Frankenmissile, Rudal Monster Dua Ton Korea Selatan dengan Target Korea Utara

Ilustrasi 

Militer Korea Selatan memastikan sedang mengembangkan rudal berdaya ledak tinggi berjuluk Frankenmissile.
Rudal itu dirancang untuk melawan kemampuan rudal dan nuklir milik militer Korea Utara, yang terus meningkat. Rudal ini diharapkan mampu menaklukkan semua target miilter di Korea Utara pada fase awal jika perang terjadi.
Dalam laporan tahunan ke parlemen Korea Selatan, Komite Pertahanan Majelis Nasional mengatakan militer akan mengembangkan rudal darat-ke-darat Hyunmoo IV, yang dinilai cukup kuat untuk menghancurkan semua fasilitas dan komando militer Korea Utara.
"Kami akan menggunakan ketiga jenis rudal itu sebagai serangan rudal pertama dan memusatkan pada tahap awal perang untuk menghancurkan unit artileri jarak jauh dan rudal Korea Utara yang terletak di wilayah operasi rudal balistik," kata sumber militer Korea Selatan.
Korea Selatan ditengarai sedang bekerja meningkatkan kemampuan rudal balistiknya dengan membuat kesepakatan dengan militer AS. Kesepakatan itu menghapuskan batas maksimal muatan rudal.
Sebelumnya, Seoul dilarang memasang hulu ledak yang beratnya lebih dari 500 kg pada rudal balistiknya dengan jarak tempuh lebih dari 800 km.
Korea Selatan sudah memiliki kemampuan untuk menembakkan rudal balistik dengan jarak tempuh hingga 800 km, yang memungkinkannya mencapai wilayah manapun di Korea Utara.
Rencana baru Seoul untuk mengembangkan rudal baru yang mampu membawa 2 ton bom akan memungkinkannya menyerang fasilitas bunker militer Korea Utara, yang luas itu. Ini berarti Korsel tidak perlu bergantung pada bom Bunker Buster Amerika.
Yang disebut "Frankenmissile" hanyalah salah satu dari beberapa taktik baru yang dimaksudkan militer Korea Selatan untuk membangun kekuatan militernya saat diktator Korea Utara Kim Jong Un mempercepat program rudal dan nuklirnya.
Seoul juga berlomba menuju tenggat waktu 1 Desember untuk membentuk sebuah brigade khusus elit yang ditugaskan untuk menyingkirkan kepemimpinan Korut, termasuk Kim Jong-un, jika terjadi perang.
Perkembangan pembuatan rudal balistik canggih Korea Selatan itu dan pengembangan kemampuan tentara merupakan bagian dari upaya tentara untuk membentuk konsep operasional baru, yang dirancang untuk meminimalkan korban sipil dan mengakhiri perang sesegera mungkin.

CATM AIM-132 ASRAAM Rudal yang Dipakai F/A-18 Hornet AU Australia Saat Menembak F-16 TNI AU

CATM AIM-132 ASRAAM Rudal
CATM AIM-132 ASRAAM Rudal  

Dalam latihan pertempuran udara, situasinya tentu saja harus dibuat dengan serealistik mungkin untuk dapat mencerminkan kondisi riil dan mendorong kemampuan pilot dan pesawatnya sampai ke titik maksimal. Namun beda dengan kondisi di darat yang bisa menggunakan peluru simulasi atau alat bidik laser dan sensor penangkapnya, pada jet tempur yang dipersenjatai rudal sehingga bisa menembak di luar sumbu pandang (non line of sight) sudah tentu dibutuhkan alat khusus.
Nah, dalam latihan bareng TNI AU dan AU Australia (RAAF) bersandi Elang Ausindo 2017, AU Australia menggunakan rudal CATM (Captive Air Training Missile) yang merupakan versi latih dari rudal AIM-132 ASRAAM (Advanced Short Range Air to Air Missile) buatan Matra Perancis dan British Aerospace Inggris, untuk coba menembak F-16 TNI AU sesuai dengan skenario dan program latihan yang telah disepakati bersama antar kedua belah pihak.
Rudal ASRAAM ini tak memiliki hulu ledak ataupun motor roket, akan tetapi masih memiliki sensor pemandu infra merah (IR) yang dapat digunakan untuk menjejak dan mengunci, dan menembak sasaran, dalam hal ini F-16 TNI AU, layaknya menggunakan AIM-132 ASRAAM yang sesungguhnya.
Dengan rudal simulasi semacam ini, simulasi dapat dilangsungkan dengan aman tanpa perlu beresiko minta korban jiwa dan pesawat tempur yang mahal harganya. Tembak-tembakan rudal pun bisa dilakukan dengan murah, tanpa perlu melepaskan rudal betulan yang harganya jutaan dolar.
Nah, kemudian tinggal kepiawaian pilot-pilot AU Australia dan TNI AU untuk saling beradu lincah dalam manuver di berbagai ketinggian, adu ilmu untuk menempatkan pesawat lawan di tengah-tengah HUD (Head Up Display) cukup lama agar bunyi kuncian positif terdengar yang menandakan pesawat lawan telah (disimulasikan) dihancurkan. Sudah tentu, hasil latihan semacam ini hanya akan jadi konsumsi terbatas dan hasilnya tidak akan diumumkan kepada publik.
Nah, mengenai AIM-132 ASRAAM sendiri merupakan rudal WVR (Within Visual Range) yang cukup langka, karena di kawasan hanya AU Australia yang mengoperasikannya. AIM-132 sebenarnya didesain sebagai program pengganti rudal AIM-9 Sidewinder dengan perjanjian AS akan membeli ASRAAM untuk rudal jarak dekat, dan gantinya negara Eropa Barat akan memborong AIM-120 Sidewinder yang dikembangkan oleh Amerika Serikat. Pada kenyataannya, ASRAAM hanya digunakan secara terbatas oleh Inggris, Australia, dan India
AIM-132 ASRAAM didesain sebagai rudal jarak pendek dengan kemampuan manuverabilitas sangat tinggi, termasuk berbelok dalam radius kecil dan berbalik arah menuju pesawat yang mengejar dari belakang. Proyek pengembangannya diwarnai drama keluarnya Jerman dari konsorsium sehingga Inggris jalan sendiri.
AIM-132 ASRAAM sendiri bentuknya sangat sederhana, seperti kelongsong roket yang panjang tanpa sirip-sirip kendali di kepala maupun di tengah badan rudal. Namun pada lubang pancar gasnya dipasang sejumlah nosel aktif yang bisa membelok-belokkan rudal dan bermanuver ekstrim. Penguncian sasaran pun bisa dilakukan secara off boresight, selama terhubung dengan helm pintar HMS (Helmet Mounted Sight).
Penguncian bisa dilakukan sampai jarak 90 derajat dari posisi pesawat peluncur, atau persis di sisi kiri atau kanan pesawat yang berguna kalau pesawat sasaran head on dengan pesawat tempur pembawa ASRAAM. Peluncuran bisa dilakukan setelah penguncian sasaran dilakukan, atau dilakukan sebelum sasaran terkunci. Jadi rudal meluncur duluan, kunci sasaran saat rudal melesat, dan hancurkan. Penguncian pasif dengan sensor IRS-T (Infra Red Scan and Track) seperti Pirate pada Eurofighter juga bisa dilakukan.
Hululedak fragmentasi pada AIM-132 ASRAAM akan dipantik oleh sumbu jarak (proximity) buatan Thorn-EMI yang jaraknya dibacakan oleh laser rangefinder. Hululedaknya akan menciptakan pecahan-pecahan logam berkecepatan tinggi yang bisa merusak kulit alumunium pesawat tempur. Dengan jarak efektif mencapai 50 kilometer, AIM-132 ASRAAM adalah rudal mematikan yang memberikan keunggulan jarak pada armada F/A-18 Hornet RAAF. (Aryo Nugroho)

Serunya Laga F-16 Fighting Falcon TNI AU Kontra F/A-18 Hornet RAAF Australia

F-16 Fighting Falcon TNI AU
F-16 Fighting Falcon TNI AU  
TNI AU terus mengasah taji-taji dan menjalin persahabatan dengan Angkatan Udara regional. TNI AU telah mengirimkan F-16C Fighting Falcon Block 52ID dari Skadron Udara 3 yang bermarkas di Iswahyudi Madiun ke Australia untuk mengikuti latihan Elang Ausindo (Australia-Indonesia) 2017 yang diselenggarakan pada 16-27 Oktober 2017. F-16 tersebut didukung oleh C-130H Hercules yang mengangkut suku cadang dan awak pemeliharaan.
AU Australia (RAAF - Royal Australian Air Force) sendiri dalam latihan kali ini menurunkan No. 75 Squadron (Sqn) yang dilengkapi dengan F/A-18A Hornet. Latihan kedua negara diselenggarakan di pangkalan RAAF Darwin. Karena tempat pelaksanaannya yang berbeda dengan markas skadron, maka untuk sementara F/A-18A tersebut digeser dari pangkalan RAAF Tindal yang merupakan home base dari No. 72 Sqn.
Latihan Elang Ausindo yang sudah diselenggarakan secara rutin bertujuan untuk meningkatkan kerjasama antar kedua negara sekaligus meningkatkan kemampuan pertempuran udara atau ACM (Air Combat Maneuvering) yang dilakukan di atas lautan maupun di atas daratan di wilayah Northern Territory. Kontingen TNI AU sendiri terhitung sangat banyak, mencapai 7 pesawat tempur F-16.
Sebagai lawan, RAAF menurunkan 8 F/A-18A Hornet, menang sedikit dari segi jumlah tetapi wajar, karena TNI AU sebagai pihak yang berkunjung. Komandan No.75 Sqn Cdr. Michael Grant dalam sambutannya menyatakan bahwa latihan ini bertujuan untuk meningkatkan kerjasama bilateral antara Indonesia dan Australia, baik dalam level organisasi maupun secara individu, sehingga jika kelak harus ada operasi yang dilakukan Bersama maka fundamentalnya telah siap.
Yang kedua tentu saja ada pada level taktis, dimana kedua Angkatan Udara akan berlatih bersama, mengkoordinasikan misi dan berbagi taktis untuk membuat kemampuan kedua angkatan udara meningkat. Skenario latihan akan dimulai dengan manuver tempur dasar, dimana satu F-16 akan berlaga melawan satu F/A-18, lalu kemudian akan ditingkatkan jadi satu F/A-18 melawan dua F-16, atau sebaliknya untuk menantang kemampuan pilot individu dalam Elang Ausindo 2017.
Tiap hari akan dilakukan dua sorti, satu pada pagi hari, dan satu lagi selepas siang hari. Sorti pertama lepas landas pukul 10-10.30 waktu setempat dan dogfight akan berlangsung selama 60-90 menit untuk menu latihan 3 skenario yaitu 1 lawan 1, 1 lawan 2, atau 2 lawan satu untuk kemudian kembali ke Darwin untuk perawatan, untuk kemudian lepas landas lagi pada pukul 2-2.30 waktu setempat.
Latihan akan dipuncaki dengan skenario 1 flight yang terdiri dari 4 pesawat tempur akan berhadapan dengan musuh yang tidak jelas jumlahnya, lawan yang sudah disimulasikan jatuh dapat dihidupkan lagi. 2 F-16 bisa berpasangan dengan 2 F/A-18 dan berhadapan dengan lawan, atau sebaliknya sehingga situasinya lebih realistis.
Cdr. Grant selaku Danskad merasa kagum dengan sikap profesional para elang-elang muda TNI AU, dan latihan berlangsung dengan sangat lancar dan melebihi segala ekspektasi, termasuk penguasaan ilmu terbang dan juga kemampuan eksekusi taktis pilot-pilot TNI AU. (Aryo Nugroho)

