CZ805 Bren A1/ A2, Mengenal Senapan Serbu Terbaru Kopaska

CZ805 Bren A1/ A2
CZ805 Bren A1/ A2

Menyebut nama Bren, ingatan langsung melayang ke sosok senapan mesin legendaris berbentuk khas dengan sistem pasokan magasen lengkung yang dipasang dari atas. Senapan mesin yang begitu disukai, sehingga digunakan sampai Perang Teluk II.
Di Indonesia, nama Bren begitu lekat dalam ingatan, sampai-sampai orang awam yang melihat senapan mesin, apapun bentuknya, akan menyebutnya dengan Bren. Pameran IDAM 2012 menjadi kemunculan perdana saat stand Negara Ceko menghadirkan senapan serbu yang menyandang nama Bren. 
Pabrik senjata dibalik kesuksesan Bren adalah CZ (Ceska Zborojovska), yang berusia ratusan tahun dan mendukung independensi bangsa Cek. Walaupun pada masa Perang Dingin Ceko secara resmi ada dibawah ketiak Pakta Warsawa, mereka menolak untuk tunduk pada standarisasi Soviet. 
Contoh kecil saja, untuk urusan senapan serbu. CSLA (Cekoslovenska Lidova Armada - Pasukan Rakyat Cekoslovakia) menggunakan senapan serbu Samopal Vzor 58(Sa Vz58), senapan yang memiliki desain lebih ramping dibandingkan AK-47. Mekanismenya pun berbeda, menjadikannya tidak kompatibel dengan suku cadang Pakta Warsawa. Indonesia pun tercatat memiliki Sa Vz58, yang saat ini masih digunakan oleh Kepolisian dan Kopaska.
Sesungguhnya, Ceko sendiri tidak puas dengan keberadaan Vz.58. Sistem senjata ini, walaupun ringan dan akurat, tidak bisa dimodifikasi untuk mengadopsi kaliber yang lebih kecil. Kebutuhan sistem kaliber kecil dikarenakan Uni Soviet beralih ke kaliber 5,45x45mmR, sehingga mau tidak mau Ceko harus menyesuaikan, tetapi tidak mau mengadopsi AK-74. 
Pada 1977 desainer Miloslav Fisher dari biro desain VVU-ZVS (Vyzkumne Vyvojovy Ustav Zavodu Vseobechneho Strojirenstvi-Pusat riset Mesin Umum) Brno sudah mulai mengembangkan desain senjata yang kira-kira bisa menggantikan Sa Vz58. Tim yang diketuai oleh Bohumil Novotny butuh waktu sampai 7 tahun untuk menyempurnakan purwarupa yang diberi nama Lada, yang diproyeksikan akan dikembangkan sebagai senapan serbu mikro, senapan serbu, dan senapan mesin ringan.
Krisis negara dan senjata
Sayang, Revolusi Ungu mengakhiri segalanya. Cengkraman partai komunis Cekoslovakia yang begitu kencang pada segala sendi kehidupan Negara akhirnya hancur begitu saja karena gelombang Glasnost dari Uni Soviet. 
Sistem keluarga senjata Lada, yang sebenarnya sudah siap pada akhir 1989, akhirnya dibiarkan terbengkalai. Cekoslovakia tidak punya uang untuk pengadaan sekian banyak senapan serbu, untuk menata kehidupan masyarakatnya saja sudah sulit. 
Satu fakta yang memperburuk kondisi militer Cekoslovakia adalah dalam hal logistik peluru. Dibawah Pakta Warsawa, Cekoslovakia menerima pasokan jutaan butir peluru dari Uni Soviet, sebagai komplemen bantuan militer karena Ceko sudah menggunakan senapan Sa Vz58. 
Pecahnya Soviet membawa malapetaka bagi kesiapan militer Ceko, yang tentunya amat membutuhkan peluru. Produksi amunisi diluar kebutuhan militer memang tersedia di pabrikan Sellier & Bellot, tetapi yang diproduksi adalah peluru 5,56x45mm sesuai standar M193 milik AS.
Krisis perpecahan Soviet juga memantik perpecahan politik di Cekoslovakia. Ceko dan Slovakia akhirnya resmi memisahkan diri pada 1 Januari 1993. Ceko, yang benar-benar tidak memiliki uang di kas negaranya, berupaya keras untuk mendekat kepada pihak Barat-termasuk mencoba bergabung dengan NATO. 
NATO, yang memang berupaya mempengaruhi 12 negara pecahan Pakta Warsawa untuk sebanyak mungkin bergabung dengan Barat, meluncurkan program Partnership for Peace (PfP) pada Januari 1994. PfP berupaya mengenalkan NATO kepada Negara calon anggota, dimana tiap calon dikenalkan pada sistem senjata standar NATO. Sejumlah besar dana digelontorkan untuk membuat sistem Negara-negara yang masih menggunakan produk Soviet untuk dapat distandarisasi dengan buatan NATO.
Mengetahui bahwa Cekoslovakia akan beralih ke sistem munisi kompatibel NATO, banyak pihak melakukan pendekatan ke pabrikan CZ yang sudah ditunjuk sebagai sistem integrator untuk senapan Lada. Tidak hanya dari dalam negeri, Colt dari AS bahkan menawarkan pada Cekoslovakia untuk merakit M16 di Ceko. Uniknya, rencana ini hanya berakhir pada konsesi Colt untuk memasarkan pistol CZ di pasar domestik AS. 
Akhirnya, ACR (Armada Ceske Republiky-Angkatan Bersenjata Ceko) kelihatannya memiliki kans untuk membenahi sistem persenjataan individu bagi prajuritnya. Lada yang sempat digudangkan diajukan kembali, ditambahi sejumlah perubahan seperti kamar peluru dan magasen yang mengadopsi munisi 5,56x45mm, dan akhirnya dirilis sebagai sistem CZ2000. 
Sayangnya, selera dan kedekatan dengan NATO justru membawa satu dampak ikutan negatif yang tak terduga sebelumnya: bentuk Lada/ CZ2000 yang masih mirip dengan AK-74 dianggap kuno dan membawa stigma masa lalu di jaman kegelapan.
Project 805
Melihat ACR maju-mundur dalam mengadopsi Lada/ CZ2000, CZ selaku pabrikan tentu tak bisa tinggal diam. CZ, bekerjasama dengan AD Ceko, kemudian meluncurkan Project S805-kode tiga digit ini memiliki arti tersendiri, dimana 800 merupakan kode program untuk senapan serbu dan pistol mitraliur. 
Programnya dimulai pada 2005 dan benar-benar dimulai dari meja desain. Lada/CZ2000 dikubur dan desain barunya meninggalkan garis desain Kalashnikov. Sejumlah desain senapan serbu generasi baru dari beberapa pabrikan dijadikan referensi. 
CZ kemudian memilih layout senjata yang amat mirip dengan senapan serbu yang tadinya dipilih oleh USSOCOM yaitu FN SCAR (Mk16 Mod 0). Pilihan desain layout ini bukannya tanpa alasan. Mk16 Mod 0 yang awalnya digadang-gadang akan menjadi senapan serbu pengganti M4A1 didesain untuk menyempurnakan kelemahan generasi senapan serbu buatan Eugene Stoner. Bagi Republik Ceko yang baru saja bergabung dengan NATO, mereka sebisa mungkin harus berkiblat ke Barat.
Kemiripan bentuk tersebut amat kentara dari bentuk upper receiver dari Project 805, yang sepintas amat mirip dengan FN SCAR. Bedanya, upper receiver pada Project 805 memiliki bentuk yang lebih mengotak disertai cerukan lightening cut yang berfungsi mengurangi bobot senjata. 
Sistem pengokang yang terletak di sisi kiri dan kanan (ambidextrous), popor model lipat, upper receiver model monoblok sehingga rel belakang memanjang sampai kedepan, dan yang tak kalah penting, adalah sistem laras modular, memang sebelas-duabelas dengan SCAR. 
Sama seperti SCAR, Project 805 didesain untuk bisa mengadopsi berbagai laras dengan panjang yang berbeda-beda sesuai kebutuhan. Ada laras 10,5” untuk pertempuran jarak dekat, 14,5” untuk pasukan para, atau 20” Heavy Barrel untuk aplikasi tembak jitu. Sistem penguncian larasnya juga mirip-mirip, menggunakan mur yang dipasang dari sisi kiri-kanan receiver.
Namun kesamaannya berhenti disitu. Jika SCAR hanya menekankan konsep modularitas pada sisi penggantian laras dan membuat dua sistem yang berbeda, Mk16 untuk kaliber 5,56mm dan Mk17 untuk kaliber 7,62mm NATO, maka CZ menerapkan konsep full modularity pada Project 805. 
Project 805 harus mampu mengadopsi dua kaliber standar NATO tersebut dalam format satu senjata. Mungkinkah? CZ membuktikan kejeniusan tradisi engineering senjata mereka dalam Project 805. Untuk mengadopsi bentuk magasen yang berbeda untuk tiap jenis peluru, 
CZ membuat lower receiver berbahan polymer yang terpisah antara pistol grip dan pelatuk dengan modul lubang magasen (magwell). Ada yang kompatibel dengan magasen M16/ STANAG, ada yang bisa mengadopsi magasen 7,62mm dari M14, dan untuk penggunaan oleh ACR, CZ membuatkan magasen yang menggunakan sistem serupa seperti G36 milik Jerman. 
Pilihan yang cukup membuat tanda tanya, mengingat status Republik Ceko yang merupakan anggota baru NATO. Sistem rilis magasennya pun mirip dengan G36/ AK47, yaitu dengan menggunakan tuas kecil pada bagian belakang magwell. Opsi lain adalah magwell untuk 7,62x39mm M43 standar AK-47.
CZ juga membuat magasennya dari bahan polimer tembus pandang, sehingga peluru yang tersisa terpampang dengan amat jelas. Yang membedakannya dengan magasen G36 adalah hilangnya fitur clamp yang digunakan untuk menempelkan dua magasen atau lebih. 
Yang unik, antara receiver bawah dan receiver diatasnya menggunakan rollpin sebagai penghubung, bukan pushpin layaknya pada senapan standar NATO lainnya. Rollpin yang berukuran relatif kecil ini harus didorong oleh kepala peluru bila hendak membongkar senjata, dilanjutkan dengan mendorongnya menggunakan pena pemukul (firing pin). 
Setelah bisa membongkar senjata, maka baru ketahuan bahwa mekanisme internal CZ 805 lebih mirip dengan mekanisme AR-18 dibandingkan dengan pada SCAR. FN SCAR masih mempertahankan bentuk piston yang menyatu dengan bolt carrier, hasil pengembangan lanjutan dari FN FNC, yang meniru AK-47.
Pada CZ 805, bolt carriernya memiliki sedikit blok yang memanjang kedepan, dengan satu lubang besar berbentuk lingkaran. Di lubang inilah dimasukkan tuas pengokang, yang dapat dipindah-pindah dari kiri atau kanan sesuai dengan preferensi penembak. 
