot Nurmantyo sebelumnya dikabarkan ditolak masuk ke Amerika Serikat oleh Pemerintah AS.
Kabar itu diterima Jenderal TNI Gatot Nurmantyo melalui pemberitahuan penolakan yang disampaikan pihak maskapai Emirates.
Maskapai ini sedianya akan membawa Gatot dan istri ke Amerika Serikat menghadiri sebuah acara konferensi memenuhi undangan Panglima Angkatan Bersenjata Amerika Serikat Jenderal Joseph F Durford, Jr. di Kota Washington, atas permintaan otoritas keamanan dalam negeri Amerika Serikat. (Choirul Arifin)

NU-200 Sikumbang, Koleksi Museum TNI AU Bertambah

NU-200 Sikumbang
NU-200 Sikumbang 

Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Hadi Tjahjanto bersama Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia PT Dirgantara Indonesia, Sukatwikanto menandatangani serah terima Pesawat serang antigerilya NU-200 Sikumbang.

Pesawat tersebut resmi menjadi salah satu koleksi Museum Pusat Dirgantara Mandala (Muspudirla) TNI AU, Yogyakarta. Ia menjelaskan, Sikumbang merupakan pesawat tempur pertama karya anak bangsa yaitu Laksamana Muda Udara Anumerta Nurtanio Priggoadisurjo.
"Pesawat ini diberi kode NU-200 sesuai mesinnya yang menggunakan de Havilland Gipsy Six I berdaya 200 tenaga kuda," jelasnya.
Penerbangan perdana Sikumbang dilaksanakan pada tanggal 1 Agustus 1954 lalu. Tepatnya sembilan tahun setelah Indonesia, Angkatan Udara sudah bisa membuat pesawat bikinan anak bangsa dan pesawat itu untuk COIN, Counter Insurgency, pesawat tempur serang darat, luar biasa. "Kemudian pesawat itu diuji, bisa terbang," tuturnya.
Selanjutnya, Hadi Tjahjanto menjelaskan, Nurtanio mengembangkan lagi semacam Sikumbang dengan kode NU-225. Kali ini pesawat menggunakan mesin Continental O-470A berdaya 225 tenaga kuda.
"Pesawat Sikumbang ini adalah kebanggaan kita pertama kali dibuat dengan tenaga asli Indonesia yang makannya singkong," tutupnya.
Sumber : https://news.okezone.com

Dua Anggota Brimob Polri Terluka dalam Baku Tembak dengan OPM

Baku Tembak dengan OPM
Baku Tembak dengan OPM 

Pasukan Brimob Polda Papua terlibat baku tembak dengan kelompok separatis bersenjata Organisasi Papua Merdeka di Gunung Sangker Kalibua, Kampung Utikini Tembagapura, Timika, Papua, pada Sabtu, 21 Oktober 2017. Dua personel Brimob dilaporkan terluka.
Baku tembak itu terjadi setelah insiden penembakan pada mobil patroli PT Freeport Indonesia. Saat pasukan Brimob pimpinan Ipda Taufik berpatroli di sekitar lokasi, mereka malah diserang kelompok bersenjata sehingga baku tembak tak terhindarkan.
Menurut Juru Bicara Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Ahmad Mustofa Kamal, kelompok penyerang diidentifikasi sebagai faksi OPM pimpinan Sabinus Waker. Kontak senjata berlangsung beberapa menit saja namun melukai dua prajurit Brimob.
Prajurit yang terluka adalah Brigadir Polisi Mufadol dan Bhayakara Dua Alwin. Mufadol terluka pada kaki kirinya dan Alwin terluka bagian perutnya. Luka cukup serius dialami Alwin karena serpihan peluru mengenai lambung dan kandung kemihnya.
Kedua personel Brimob itu segera dilarikan ke Rumah Sakit Tembagapura. Sementara para penyerang yang diduga kelompok separatis atau kelompok kriminal bersenjata berhasil melarikan diri masuk hutan.