Mantan Kepala BAIS : Kata Siapa Panglima TNI Ditolak ke AS?

Panglima TNI
Panglima TNI  
Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI periode 2011-2013 Sulaiman Ponto mengatakan, perlu ditelusuri masalah sempat dilarangnya Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo terbang ke Amerika Serikat. Namun dia mengingatkan agar TNI maupun pihak pemerintah Indonesia tidak buru-buru menuding bahwa pihak asing yang bersalah.
"Kita jangan salahkan orang lain dahulu. Kalau saya, maka saya akan tanyakan dahulu atase pertahanan saya di situ," kata Sulaiman, Senin 23 Oktober 2017.
Dia mengatakan biasanya yang mengkoordinasi hal seperti ini adalah BAIS. Oleh karena itu dia menyarankan agar dilakukan penelusuran jikalau persyaratan kedatangan Panglima TNI memang sudah disiapkan oleh pihak Indonesia yang berada di AS.
Sulaiman mengatakan, dalam konteks ini Panglima TNI bukan ditolak ke AS. Buktinya, setelah empat jam, Gatot Nurmantyo justru diperbolehkan berangkat.
"Ini kunjungan Panglima TNI tak boleh gagal. Jadi orang-orang yang terlibat di situ harus betul-betul (mengurus)," kata dia lagi.
Dilanjutkannya, perlu diketahui bahwa dalam kasus Panglima TNI yaitu adanya boarding pass Jakarta-Doha yang keluar namun sayangnya boarding pass Doha-AS tidak keluar. Pengecekan ini memang harus dilakukan maskapai mengingat adanya aturan ketat bahwa maskapai harus menginformasikan penumpangnya sebelum masuk AS.
Hal tersebut disampaikan Sulaiman menyusul insiden sempat ditolaknya Panglima TNI Gatot Nurmantyo saat akan berangkat ke AS atas undangan Pangab AS. Atas kejadian ini, pihak Kedubes AS juga sudah sempat menyampaikan permintaan maaf.
"Kata siapa ditolak? Kenyataannya adalah boarding pass Doha ke AS yang tak keluar, bukan ada penolakan. Tidak keluar ini ada sistem protokoler yang tak dipenuhi," lanjut Sulaiman.

Kala Seluruh Armada Kapal Selam AL Jerman Hilang dari Lautan

Kapal Selam AL Jerman
Kapal Selam AL Jerman  

Sebagai negeri yang terkenal sebagai kampiun pembuat kapal selam, adalah ironis ketika Angkatan Laut Jerman kehilangan kekuatan kapal selamnya. Namun, itulah fakta yang terjadi di lapangan. AL Jerman, yang saat ini memiliki kekuatan enam kapal selam dari kelas U212A, sama sekali tidak punya kapal selam operasional untuk menjaga kedaulatan perairannya setelah kapal selam terakhir yang laik laut yaitu U-35 mengalami kecelakaan di lepas pantai Norwegia.
U-35 mengalami kerusakan pada bilah kemudi (rudder) di ekor pada saat melakukan manuver penyelaman, seperti dilaporkan oleh koran Kieler Nachrichten. Padahal U-35 seharusnya dijadwalkan untuk mengikuti latihan NATO di selat Skagerrak bersama dengan negara-negara Skandinavia. Sebagai akibatnya U-35 harus naik dok ke galangan TKMS (ThyssenKrupp Marine Systems) di Kiel untuk melakukan perbaikan.
Situasi ini tidak mengenakkan bagi AL Jerman karena kakak-kakak U-35 sendiri semuanya sedang ada di dok atau sedang menunggu jadwal perbaikan. U-31 diperkirakan baru akan selesai pada Desember, sementara U-33 dan U-36 sedang dalam proses pengerjaan sampai Februari 2018 dan Mei 2018. Sementara U-32 dan U-34 juga rusak tapi tidak bisa diperbaiki karena dok di TKMS sedang penuh, jadi dua kapal selam tersebut hanya bisa pasrah menunggu nasib.
Perbaikan kapal selam di masa-masa sekarang ini cenderung makan waktu lebih lama karena tidak tersedianya suku cadang yang harus diproduksi terlebih dahulu karena penghematan biaya pembuatan. Di masa Perang Dingin, dengan ancaman Uni Soviet masih membayangi, suku cadang bagi kapal selam disediakan secara melimpah, tetapi pada masa kini pengetatan anggaran pertahanan tidak bisa menjamin kesiapan alutsista.
Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen mengakui bahwa kondisi ketidaksiapan kapal selam ini memang jauh dari harapan dan bukan situasi yang baik. Dalam tanggapan laporan koran mengenai ketidaksiapan armada kapal selam AL Jerman itu, juru bicara Menhan Jerman menyatakan hanya bisa berharap bahwa kesiapan misi lebih tinggi, namun ada kalanya teknologi justru menjadi penghambat.
Secara total TKMS sendiri sudah membuat sepuluh unit kapal selam kelas U212/U212A yang dibuat antara 2002-2015. AL Jerman memesan enam unit, empat dipesan oleh AL Italia. Satu U212 AL Italia juga mengalami kerusakan parah setelah bertabrakan dengan kapal kargo. Dengan adanya kerusakan U-35 ini, diperkirakan armada kapal selam AL Jerman baru bisa mencapai setengah dari total armada pada pertengahan tahun 2018. (Aryo Nugroho)

Pembom Strategis Xian H-6K Andalan AU China, Ikut "Meronda" di Laut China Selatan?