Karena menempel pada bolt carrier, maka tuas pengokang ini ikut bergerak kebelakang pada saat senapan ditembakkan, jadi penembak harus berhati-hati saat memegang senapan. CZ 805 menggunakan bolt head berbentuk kaki seribu, sepintas serupa dengan milik AR-18, namun lagi-lagi dipergoki adanya perbedaan. Bilah sirip bolt (lug) pada CZ 805 hanya menggunakan enam buah lug, sementara AR-18 menggunakan tujuh lug.
Perbedaan desain ini dilakukan atas perintah AD Ceko, yang kuatir atas rigiditas dan kekuatan lug yang bersinggungan dengan jalur ekstraktor kelongsong. Apabila CZ 805 hendak menggunakan kaliber peluru yang berbeda, maka yang diganti cukup bolt headnya saja, sementara bolt carriernya tetap sama. 
Pada saat ditembakkan, gas hasil penembakan sebagian akan mengalir keatas, mendorong piston besar yang dilengkapi pegas. Piston ini mendorong bolt carrier kebelakang untuk menyelesaikan siklus penembakan, lalu kemudian kembali ke posisinya berkat pegas tersebut. Tabung gas CZ 805 menyatu dengan larasnya, dan memiliki 2 setingan normal atau adverse untuk kondisi berdebu.
Diluar mekanisme, CZ 805 dilengkapi dengan sejumlah fitur kosmetik yang gunanya meningkatkan kenyamanan penggunanya. Sebagai contoh, pistol grip pada CZ 805 memiliki fitur backstrap, sesuatu yang biasanya hanya ada pada pistol. Dengan backstrap ini, bagian belakang pistol grip bisa diganti-ganti dengan ukuran yang paling sesuai dengan telapak tangan, nyaman sekali. Selektor tembakan yang ada di atas pelatuk juga mudah dimanipulasi dan terletak di dua sisi, menawarkan 3 setingan penembakan: Safe-1-2-Auto.
Satu hal lain yang sifatnya anakronisme adalah pemilihan popor. Apabila dirunut, setidaknya CZ 805 sudah 3 kali berganti desain popor. Yang pertama adalah popor kurus mirip milik ARX-160 yang bisa ditarik dan dilipat. Generasi kedua dari popor ini masih menggunakan popor lipat, tetapi metode tariknya mirip dengan milik popor M4 dan dilengkapi cheekpiece memanjang untuk sandaran pipi saat menembak. 
Namun untuk alasan yang sepertinya untuk menghemat bobot, maka AD Ceko meminta popor lipat biasa tanpa setelan panjang, yang dibuatkan dari bahan polimer dan berbentuk popor berongga (skeletal/ wire stock). Alasannya mungkin lebih untuk penghematan bobot, mengingat bobot kosong CZ 805 sudah mencapai 4kg, terhitung berat untuk ukuran senapan serbu. Seluruh popor lipat ini menggunakan mekanisme tombol pelepas yang adanya disebelah kiri popor. 
Untuk pembeli di pasar internasional, CZ menyediakan popor lipat dengan bantalan pipi khusus (#3702-3400-05) untuk aplikasi senapan tembak runduk. Uniknya, modul popor CZ 805 juga didesain modular, dimana popor ini dapat dipertukarkan dengan popor milik CZ Scorpion Evo 3 A1 atau modul pelontar granat tunggal CZ 805 G1.
Sementara untuk urusan membidik, sistem pisir-pejera pada CZ 805 memiliki pisir-pejera model lipat dimana tiang pisir bisa disesuaikan ketinggiannya (elevasi), sementara pisir dapat disesuaikan simpangan anginnya (windage). Namun tentunya senapan serbu modern tak bisa mengandalkan sistem pisir-pejera mekanis lagi. Tuntutan skenario tempur pada segala situasi dan kondisi menyebabkan menjamurnya proliferasi penggunaan alat bidik optikal untuk senapan serbu.
 Dalam pameran IDAM 2012 optik yang nangkring diatas CZ 805 adalah ZD-Dot 1x yang dipasang combo dengan DV-Mag 3 Magnifier buatan pabrikan optik Ceko Meopta Optika. Gabungan keduanya menghasilkan optik reflex dengan pembesaran sampai 3x, memadai untuk pertempuran pada jarak menengah. 
Tidak puas dengan pilihan ini? Jangan kuatir, CZ sudah menyiapkan berbagai macam optik sesuai dengan kebutuhan yang daftarnya dijabarkan lengkap dalam katalog militernya. Ingin yang berbasis tritium? Ada Mepro 21 buatan Israel.
Mau holographic sight dengan laser pembidik terintegrasi? Ada EOTech 552 dengan modul EOLAD-2VI atau EOLAD-2S. Kalau butuh laser pointernya saja ada CQBL-1, sementara kalau butuh pembidik laser kasat mata ada DBAL-A2. Untuk aplikasi khusus seperti tembak jitu, ada teleskop jarak menengah Leupold Mark4 LR/T 8,5x25x50mm ilum TMR, sementara untuk pertempuran malam ada optik jarak menengah Mepro MNV X6, NOA X4 dan NYX, sementara kalau butuh optik dengan kemampuan bidik termal terintegrasi ada Mepro NOA X7. 
Diluar daftar yang ada, pengguna bisa menggunakan segala macam optik berkat keberadaan rel Picattinny pada senapan, jadi secara teoritis segala optik bidik yang ada diluar sana bisa ditempelkan ke senapan.
Membuat senapan serbu jaman sekarang tak lengkap rasanya bila tak menambahkan pelontar granat sebagai aksesori penambah daya gempur. Senapan serbu baru saat ini rata-rata memiliki pelontar granatnya sendiri, sebut saja seperti AG36, GL40, M203, dan sebagainya. CZ juga tak luput memperhatikan hal ini, dimana mereka membuat modul pelontar granat 40x46mm G805. 
Varian awal memiliki pelontar granat dengan pegangan berbahan plastik tanpa kontur alias mulus, sementara versi produksi memiliki rusuk vertikal untuk genggaman yang lebih baik. G805 dibuka kearah samping (side loading) sehingga bisa diisi dengan berbagai macam granat lontar. 
Yang unik dan membedakannya dengan pelontar granat lain adalah fitur ambidextrous opening, dimana tabung peluncurnya dapat dibuka ke arah kiri atau kanan, hanya dengan memutar casemate di pangkal tabung. Fitur ini bermanfaat bagi penembak yang kidal. Untuk alat bidiknya tersedia leaf sight, atau bila ingin lebih akurat, ada collimator sight Mepro GLS 203. Atau yang lebih oldskool, bisa memilih modul leaf and tangent sight, tetapi bobot senapan tentunya bertambah karena dua modul pisir-pejera ini harus ditempelkan diatas rel.
Ambiguitas
Biarpun CZ telah bersusah payah mendesain CZ 805 sebagai senapan yang modular, sambutan dari AD Ceko justru terlihat kontradiktif. Apa pasal? CZ pada tahun 2006 telah menyerahkan dua purwarupa, A1 kaliber 5,56x45mm NATO dan menyusul A2 dalam kaliber 7,62x39mm pada 2008, untuk mengantisipasi transisi dari kaliber peluru blok timur yang digunakan senapan Sa.58 menjadi standar NATO. 
Namun order pembelian tak terwujud jua, walaupun setelah dipertandingkan dengan XCZ 805 (Lada/ CZ 2000 yang berganti nama), CZ 805 menunjukkan keunggulan yang tak terbantahkan. AD Ceko bahkan terkesan mengulur waktu dengan terus meminta sejumlah perubahan setiap kali CZ menyerahkan CZ 805 hasil penyempurnaan.
Barulah pada November 2009 AD Ceko akhirnya memutuskan untuk mengadakan tender, yang konon diikuti sampai 27 pabrikan. Di final, CZ 805 bertemu dengan SCAR-L, senapan yang telah menginspirasinya. FN bersedia membangun pabrikasi lokal andai SCAR-L terpilih. 
Namun ketika hasilnya diumumkan pada 1 Februari 2010, CZ dinyatakan memenangkan persaingan dengan varian A1nya. Angka pesanan pun dibukukan: 6.687 CZ 805A1, 1.250 CZ 805A2, dan 397 CZ 805G1. Semua konfigurasi tersebut dipasangkan dengan optik Meopta ZD-Dot yang ditenagai satu baterai AA. Untuk pasukan khusus, dipesankan 1.386 CZ 805A2 dengan ZD-Dot dan DV-Mag3/ NV-3Mag Night dan AN/PEQ-15 DBAL-A2.
Anehnya, varian A2 yang dimaksud oleh AD Ceko bukanlah A2 dalam kaliber 7,62mm M43, melainkan merujuk pada panjang laras. CZ 805 A2 yang dipesan adalah varian A1 5,56mm dengan panjang laras komando 11”. Fakta bahwa kedua varian ini sesungguhnya dapat dipertukarkan larasnya sehingga, katakanlah, lebih murah untuk merilis satu senjata dengan dua opsi komponen laras, sama sekali tak digubris oleh AD Ceko. AD Ceko kelihatannya menimbang-nimbang bahwa proses penggantian laras pada CZ 805 makan waktu cukup lama, dimana pengguna harus membongkar senjatanya, melepas bolt head dari kunciannya dengan laras, membuka baut yang mengikat laras dan baru kemudian bisa menggantinya. Terlalu banyak komponen dan proses yang dilibatkan, sehingga kurang praktis dilakukan di lapangan.
Dengan sejumlah perubahan tambahan yang diminta oleh AD Ceko, CZ baru bisa menyerahkan batch pertama CZ 805 pada 19 Juli 2012. Sebanyak 505 CZ 805 Bren A1 diserahkan, bersama 20 modul G 805, sementara sisanya dicicil dan akan selesai pada 2013. Masih terlalu dini memang untuk dapat menilai seberapa bandel CZ 805 di lapangan, dan apakah memang senapan baru ini memang layak menyandang nama Bren yang legendaris. 
Apalagi, AD Ceko belum berniat mengganti seluruh senapan serbunya dengan CZ 805 karena terbentur dana. Belum ada Negara yang tertarik untuk mengadopsi CZ 805A1/ A2, dan CZ harus bekerja ekstra keras untuk menawarkan senapan serbu yang satu ini, termasuk dalam IDAM 2012 dan demo ke kesatuan-kesatuan didalam tubuh TNI dan Polri. Gelar Komodo Multilateral Naval Exercise menjadi kemunculan perdana CZ 805 yang digunakan oleh Kopaska. 
Senapan serbu ini juga sempat dipergoki dibawa oleh personil Kopaska yang standby di Tarakan untuk bersiap masuk ke Filipina dalam pembebasan awak kapal tugboat yang disandera Abu Sayyaf. Walaupun belum sempat beraksi karena krisis penyanderaan berakhir damai, pasti akan tiba waktunya CZ 805 bisa membuktikan dirinya. Kita tunggu saja.