Mustofa Kamal memastikan kedua prajurit Brimob yang terluka sudah mendapatkan perawatan medis. “Kondisi kedua korban dalam keadaan sadar dan sudah membaik dari kondisi sebelumnya,” ujarnya, sekaligus menyatakan bahwa aparat masih memburu para penyerang di hutan.

Tank Osorio, Terjalnya Jalan Menuju Kemandirian Industri Pertahanan

EE-T2 Osorio
EE-T2 Osorio 

Pengalaman pahit ketika industri strategis dalam negeri ‘dimatikan’ oleh kekuatan negara-negara adikuasa rupanya tidak hanya dialami Indonesia. Brasil sebagai negara yang sekarang mandiri dalam hal industri senjata dan alutsista ternyata pernah pula mengalaminya.
Kemauan sebuah negara untuk mandiri melalui industri strategis boleh jadi dianggap bahaya laten oleh negara-negara maju yang memiliki industri pada tingkatan yang sudah mapan. Maklum saja, negara-negara berkembang saat ini merupakan pasar yang sangat empuk untuk produk-produk teknologi tinggi berharga mahal. Punya sumber daya yang besar tetapi minim pengetahuan, Negara-negara adikuasa tentunya ingin agar status quo tersebut bertahan.
Maklum, untuk membuat produk-produk berteknologi tinggi seperti pesawat, kapal, atau senjata, investasi dan biaya riset yang dikucurkan juga tak sedikit. Belum lagi pangsa pasarnya yang boleh dibilang sempit. Ketika ada yang coba-coba belajar dan keluar dari lingkaran setan ketidaktahuan, dengan sigap orkestra konspirasi Negara-negara Barat dengan berbagai skenarionya akan berupaya keras menggagalkannya.
Dalam kasus Brasil, negara dengan perekonomian terbesar dan terbaik di Amerika Selatan ini pernah memiliki pabrik senjata berat dan kendaraan tempur yang sangat maju bernama Engesa. Engesa atau Engenheiros Especializados S/A (Perusahaan Mesin-mesin Khusus) tadinya merupakan perusahaan traktor dan alat pertanian, kemudian beralih membuat kendaraan tempur.
Sebagai pabrikan senjata, produk-produk Engesa seperti Cascavel, Urutu, dan Sucuri memiliki ciri khasnya sendiri yang seolah keluar dari pakem desain senjata Barat maupun Timur. Singkatnya, Engesa berhasil menciptakan pakem khas Amerika Latin yang disesuaikan dengan kondisi medan maupun tipikal ancaman yang kiranya akan dihadapi oleh Brasil sebagai Negara induknya.
AD Brasil sendiri juga tergolong progresif dalam hal penerapan teknologi pada jamannya. Paska Perang Dunia II, Brasil menjadi sedikit dari negara Amerika Latin yang memelihara armada tank dalam jumlah besar, dimana AD Brasil mengoperasikan M-3 Stuart dan M-4 Sherman buatan AS. Pada 1960, AD Brasil melakukan peremajaan Korps Kavalerinya dengan beralih menggunakan tank ringan M-41 Walker Bulldog yang dibeli sebanyak 300 unit.
Penggunaan tank sebesar ini tak lepas dari restu Amerika yang berupaya mencegah Brasil jatuh dalam pengaruh komunisme yang pada tahun-tahun tersebut sedang bergelora dan merebak di Amerika Selatan. Kedekatan AS dengan AD Brasil bahkan memuncak dalam Kudeta tak berdarah atas pemerintahan Presiden Joao Gulart yang beraliran sosialis.