Pembom Strategis Xian H-6K
Pembom Strategis Xian H-6K  

Banyak cara bagi militer China untuk menunjukkan tajinya di kawasan Laut China Selatan (LCS), mulai dari penggelaran kapal induk, drone penyerang (UCAV), kapal selam nuklir, dan kapal perusak dapat dikerahkan sewaktu-waktu untuk ‘menakut-nakuti’ negara yang berselisih dengan Beijing. Seperti baru-baru ini muncul kabar bahwa pembom strategis supersonic Xian H-6 tengah meronda kawasan LCS.
Meski bukan tergolong alutsista baru, Xian H-6 masih dianggap mampu memberi efek deteren, terlebih China mempunyai banyak varian H-6, mulai dari tanker udara, pembom konvensional, anti kapal selam, sampai varian yang punya kapabilitas menghantarkan senjata nuklir. Dengan Xian H-6, militer China masuk urutan ketiga sebagai negara pemilik pembom strategis supersonic, tentunya setelah AS dan Rusia.
Kabar di jejaring sosial yang memperlihatkan pembom H-6 sedang dibayangi jet tempur Sukhoi Su-30 TNI AU menjadi buah pembicaraan di kalangan netizen, pasalnya dalam pergerakannya H-6 selalu mendapat pengawalan dari jet tempur AU China, seperti dalam gambar yang berasal dari capture CCTV.com, nampak jet J-11 (Sukhoi Su-27 buatan China) yang mengawal H-6, sementara di belakangnya ada sosok yang diduga Su-30 TNI AU. Namun, gambar yang memang terlihat janggal tersebut akhirnya mendapatkan tanggapan dari Pusat Penerangan TNI yang mengkonfirmasikan bahwa kabar/gambar tersebut adalah hoax.
Meski polemik telah tuntas. Yang menarik adalah keberadaan Xian H-6 itu sendiri, bagi netizen pecinta alutsista di Tanah Air, tahu betul bahwa H-6 merupakan copy-an dari pembom strategis Tupolev Tu-16 Badger, pembom yang namanya begitu tersohor dan melambungkan nama Indonesia di dekade 60-an. Pasalnya di periode tersebut, baru Indonesia yang mempunyai pembom jarak jauh. Kadar deteren Tu-16 bisa disejajarkan dengan kepemilikan Indonesia atas kapal penjelajah KRI Irian. Adanya Tu-16 yang dioperasikan AURI pada era Perang Dingin tak hanya membuat gentar Belanda, negeri seperti Australia pun tak berdaya saat Tu-16 AURI ‘berani’ menyusup jauh hingga kawasan Alice Spring.
Merujuk ke sejarahnya, China mulai menerima Tu-16 dari Uni Soviet pada awal 1958, berlanjut setahun kemudian China mendapatkan izin untuk memproduksi Tu-16 secara lisensi dari Soviet, dan Tu-16 versi China yang diberi label H-6 diproduksi oleh Xi’an Aircraft Industrial Corporation (XAC). Proses alih teknologi dari Soviet ke China terbilang super cepat, pada tahun 1959 H-6 sudah terbang perdana. Hingga dekade 90-an, Cina terus memproduksi H-6 untuk kebutuhan AU dan AL, kemudian ada yang di ekspor ke Irak dan Mesir. Diperkirakan H-6 dalam berbagai varian sudah diproduksi sampai 180 unit.
Uni Soviet sebagai negara pencipta, telah memensiunkan Tu-16 sejak 1993 dan menggantinya dengan jet bomber yang lebih canggih, seperti Tu-104 dan Tu-124. Sementara China belum bisa ‘move on,’ Negeri Panda justru bertahan pada pengembangan H-6 dalam beberapa varian. Utamanya ada 12 varian yang kemampuannya disesuaikan dengan misi yang diemban, lalu masih ada empat varian (HY-6) yang merupakan jenis bomber tanker untuk aerial refuelling.
Diantara ke-12 varian H-6, Xian H-6K disebut-sebut dalam beberapa jurnal sebagai yang terbaru dan tercanggih. Meski desainnya oldskul, H-6K terbilang pesawat pembom baru, lantaran baru terbang perdana pada 5 Januari 2007, dan mulai resmi dioperasikan AU China pada Oktober 2009, bertepatan dengan 60 Tahun Perayaan HUT Republik Rakyat China.
Dibanding generasi H-6 sebelumnya, Xian H-6K mengalami modifikasi yang cukup mendasar, sebut saja struktur yang diperkuat dengan material komposit, engine inlets yang diperbesar untuk penggunaan mesin Soloviev D-30KP2 turbofan buatan Rusia. Malahan sejak 2009, China telah memproduksi mesin WS-18 yang copy-an dari mesin D-30 untuk H-6K.
Modifikasi pada ruang pilot kini sudah mengadopsi glass cockpit yang dilengkapi large size LCD multi-function display. Itu baru perubahan dari sisi jeroan, dari tampilan luar H-6K juga dipastikan sedikit beda dibanding saudara-saudaranya.
Tengok ke bagian hidung, bila Tu-16 dan generasi H-6 lainnya masih mengadoposi konsep glazed navigator station, maka ‘ruang kaca’ tersebut di H-6K sudah dihilangkan, sebagai gantinya disematkan radome untuk platorm radar. Kemudian ruang bom alias bomb bay di dalam lambung, juga dihilangkan, sebagai gantinya ruang bom diubah sebagai tangki bahan bakar tambahan. Tidak cuma itu saja yang di removed, kubah senapan mesin di bagian bawah bodi (belly turret gun), yang tadinya ditempati kanon NR-23 kaliber 23 mm dilepas dan diganti untuk dudukan sensor surveillance dan radar navigasi untuk menuntun rudal.
Nasib kubah kanon yang dilepas ternyata bukan itu saja, XAC juga mencopot kubah kanon NR-23 di bagian atas pesawat (dorsal turret gun), kemudian disampingnya bila dulu ada kubah untuk observasi, juga dihilangkan. Bahkan posisi kubah di ekor yang fenomenal (NR-23) juga dihilangkan untuk perangkat electronic warfare system. Dengan hilangnya semua arsenal pertahanan diri, maka bobot H-6K menjadi lebih ringan. Toh dalam jalannya operasi, memang pembom strategis ini memang akan selalu dikawal jet tempur.
Walau disana-sini dikurangi, tak berarti H-6K berkurang ‘gahar’-nya. Xian H-6 dapat membawa enam unit rudal jelajah subsonic CJ-10A atau rudal anti kapal supersonic YJ-12 (masing-masing tiga rudal di kiri dan kanan sayap), bisa juga menggotong 6-7 LACM (Land Attack Cruise Missile). Masih ada varian senjata yang bisa digotong, hingga total payload yang disiapkan mencapai 12 ton. Belum lagi, seabreg sensor dan peragkat elektronik diyakini banyak ditanam di H-6K, seperti edge antenna pada sayap vertikal.
Dengan kapasitas bahan bakar tambahan, H-6K memang dirancang untuk misi penyerangan jarak jauh. Kelompok pembom ini digadang sanggup merobek barisan tempur kapal induk AS dan beragam target utama di Asia dan wilayah pesisir AS. Sampai tahun 2015, dipercaya ada sekitar 15 unit H-6K yang dioperasikan dua resimen AU China. (Haryo Adjie)
Spesifikasi Xian H-6K :
  • Type: Strategic bomber
  • Crew: 4
  • Engines: Two D-30KP-2 Thrust 2 x 12.000 kg
  • Length: 34,80 meter
  • Height: 10,36 meter
  • Wing span: 33 meter
  • Weight: Maximum take-off 79.00 kg/ Empty aircraft 37.200 kg
  • Maximum speed: 1.050 km/h
  • Cruising speed: 786 km/h
  • Range: 6.000 km
  • Combat radius: 3.500 km
  • Service ceiling: 12.800 meter

Detik-Detik Gugurnya Pasukan Khusus Green Beret AS di Niger

Gugurnya Pasukan Khusus Green Beret AS
Gugurnya Pasukan Khusus Green Beret AS 

Dua minggu sudah berlalu sejak kejadian penjebakan pasukan United States Special Forces atau yang lebih dikenal dengan Green Beret di Niger pada 4 Oktober 2017. Admin sudah menurunkan kisah tersebut, namun kini ada sejumlah detail yang menyeruak yang justru menggambarkan betapa perencanaan operasi khusus tersebut sangat berantakan sehingga menyebabkan gugurnya Sgt. Bryan Black, Sgt. Dustin Wright, Sgt. Jeremiah Johnson, dan Sgt. La David Johnson. Pada saat awal berita keluar, Sgt. La David Johnson dinyatakan hilang namun kemudian dinyatakan gugur setelah jasadnya ditemukan 2 hari setelah pertempuran.
Misi operasi pembinaan pasukan intelijen Niger untuk mengumpulkan info pada 4 Oktober di desa Tongo-Tongo yang berbatasan dengan wilayah Mali tersebut diawali dengan perjalanan 8 prajurit Green Beret dan sekitar 20an pasukan khusus yang hanya menggunakan pikap terbuka. Pasukan gabungan tersebut bermalam di Tongo-Tongo dimana tidak ada indikasi bahwa musuh akan menyerang.
Pasukan tersebut bergerak ke perbatasan karena memburu Abu Adnan al-Sahraoui, tokoh ISIS di Afrika Barat yang sebelumnya melarikan diri dari Mali setelah Perancis melancarkan serangan besar-besaran ke negeri tersebut. Para pasukan kemudian melanjutkan perjalanan ke salah satu desa di Distrik Tondikiwindi. Di desa tersebut, pasukan mencoba menggali informasi dari penduduk setempat, yang justru memberikan jawaban bertele-tele.
Disinilah diduga ada informan dari penduduk desa yang kemudian memberitahu para milisi ISIS mengenai keberadaan pasukan khusus AS di desa tersebut. Maka, para milisi yang jumlahnya sekitar 50 orang pun kemudian mendatangi desa dengan pikap dan motor, bersenjatakan AK-47, senapan mesin, dan peluncur roket RPG-7. Pasukan AS dan Niger itu kemudian dipancing keluar desa setelah milisi mengeluarkan tembakan bersahut-sahutan.
Begitu menyadari bahwa lawannya berjumlah puluhan, Green Beret dan pasukan Niger memberikan perlawanan, tetapi mereka kalah jumlah dan senjata. Laporan intelijen di awal menyatakan tidak ada ancaman jadi mereka tidak membawa senjata berat, dan herannya drone AS yang rutin berpatroli gagal mendeteksi kehadiran sekian banyak milisi. Satu-persatu anggota Green Beret dan pasukan Niger pun bertumbangan meregang nyawa.
Kontak tembak itu semakin menghebat, sementara musuh tidak mau mengendurkan intensitas serangannya. Musuh baru berhenti menyerang setelah jet-jet Mirage 2000 AU Perancis datang dan melakukan terbang rendah dengan kecepatan tinggi untuk membubarkan dan menakut-nakuti para milisi. Bahkan korban luka dari pihak AS pun dievakuasi tidak oleh pasukan sendiri, melainkan ditolong oleh helikopter RESCO Caracal milik AU Perancis. Kalau tidak ada pasukan Perancis entah apa jadinya nasib kontingen AS itu.
Dengan begitu banyak pertanyaan mengenai berantakannya perencanaan, Kongres pun menuntut adanya penyelidikan, apalagi Sgt. La David Johnson yang ditemukan jauh di luar desa, terpisah, dan tertinggal sehingga baru bisa ditemukan dalam keadaan tak bernyawa 48 jam setelah kejadian, itupun ditemukan oleh penduduk desa Niger yang melapor ke pihak militer. Untuk sementara waktu, kepala desa Tongo-Tongo Mounkailla Alasanne telah ditahan untuk dimintai keterangan.
Gugurnya Green Beret ini bertambah kisruh setelah Presiden Trump menjadikannya isu politik dengan menuduh mantan Presiden Obama tidak pernah menelpon para keluarga anumerta yang ditinggalkan. AS pun menugaskan Biro Penyelidik Federal alias FBI untuk menangani kasus ini dan menemukan kronologi yang tepat mengenai bagaimana bencana ini bisa terjadi. (Aryo Nugroho)