Spesifikasi CZ805 Bren A1/ A2 :

  • Pabrik: Ceska Zbrojovka Uhersky Brod (CZUB)
  • Kaliber: 5,56x45mm NATO SS109
  • Panjang Laras: 360mm (14”)/ 277mm (11”)
  • Panjang total: 915mm (670mm terlipat)/ 780mm (585mm terlipat)
  • Tinggi: 260mm
  • Lebar: 77mm
  • Bobot kosong: 3,49kg/ 3,41kg

SPEK Meopta ZD-Dot
  • Pembesaran: 1x
  • Eye relief: unlimited
  • Retikula: 1,5/ 3 MOA dot
  • Toleransi suhu: -35oC – 55oC
  • Tahan air: 10m
  • Power supply: 1,2V; 1,5V, 3V AA
  • Dimensi: 158x68x78mm
  • Bobot: 390mm
← kembali lanjut baca →

F-15E Strike Eagle Tak Mampu Tembak Jatuh F-35 dalam 8 Dogfight

Pesawat F-35 Lightning II
Pesawat F-35 Lightning II

Armada F-35A Angkatan Udara Amerika Serikat terus bekerja untuk menyatakan status pesawat F-35 Lightning II IOC (initial operational capability) yang dijadwalkan antara pada bulan Agustus - Desember.
Di antara kegiatan yang dilakukan dalam minggu-minggu lalu, adalah pengerahan simulasi untuk memberi masukan yang penting yang bertujuan untuk menunjukkan kemampuan F-35 dalam "menembus daerah musuh yang dilindungi oleh pertahanan udara yang canggih, memberikan dukungan udara jarak dekat (close air support) pada pasukan darat dan secara mudah dikerahkan ke area konflik."
Tujuh pesawat F-35 dikerahkan dari Hill Air Force Base, Utah, menuju Mountain Home AFB, Idaho, untuk melaksanakan serangkaian tes operasional yang melibatkan pesawat tempur generasi ke-empat F-15E Strike Eagle yang berpangkalan disana milik 366th Fighter Wing.
Dalam tanya-jawab yang diposting di situs USAF, Kolonel David Chace, kepala kantor manajemen sistem F-35 dan memimpin untuk persyaratan operasional F-35 di Air Combat Command (ACC), memberikan beberapa wawasan tentang kegiatan yang dilakukan selama pengerahan simulasi kedua ke Mountain Home tersebut (yang pertama pada bulan Februari tahun ini):
"F-35 baru-baru ini dikerahkan dari Hill ke Mountain Home dimana para awak, personil pemeliharaan dan dukungan melakukan sejumlah misi. Selama pengerahan itu, awak mencapai tingkat pelaksanaan sortie (sortie generation rate) 100 persen dengan jumlah sortie 88 dari 88 sortie yang direncanakan dan tingkat perkenaan (hit rate) 94 persen dengan 15 dari 16 bom mengenai sasaran.
Angka-angka ini memberikan indikasi yang positif di mana posisi kita dalam hal stabilitas dan kinerja komponen. "
"Umpan balik dari pengerahan di Mountain Home akan memberi masukan ke dalam evaluasi keseluruhan kemampuan F-35. Evaluasi kedua akan berlangsung di lingkungan pengujian operasional dengan set misi F-35 yang akan dilaksanakan oleh Angkatan Udara setelah IOC. Semua laporan akan disampaikan pada bulan Juli dan menjadi masukan ke dalam laporan kemampuan F-35 secara keseluruhan. Tujuan utamanya adalah untuk memberikan kemampuan yang dibutuhkan bagi pilot tempur untuk menjalankan misi."
"Umpan balik dari operator unit pada hari ini sangat positif untuk F-35, tidak hanya menyangkut kinerjanya tetapi kemampuan pesawat dibandingkan dengan platform lain. Khususnya di Hill, integrasi dengan F-15E (Strike Eagle) sudah sangat baik. Kami juga telah menunjukkan kemampuan untuk dapat menjatuhkan bom tepat pada sasaran. Semua informasi tersebut akan diberikan kepada kami dalam penilaian kesiapan IOC secara formal. "
Dalam tanya-jawab tersebut terdapat informasi grafik yang menarik yang menyertainya. Informasi grafik tersebut menunjukkan beberapa statistik tentang pengerahan tersebut.
Pada kolom keempat menunjukkan sesuatu yang menarik, selama latihan, F-35s bertarung melawan beberapa F-15E dan tidak menderita kekalahan.
Meskipun infografik tersebut tidak menyebutkan apakah F-35 balas menembak F-15E beberapa analis telah memperkirakan pesawat JSF mencapai kill rate 8: 0 terhadap F-15 Strike Eagle.
Namun, "zero losses" tersebut lebih mungkin berarti bahwa F-35 mampu menyelesaikan tugas mereka dalam menyerang tanpa ada yang berhasil ditembak jatuh oleh tim agresor Red Air: mengingat F-15E dilengkapi dengan radar AESA AN/APG-82 dan pod Sniper ATP (Advanced Targeting Pod), fakta bahwa F-15 Strike Eagle yang melakukan DCA (Defensive Counter Air) tidak dapat menemukan dan/atau melakukan engage terhadap F-35 dapat dianggap sebagai suatu prestasi besar untuk pesawat multirole combat generasi ke-5 mahal dan dianggap bermasalah tersebut.
Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya F-35 membuktikan dirinya mampu terbang tanpa tertembak ketika melalui daerah yang dilindungi oleh pesawat tempur. Tidak ada satupun pesawat F-35 Lightning II ditembak jatuh selama latihan Green Flag 15-08, latihan besar pertama yang dilakukan F-35, kurang lebih satu tahun lalu, di National Training Center di Fort Irwin, California, di mana F-35 terbang dalam peran CAS (Close Air Support).
Pada saat itu, beberapa analis menyebut partisipasi dari dua pesawat uji dalam latihan itu hanya aksi kehumasan, karena pesawat itu masih cukup jauh dari mencapai kesiapan tempur yang dibutuhkan untuk benar-benar dapat mendukung pasukan berperang.
Sumber : http://theaviationist.com/