Arah Kemandirian
Selepas dekade 1960an yang bergejolak, pemerintah Brasil yang kini dipegang oleh rezim militer kemudian menggariskan arah kemandirian militer Brasil. Hal ini berarti bahwa Brasil harus mampu membuat beragam kendaraan yang mampu menjawab tantangan tugas yang harus diemban oleh AD Brazil. Dalam hal rancang bangun tank, Perusahaan Bernardini Industry & Commerce Co bekerjasama dengan Bellicose Material Board berupaya menghadirkan purwarupa tank MB-3 Tamoyo. Pada awalnya, MB-3 Tamoyo tak ubahnya proyek retrofit yang sekedar menambah sejumlah fitur baru, namun kemudian berubah menjadi ambisius dengan membangun tank sendiri.
Walaupun menggunakan hull yang terinspirasi dari M-41, namun mesinnya sudah menggunakan mesin Scania DSI14 dan transmisi Alisson CD-500-3, serta kubah yang didesain dan dibangun secara lokal. Tamoyo pertama ini kemudian diperbarui dengan Tamoyo II yang menggunakan transmisi GE HMPT-500, dan kemudian Tamoyo III yang memperkenalkan sistem modern seperti laser rangefinder, thermal imaging, dan sistem kendali penembakan terkomputerisasi. Sistem penembakan meriamnya sudah distabilisasi dan kemampuan mengusung kanon 105mm. Sayangnya, karena tak ada ketertarikan dari AD Brasil, maka proyek Tamoyo pun mati suri dengan sendirinya pada 1982.
Osorio, puncak sekaligus akhir
Kegagalan Bernardini tak lantas membuat pabrikan lainnya, Engesa, mundur teratur. Pada dekade 1980an, perusahaan-perusahaan senjata Brasil sedang getol-getolnya berekspansi ke Timur Tengah, mengincar pasar senjata yang mekar bak cendawan di musim hujan berkat konflik Iran-Irak. Avibras telah berhasil menjual puluhan sistem artileri roket swagerak ASTROS ke Irak, dan Engesa mendengar bahwa Arab Saudi, yang tidak nyaman karena konflik kedua tetangganya itu, juga tengah berusaha memodernisasi armada tank mereka yang terdiri dari ratusan AMX-30B2.
Arab Saudi sebenarnya mengincar Leopard 2A4, namun sambutan dingin dari Jerman yang menolak menjual senjata ke negara lain jadi batu sandungan. Di sisi lain, dari dalam negeri sendiri AD Brasil juga sudah menyatakan minat untuk mengakuisisi sejumlah tank untuk mengganti M-41 Walker Bulldog yang tentunya sudah menua. Engesa kemudian mencoba menggabungkan kedua requirement tersebut kedalam satu tank.
Nyatanya, penggabungan kedua kebutuhan menjadi satu tersebut jauh lebih mudah di atas kertas dibandingkan dalam prakteknya. Arab Saudi nyata-nyata menginginkan daya pukul, dalam artian senjata yang diusung oleh tank baru tersebut harus berada di atas kaliber meriam tank yang ada di kawasan, dalam hal ini 105mm (M60, Merkava, Centurion), 115mm (T-62), dan 125mm (T-72).
Dari AD Brasil datang tuntutan bahwa tank yang dikembangkan Engesa tersebut tidak boleh melebihi tonase 36 ton, terkait dengan infrastruktur pendukung seperti jalan raya dan jembatan, plus sebagian kontur di Brasil terdiri dari tanah berawa atau gembur karena dilintasi sungai.
Lebar tank bahkan ditentukan pula, tak boleh lebih dari 3,2 meter karena keterbatasan lebar lori dan lebar terowongan rel kereta api yang ada di Brazil. Rel kereta di Brazil memang menjangkau seluruh negeri bahkan sampai ke pedalaman, melebihi jaringan jalan raya. Maka tidak heran bahwa Brazil menempatkan jaringan rel kereta api nya sebagai alat mobilisasi utama kekuatan tanknya.