Sumbang Senjata ke Filipina, Rusia : Kami Tidak Ada Agenda Tersembunyi

Ilustrasi 

Pemerintah Rusia memberikan sumbangan senjata kepada Filipina. Moskow menegaskan bahwa tidak ada agenda tersembunyi atau persyaratan politik di balik sumbangan senjata dan peralatan militernya.
"Kami orang-orang Rusia, kami tidak memiliki agenda tersembunyi, jika kami memberikan bantuan kami kepada Anda, kami melakukan itu dengan tulus. Kami tidak memiliki agenda dan persyaratan politik yang tersembunyi," kata Duta Besar Rusia untuk Filipina, Igor Khovaev seperti dikutip dari Anadolu, Miggu (22/10/2017).
Dengan memuji pembebasan Marawi baru-baru ini, yang dilanda perang dari militan terkait ISIS, Khoiev mengatakan Rusia siap membantu warga Filipina dalam peperangan melawan terorisme.
"Kerja sama antara Filipina dan Rusia tidak memiliki persyaratan politik dan itulah prinsip dasar kerja sama militer dengan semua mitra asing yang tertarik," Khovaev meyakinkan.
Pernyataan Khioev terjadi setelah tiga kapal perang Angkatan Laut Rusia Pasifik berlabuh di Manila South Harbor pada hari Jumat untuk kunjungan niat baik di negara ini dari 20 hingga 26 Oktober.
Kapal perang tersebut berisi peralatan militer khusus yang akan disumbangkan oleh Rusia ke Filipina sebagai bagian dari pengembangan program kerjasama militer antara kedua negara.
Khovaev pun mengkonfirmasi pengiriman senjata itu. "Rusia mendukung penuh (Filipina) dalam perjuangan melawan terorisme. Kami siap untuk memberikan bantuan kepada negara ini," katanya.
Dia juga mengatakan Filipina dan Rusia berada di jalur yang benar dalam hal menempa hubungan yang lebih baik seperti yang dibayangkan oleh Presiden Vladimir Putin dan Presiden Rodrigo Duterte yang mengunjungi Moskow pada Mei 2017.
"Filipina dan Rusia berada di jalur yang benar. Saya mengkonfirmasikan sekali lagi bahwa Federasi Rusia terbuka untuk mempertimbangkan semua kerja sama bilateral di bidang militer dan teknik," ucapnya lebih lanjut.
Kedatangan kapal perang Rusia di Filipina bertepatan dengan kunjungan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu ke Manila untuk menandatangani kontrak baru mengenai pasokan peralatan militer.
Namun, belum ada pengumuman resmi kapan kontrak baru tersebut ditandatangani.
Dalam pidato sebelumnya, Presiden Duterte yang menggambarkan Presiden Putin sebagai teman baiknya mengatakan bahwa dia meningkatkan hubungannya dengan Rusia.
Duterte mengungkapkan bahwa Rusia juga akan menyumbangkan 5.000 senapan AK-47 Kalashnikov buatan Rusia dan 20 truk militer besar baru ke Filipina. (Berlianto)

Frigat Oliver Hazard Perry, Reaktivasi atau Dihibahkan ke Negara Sahabat?

Frigat Oliver Hazard Perry
Frigat Oliver Hazard Perry 

AL AS kekurangan kapal dalam jumlah besar. Sejak inisiatif besar di era Presiden Reagan, AL AS tidak pernah lagi kebagian kapal-kapal baru dalam jumlah besar, pun kapal baru yang dipesan harganya juga naik berkali-kali lipat. Dengan mandat untuk memiliki kapal tempur dengan jumlah 355 agar mampu mengimbangi Rusia, Iran, dan Korea Utara, AL AS saat ini sedang mempertimbangkan untuk melakukan reaktivasi atas kapal-kapal perang tuanya.
Salah satu yang hendak dijadikan fokus untuk reaktivasi adalah frigat kelas Oliver Hazard Perry (OHP). AL AS begitu mencintai frigat ini, bahkan program frigat baru FFX pun didasarkan pada desain OHP. Dalam masa hidupnya, kapal ini begitu kenyang pengalaman tempur. Keputusan AL AS untuk memensiunkan frigat OHP pada 2015 nampaknya terlalu terburu-buru memensiunkan OHP dari flight pertama dan menjadikannya sasaran tembak rudal.
Pun ketika jadi sasaran tembak, desain OHP yang baik menyebabkannya susah tenggelam. Sebagai contoh, USS Thach yang jadi sasaran tembak dalam latihan SINKEX 2016 di Hawaii harus dihantam tiga rudal Harpoon, lebih dari empat rudal Hellfire, bom Mk 84 seberat 2.000 pon, dan bom berpemandu laser GBU-12, serta tak lupa torpedo Mk.48 dari kapal selam AL AS. Setelah 12 jam dihujani berbagai macam senjata, barulah USS Thach tenggelam. Itulah bukti hebatnya desain OHP.
Dari total 51 frigat OHP yang pernah dibangun untuk AL AS, 12 setidaknya ada dalam fasilitas perawatan kapal perang Inaktif yang masih dirawat dan bisa diaktifkan lagi dengan segera di Pearl Harbor, Philadelphia, dan Bremerton, Washington. Sisanya sudah dihibahkan ke Turki, Mesir, dan Pakistan begitu mereka dinyatakan tidak aktif lagi.
AL AS berniat untuk melakukan reaktivasi atas setidaknya 12 frigat OHP yang sudah tidak bertugas lagi tersebut, melengkapinya dengan sensor dan persenjataan baru, lalu mengirimkannya ke manapun armada AL AS yang perkasa akan pergi. Ini merupakan sesuatu hal yang lebih mudah dan cepat dibandingkan dengan harus membangun kapal baru, terlebih kelas kapal yang menggantikan OHP yaitu LCS (Littoral Combat Ship) atau kapal perang pesisir dilanda banyak masalah dan tidak punya daya gempur sebaik OHP.
Namun pendapat lain datang dari kongres, dimana Rep. Rob Witmann selaku Kepala Sub-Komite Kekuatan dan Proyeksi Laut setuju untuk dapat memodernisasi frigat OHP, tetapi dengan tujuan untuk menghibahkannya kepada sekutu-sekutu AS untuk meningkatkan jaringan kekuatan dan pengetahuan di seluruh dunia. Hal ini dapat mengurangi kebutuhan dan biaya yang dikeluarkan AS untuk mengirimkan armada perangnya, dan alih-alih mengandalkan rekan kawasan untuk menjaga kepentingan bersama di wilayah tersebut.
Wittman sendiri mengakui kalau ide menghibahkan frigat sekelas OHP dengan kemampuannya yang potensial di saat AL AS sendiri membutuhkan kapal tersebut merupakan usulan yang sedikit tidak masuk di akal, namun AS sendiri punya kepentingan di banyak kawasan yang akan terwakili dengan pemberian sistem kapal secanggih fregat OHP, menunjukkan komitmen AS kepada negara-negara kawan tersebut. 12 kapal tersebut bisa didistribusikan kepada mitra AS di Pasifik, dan apabila timbul kegentingan, dapat beroperasi bersama armada AL AS karena kesamaan sistem komunikasi Link 16 yang dimiliki.
Rekan penulis, Weka G. Cha Bi dan Purwo secara aktif telah menyosialisasikan betapa TNI AL bisa memperoleh keuntungan apabila mengoperasikan frigat sekelas Oliver Hazard Perry yang memiliki tonase dan persenjataan di atas kelas fiIgat SIGMA kelas Martadinata, terlebih dengan kemampuan anggaran Pertahanan Republik Indonesia yang kemampuannya sangat terbatas untuk dapat membeli frigat-frigat baru dalam jumlah besar setiap tahunnya. Apakah OHP akan dihibahkan ke Indonesia? Kita tunggu perkembangan selanjutnya. (Aryo Nugroho)

Ini Daftar Pejabat Negara Lain yang Pernah Ditolak Masuk AS

Amerika Serikat (AS)
Amerika Serikat (AS)  

Ditolak masuknya Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo untuk memasuki Amerika Serikat (AS) menjadi perbicangan hangat saat ini. Namun, Gatot bukanlah pejabat negara pertama yang pernah ditolak masuk AS.
Sejumlah pejabat negara lain yang pernah dicekal oleh AS. Mereka dicekal atas berbagai alasan, mulai karena kerap melemparkan protes pada AS, hingga dianggap terlibat dalam kegiatan yang dianggap ilegal di AS.
Berikut adalah nama-nama pejabat negara lain yang pernah ditolak masuk oleh AS.
  1. Hamid Aboutalebi, Utusan Iran untuk PBB itu dilarang masuk ke AS pada tahun 2014 karena perannya sebagai penerjemah bagi militan yang menyerang Kedutaan Besar Amerika di Teheran pada tahun 1979, dan menahan 52 warga negara Amerika yang sandera selama 444 hari.
  2. Gerry Adams, politisi sayap kanan Irlandia, yang juga merupakan Presiden Sien Fien, kelompok politik sayap kanan Irlandia ini beberapa kali dilarang masuk ke AS karena dinilai sebagai otak dari sejumlah kekerasan yang terjadi di Irlandia pada era 1990an.
  3. Narendra Modi, dia dilarang masuk ke AS pada tahun 2005, atau saat dia menjabat sebagai Menteri Utama negara bagian Gujarat. AS menolak visa diplomatik A-2 Mpdi. Selain itu, visa B-1 / B-2 yang sebelumnya diberikan kepadanya dicabut, di bawah bagian Undang-Undang Imigrasi dan Kewarganegaraan AS yang membuat pejabat pemerintah asing yang bertanggung jawab atau terlibat langsung, terutama terkait pelanggaran berat kebebasan beragama tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan visa. Modi akhirnya kembali di izinkan masuk ke AS setelah menjabat sebagai Perdana Menteri India.
  4. Tarek William Saab, Presiden Dewan Moral Venezuela, dan mantan Kepala Komisi Kebiajakan Luar Negeri Venezuela ditolak masuk ke AS pada tahun 2002. Saab ditolak masuk ke AS karena diduga memiliki hubungan dengan organisasi kriminal. Saab membantah memiliki hubungan tersebut.
  5. Kurt dan Elisabeth Waldheim. Kurs yang diplomat dan politisi Austria, yang juga pernah menjabat sebagai Utusan Khusus Australia, bersama sang istri, Elisabeth dilarang masuk ke AS pada tahun 1987. Keduanya dilarang masuk AS karena memiliki hubungan dengan Nazi. (Victor Maulana)