Helikopter VVIP Super Puma L2 kembali beroperasi

Helikopter VVIP Super Puma L2
Helikopter VVIP Super Puma L2
Setelah sempat dinyatakan larang terbang, helikopter VVIP TNI AU dalam beberapa minggu ke depan sudah dapat kembali digunakan. Pelarangan terbang jenis Helikopter Super Puma L2 merupakan rekomendasi dari pabrik airbus terkait dengan beberapa rangkaian insiden kecelakaan yang menimpa Helikopter Super Puma L2.
Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara, Marsekal Pertama Wieko Syofyan menyatakan, Helikopter Super Puma selama ini dioperasikan skuadron tempur dan skuadron VVIP TNI AU. Untuk jenis VVIP digunakan sebagai kendaraan operasional Presiden, jika berkunjung ke daerah-daerah yang memerlukan akses transportasi udara, seperti dilaporkan Reporter Elshinta, Joko Ismoyo.
Untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan, sesuai dengan saran pabrikan, Helikopter Super Puma menjalani serangkaian pemeriksaan oleh tim Keselamatan Terbang dan Kerja Mabes TNI AU. Dari hasil pengecekan, Kadispen TNI AU menyatakan tidak ditemukan adanya anomali atau kerusakan. Saat ini serangkaian uji tes terbang telah dilaksanakan dan dalam beberapa minggu mendatang diharapkan helikopter VVIP Super Puma dapat kembali beroperasi.
Dengan alasan yang sama, kata Kadispenau, beberapa negara di Eropa juga telah menghentikan sementara operasi penerbangan yang menggunakan Helikopter Super Puma ini. Wieko Syofyan tidak menjelaskan jumlah unit Super Puma L2 yang dimiliki oleh TNI AU.
Selama ini, sejumlah pejabat negara, termasuk Presiden RI mengunakan Helikopter Super Puma yang dioperasikan oleh Skuadron 17 VIP TNI AU yang bermarkas di Pangkalan Udara Utama Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, sebelum kemudian dirawat dan dioperasikan oleh Skuadron 45 VIP yang juga bermarkas di Halim. Skuadron 17 dan 45 tersebut merupakan skuadron khusus yang menerbangkan pesawat-pesawat atau helikopter-helikopter untuk VIP dan VVIP.
Sumber : http://elshinta.com/

Ilyushin Lanjutkan Pengembangan Pesawat Angkut Il-214 dengan Biaya Sendiri

Ilustrasi
Ilustrasi Pengembangan Pesawat Angkut Il-21

Pembuat pesawat Rusia Ilyushin melanjutkan kembali pengembangan pesawat angkut menengah Il-214 dengan biaya sendiri. Sebelumnya, pesawat itu dikembangkan bersama dengan India di bawah program MTA, unit pers perusahaan Ilyushin mengatakan kepada para wartawan.
"Ilyushin Aviation Complex mengembangkan pesawat angkut menengah untuk Angkatan Udara Rusia dengan biaya sendiri. Sebuah model skala pesawat telah dibuat, dan Central Aerohydrodynamic Institute (TsAGI) tengah bersiap-siap untuk tes terowongan angin, dengan menggunakan kedua mock-up dari mesin PS-90A dan PD-14, " kata unit pers tersebut.
Pesawat tersebut kelak akan ditenagai baik oleh dua mesin PS-90A atau dengan dua mesin PD-14, dimana tes penerbangan untuk mesin PD-14 telah dimulai pada tahun lalu.
"Ilyushin Aviation Complex telah menamai program pengembangan pesawat angkut militer menengah masa depan tersebut sebagai Il-214," unit pers tersebut menyimpulkan.
Pada bulan Januari, Direktur Jenderal Ilyushin Sergei Velmozhkin mengatakan kepada wartawan bahwa program tersebut ditunda. Menurutnya, perusahaan diharapkan "untuk memperjelas" mengenai masa depan program tersebut pada pertengahan tahun. Tidak ada pernyataan resmi mengenai penyebab di balik penangguhan program Rusia-India itu.
Il-214 dirancang untuk membawa pasukan, peralatan mereka, dan kargo. Pesawat ini mampu mengangkut 20 ton kargo pada jarak lebih dari 2.000 km. Pesawat ini diperkirakan akan mampu beroperasi dari lapangan udara yang tak beraspal, termasuk yang terletak tinggi di pegunungan.
Sumber : http://airrecognition.com/

Kapal Perusak AS Pepet Kapal Rusia di Laut Mediterania

Kapal Perusak AS Pepet Kapal Rusia
Kapal Perusak AS Pepet Kapal Rusia
Kementerian Pertahanan (Kemhan) Rusia mengatakan, kapal perusak Amerika Serikat (AS) yang diperkuat senjata rudal telah melanggar aturan keselamatan pelayaran internasional. Kapal perusak AS mendekati sebuah kapal Rusia, Yaroslav Mudry, dalam jarak yang berbahaya di Laut Mediterania.
Kemhan Rusia menyatakan, kapal perusak AS mendekati kapal Rusia dengan jarak 180 meter pada 17 Juni lalu. Peristiwa itu terjadi di perairan internasional, Mediterania timur. Kapal Rusia tidak menanggapi manuver kapal AS dan menahan diri untuk tidak terlibat lebih jauh.
Dalam pernyataannya, Kemhan Rusia menyatakan, kapten kapal perang dan kru telah melanggar Peraturan Internasional Pencegahan Tubrukan di Laut (COLREGS), yang mengatur tentang pertemuan dua kapal atau lebih di laut untuk menghindari situasi berbahaya seperti dikutip dari Russia Today, Selasa (28/6/2016).
"Para pelaut AS, khususnya merujuk pada Pasal 13, yang menyatakan kapal yang menyalip harus menjauh dari jalur kapal yang disalip," kata Kemhan Rusia. Kemhan Rusia juga menambahkan kapal AS telah melanggar Pasal 15 yang menyatakan kapal yang mendapati kapal lain di sisinya harus mengalah dan tidak melintas di depannya.
Kemhan Rusia juga meminta Pentagon untuk mencatat insiden tersebut dan tidak menuduh Angkatan Udara dan Angkatan Laut Rusia bertindak tidak profesional.
"Pelaut AS membiarkan diri mereka mengabaikan dasar-dasar yang menjadi kunci keselamatan navigasi tanpa memikirkan konsekuensi manuver berbahaya di daerah maritim yang mungkin saja digunakan untuk perdagangan," kata Kemhan Rusia.
Sumber : http://international.sindonews.com/