Engesa merasa bahwa kalau mereka bisa menyatukan keinginan dalam negeri dan sekaligus potensi pasar ekspor, jumlah tank yang diproduksi dapat memenuhi hitungan ekonomis dan memenangkan persaingan sekaligus keberlangsungan hidup perusahaan. Mengetahui bahwa Arab Saudi begitu mendamba produk-produk Jerman, mereka pun segera berkiblat ke negeri panser tersebut.
Berbagai pabrikan senjata Jerman didekati, namun ternyata jalan tak mulus karena banyak intervensi. Thyssen-Henschel, yang merupakan kontraktor utama dalam pembangunan TAM (Tanque Argentine Mediano), tank medium milik Argentina, diajak rembuk. Sayangnya, Thyssen-Henschel mundur. Porsche, yang desainnya turut menentukan bentuk akhir dari MBT Leopard 1, antusias pada saat didekati. Namun Pemerintah Federal Republik Jerman, yang bisa mengira ujung pembicaraan tersebut, mengintervensi dan meminta Porsche menarik diri.
Pabrikan mesin Jerman MTU yang baru buka di Brasil juga didekati, harapannya mereka bisa menggunakan mesin MTU838 yang mentenagai Leopard 2. Sayangnya, banderol harga kelewat mahal akhirnya membuat Engesa mundur teratur. Sebagai gantinya, Engesa memilih mesin MWM TBD 234 yang dilengkapi turbocharger dan berdaya 1.040hp, yang pabriknya sendiri juga ada di Brasil.
Dari segi power/ weight ratio, tank yang menggunakan mesin MWM tersebut masih mampu membukukan 28hp/ ton, terhitung lincah jika dibandingkan Challenger 2 (19,1hp/ ton), atau bahkan M1A1 Abrams (23,7hp/ton), cukup untuk menghela tank melewati berbagai jenis medan yang tersedia. Mesin tersebut dikawinkan dengan sistem transmisi andal ZF LSG3000 yang bisa memaksimalkan output mesin.
Pada saat transmisi ZF dipilih, LSG3000 merupakan produk baru yang keluar pada 1984, dan kemudian terbukti andal mentenagai MBT seperti K1A1 buatan Korea Selatan, Ariete Italia, AMX-30E Spanyol, dan AMX-40 Perancis. Transmisinya sudah mengadopsi model matik dengan empat gigi maju dan dua gigi mundur, dengan fitur lock up clutch untuk meminimalkan kasus transmisi selip. LSG3000 juga dilengkapi secondary retarder yang ditugasi untuk membantu pengereman (engine brake) sehingga rem mekanik sangat terbantu dengan fitur ini. Alasan pemilihan sistem transmisi, lagi-lagi karena pabriknya sudah berdiri di Brasil.
Ketika mesin dan transmisi telah diputuskan, bagian tersulitnya adalah mendesain hull. Hull dari tank baru tersebut harus mampu mengakomodasi segenap mesin dan transmisi, sistem suspensi, kompartemen tempur dan kubah, amunisi, serta sistem optikal lainnya. Engesa dengan berani memborong perangkat hardware dan software CAD (Computer Aided Design) yang pada 1984, di jaman komputer tidak mampu menampilkan grafik, berharga jutaan dolar.
Pionir pada jamannya, CAD membantu para insinyur Engesa untuk mengira-ngira pemosisian berbagai komponen tank agar muat dan berfungsi.Dengan cara tersebut Engesa tidak perlu membangun terlalu banyak purwarupa untuk proofing, dan proyeksi penghematannya dianggap setara. Namun dengan segera, para insinyur Engesa menemukan masalah. Batasan 36 ton dianggap tidak realistis, dan amat sukar untuk dapat memenuhi keinginan AD Brasil kecuali ada pengorbanan yang dilakukan, entah pada proteksi, atau pada mobilitas. Kembali berunding, permintaan Engesa agar treshold bobot total tank dinaikkan, dan disepakati pada kisaran 42 ton.