TNI AL Tunda Jadwal Pensiun Frigat Van Speijk Class

Frigat Van Speijk Class
Frigat Van Speijk Class 

Pada Februari 2016 tersiar kabar bahwa Mabes TNI AL secara bertahap akan mulai memensiunkan keenam frigat Van Speijk Class (Ahmad Yani Class) mulai tahun 2017 hingga berakhir di tahun 2022. Rencana TNI AL tersebut tentu sangat masuk akal, mengingat Van Speijk Class telah mengabdi 30 tahun lebih di Satuan Kapal Eskorta (Satkor) TNI AL, dan setengah abad berlayar sejak dioperasikan AL Kerajaan Belanda pada dekade 60-an. Namun kini ada kabar terbaru, bahwa jadwal pensiun armada Van Speijk Class TNI ditunda, dan sang frigat ini masih akan terus melaut.
Seperti dikutip dari Janes.com (19/10/2017), ditunda tentu bukan berarti dibatalkan, sumber di Koarmabar menyebut bahwa jadwal pensiun Van Speijk Class ditunda hingga satu tahun kedepan. Pertimbangan penundaan periode pensiun Van Speijk Class didasarkan atas risiko kesenjangan tingkat operasional armada kapal perang utama TNI AL. Saat ini memang flagship kapal kombatan TNI AL berada di PKR (Perusak Kawal Rudal) RE Martadinata Class (KRI RE Martadinata-331 dan KRI I Gusti Ngurah Rai-332), namun level kesiapan tempur kedua PKR tersebut dinilai belum memadai, lantaran beberapa sistem senjata andalan di kedua kapal perang tersebut belum terpasang.
Alasan lain terkait penundaan pensiun, dikarenakan beberapa Van Speijk Class masih sangat diandalkan untuk meronda di kawasan Laut China Selatan. Menyandang status sebagai frigat, menjadikan Van Speijk Class unggul untuk misi dengan endurance yang lebih panjang ketimbang korvet. Belum lagi, kapasitas personel yang dibawa juga lebih besar. Maka tak salah bila Van Speijk Class yang dipercaya untuk menjalankan misi tempur lintas laut jarak jauh (Satgas Merah Putih) dalam operasi pembebasan sandera MV Sinar Kudus dari tangan perompak Somalia pada Maret 2011. Saat itu dua Van Speijk, KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355 dan KRI Yos Sudarso-352 digeber untuk berlayar secepatnya ke Perairan Somalia.
Dari segi latalitas, Van Spejk Class juga dinilai masih mencitrakan kapal kombatan terunggul bagi TNI AL, dimana KRI Oswald Siahaan-354 didapuk sebagai satu-satunya kapal perang yang mengusung peluncur rudal jelajah anti kapal Yakhont.
Karena masuk kategori alutsista strategis, beragam program peremajaan dikebut TNI AL untuk memaksimalkan kemampuan tempur Van Speijk, selain upgrade sistem persenjataan rudal hanud (pertahanan udara) dan rudal anti kapal (anti ship missile), TNI AL juga merogoh kocek yang tak kecil untuk merenovasi sistem elektronik, seperti Combat Management System yang baru dipasok oleh PT Len.
Dari sisi permesinan, sejak dekade silam Van Speijk TNI AL sudah dilakukan program repowering. Aslinya Van Speijk class sepasang mesin turbin uap (steamed turbin) yang mampu menyemburkan daya sebesar 30.000 shp. Daya sebesar itu mampu menggeber kapal hingga 28 knots (52 km per jam). Harus diakui jika mesin turbin uap tergolong berat, relatif boros bahan bakar, dan keseluruhan sistemnya makan tempat serta cenderung sulit dalam perawatan.
Menyikap hal tersebut, TNI yang punya budget serba ngepas, secara bertahap mulai tahun 2003, mulai melakukan penggantian sistem propulsi sebagai bagian dari upaya peningatan performa Van Speijk class. Proyek pertama dimulai pada KRI Karel Satsuit Tubun-356 yang diganti mesinnya dengan jenis diesel Caterpillar CAT DITA, disusul kapal lainnya dalam kurun 2007 - 2008. Pengecualian ada pada KRI Oswald Siahaan-354 yang mesinnya diganti dengan diesel SEMT Pielstick, mirip (meski dari sub tipe berbeda) dengan yang mentenagai korvet SIGMA class TNI AL. Dengan repowering, kini Van Speijk class mampu ngebut 24 knots (45 km per jam).
Van Speijk Class TNI AL terdiri dari KRI Ahmad Yani-351, KRI Slamet Riyadi-352, KRI Yos Sudarso-353, KRI Oswald Siahaan-354, KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355, dan KRI Karel Satsuit Tubun-356. Saat tiba di Indonesia pada rentang 1986 - 1989, TNI AL juga pernah mengoperasikan frigat kelas dunia yang juga battle proven, yakni tiga unit Tribal Class yang berasal dari bekas pakai AL Kerajaan Inggris. (Bayu Pamungkas)

Kekurangan Pilot Kronis, AU AS Akan Panggil Kembali Para Veteran

Veteran
Veteran 

Di dalam militer AS, seorang prajurit, dari kecabangan manapun, biasanya tidak akan menghabiskan karirnya sampai selesai. Di sana menjadi tentara bukanlah pengabdian tuntas, kalau ada tawaran yang lebih baik, kenapa tidak? Hal ini menyebabkan banyak pilot, baik angkut maupun tempur dan serang, keluar kalau dapat tawaran menggiurkan dari maskapai penerbangan. Alasan lainnya, stres karena harus berpisah dari keluarga dan bertugas di medan tempur dalam waktu lama di negeri-negeri yang jauh.
Buat Angkatan Udara AS, yang tidak mungkin mencetak seorang pilot dalam waktu singkat, tingginya angka pilot yang keluar ini telah menyebabkan masalah yang besar. AU AS kekurangan 1.555 pilot pada akhir tahun 2016, dan angka ini akan terus tumbuh. Jenderal Stephen Wilson di depan Kongres menyatakan bahwa AU AS kekurangan 1.555 pilot dan 3.400 teknisi yang bertugas merawat pesawat.
AU AS sendiri bukannya berdiam diri. Mereka telah berusaha menaikkan tunjangan bagi pilot yang didasarkan pada jam terbang bagi perwira dan berlaku di bulan Oktober 2017. Kemudian ada lagi bonus bagi pilot yang memperpanjang kontraknya dengan AU AS apabila mau diikat lagi untuk masa tugas 2 tahun berikutnya. Program ketiga, yang paling kontroversial, adalah memanggil para pilot veteran yang sudah pensiun untuk bertugas kembali di seluruh lini.
Langkah AU AS ini didukung oleh Presiden Trump, yang menandatangani Keputusan Presiden yang memberi mandat kepada AU AS untuk memanggil sebanyak 1.000 pilot veteran yang telah pensiun untuk kembali ke garis depan. Program yang disusun oleh AU AS ini diberi nama VRRAD (Voluntary Retired Return to Active Duty Program) atau Program Dinas Sukarela Pensiunan untuk Kembali ke Tugas Aktif, dan terbuka bagi mereka yang pernah memegang peran sebagai pilot untuk mendaftarkan dirinya sebelum 31 Desember 2018.
Mereka yang bisa mendaftarkan diri adalah para mantan pilot yang belum berumur 60 tahun, telah pensiun dalam waktu kurang dari lima tahun, menyandang pangkat Kapten, Mayor, atau Letnan Kolonel. Mereka yang mendaftar akan dikirimkan ke garis depan selama satu tahun. AU AS dapat menggunakan para veteran penerbang ini terutama untuk tugas-tugas kargo, dimana tingkat perputaran logistik yang tinggi antar teater membutuhkan banyak pilot dan teknisi untuk mengawaki pesawat angkut seperti C-17, C-130, dan C-5. (Aryo Nugroho)

Dubes AS Minta Maaf atas Insiden Ditolaknya Panglima TNI

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo 

Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Joseph Donovan meminta maaf atas insiden pelarangan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memasuki wilayah Washington DC. Permohonan tersebut disampaikan melalui Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi.
"Duta Besar A.S. Joseph Donovan telah meminta maaf kepada Menteri Luar Negeri Retno Marsudi atas ketidaknyamanannya terhadap Jenderal Gatot," tulis Kedutaan Besar AS dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Minggu 22 Oktober 2017.
Dalam keterangan tertulisnya juga, Kedutaan Amerika Serikat menyatakan Panglima Angkatan Bersenjata AS Jenderal Joseph Dunford mengundang Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Acaranya adalah menghadiri Chiefs of Defense Conference on Countering Violent Extremist Organization, yang melibatkan 78 negara Asia Pasifik, pada 23-24 Oktober 2017.
Namun, Panglima TNI tidak dapat melakukan perjalanan sesuai rencana. Kedutaan Besar pun telah berkoordinasi dengan staf panglima mengenai masalah ini untuk memfasilitasi kunjungan Jenderal Gatot dan delegasi.
Kedutaan Besar A.S. pun menyatakan siap memfasilitasi perjalanan Jenderal ke Amerika Serikat. "Kami tetap berkomitmen untuk Kemitraan Strategis dengan Indonesia sebagai cara untuk memberikan keamanan dan kemakmuran bagi bangsa dan masyarakat kita," tulis keterangan kedutaan AS.
Juru bicara Markas Besar TNI Brigadir Jenderal Wuryanto mengatakan pihaknya menunggu keterangan resmi AS terkait sebab pelarangan tersebut. Ia memastikan kunjungan Panglima TNI atas undangan dan perintah Presiden untuk mewakili Indonesia. "Kita sedang menunggu penjelasan Amerika," ujarnya. (Arkhelaus. W)

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo Ditolak Masuk Amerika Serikat