Dankorpaskhas : Atasi Penyanderaan, ASEAN Harus Punya Satgas Pasukan Khusus

Marsekal Muda TNI Adrian Wattimena
Marsekal Muda TNI Adrian Wattimena

Berulangnya kembali penyanderaan Warga Negara Indonesia (WNI) oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina, menimbulkan keprihatinan banyak pihak. Kalau tidak segera diatasi, maka kemungkinan besar kasus-kasus seperti ini akan terus terulang dan menimbulkan persoalan yang pelik karena menyangkut keselamatan jiwa. Sebagaimana diberitakan, saat ini tujuh WNI awak kapal tunda Charles 001 masih disandera oleh kelompok Abu Sayyaf dan diperkirakan berada di sekitar Pulau Jolo, Filipina.
Di sisi yang lain, melakukan aksi pembebasan sandera di wilayah negara lain juga tak mudah dilakukan. Ini menyangkut aspek hukum dari masing-masing negara yang tidak sama. Indonesia misalnya, tidak bisa begitu saja mengerahkan pasukan ke Filipina guna membebaskan sandera apabila tidak ada permintaan resmi dari negara bersangkutan. Demikian juga bila kasus tersebut terjadi di Indonesia, pemerintah Indonesia juga tentu tidak akan semudah itu membolehkan pasukan asing masuk ke wilayah Indonesia.
Komandan Korps Pasukan Khas (Dankorpaskhas) TNI AU Marsekal Muda TNI Adrian Wattimena, memandang perlu bagi ASEAN untuk membentuk suatu kerja sama militer dalam upaya melakukan pembebasan warga negara dari sekapan para perompak/penyandera. Langkah ini sebagai jalan untuk membuka kebuntuan, karena masing-masing negara di ASEAN selalu terbentur aspek hukum yang berbeda-beda. “Saya kira bagus bila ASEAN punya misalnya Satuan Tugas (Satgas) Pasukan Khusus bersama. Sehingga bila terjadi kasus-kasus seperti perompakan/penyanderaan atau kidnapping, satgas ini bisa langsung diturunkan dalam misi joint operation,” ujarnya di Jakarta dalam perbincangan tatap muka dengan Angkasa beberapa hari lalu.
Model operasi bersama melibatkan banyak negara sebenarnya telah berjalan. Namun masih terbatas pada bidang-bidang tertentu, seperti penanggulangan bencana atau operasi SAR. “Ketika terjadi suatu bencana di suatu negara, maka dengan seketika negara-negara, termasuk di ASEAN, bisa langsung melaksanakan misi operasi bersama,” ujar Wattimena. “Tapi hal ini tidak bisa begitu saja bisa dilakukan dalam operasi militer perang, karena masing-masing negara punya hukum yang mebatasi militernya melakukan kooperasi dengan militer negara lain,” jelasnya.
Kerja sama bidang militer yang sejauh ini dilaksanakan, masih terbatas pada pertukaran informasi, pertukaran perwira untuk pendidikan, kunjungan, atau forum-forum diskusi yang sifatnya temporer. “Tapi, implementasi riilnya belum ada karena terbentur undang-undang tiap negara tadi.”
Untuk kasus di perairan, Wattimena mencontohkan, kita bisa melakukan pengejaran sampai pada batas teritorial negara lain. Setelah itu kita tidak bisa masuk ke sana. Makanya yang paling bisa dilakukan saat ini adalah melakukan patroli bersama di perbatasan. Ini pun bukan operasi di laut dalam, hanya di perairan-perairan antarpulau saja.
“Jadi saya kira ASEAN ke depan ini harus mau membuka diri. Harus ada yang mendorong, harus ada yang menginisiasi, dan harus ada ratifikasi dari masing-masing parlemen negaranya. Level politiknya harus menyetujui dulu,” kata perwira tinggi bintang dua TNI AU ini.
Batas masing-masing negara yang saat ini menjadi kendala, tidak semestinya menjadi satu-satunya ‘ego’ atau idealisme yang membentengi terciptanya masalah keamanan bersama. “Negara-negara maju, mereka sudah terintegrasi membangun peace and security bersama,” ujar Dankorpaskhas. “Kan ada istilah global village dimana kita hidup bersama di planet ini. Yang juga artinya, kemanan semestinya menjadi kebutuhan bersama.”
Faktor lain, langkah menuntaskan masalah terorisme atau aksi-aksi penyanderaan juga tidak akan sembrono dilakukan oleh suatu pemerintahan. Mereka punya oposisi juga. “Karena itu kan menyangkut rakyat mereka sendiri. Tidak mungkin pemerintah begitu saja memerangi rakyatnya sendiri. Ini bisa menimbulkan masalah serius juga,” ungkap Adrian Wattimena. (Roni Sontani)
Sumber : http://angkasa.co.id/info/militer/dankorpaskhas-atasi-penyanderaan-asean-harus-punya-satgas-pasukan-khusus/

Rusia Kembangkan Kapal yang Mampu Lacak Rudal Balistik

Kapal Marsekal Krylov
Kapal Marsekal Krylov

Rusia dilaporkan sedang mengembangkan sebuah kapal militer baru yang mempunyai kemampuan melacak peluncuran rudal balistik antar benua. Demikian laporan tahunan biro desai perusahaan manufaktur Iceberg.
"Mulai bulan Oktober 2015, pekerjaan pada desain teknis dari pengukuran 18.920 proyek kapal yang kompleks akan dimulai," bunyi laporan 2015 Iceberg seperti dikutip dari Sputnik, Selasa (28/6/2016).
Untuk saat ini, Angkatan Laut Rusia hanya memiliki satu kapal pelacak, yaitu kapal Marsekal Krylov. Kapal ini dibangun pada tahun 1990 dan saat ini tengah menjalan renovasi di sebuah kota di sebelah timur Vladivostok, Rusia.
Kapal instrumen rudal, yang juga dikenal sebagai kapal pelacak, adalah kapal yang membawa peralatan yang mendukung peluncuran dan pelacakan rudal serta roket.
Rusia terus mengembangkan dan melakukan pembaharuan sejumlah alutsista miliknya. Sebelumnya, Rusia diketahui juga mengembangkan model pesawat tak berawak atau drone yang digunakan untuk misi kamikaze terhadap target.
Sumber : http://international.sindonews.com/read/1120457/41/rusia-kembangkan-kapal-yang-mampu-lacak-rudal-balistik-1467127643

TNI AU : Malaysia-RI Harus Tentukan Batas Wilayah Udara Natuna

F-16 TNI AU Dilihat Dari Kokpit Hercules TUDM
F-16 TNI AU Dilihat Dari Kokpit Hercules TUDM

TNI Angkatan Udara menyatakan pemerintah Republik Indonesia dan Malaysia perlu segera menggelar konsultasi dan koordinasi untuk menentukan batas-batas wilayah udara di Natuna yang dapat dilintasi pesawat kedua negara. Ini menyusul insiden masuknya dua pesawat tempur Malaysia ke langit Natuna Sabtu pekan lalu, 25 Juni.
“Dari pantauan radar TNI AU yang ada di Natuna dan Tanjung Pinang, jelas pesawat C-130 Hercules TUDM (Tentara Udara Diraja Malaysia) 30-12 itu telah memasuki wilayah udara Indonesia dan diidentifikasi sebagai pesawat asing yang tidak mengantongi izin melintas di wilayah udara RI,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AI, Marsekal Pertama Wieko Syofyan di Jakarta, seperti dilansir Antara.
Kedua pesawat Malaysia itu kemudian dihalau sepasang tempur F-16 Fighting Falcon TNI AU. “Pengusiran terpaksa dilakukan karena pesawat Hercules TUDM melintas tanpa izin,” ujar Wieko.
Pemerintah Malaysia merespons hal tersebut, mengatakan kedua pesawat tempur mereka tidak melanggar wilayah udara Indonesia di atas Natuna. Namun, menurut Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu, Menhan Malaysia Hishammuddin Hussein minta maaf atas kejadian tersebut.
Menurut Wieko, aturan soal izin lintas di atas Natuna bagi pesawat negara sesungguhnya telah tertuang dalam perjanjian bilateral Indonesia-Malaysia tahun 1982. Berdasarkan perjanjian itu, pesawat negara memiliki hak lintas penerbangan tanpa terputus, cepat, dan tak terhalang, melalui ruang udara di atas laut teritorial Republik Indonesia yang terletak di antara Malaysia Timur dan Malaysia Barat.
Dengan demikian, pesawat Malaysia yang terbang untuk maksud tersebut mestinya tidak memerlukan clearance atau izin dari Indonesia. Masalahnya, ujar Wieko, Indonesia dan Malaysia hingga kini belum menyepakati batas-batas wilayah udara untuk lintas penerbangan dan manuver pesawat udara.
Ketiadaan kesepakatan itu membuat TNI AU menganggap penerbangan pesawat tempur Malaysia di atas Natuna pekan lalu sebagai pelanggaran udara.
Wieko menegaskan, sudah saatnya Indonesia dan Malaysia duduk bersama untuk membahas koridor batas-batas wilayah udara yang diperbolehkan bagi pesawat kedua negara melintas di atas Natuna.
Dua pesawat tempur Malaysia yang melintas di Natuna pekan lalu, lepas landas dari Royal Malaysian Air Force Subang, Shah Alam, Selangor, untuk misi pelatihan.
Kemarin, Menhan Ryamizard menyatakan telah berbincang secara langsung dengan Menhan Malaysia Hishammuddin. Ia juga meminta TNI AU dan Angkatan Laut memperkuat koordinasi dengan negara-negara tetangga.
Sumber : http://cnnindonesia.com/nasional/20160629100551-20-141734/tni-au-malaysia-ri-harus-tentukan-batas-wilayah-udara-natuna/

Inilah Pesawat-Pesawat Tempur Legendaris Rusia

Rusia memang sudah tak asing lagi dengan kebolehannya memproduksi berbagai pesawat tempur yang mengagumkan seiring pengalamannya yang cukup lama dalam berbagai perang besar yang ada di dunia. Rusia memang salah satu negara yang terkenal dengan kehebatan berbagai jenis pesawat tempurnya, mulai dari pencegat, serang, intai maupun latih. Mau tahu kah Anda pesawat-pesawat tempur legendaris Rusia?