Dari medium jadi main battle tank
Tanpa kawan yang bisa mengajari material dan desain untuk pembuatan hull, Engesa maju terus pantang mundur. Menyadari bahwa restriksi bobot akan mempengaruhi material yang digunakan, Engesa memilih lapisan komposit untuk menyusun hullnya. Lapisan dasarnya adalah baja tentu saja, kemudian diperkuat dengan alumunium, serat karbon dan keramik yang dilaminasi ke lapisan baja dasar.
Komposisi baja dasar untuk hull didesain dan dibuat oleh Usiminas, perusahaan dari Brasil sendiri, dan perakitannya dilakukan di pabrik Engesa Sao Jose dos Campos, Sao Paulo. Sementara untuk lapisan kompositnya, Engesa menyewa dua orang enjinir eks laboratorium Chobham, yang membuat Chobham Armour yang terkenal untuk MBT Inggris Challenger. Tidak ada data yang pasti mengenai kekuatannya, tetapi Engesa mengiklankan bahwa lapisan frontal/ glacis Osorio mampu menahan impak proyektil HEAT 105mm maupun seluruh ATGM yang beredar di pasaran pada dekade 1980an.
Layout dari hullnya sendiri terhitung konvensional, dengan bagian depan dan tengah diisi oleh kompartemen tempur, sementara bagian belakangnya diisi oleh mesin dan transmisi. Yang hebat, para enjinir Engesa sudah mendesain tank baru tersebut dengan mesin diesel sekunder yang berfungsi sebagai APU (Auxillary Power Unit). APU ini berfungsi mentenagai seluruh kelistrikan dalam kompartemen tempur, plus modul optik milik komandan sehingga dapat berputar independen terhadap gerak kubah. Apa artinya? Didalam tank baru rancangan Engesa ini, peranan hunter-killer yang baru populer pada 1990an sudah diadaptasi lebih dulu. Komandan yang berperan sebagai pemburu dapat mencari sasaran dengan suara yang seminimal mungkin sehingga mengurangi kemungkinan deteksi oleh lawan.
Sistem suspensi yang dipasang pada hull pun terhitung istimewa. Alih-alih menggunakan suspensi torsion bar standar, Engesa yang piawai dengan sistem suspensi ‘boomerang’ membenamkan sistem suspensi hidropneumatik di keenam roadwheel yang ada di tiap sisi badannya. Sistem suspensi yang dipergunakan dibuat oleh Dunlop, dan serupa dengan sistem yang diaplikasikan pada MBT Challenger 1.
Seperti kita tahu, sistem suspensi hidropneumatik menawarkan kenyamanan lebih bagi awak, mengurangi kelelahan, dan memberikan opsi untuk merubah ketinggian tank dari permukaan tanah. Tak berhenti disitu, Engesa juga memilih sistem rantai (track) Diehl 570P buatan Diehl Remscheid, serupa dengan yang dipergunakan oleh Leopard 2. Dengan tapak karet yang kuat, selain nyaman, daya tahannya juga mampu mencapai 16.000km tanpa kerusakan yang berarti.
Kubah
Beralih ke soal persenjataan, Engesa menemukan partner dari Inggris. Vickers Defense, perusahaan Inggris yang pernah membantu pembuatan tank nasional India sepakat untuk membuatkan sistem kubah untuk tank buatan Engesa. Basis pengembangannya adalah kubah Universal Turret milik Vickers Mk7, tank yang tak berhasil dijual oleh Vickers. Lucunya, Vickers tak berhasil menyelesaikan kubah sesuai perjanjian, dan tank Engesa tersebut diluncurkan dengan mock up turret yang dicat seperti kubah tank asli pada September 1984! Tank modern buatan Engesa ini ditahbiskan dengan kode EE-T1 Osorio, dinamai berdasarkan nama Jenderal Manuel Luis Osorio, bapak Kavaleri AD Brasil.