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo 

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dikabarkan ditolak masuk ke Amerika Serikat oleh Pemerintah AS.
Kabar itu diterima Jenderal TNI Gatot Nurmantyo melalui pemberitahuan penolakan yang disampaikan pihak maskapai Emirates.
Maskapai ini sedianya akan membawa Gatot dan istri ke Amerika Serikat menghadiri sebuah acara konferensi memenuhi undangan Panglima Angkatan Bersenjata Amerika Serikat Jenderal Joseph F Durford, Jr. di Kota Washington, atas permintaan otoritas keamanan dalam negeri Amerika Serikat.
Gatot Nurmantyo seharusnya terbang ke Amerika Serikat menggunakan maskapai penerbangan Emirates EK 0357, Sabtu (21/10/2017) sekitar pukul 17.00 WIB.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Wuryanto membenarkan bahwa Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo ditolak masuk wilayah Amerika Serikat ketika akan berangkat ke negara itu guna menghadiri acara Chiefs of Defense Conference on Country Violent Extremist Organization (VEOs) yang akan dilaksanakan Senin dan Selasa 23 dan 24 Oktober ini di Washington DC, AS.
"Jenderal TNI Gatot Nurmantyo beserta isteri dan delegasi telah mengurus visa dan administrasi lainnya untuk persiapan keberangkata. Kemudian pada Sabtu (21/10), Panglima TNI siap berangkat menggunakan maskapai penerbangan Emirates, namun beberapa saat sebelum keberangkatan ada pemberitahuan dari maskapai penerbangan bahwa Panglima TNI beserta delegasi tidak boleh memasuki wilayah AS oleh US Custom and Border Protection," kata Wuryanto di Jakarta, Minggu.
Karena ditolak, lanjut dia, Gatot Nurmantyo urung menghadiri acara tersebut.
Wuryanto menjelaskan Gatot mendapat undangan secara resmi yang dikirim panglima angkatan bersenjata AS Jenderal Joseph F Dunford Jr dan kemudian Gatot membalas surat tersebut dan mengkonfimasi kehadirannya sebagai bentuk penghargaan dan perhatian.
"Panglima TNI mengirim surat balasan tersebut karena menghormati Jenderal Joseph F. Dunford Jr yang merupakan sahabat sekaligus senior Jenderal TNI Gatot Nurmantyo," Kata Wuryanto.
Menanggapi peristiwa itu, Gatot telah melapor kepada Presiden melalui ajudan, Menteri Luar Negeri dan Menko Polhukam serta berkirim surat kepada Joseph Dunford dan saat ini masih menunggu penjelasan atas insiden ini.
"Kepergian ke Amerika atas undangan Pangab dan atas hubungan baik dua negara serta hubungan baik antara Pangab Amerika dan Panglima TNI. Oleh sebab itu Panglima TNI beserta isteri dan delegasi memutuskan tidak akan menghadiri undangan Pangab Amerika Serikat sampai ada penjelesan resmi dari pihak Amerika," tegas Wuryanto.
Gatot Nurmantyo dan istri sebelumnya sudah mengurus visa untuk keberangkatan tersebut.
Gatot Nurmantyo mengetahui ditolak masuk Amerika Serikat beberapa saat sebelum terbang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng, Banten.
Panglima TNI sudah melaporkan insiden penolakan ini ke Presiden Joko Widodo, Menteri Luar Negeri Retno LP Masudi dan Menko Polhukam Wiranto.
Kemlu RI Minta Penjelasan AS soal Larangan Panglima TNI Memasuki AS
Pemerintah Indonesia langsung meminta penjelasan otoritas Amerika Serikat perihal larangan bagi Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo memasuki Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Retno LP Masudi menjelaskan, KBRI di Washington D.C telah mengirim nota diplomatik kepada Kementerian Luar Negeri AS untuk meminta klarifikasi.
"Permintaan tersebut diperkuat dengan nota diplomatik Kemlu RI ke Kedubes AS," kata Retno dalam pesan singkat, Minggu (22/10/2017).
Menlu Retno juga sudah melakukan pembicaraan melalui telepon dengan duta besar AS untuk Indonesia. Kebetulan, Dubes AS tidak berada di Jakarta.
"Dubes AS juga sedang menunggu info dari capital," kata Retno.
Rencananya, Retno juga akan memanggil Wakil Dubes AS pada Senin (23/10/2017).
Gatot Nurmantyo sebelumnya dikabarkan ditolak masuk ke Amerika Serikat oleh Pemerintah AS.
Kabar itu diterima Jenderal TNI Gatot Nurmantyo melalui pemberitahuan penolakan yang disampaikan pihak maskapai Emirates.
Maskapai ini sedianya akan membawa Gatot dan istri ke Amerika Serikat menghadiri sebuah acara konferensi memenuhi undangan Panglima Angkatan Bersenjata Amerika Serikat Jenderal Joseph F Durford, Jr. di Kota Washington, atas permintaan otoritas keamanan dalam negeri Amerika Serikat. (Choirul Arifin)

NU-200 Sikumbang, Koleksi Museum TNI AU Bertambah

NU-200 Sikumbang
NU-200 Sikumbang 

Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Hadi Tjahjanto bersama Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia PT Dirgantara Indonesia, Sukatwikanto menandatangani serah terima Pesawat serang antigerilya NU-200 Sikumbang.

Pesawat tersebut resmi menjadi salah satu koleksi Museum Pusat Dirgantara Mandala (Muspudirla) TNI AU, Yogyakarta. Ia menjelaskan, Sikumbang merupakan pesawat tempur pertama karya anak bangsa yaitu Laksamana Muda Udara Anumerta Nurtanio Priggoadisurjo.
"Pesawat ini diberi kode NU-200 sesuai mesinnya yang menggunakan de Havilland Gipsy Six I berdaya 200 tenaga kuda," jelasnya.
Penerbangan perdana Sikumbang dilaksanakan pada tanggal 1 Agustus 1954 lalu. Tepatnya sembilan tahun setelah Indonesia, Angkatan Udara sudah bisa membuat pesawat bikinan anak bangsa dan pesawat itu untuk COIN, Counter Insurgency, pesawat tempur serang darat, luar biasa. "Kemudian pesawat itu diuji, bisa terbang," tuturnya.
Selanjutnya, Hadi Tjahjanto menjelaskan, Nurtanio mengembangkan lagi semacam Sikumbang dengan kode NU-225. Kali ini pesawat menggunakan mesin Continental O-470A berdaya 225 tenaga kuda.
"Pesawat Sikumbang ini adalah kebanggaan kita pertama kali dibuat dengan tenaga asli Indonesia yang makannya singkong," tutupnya.
Sumber : https://news.okezone.com

Dua Anggota Brimob Polri Terluka dalam Baku Tembak dengan OPM

Baku Tembak dengan OPM
Baku Tembak dengan OPM 

Pasukan Brimob Polda Papua terlibat baku tembak dengan kelompok separatis bersenjata Organisasi Papua Merdeka di Gunung Sangker Kalibua, Kampung Utikini Tembagapura, Timika, Papua, pada Sabtu, 21 Oktober 2017. Dua personel Brimob dilaporkan terluka.
Baku tembak itu terjadi setelah insiden penembakan pada mobil patroli PT Freeport Indonesia. Saat pasukan Brimob pimpinan Ipda Taufik berpatroli di sekitar lokasi, mereka malah diserang kelompok bersenjata sehingga baku tembak tak terhindarkan.
Menurut Juru Bicara Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Ahmad Mustofa Kamal, kelompok penyerang diidentifikasi sebagai faksi OPM pimpinan Sabinus Waker. Kontak senjata berlangsung beberapa menit saja namun melukai dua prajurit Brimob.
Prajurit yang terluka adalah Brigadir Polisi Mufadol dan Bhayakara Dua Alwin. Mufadol terluka pada kaki kirinya dan Alwin terluka bagian perutnya. Luka cukup serius dialami Alwin karena serpihan peluru mengenai lambung dan kandung kemihnya.
Kedua personel Brimob itu segera dilarikan ke Rumah Sakit Tembagapura. Sementara para penyerang yang diduga kelompok separatis atau kelompok kriminal bersenjata berhasil melarikan diri masuk hutan.
Mustofa Kamal memastikan kedua prajurit Brimob yang terluka sudah mendapatkan perawatan medis. “Kondisi kedua korban dalam keadaan sadar dan sudah membaik dari kondisi sebelumnya,” ujarnya, sekaligus menyatakan bahwa aparat masih memburu para penyerang di hutan.