1. Mikoyan MiG 1.44 MFI ‘Flatpack’

Pada akhir 1980-an pemerintah Uni Soviet memulai melakukan program pengembangan pesawat tempur generasi kelima. Pesawat tempur legendaris Rusia ini dikembangkan untuk mengganti MiG-29 dan Sukhoi Su-27. Program itu merupakan upaya Uni Soviet untuk menandingi Barat yang mengembangkan pesawat tempur generasi kelimanya. Produsen pesawat tempur canggih asal Amerika Serikat Lockheed Martin telah mampu menciptakan F-22 Raptor pada saat itu.
Mikoyan MiG 1.44 MFI ‘Flatpack’
Mikoyan MiG 1.44 MFI ‘Flatpack’

Keunggulan dari Mikoyan MiG 1.44 MFI ‘Flatpack’ yaitu memiliki karakteristik pesawat tempur ‘siluman’ yang diperkuat dengan radar menyerap materi (RAM) untuk meningkatkan kemampuan silumannya. Namun sayangnya, pesawat ini sampai saat ini tidak diproduksi masal sebab adanya permasalahan pendanaan. Militer Rusia lebih memilih untuk mengembangkan Sukhoi T-50 PAK FA ketimbang MiG 1.44 MFI.

2. Sukhoi Su-15UM ‘Flagon-G’

Sukhoi Su-15UM merupakan pesawat tempur legendaris Rusia yang memiliki kemampuan latih. Pesawat ini memiliki kode NATO ‘Flagon-G’. Pesawat berawak satu dengan bobot 10.874 kg ini memiliki panjang 19,56 meter dengan lebar sayap 9,34 meter. Su-15UM didukung dengan dua mesin Tumansky R-13-300 turbojet, sehingga mampu menghasilkan kecepatan 2.230 kilo meter per jam dengan radius tempur 725 km.
Sukhoi Su-15UM ‘Flagon-G’
Sukhoi Su-15UM ‘Flagon-G’

Berbeda dengan pesawat jet Sukhoi versi Su-15UTI yang merupakan pesawat tempur, Su-15UM adalah pesawat tempur latih yang mampu melakukan beberapa mode pertempuran. Uniknya, untuk mengurangi komposisi peralatan elektronik di kokpit instruktur, badan pesawat Su-15UM tidak diperpanjang dan bahkan tanpa mengurangi volume tangki bahan bakar.

3. Sukhoi Su-27 ‘Flanker’

Sukhoi Su-27 merupakan salah satu sosok pesawat tempur legendaris Rusia yang multiperan. Untuk pertama kalinya dalam pesawat tempur ini disematkan sistem kemudi jarak jauh otomatis. Hal tersebut memungkinkan Su-27 untuk mendapatkan karakteristik manuver yang luar biasa. Walau dilengkapi dengan persenjataan berat, Sukhoi Su-27 pun mampu menempuh jarak jangkau yang jauh dan memiliki kemapuan manuver yang tinggi dan lincah.
Sukhoi Su-27 ‘Flanker’
Sukhoi Su-27 ‘Flanker’

Teknologi tempur yang canggih yang ditanamkan pada pesawat ini mampu mendeteksi, mengunci dan menyerang sasaran 360 derajat dengan segala cuaca. Pesawat tempur Sukhoi Su-27 memang dirancang sebagai pesawat interseptor sekaligus pesawat tempur superioritas udara jarak jauh. Pesawat yang diberi kode ‘Flanker’ oleh NATO ini dirancang untuk menjadi pesaing utama generasi baru pesawat-pesawat tempur AS seperti F-14 Tomcat, F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon dan F/A-18 Hornet.

4. Mikoyan-Gurevich MiG-25 ‘Foxbat’

Mikoyan-Gurevich MiG-25 merupakan pesawat tempur pencegat yang pertama kali diperkenalkan pada 9 Juli 1967 dalam sebuah acara penerbangan untuk merayakan Hari Angkatan Udara di Domodedovo. Pesawat memiliki kode NATO ‘Foxbat’ ini dibuat untuk menghadapi ancaman pesawat pengebom supersonik Amerika B-58 dan pesawat lain hasil modifikasi B-58 yang mampu menembus pertahanan anti-aircraft dan melancarkan serangan nuklir.
 Mikoyan-Gurevich MiG-25 ‘Foxbat’
 Mikoyan-Gurevich MiG-25 ‘Foxbat’

Pesawat tempur legendaris Rusia satu ini terbuat dari baja yang dapat diterbangkan dengan laju kecepatan hingga tiga kali kecepatan suara. Fakta paling menarik tentang MiG-25 adalah pesawat ini telah digunakan lebih dari sepuluh Angkatan Udara di dunia, namun belum pernah berhadapan langsung dengan musuh utamanya dalam medan pertempuran.

5. Mikoyan-Gurevich MiG-27M ‘Flogger-J’

Mikoyan-Gurevich MiG-27M adalah pesawat tempur pengebom legendaris Rusia yang memiliki variasi sayap penyapu. Pada pesawat inilah pertama kalinya disematkan mesin AL-31F yang digunakan pada pesawat Su-27, untuk menggantikan mesin standar turbojet P-29B-300. Modernisasi pesawat berlangsung atas permintaan India yang menggunakan pesawat tempur jenis ini. Tujuan modernisasi ini untuk meningkatkan kemampuan tempur mesin dan meningkatkan kinerjanya.
Mikoyan-Gurevich MiG-27M ‘Flogger-J’
Mikoyan-Gurevich MiG-27M ‘Flogger-J’

Pesawat yang memiliki kode NATO ‘Flogger-J’ ini merupakan varian lebih murah dibandingkan dengan MiG-27k. meskilebih murah namun MiG 27M jauh lebih baik daripada MiG-23B, MiG-23BN dan MiG-27 (MiG-23BM). Pesawat ini dipersenjatai dengan GSh-6-23M Gatling gun, tapi ini kemudian digantikan dengan 30 mm GSh-6-30 six-barrel cannon terbaru dengan 260 butir amunisi dalam gondola pesawat. (Fery Setiawan)
← kembali lanjut baca →

Militer Filipina : Kata Siapa TNI Boleh Beroperasi di Wilayah Darat Filipina?