Pada Mei 1985, pengiriman kubah dari Inggris sampai di Brasil. Engesa memiliki rencana ambisius terkait dengan pemanfaatan kubahnya. Untuk urusan kanon sebagai senjata utama, Engesa mendesain dua macam meriam. Satu adalah kanon berulir Royal Ordnance L7 kaliber 105mm, kanon standar NATO yang digunakan pada M60 dan M1 Abrams. Yang kedua, untuk memenuhi keinginan Arab Saudi, Engesa menggunakan kanon tanpa alur (smoothbore) GIAT CN120-26/52 kaliber 120mm. Kanon ini, yang kelak akan dipakai oleh MBT Leclerc, dianggap mumpuni untuk melibas semua tank yang digunakan oleh tetangga-tetangga Arab Saudi.
Untuk kubah pertama yang dipasangkan ke EE-T1, perlengkapannya sudah lumayan komplit. Dikendalikan oleh sistem kontrol penembakan OIP yang distabilisasi, EE-T1 sudah mampu menembak sambil bergerak, satu fitur yang terhitung ‘luar biasa’ pada dekade tersebut karena baru Brasil sebagai negara berkembang yang mengaplikasikannya.
Fitur lain yang disediakan untuk penembak dan komandan adalah IIT (Image Intensifier Tube) pasif yang memampukan penginderaan pada malam hari, walau hasilnya masih belum terlalu sempurna. Varian pertama EE-T1 yang mengaplikasikan kanon L7 ini memiliki penyimpanan peluru di bagian belakang kubah (bustle) dengan pintu baja yang berfungsi sebagai firewall agar api tak menyebar ke kompartemen tempur apabila tank terkena tembakan.
Mendapati hasilnya memuaskan, Engesa bergerak semakin agresif saat menyelesaikan purwarupa kedua, EE-T2. Varian yang diperuntukkan bagi Arab Saudi ini dibangun penuh dengan bells and whistles alias penuh aksesoris. Selain kanon GIAT CN120-26/52 yang dipasang ke kubah, sistem kendali penembakannya menggunakan FCS buatan Marconi. Sistem kendali penembakan ini menggunakan arsitektur 16 bit untuk mampu mengolah berbagai variabel yang bisa dipasok ke sistem seperti elevasi meriam, arah angin, tekanan angin, pembacaan jarak dari laser rangefinder, dan tipe munisi yang digunakan.
Distabilisasi pada dua sumbu, EE-T2 pun juga mampu menembak sambil bergerak. Yang hebat, sistem penginderaan pada EE-T2 sudah dibantu dengan thermal imager buatan SFIM yang menggunakan tabung generasi kedua yang lebih jelas dibandingkan dengan IIT. Baik komandan maupun juru tembak memiliki sistem optik dan laser rangefinder independen dan mampu beroperasi sebagai hunter-killer. Sistem filter Nubika dipasang pada EE-T2, sesuai dengan permintaan Arab Saudi. EE-T2 diawaki oleh 4 orang, pengemudi, komandan, juru tembak, dan pengisi munisi.
Sebelum menjalani kompetisi di gurun, AD Brasil dan Engesa menguji EE-T1/T2 di wilayah Marambaia yang konturnya mirip dengan Arab Saudi, dimana tank ini menempuh jarak 3.269km tanpa jeda, dan melakukan uji penembakan sebanyak 50 kali. Pengujian tidak menemui kendala, sehingga AD Brasil amat puas dengan hasilnya. Berangkat dengan optimisme, kru dari Engesa berangkat ke Arab Saudi, dimana lawan-lawan EE-T2 sudah menunggu.
Lawan-lawan Osorio terhitung sangat serius, praktis Brasil harus berhadapan dengan para jawara dunia. Inggris membawa Challenger, Amerika menggadang-gadang M1 Abrams, Perancis mengajukan AMX-40. Ketiga lawan Osorio sudah jelas tangguh, dan tentunya tidak mau melewatkan kontrak yang menggiurkan tersebut. Arab Saudi menawarkan kesempatan yang adil dalam ujian yang realistik.