Tank Osorio, Terjalnya Jalan Menuju Kemandirian Industri Pertahanan

EE-T2 Osorio
EE-T2 Osorio 

Pengalaman pahit ketika industri strategis dalam negeri ‘dimatikan’ oleh kekuatan negara-negara adikuasa rupanya tidak hanya dialami Indonesia. Brasil sebagai negara yang sekarang mandiri dalam hal industri senjata dan alutsista ternyata pernah pula mengalaminya.
Kemauan sebuah negara untuk mandiri melalui industri strategis boleh jadi dianggap bahaya laten oleh negara-negara maju yang memiliki industri pada tingkatan yang sudah mapan. Maklum saja, negara-negara berkembang saat ini merupakan pasar yang sangat empuk untuk produk-produk teknologi tinggi berharga mahal. Punya sumber daya yang besar tetapi minim pengetahuan, Negara-negara adikuasa tentunya ingin agar status quo tersebut bertahan.
Maklum, untuk membuat produk-produk berteknologi tinggi seperti pesawat, kapal, atau senjata, investasi dan biaya riset yang dikucurkan juga tak sedikit. Belum lagi pangsa pasarnya yang boleh dibilang sempit. Ketika ada yang coba-coba belajar dan keluar dari lingkaran setan ketidaktahuan, dengan sigap orkestra konspirasi Negara-negara Barat dengan berbagai skenarionya akan berupaya keras menggagalkannya.
Dalam kasus Brasil, negara dengan perekonomian terbesar dan terbaik di Amerika Selatan ini pernah memiliki pabrik senjata berat dan kendaraan tempur yang sangat maju bernama Engesa. Engesa atau Engenheiros Especializados S/A (Perusahaan Mesin-mesin Khusus) tadinya merupakan perusahaan traktor dan alat pertanian, kemudian beralih membuat kendaraan tempur.
Sebagai pabrikan senjata, produk-produk Engesa seperti Cascavel, Urutu, dan Sucuri memiliki ciri khasnya sendiri yang seolah keluar dari pakem desain senjata Barat maupun Timur. Singkatnya, Engesa berhasil menciptakan pakem khas Amerika Latin yang disesuaikan dengan kondisi medan maupun tipikal ancaman yang kiranya akan dihadapi oleh Brasil sebagai Negara induknya.
AD Brasil sendiri juga tergolong progresif dalam hal penerapan teknologi pada jamannya. Paska Perang Dunia II, Brasil menjadi sedikit dari negara Amerika Latin yang memelihara armada tank dalam jumlah besar, dimana AD Brasil mengoperasikan M-3 Stuart dan M-4 Sherman buatan AS. Pada 1960, AD Brasil melakukan peremajaan Korps Kavalerinya dengan beralih menggunakan tank ringan M-41 Walker Bulldog yang dibeli sebanyak 300 unit.
Penggunaan tank sebesar ini tak lepas dari restu Amerika yang berupaya mencegah Brasil jatuh dalam pengaruh komunisme yang pada tahun-tahun tersebut sedang bergelora dan merebak di Amerika Selatan. Kedekatan AS dengan AD Brasil bahkan memuncak dalam Kudeta tak berdarah atas pemerintahan Presiden Joao Gulart yang beraliran sosialis.
Arah Kemandirian
Selepas dekade 1960an yang bergejolak, pemerintah Brasil yang kini dipegang oleh rezim militer kemudian menggariskan arah kemandirian militer Brasil. Hal ini berarti bahwa Brasil harus mampu membuat beragam kendaraan yang mampu menjawab tantangan tugas yang harus diemban oleh AD Brazil. Dalam hal rancang bangun tank, Perusahaan Bernardini Industry & Commerce Co bekerjasama dengan Bellicose Material Board berupaya menghadirkan purwarupa tank MB-3 Tamoyo. Pada awalnya, MB-3 Tamoyo tak ubahnya proyek retrofit yang sekedar menambah sejumlah fitur baru, namun kemudian berubah menjadi ambisius dengan membangun tank sendiri.
Walaupun menggunakan hull yang terinspirasi dari M-41, namun mesinnya sudah menggunakan mesin Scania DSI14 dan transmisi Alisson CD-500-3, serta kubah yang didesain dan dibangun secara lokal. Tamoyo pertama ini kemudian diperbarui dengan Tamoyo II yang menggunakan transmisi GE HMPT-500, dan kemudian Tamoyo III yang memperkenalkan sistem modern seperti laser rangefinder, thermal imaging, dan sistem kendali penembakan terkomputerisasi. Sistem penembakan meriamnya sudah distabilisasi dan kemampuan mengusung kanon 105mm. Sayangnya, karena tak ada ketertarikan dari AD Brasil, maka proyek Tamoyo pun mati suri dengan sendirinya pada 1982.
Osorio, puncak sekaligus akhir
Kegagalan Bernardini tak lantas membuat pabrikan lainnya, Engesa, mundur teratur. Pada dekade 1980an, perusahaan-perusahaan senjata Brasil sedang getol-getolnya berekspansi ke Timur Tengah, mengincar pasar senjata yang mekar bak cendawan di musim hujan berkat konflik Iran-Irak. Avibras telah berhasil menjual puluhan sistem artileri roket swagerak ASTROS ke Irak, dan Engesa mendengar bahwa Arab Saudi, yang tidak nyaman karena konflik kedua tetangganya itu, juga tengah berusaha memodernisasi armada tank mereka yang terdiri dari ratusan AMX-30B2.
Arab Saudi sebenarnya mengincar Leopard 2A4, namun sambutan dingin dari Jerman yang menolak menjual senjata ke negara lain jadi batu sandungan. Di sisi lain, dari dalam negeri sendiri AD Brasil juga sudah menyatakan minat untuk mengakuisisi sejumlah tank untuk mengganti M-41 Walker Bulldog yang tentunya sudah menua. Engesa kemudian mencoba menggabungkan kedua requirement tersebut kedalam satu tank.
Nyatanya, penggabungan kedua kebutuhan menjadi satu tersebut jauh lebih mudah di atas kertas dibandingkan dalam prakteknya. Arab Saudi nyata-nyata menginginkan daya pukul, dalam artian senjata yang diusung oleh tank baru tersebut harus berada di atas kaliber meriam tank yang ada di kawasan, dalam hal ini 105mm (M60, Merkava, Centurion), 115mm (T-62), dan 125mm (T-72).
Dari AD Brasil datang tuntutan bahwa tank yang dikembangkan Engesa tersebut tidak boleh melebihi tonase 36 ton, terkait dengan infrastruktur pendukung seperti jalan raya dan jembatan, plus sebagian kontur di Brasil terdiri dari tanah berawa atau gembur karena dilintasi sungai.
Lebar tank bahkan ditentukan pula, tak boleh lebih dari 3,2 meter karena keterbatasan lebar lori dan lebar terowongan rel kereta api yang ada di Brazil. Rel kereta di Brazil memang menjangkau seluruh negeri bahkan sampai ke pedalaman, melebihi jaringan jalan raya. Maka tidak heran bahwa Brazil menempatkan jaringan rel kereta api nya sebagai alat mobilisasi utama kekuatan tanknya.
Engesa merasa bahwa kalau mereka bisa menyatukan keinginan dalam negeri dan sekaligus potensi pasar ekspor, jumlah tank yang diproduksi dapat memenuhi hitungan ekonomis dan memenangkan persaingan sekaligus keberlangsungan hidup perusahaan. Mengetahui bahwa Arab Saudi begitu mendamba produk-produk Jerman, mereka pun segera berkiblat ke negeri panser tersebut.
Berbagai pabrikan senjata Jerman didekati, namun ternyata jalan tak mulus karena banyak intervensi. Thyssen-Henschel, yang merupakan kontraktor utama dalam pembangunan TAM (Tanque Argentine Mediano), tank medium milik Argentina, diajak rembuk. Sayangnya, Thyssen-Henschel mundur. Porsche, yang desainnya turut menentukan bentuk akhir dari MBT Leopard 1, antusias pada saat didekati. Namun Pemerintah Federal Republik Jerman, yang bisa mengira ujung pembicaraan tersebut, mengintervensi dan meminta Porsche menarik diri.
Pabrikan mesin Jerman MTU yang baru buka di Brasil juga didekati, harapannya mereka bisa menggunakan mesin MTU838 yang mentenagai Leopard 2. Sayangnya, banderol harga kelewat mahal akhirnya membuat Engesa mundur teratur. Sebagai gantinya, Engesa memilih mesin MWM TBD 234 yang dilengkapi turbocharger dan berdaya 1.040hp, yang pabriknya sendiri juga ada di Brasil.
Dari segi power/ weight ratio, tank yang menggunakan mesin MWM tersebut masih mampu membukukan 28hp/ ton, terhitung lincah jika dibandingkan Challenger 2 (19,1hp/ ton), atau bahkan M1A1 Abrams (23,7hp/ton), cukup untuk menghela tank melewati berbagai jenis medan yang tersedia. Mesin tersebut dikawinkan dengan sistem transmisi andal ZF LSG3000 yang bisa memaksimalkan output mesin.
Pada saat transmisi ZF dipilih, LSG3000 merupakan produk baru yang keluar pada 1984, dan kemudian terbukti andal mentenagai MBT seperti K1A1 buatan Korea Selatan, Ariete Italia, AMX-30E Spanyol, dan AMX-40 Perancis. Transmisinya sudah mengadopsi model matik dengan empat gigi maju dan dua gigi mundur, dengan fitur lock up clutch untuk meminimalkan kasus transmisi selip. LSG3000 juga dilengkapi secondary retarder yang ditugasi untuk membantu pengereman (engine brake) sehingga rem mekanik sangat terbantu dengan fitur ini. Alasan pemilihan sistem transmisi, lagi-lagi karena pabriknya sudah berdiri di Brasil.
Ketika mesin dan transmisi telah diputuskan, bagian tersulitnya adalah mendesain hull. Hull dari tank baru tersebut harus mampu mengakomodasi segenap mesin dan transmisi, sistem suspensi, kompartemen tempur dan kubah, amunisi, serta sistem optikal lainnya. Engesa dengan berani memborong perangkat hardware dan software CAD (Computer Aided Design) yang pada 1984, di jaman komputer tidak mampu menampilkan grafik, berharga jutaan dolar.
Pionir pada jamannya, CAD membantu para insinyur Engesa untuk mengira-ngira pemosisian berbagai komponen tank agar muat dan berfungsi.Dengan cara tersebut Engesa tidak perlu membangun terlalu banyak purwarupa untuk proofing, dan proyeksi penghematannya dianggap setara. Namun dengan segera, para insinyur Engesa menemukan masalah. Batasan 36 ton dianggap tidak realistis, dan amat sukar untuk dapat memenuhi keinginan AD Brasil kecuali ada pengorbanan yang dilakukan, entah pada proteksi, atau pada mobilitas. Kembali berunding, permintaan Engesa agar treshold bobot total tank dinaikkan, dan disepakati pada kisaran 42 ton.
Dari medium jadi main battle tank
Tanpa kawan yang bisa mengajari material dan desain untuk pembuatan hull, Engesa maju terus pantang mundur. Menyadari bahwa restriksi bobot akan mempengaruhi material yang digunakan, Engesa memilih lapisan komposit untuk menyusun hullnya. Lapisan dasarnya adalah baja tentu saja, kemudian diperkuat dengan alumunium, serat karbon dan keramik yang dilaminasi ke lapisan baja dasar.
Komposisi baja dasar untuk hull didesain dan dibuat oleh Usiminas, perusahaan dari Brasil sendiri, dan perakitannya dilakukan di pabrik Engesa Sao Jose dos Campos, Sao Paulo. Sementara untuk lapisan kompositnya, Engesa menyewa dua orang enjinir eks laboratorium Chobham, yang membuat Chobham Armour yang terkenal untuk MBT Inggris Challenger. Tidak ada data yang pasti mengenai kekuatannya, tetapi Engesa mengiklankan bahwa lapisan frontal/ glacis Osorio mampu menahan impak proyektil HEAT 105mm maupun seluruh ATGM yang beredar di pasaran pada dekade 1980an.