Kolonel Restituto Padilla
Kolonel Restituto Padilla

Harapan rakyat dan pemerintah Indonesia untuk solusi cepat atas penyanderaan awak tug boat Charles 001 melalui opsi operasi militer kandas sudah. Setelah sebelumnya ada wacana bahwa Indonesia dapat mengerahkan pasukan khusus TNI untuk melakukan operasi pembebasan sandera (basra) di wilayah Filipina, akhirnya Angkatan Bersenjata Filipina (Armed Forces of the Phillipines - AFP) angkat suara untuk menjernihkan persoalan.
Menurut juru bicara AFP Kolonel Restituto Padilla, tatacara militer Indonesia untuk beroperasi di wilayah Filipina sudah diatur melalui perjanjian bilateral Indonesia dan Filipina yang ditandatangani tahun 1975. Perjanjian tersebut memang memperbolehkan elemen TNI untuk melakukan operasi militer, namun terbatas di wilayah perairan laut Filipina dan bukan di daratannya.
“Sebagian dokumen tersebut mencakup pasal mengenai pengejaran (hot pursuit). Perjanjian ini memampukan Angkatan Laut ataupun Penjaga Pantai untuk mengejar perompak dan kriminal yang dipergoki melakukan kejahatan dan kami boleh mengejar melewati batas teritorial termasuk wilayah laut, setelah melewati perairan internasional. Untuk urusan operasi tempur di daratan, hal tersebut tidak termasuk dalam bagian perjanjian. Hal itu masih bertentangan dengan konstitusi kami.
Padilla sendiri mengatakan, sejauh operasi militer dilakukan di wilayah laut terbuka, maka penggunaan segala kekuatan, termasuk tembakan yang mematikan, akan diperbolehkan bila memang diperlukan. Tindakan yang agresif diperbolehkan terhadap siapa saja yang melakukan kejahatan di perairan, dan hal ini dijamin oleh perjanjian. Kolonel Padilla masih menambahkan bahwa delegasi dari Jakarta dan Manila masih akan bertemu untuk membicarakan pelaksanaan perjanjian tahun 1975 tersebut.
Keterangan Kolonel Padilla tersebut memperjelas persoalan mengingat selama beberapa hari terakhir telah timbul wacana bahwa pemerintah Filipina sudah memberikan persetujuannya terhadap permintaan Indonesia untuk melaksanakan operasi militer untuk membebaskan awak tug boat Charles 001 yang telah menyimpang dari rutenya dan ditangkap oleh perompak. Wacana operasi TNI di daratan Filipina ini menurut ANC muncul pada saat wawancara antara Kyodo News dengan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu yang telah bertemu dengan Menteri Pertahanan Voltaire Gazmin di Filipina. (Aryo Nogroho)
Ini Klarifikasi Menhan Gazmin
Menteri Pertahanan (Menhan) demisioner Filipina Voltaire Gazmin mengklarifikasi informasi yang menyebut militer Indonesia diizinkan masuk Filipina untuk membebaskan tujuh sandera Indonesia dari kelompok Abu Sayyaf.
Menurutnya, militer Indonesia hanya boleh masuk Filipina dalam kasus pengejaran kelompok penjahat yang lari dari wilayah Indonesia ke Filipina.
Menhan Gazmin menegaskan selama insiden terjadi di wilayah Filipina, maka itu menjadi tanggung jawab aparat keamanan Filipina untuk menyelamatkan para sandera.
”Mereka (militer Indonesia) hanya bisa melakukan operasi untuk mengejar di dalam wilayah kita jika insiden itu terjadi dalam perairan mereka, berdasarkan pada prinsip pengejaran,” kata Gazmin, pada Rabu (29/6/2016).
Hal ini konsisten dengan “1975 Border Crossing Agreement” antara Filipina dan Indonesia. Dalam perjanjian itu, pasukan keamanan Indonesia diperbolehkan masuk zona maritim Filipina di bawah konsep pengejaran. Dalam kasus yang sama, pasukan Filipina juga diperbolehkan masuk zona maritim Indonesia di bawah konsep pengejaran.
Ketika operasi pengejaran terjadi, kata Gazmin, pasukan Indonesia hanya diperbolehkan untuk melakukan operasi terbatas. Contoh, berbagi informasi dengan pihak berwenang Filipina, bukan operasi menggunakan senjata.
Gazmin membuat pernyataan ini untuk menanggapi laporan bahwa Filipina telah mengizinkan pasukan Indonesia untuk melakukan operasi penyelamatan tujuh sandera Indonesia di wilayah mereka.
Dia, seperti dikutip Philstar, menambahkan bahwa militer Indonesia dan Filipina sedang membahas opsi penyebaran "marsekal” yang akan mengawal warga sipil memasuki negara masing-masing.
Sumber : http://indomil.com/militer-filipina-kata-siapa-tni-boleh-beroperasi-di-wilayah-darat-filipina/

Sistem Rudal Pertahanan Udara Baru Rusia S-350 Vityaz Segera Siap

Rudal Pertahanan Udara Rusia S-350 Vityaz
Rudal Pertahanan Udara Rusia S-350 Vityaz
Prototipe pertama sistem rudal pertahanan udara S-350 akan siap dalam waktu dekat, kata Sergei Babakov, kepala departemen pasukan rudal pertahanan udara Angkatan Dirgantara Rusia dan Komando Pertahanan Rudal Balistik. Sistem rudal pertahanan udara tersebut akan diserahkan ke Angkatan Bersenjata Rusia sesuai dengan jadwal, tambahnya.
"Pengembangan prototipe hampir selesai. Uji pendahuluan saat ini sedang dilakukan. Saya yakin bahwa sistem ini akan sampai ke Angkatan Bersenjata Rusia sesuai dengan jadwal," kata Babakov dalam sebuah wawancara dengan stasiun radio Rusia News Service.
Dilaporkan sebelumnya bahwa rudal permukaan-ke-udara baru yang dirancang untuk sistem rudal pertahanan udara jarak menengah S-350 Vityaz sudah mulai menjalani uji coba pada tahun 2015.
Sistem rudal pertahanan udara S-350 direncanakan akan menyelesaikan uji coba dan operasional pada tahun 2016.
S-350E Vityaz 50R6 adalah sistem pertahanan permukaan-ke-udara mobile baru yang dirancang, dikembangkan dan diproduksi di Rusia oleh Perusahaan Pertahanan Rusia Almaz-Antey. Pengembangan Vityaz dimulai pada awal tahun 1990-an dengan serangkaian penembakan yang berhasil sistem tersebut terhadap berbagai jenis sasaran. Sistem ini ditampilkan pada tahun 1998 oleh Almaz Concern dan kurang lebih merupakan pesaing dari SAMPT Eropa.
Rudal untuk S-350E Vityaz 50R6 adalah rudal 9M96 yang awalnya dirancang untuk sistem S-400. Rudal ini dimaksudkan untuk pertahanan udara pada jarak hingga 15 km dan memiliki pemandu IR homing pasif. Rudal 9M96 peran ganda sebagai rudal anti-rudal dan rudal anti-pesawat.
Sistem ini dapat menghancurkan 16 sasaran udara atau 12 sasaran balistik secara bersamaan. Sistem rudal pertahanan udara S-350 dapat mencapai sasaran dalam jarak 60 kilometer (37,3 mil) dan pada ketinggian 30 kilometer (18,6 mil).
Sumber : http://armyrecognition.com/

MBDA Meteor, Rudal BVRAAM Baru Andalan JAS-39 Gripen

MBDA Meteor, Rudal BVRAAM
MBDA Meteor, Rudal BVRAAM
Walaupun dibuat oleh konsorsium Eropa MBDA dan dalam pengujian dilepaskan dari Eurofighter 2000 dan juga Dassault Rafale, nyatanya pesawat tempur pertama yang mengoperasionalkan rudal Meteor justru JAS-39 Gripen, yang baru saja menjalankan proses upgrade avionik dengan kode MS (Materiel System) 20. 
MS 20 saat ini sedang dalam proses roll-out untuk ditanamkan ke seluruh JAS-39 C/D yang dimiliki oleh Flygvapnet dan tengah di-roll out ke negara-negara yang menyewa JAS-39 seperti Ceko, atau yang menandatangani paket lengkap seperti Brasil. Swedia sendiri membayar sejumlah dana untuk berpartisipasi dalam proyek Meteor, dan sebagai imbalnya berhak memasang rudal ini ke JAS-39 C/D dan JAS-39E/ NG.
Meteor sendiri merupakan jawaban Eropa atas AIM-120 AMRAAM, rudal jarak menengah dengan sistem pemandu radar buatan pabrikan Raytheon Amerika Serikat. Melihat bahwa tren pertempuran di masa mendatang adalah diluar jangkauan pandangan mata alias BVR (Beyond Visual Range). Enam negara Eropa membentuk konsorsium MBDA: Inggris, Jerman, Italia, Perancis, Spanyol, dan Swedia, dan akan dipasang ke Eurofighter Typhoon, Rafale, dan Tornado F3. Pesawat tempur Swedia JAS-39 Gripen sebagai pemegang kehormatan pertama yang mengoperasionalkan Meteor pada musim semi 2016.
Berbeda dengan AIM-120, MBDA Meteor menggunakan sistem propulsi ramjet yang unik, ditenagai dengan propelan padat, dan memiliki fitur untuk mengatur aliran udara yang masuk untuk memasok motor roket melalui algoritma yang diurus oleh ECPU (Electronic & Propulsion Control unit). Ramjet ini menyediakan seluruh dorongan yang dibutuhkan untuk mengejar sasaran, termasuk mengejar musuh yang terus-menerus bermanuver tanpa kehilangan daya seperti pada AIM-120 AMRAAM. 
ECPU akan memonitor jarak dan bahan bakar tersisa, dan bila menurut perhitungan masih ada banyak bahan bakar untuk jarak tersisa, ECPU akan memerintahkan rudal melesat dengan kecepatan maksimal.Hululedak rudal sendiri dilengkapi dengan sumbu ganda – impak dan kedekatan jarak (proximity) untuk memaksimalkan pencegatan terhadap sasaran.
Sistem pemandu Meteor menggunakan pemandu adar aktif dengan kemampuan anti jamming yang sangat tinggi, dan dapat dipandu menggunakan datalink ke sistem radar utama yang digunakan oleh pesawat tempur pembawa, atau bahkan pesawat tempur kawan yang tergabung ke dalam jaringan manajemen pertempuran sehingga cakupan radarnya benar-benar luas. 
Koreksi pada trayektori bahkan bisa dilakukan sambung-menyambung artinya rudal yang sudah selesai dipandu oleh sistem radar utama pesawat tempur pembawa, bisa saja disambungkan dengan datalink ke radar pesawat tempur kawan yang posisinya berada lebih dekat ke sasaran. 
Bila cakupan radar kawan tak tersedia, ya tinggal mengandalkan sistem pemandunya secara independen. Radar pada Meteor cukup sensitif untuk dapat mengenali sasaran dengan RCS (Radar Cross Section) berukuran kecil seperti UAV dan rudal jelajah.
MBDA sendiri telah melakukan pengujian yang sangat intens terhadap Meteor dengan melepaskannya dari Typhoon, Rafale, Gripen, dan Tornado. JAS-39 Gripen menjadi pesawat tempur pertama yang melepaskan rudal dan memandu rudal menggunakan sistem radar pada pesawat tempur pada 2009 di Skotlandia. 
Walaupun MBDA belum merilis data resmi, MBDA Meteor diestimasikan mampu meraih jarak jangkau maksimal sejauh 300 kilometer, namun ini akan sangat tergantung pada kondisi udara, kelincahan sasaran, dan kemampuan radar dari pesawat yang menembakkannya. (Aryo Nugroho)
Spesifikasi MBDA Meteor :
  • Bobot : 190kg
  • Panjang : 3,7m
  • Diameter : 178mm