Sejumlah parameter yang diujikan adalah daya tempuh (endurance), kemampuan tembak, dan lintas rintangan. Arab Saudi mensyaratkan bahwa setiap tank akan menempuh jarak sejauh 2.350km cross country, 75% diantaranya melalui gurun. Tiap tank harus mampu memenuhi batasan konsumsi 2,1km per liter bahan bakar yang ditenggak di padang pasir, dan 3,4km/ liter di jalan raya. Untuk rintangan, tiap tank harus melintasi parit selebar 3m, menanjak pada sudut 65o, melintasi kemiringan 30o, serta berhenti dan berakselerasi pada tanjakan.
Soal perawatan teknis tak luput dari perhatian, dimana penggantian track harus dapat dilakukan dalam 40 menit, mesin harus mampu dinyalakan idle selama 6 jam, dan mampu menderek tank sejenis lainnya, terutama untuk kebutuhan recovery. Untuk uji penembakan, tiap tank diwajibkan menembak 149 kali, dengan sasaran pada berbagai jarak dan yang terjauh adalah 4.000 meter. Ada sasaran statik dan ada pula sasaran bergerak, yang ini dipasang pada jarak 1.500m. Dalam kasus ideal, dimana tank diawaki oleh para kru uji yang mengenal tiap tanknya luar dalam, mungkin hal ini bisa dilakukan.
Namun Arab Saudi memberikan satu twist yang rumit: tiap tank harus diawaki oleh prajurit kavaleri AD Arab Saudi, dan kru uji tiap perusahaan hanya bertindak sebagai pendamping. Benar saja, satu demi satu tank lawan berguguran. Challenger dan AMX-40 tidak mampu memenuhi batasan konsumsi bahan bakar yang disyaratkan, sementara M1 Abrams sedikit lebih boros dari EE-T2 yang mampu mencapai efisiensi konsumsi bahan bakar.
Kemampuan recovery EE-T2 juga luar biasa, karena mampu digunakan menarik M1 Abrams yang bobotnya 10 ton diatas EE-T2. Pada saat uji tembak, EE-T2 benar-benar menunjukkan kelasnya. Osorio menjadi satu-satunya tank yang mampu menembak sasaran statik berukuran sebesar mobil pada jarak 4.000m. AMX-40 yang menggunakan meriam yang sama, tidak mampu melakukannya. Arab Saudi tentunya amat puas, dan mengumumkan EE-T2 Osorio sebagai pemenang. Banderol harga EE-T2 yang ‘hanya’ US$1,2 juta membuat Arab Saudi memesannya sebanyak 318 unit.
Hasil kemenangan di Arab Saudi ini membuat Engesa dan AD Brasil meledak dalam kegembiraan. Sudah terbayang rencana ekspansi dari Engesa, yang berniat membangun pabrik baru di Arab Saudi, mempekerjakan lebih banyak pegawai, dan memasok AD Brasil. Arab Saudi bahkan akan menjadikan EE-T2 Osorio sebagai basis pengembangan tank lokalnya, Al Fahd. Dalam kontrak yang ditandatangani tersebut, 10 tank akan diberikan ke AD Brasil secara cuma-cuma, dengan dana dari Arab Saudi. Kontrak ini tentu saja akan membawa Engesa ke jajaran top produsen tank di dunia.
Dikhianati dan ditusuk dari belakang oleh sang adidaya
Sayangnya, kemenangan yang sudah ada di pelupuk mata tersebut dalam sekejap berubah menjadi fatamorgana. AS dan Inggris tidak begitu saja tinggal diam, dan meluncurkan berbagai intervensi politik. AS memainkan paranoia stabilitas kawasan, menjadikan konflik Iran-Irak sebagai hantu yang akan menggoyahkan kekuasaan dinasti Al-Saud. Selain itu, AS menunjukkan fakta bahwa Brasil merupakan pemasok besar senjata untuk Irak seperti Avibras ASTROS.