Layout dari hullnya sendiri terhitung konvensional, dengan bagian depan dan tengah diisi oleh kompartemen tempur, sementara bagian belakangnya diisi oleh mesin dan transmisi. Yang hebat, para enjinir Engesa sudah mendesain tank baru tersebut dengan mesin diesel sekunder yang berfungsi sebagai APU (Auxillary Power Unit). APU ini berfungsi mentenagai seluruh kelistrikan dalam kompartemen tempur, plus modul optik milik komandan sehingga dapat berputar independen terhadap gerak kubah. Apa artinya? Didalam tank baru rancangan Engesa ini, peranan hunter-killer yang baru populer pada 1990an sudah diadaptasi lebih dulu. Komandan yang berperan sebagai pemburu dapat mencari sasaran dengan suara yang seminimal mungkin sehingga mengurangi kemungkinan deteksi oleh lawan.
Sistem suspensi yang dipasang pada hull pun terhitung istimewa. Alih-alih menggunakan suspensi torsion bar standar, Engesa yang piawai dengan sistem suspensi ‘boomerang’ membenamkan sistem suspensi hidropneumatik di keenam roadwheel yang ada di tiap sisi badannya. Sistem suspensi yang dipergunakan dibuat oleh Dunlop, dan serupa dengan sistem yang diaplikasikan pada MBT Challenger 1.
Seperti kita tahu, sistem suspensi hidropneumatik menawarkan kenyamanan lebih bagi awak, mengurangi kelelahan, dan memberikan opsi untuk merubah ketinggian tank dari permukaan tanah. Tak berhenti disitu, Engesa juga memilih sistem rantai (track) Diehl 570P buatan Diehl Remscheid, serupa dengan yang dipergunakan oleh Leopard 2. Dengan tapak karet yang kuat, selain nyaman, daya tahannya juga mampu mencapai 16.000km tanpa kerusakan yang berarti.
Kubah
Beralih ke soal persenjataan, Engesa menemukan partner dari Inggris. Vickers Defense, perusahaan Inggris yang pernah membantu pembuatan tank nasional India sepakat untuk membuatkan sistem kubah untuk tank buatan Engesa. Basis pengembangannya adalah kubah Universal Turret milik Vickers Mk7, tank yang tak berhasil dijual oleh Vickers. Lucunya, Vickers tak berhasil menyelesaikan kubah sesuai perjanjian, dan tank Engesa tersebut diluncurkan dengan mock up turret yang dicat seperti kubah tank asli pada September 1984! Tank modern buatan Engesa ini ditahbiskan dengan kode EE-T1 Osorio, dinamai berdasarkan nama Jenderal Manuel Luis Osorio, bapak Kavaleri AD Brasil.
Pada Mei 1985, pengiriman kubah dari Inggris sampai di Brasil. Engesa memiliki rencana ambisius terkait dengan pemanfaatan kubahnya. Untuk urusan kanon sebagai senjata utama, Engesa mendesain dua macam meriam. Satu adalah kanon berulir Royal Ordnance L7 kaliber 105mm, kanon standar NATO yang digunakan pada M60 dan M1 Abrams. Yang kedua, untuk memenuhi keinginan Arab Saudi, Engesa menggunakan kanon tanpa alur (smoothbore) GIAT CN120-26/52 kaliber 120mm. Kanon ini, yang kelak akan dipakai oleh MBT Leclerc, dianggap mumpuni untuk melibas semua tank yang digunakan oleh tetangga-tetangga Arab Saudi.
Untuk kubah pertama yang dipasangkan ke EE-T1, perlengkapannya sudah lumayan komplit. Dikendalikan oleh sistem kontrol penembakan OIP yang distabilisasi, EE-T1 sudah mampu menembak sambil bergerak, satu fitur yang terhitung ‘luar biasa’ pada dekade tersebut karena baru Brasil sebagai negara berkembang yang mengaplikasikannya.
Fitur lain yang disediakan untuk penembak dan komandan adalah IIT (Image Intensifier Tube) pasif yang memampukan penginderaan pada malam hari, walau hasilnya masih belum terlalu sempurna. Varian pertama EE-T1 yang mengaplikasikan kanon L7 ini memiliki penyimpanan peluru di bagian belakang kubah (bustle) dengan pintu baja yang berfungsi sebagai firewall agar api tak menyebar ke kompartemen tempur apabila tank terkena tembakan.
Mendapati hasilnya memuaskan, Engesa bergerak semakin agresif saat menyelesaikan purwarupa kedua, EE-T2. Varian yang diperuntukkan bagi Arab Saudi ini dibangun penuh dengan bells and whistles alias penuh aksesoris. Selain kanon GIAT CN120-26/52 yang dipasang ke kubah, sistem kendali penembakannya menggunakan FCS buatan Marconi. Sistem kendali penembakan ini menggunakan arsitektur 16 bit untuk mampu mengolah berbagai variabel yang bisa dipasok ke sistem seperti elevasi meriam, arah angin, tekanan angin, pembacaan jarak dari laser rangefinder, dan tipe munisi yang digunakan.
Distabilisasi pada dua sumbu, EE-T2 pun juga mampu menembak sambil bergerak. Yang hebat, sistem penginderaan pada EE-T2 sudah dibantu dengan thermal imager buatan SFIM yang menggunakan tabung generasi kedua yang lebih jelas dibandingkan dengan IIT. Baik komandan maupun juru tembak memiliki sistem optik dan laser rangefinder independen dan mampu beroperasi sebagai hunter-killer. Sistem filter Nubika dipasang pada EE-T2, sesuai dengan permintaan Arab Saudi. EE-T2 diawaki oleh 4 orang, pengemudi, komandan, juru tembak, dan pengisi munisi.
Sebelum menjalani kompetisi di gurun, AD Brasil dan Engesa menguji EE-T1/T2 di wilayah Marambaia yang konturnya mirip dengan Arab Saudi, dimana tank ini menempuh jarak 3.269km tanpa jeda, dan melakukan uji penembakan sebanyak 50 kali. Pengujian tidak menemui kendala, sehingga AD Brasil amat puas dengan hasilnya. Berangkat dengan optimisme, kru dari Engesa berangkat ke Arab Saudi, dimana lawan-lawan EE-T2 sudah menunggu.
Lawan-lawan Osorio terhitung sangat serius, praktis Brasil harus berhadapan dengan para jawara dunia. Inggris membawa Challenger, Amerika menggadang-gadang M1 Abrams, Perancis mengajukan AMX-40. Ketiga lawan Osorio sudah jelas tangguh, dan tentunya tidak mau melewatkan kontrak yang menggiurkan tersebut. Arab Saudi menawarkan kesempatan yang adil dalam ujian yang realistik.
Sejumlah parameter yang diujikan adalah daya tempuh (endurance), kemampuan tembak, dan lintas rintangan. Arab Saudi mensyaratkan bahwa setiap tank akan menempuh jarak sejauh 2.350km cross country, 75% diantaranya melalui gurun. Tiap tank harus mampu memenuhi batasan konsumsi 2,1km per liter bahan bakar yang ditenggak di padang pasir, dan 3,4km/ liter di jalan raya. Untuk rintangan, tiap tank harus melintasi parit selebar 3m, menanjak pada sudut 65o, melintasi kemiringan 30o, serta berhenti dan berakselerasi pada tanjakan.
Soal perawatan teknis tak luput dari perhatian, dimana penggantian track harus dapat dilakukan dalam 40 menit, mesin harus mampu dinyalakan idle selama 6 jam, dan mampu menderek tank sejenis lainnya, terutama untuk kebutuhan recovery. Untuk uji penembakan, tiap tank diwajibkan menembak 149 kali, dengan sasaran pada berbagai jarak dan yang terjauh adalah 4.000 meter. Ada sasaran statik dan ada pula sasaran bergerak, yang ini dipasang pada jarak 1.500m. Dalam kasus ideal, dimana tank diawaki oleh para kru uji yang mengenal tiap tanknya luar dalam, mungkin hal ini bisa dilakukan.
Namun Arab Saudi memberikan satu twist yang rumit: tiap tank harus diawaki oleh prajurit kavaleri AD Arab Saudi, dan kru uji tiap perusahaan hanya bertindak sebagai pendamping. Benar saja, satu demi satu tank lawan berguguran. Challenger dan AMX-40 tidak mampu memenuhi batasan konsumsi bahan bakar yang disyaratkan, sementara M1 Abrams sedikit lebih boros dari EE-T2 yang mampu mencapai efisiensi konsumsi bahan bakar.
Kemampuan recovery EE-T2 juga luar biasa, karena mampu digunakan menarik M1 Abrams yang bobotnya 10 ton diatas EE-T2. Pada saat uji tembak, EE-T2 benar-benar menunjukkan kelasnya. Osorio menjadi satu-satunya tank yang mampu menembak sasaran statik berukuran sebesar mobil pada jarak 4.000m. AMX-40 yang menggunakan meriam yang sama, tidak mampu melakukannya. Arab Saudi tentunya amat puas, dan mengumumkan EE-T2 Osorio sebagai pemenang. Banderol harga EE-T2 yang ‘hanya’ US$1,2 juta membuat Arab Saudi memesannya sebanyak 318 unit.
Hasil kemenangan di Arab Saudi ini membuat Engesa dan AD Brasil meledak dalam kegembiraan. Sudah terbayang rencana ekspansi dari Engesa, yang berniat membangun pabrik baru di Arab Saudi, mempekerjakan lebih banyak pegawai, dan memasok AD Brasil. Arab Saudi bahkan akan menjadikan EE-T2 Osorio sebagai basis pengembangan tank lokalnya, Al Fahd. Dalam kontrak yang ditandatangani tersebut, 10 tank akan diberikan ke AD Brasil secara cuma-cuma, dengan dana dari Arab Saudi. Kontrak ini tentu saja akan membawa Engesa ke jajaran top produsen tank di dunia.
Dikhianati dan ditusuk dari belakang oleh sang adidaya
Sayangnya, kemenangan yang sudah ada di pelupuk mata tersebut dalam sekejap berubah menjadi fatamorgana. AS dan Inggris tidak begitu saja tinggal diam, dan meluncurkan berbagai intervensi politik. AS memainkan paranoia stabilitas kawasan, menjadikan konflik Iran-Irak sebagai hantu yang akan menggoyahkan kekuasaan dinasti Al-Saud. Selain itu, AS menunjukkan fakta bahwa Brasil merupakan pemasok besar senjata untuk Irak seperti Avibras ASTROS.
Arab Saudi, yang secara tradisional merupakan sekutu Amerika Serikat dan menyenangi status quo di kawasan, akhirnya menurut. Mereka menggantung status kontrak dengan Engesa. Pukulan telak kedua adalah ketika Perang Teluk II meletus. Armada tank-tank Abrams dan Challenger merajai gurun Kuwait dan Irak, menghancurkan tank-tank Garda Republik tanpa tanding. Arab Saudi, yang merasa berhutang budi pada AS, akhirnya memutuskan membeli Abrams, satu langkah final yang mengakhiri prospek Osorio.
Engesa yang sudah terlanjur mengeluarkan investasi besar untuk pengembangan EE-T1/T2, akhirnya mengumumkan kebangkrutan mereka di tahun 1991 karena pertaruhan mereka pada tank yang hebat itu ternyata berujung pada kekalahan. Secara tidak langsung, intervensi politik AS dan Inggris telah mematikan industri strategis Brasil.
Yang paling ironis, walaupun Osorio merupakan platform yang telah teruji, AD Brasil tak mau membelinya karena alasan klasik, apalagi kalau bukan soal pendanaan. Sebagai gantinya, AD Brasil malah membeli Leopard 1 eks Bundeswehr, yang tentunya jauh lebih inferior dibandingkan EE-T1/T2 yang dikembangkan oleh anak negerinya sendiri, sementara sang tank karya anak bangsa hanya berakhir sebagai sebuah monumen belaka. Sungguh tragis. (Aryo Nugroho)

Radar Acak