Sumber : http://indomil.com/mbda-meteor-rudal-bvraam-baru-andalan-jas-39-gripen/

Boomerang, Inilah Generasi Terbaru Ranpur 8x8 Rusia

 Ranpur 8×8 Rusia Boomerang
 Ranpur 8×8 Rusia Boomerang

Senjata khas suku Aborigin Australia sampai juga di Rusia. Pemilihan nama Bumerang (bumerang) untuk nama ranpur 8×8 mungkin sepintas cukup aneh, tetapi saat melihat sosoknya, anda bisa jadi setuju dengan saya: nama tersebut cocok dan memang melekat.
Bumerang 8×8 bisa jadi mengusung tugas maha berat dibanding kuartet yang lainnya: mengakhiri kedigdayaan dinasti kendaraan panser beroda ban BTR, yang varian akhirnya BTR-82A1 saja belum semuanya kebagian paket modernisasi di dalam AD dan AL Rusia. 
Beda dengan BTR yang bentuknya ginuk-ginuk, Bumerang tampil tajam dan agresif, dengan garis-garis desain yang pasti dan mencerminkan kedinamisan. Kurang dan lebihnya, mirip seperti desain ranpur Barat terutama Perancis dengan generasi baru Project Scorpionnya.
Pabrikan VPK selaku pembuat Bumerang adalah pabrikan yang sama yang melahirkan lini BTR-60/70/80/82, jadi kurang lebih VPK sudah paham spek idaman dari AD Rusia. Request for Proposal sendiri sudah diserahkan AD Rusia pada 2011, tepat pada saat VPK baru melansir BTR-90 yang lalu dimatikan proyeknya. 
Bumerang sendiri lahir dari desain yang sama sekali baru alias clean sheet design, sesuatu yang dipuji oleh pengamat Barat karena sudah puluhan tahun AD Rusia terjebak pada BTR yang itu-itu saja. Bumerang menampilkan layout kendaraan angkut pasukan/ tempur modern, dengan pintu palka buka belakang sebagai akses utama pasukan keluar.
Dibandingkan dengan saudaranya T15 dan Kurganets, Bumerang jelas ditujukan untuk produksi massal dalam mengisi batalyon infantri mekanis beroda ban yang ringan, cepat, dan efektif. Desainnya juga jauh lebih konvensional, tanpa gimmick seperti kapsul pelindung pada saudara-saudaranya. 
Sebagai gantinya, Bumerang menggunakan V-shaped hull untuk membantu membuang energi ledakan ranjau ke arah samping apabila skenario terburuk terjadi. Bumerang juga diperkirakan dapat diproduksi lebih cepat, mulai tahun 2017 atau tiga tahun lebih cepat dari saudara-saudaranya.
Dari segi hull, Bumerang menampilkan bentuk hull dengan siluet T. Hidungnya dari samping berbentuk wedge melancip, dengan aksesoris berupa pemecah gelombang (fording plate) yang melipat ke arah dalam pada saat tidak digunakan. Hidung Bumerang dilapis dengan pelat applique, begitu pula pada sekujur tubuhnya. 
Berbeda dengan T14/15 yang rapi, pelat applique pada Bumerang dipasang benar-benar bolt on, dimana anda bisa melihat lubang-lubang mur yang menempelkan setiap pelat ke kulit kendaraan. Daya proteksinya kemungkinan mampu menahan impak hantaman peluru 14,5mm tanpa kendala.
Sistem penggerak 8×8 yang menjadi modal utama Bumerang juga dibuat sederhana, dengan dua roda depan dibuat berdekatan, sedikit jarak, dan kemudian dua roda belakang yang dibuat saling berdekatan pula. Hanya dua roda depan yang bisa dibelokkan. Peredaman goncangan dipercayakan pada suspensi MacPherson strut di setiap rodanya, dan peredam kejut ganda di roda terdepan dan paling belakang.
Sama seperti ranpur Barat, Bumerang menggunakan konfigurasi mesin yang ditaruh di depan, sebelah kanan. Sebonggol mesin diesel turbocharger berdaya 500hp dicangkokkan ke tubuhnya, memberikan daya melimpah untuk Bumerang. Ranpur 8×8 ini berbagi mesin yang sama dengan platform Kurganets-25. 
Duduk di sebelah kirinya adalah pengemudi, yang menggunakan satu vision block untuk melihat ke arah depan. Sama seperti BTR, Bumerang juga mempertahankan kemampuan amfibi berkat keberadaan dua waterjet di kiri-kanan belakang kendaraan.
Penumpang di dalam Bumerang duduk berhadap-hadapan, tidak lagi berpunggung-punggungan seperti pada keluarga BTR. Untuk keluar, tersedia pintu palka hidrolik yang membuka ke arah bawah. Di tengah pintu palka tersebut juga terdapat pintu ayun untuk keluar tanpa mengekspos sisi dalam kendaraan. 
Untuk memastikan bahwa kondisi aman, Bumerang dilengkapi dengan beberapa kamera yang menghadap ke depan, belakang, kiri dan kanan dan seluruhnya dapat diakses pasukan maupun awak. Berbeda dengan BTR yang memiliki lubang penembakan (firing ports), Bumerang tampil bersih. Mungkin Rusia akhirnya menyadari bahwa menembak dari dalam kendaraan tidak memberikan akurasi yang memadai dan implementasinya juga sulit, karena harus menyiapkan firing apparatus untuk membuang asap sisa penembakan.
Sistem kesenjataan utama pada Bumerang diwakili dengan sistem OWS (Overhead Weapon System) bersandi Epoch buatan KBP Tula. Sebagian referensi lain menyebut nama OWS ini sebagai sebagai Bumerang-BM. 
Sistem kubahnya dikendalikan dengan remote, tanpa komponen mekanik dan elektrik yang harus menjuntai menembus kubah, sehingga tidak menyita tempat di dalam kabin kendaraan. Sistem kubah Epoch memiliki tiga komponen senjata utama, yaitu kanon otomatis 30mm 2A42M, senapan mesin 7,62mm Pecheneg, dan dua tabung rudal Kornet-EM pada setiap sisinya.
Sistem Epoch tergolong canggih, dengan kemampuan hunter-killer. Juru tembak mengendalikan sistem optik berbasis kamera dan kamera termal pada modul di sisi kanan meriam utama. Sementara komandan memiliki sistem kamera panoramiknya sendiri yang bisa berputar 360 derajat. Akurasi dijamin jempolan karena sistem OWS Epoch sudah menggunakan tiang sensor meteorologi yang mampu mengukur suhu, tekanan udara, dan kelembapan dan memasukkannya ke dalam solusi penembakan. 
Yang paling oke tentu saja apalagi kalau bukan Kornet ATGM, rudal andalan KBP Tula yang terbukti sukses menjagal MBT yang katanya terkuat di dunia, Merkava. Varian Kornet yang dipasang pada kubah Epoch sudah menggunakan varian EM, yang mampu meluncur secara independen tanpa panduan laser terus menerus alias fire and forget dengan jarak efektif 6-8km. (Aryo Nugroho)
Sumber : http://indomil.com/si-lincah-boomerang-generasi-terbaru-ranpur-8x8-rusia/

Radar Acak