Arab Saudi, yang secara tradisional merupakan sekutu Amerika Serikat dan menyenangi status quo di kawasan, akhirnya menurut. Mereka menggantung status kontrak dengan Engesa. Pukulan telak kedua adalah ketika Perang Teluk II meletus. Armada tank-tank Abrams dan Challenger merajai gurun Kuwait dan Irak, menghancurkan tank-tank Garda Republik tanpa tanding. Arab Saudi, yang merasa berhutang budi pada AS, akhirnya memutuskan membeli Abrams, satu langkah final yang mengakhiri prospek Osorio.
Engesa yang sudah terlanjur mengeluarkan investasi besar untuk pengembangan EE-T1/T2, akhirnya mengumumkan kebangkrutan mereka di tahun 1991 karena pertaruhan mereka pada tank yang hebat itu ternyata berujung pada kekalahan. Secara tidak langsung, intervensi politik AS dan Inggris telah mematikan industri strategis Brasil.
Yang paling ironis, walaupun Osorio merupakan platform yang telah teruji, AD Brasil tak mau membelinya karena alasan klasik, apalagi kalau bukan soal pendanaan. Sebagai gantinya, AD Brasil malah membeli Leopard 1 eks Bundeswehr, yang tentunya jauh lebih inferior dibandingkan EE-T1/T2 yang dikembangkan oleh anak negerinya sendiri, sementara sang tank karya anak bangsa hanya berakhir sebagai sebuah monumen belaka. Sungguh tragis. (Aryo Nugroho)

Presiden Duterte Minta Indonesia 'Ledakkan' Bajak Laut di Perairan Regional

Ilustrasi
Ilustrasi 

Presiden Filipina Rodrigo Duterte meminta para pemimpin Indonesia dan Malaysia untuk ”meledakkan” bajak laut atau perompak dari perairan regional. Kelompok Abu Sayyaf yang kerap menculik awak kapal untuk uang tebusan dikhawatirkan akan membuat perairan regional menjadi “Somalia kedua”.
Pernyataan Duterte muncul setelah dia mengumumkan Kota Marawi selatan terbebas dari pengaruh teroris setelah pertempuran melanda kota Muslim itu selama lima bulan terakhir.
”Ledakkan mereka keluar dari laut untuk menjaga agar jalur pelayaran kita tetap terbuka dan aman. Mereka telah melakukan cukup banyak pembajakan di sana, cukup banyak uang yang dikumpulkan dari tebusan,” kata Duterte dalam sebuah pidato di sebuah forum untuk para diplomat dan pemimpin Asia Tenggara di Manila.
”Saya baru saja menyelesaikan perang di Marawi, mungkin saya bisa memfokuskan kembali seluruh angkatan bersenjata untuk menangani masalah ini sekali dan untuk selamanya,” ujar Duterte, yang dilansir dari AFP, Sabtu (21/10/2017).
Kelompok militan bersenjata pro-ISIS sempat menyerbu dan menduduki sebagian wilayah Marawi sejak 23 Mei lalu. Duterte menganggap kelompok militan itu berupaya untuk membangun “kekhalifahan”-nya Asia Tenggara.
Konflik di Marawi dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.000 orang dan memaksa sekitar 400.000 warga mengungsi.
Meski pertempuran di Marawi mereda, Duterte mengatakan bahwa kelompok militan terus mengancam rute pasokan dan jalur pelayaran Asia Tenggara.
Dia mencontohkan Selat Melaka sebagai salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia yang berada di antara Semenanjung Malaysia dan pulau Sumatra di Indonesia. Kawasan perairan, menurut Duterte menderita akibat terorisme.
”Ada sesuatu yang harus dilakukan, tindakan drastis untuk situasi yang sangat berbahaya,” katanya.
Filipina, Malaysia dan Indonesia telah meluncurkan patroli udara dan laut yang terkoordinasi untuk memerangi ancaman keamanan di perairan regional. (Muhaimin)

Radar Acak