SIPRI : Tahun Lalu, Perdagangan Senjata di Seluruh Dunia Meningkat

Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI)
Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) 

Amunisi, tank, dan pesawat tak berawak, itulah yang paling diminati para pembeli senjata.
Volume perdagangan senjata dan perlengkapan militer secara global meningkat pada 2016, setelah lima tahun sebelumnya terus mengalami penurunan.
Menurut lembaga penelitian bisnis senjata Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), tahun lalu bisnis senjata meningkat 1,9 persen dibanding 2015.
Sebanyak 100 kelompok pedagang terbesar menjual senjata dan sistem pertahanan senilai 374,8 miliar dolar AS atau lebih dari Rp 5.000 triliun.
Jika dibandingkan angka penjualan senjata pada 2002, maka tahun lalu terjadi peningkatan 38 persen.
Amerika Serikat menjadi negara yang paling banyak memproduksi dan menjual senjata ke berbagai belahan dunia.
Menurut SIPRI, penjualan dari perusahaan AS naik 4 persen pada 2016, dengan total 217,2 miliar dolar AS.
Peningkatan angka penjualan tersebut antara lain didorong pembelian sistem senjata besar oleh negara lain.
Kelompok Lockheed Martin, produsen senjata terbesar dunia, melakukan bisnis besar dengan menjual pesawat tempur terbarunya F-35 ke negara-negara seperti Inggris, Italia atau Norwegia.
Namun, pelanggan terbesar Lockheed Martin tetap adalah Angkatan Udara Amerika Serikat.
Laporan tersebut juga menunjukkan, mayoritas senjata berasal dari perusahaan Amerika yaitu sebanyak 57,9 persen dari seluruh penjualan senjata global.
Eropa Barat menempati posisi kedua (Inggris, 9,6 persen dan Perancis 5 persen), dan Rusia di posisi ketiga (7,1 persen).
Bisnis senjata dari Eropa Barat mencapai nilai 91,6 miliar dolar.
Krisis menguntungkan perdagangan senjata
Gambaran bisnis senjata di Eropa Barat bervariasi. Sementara perusahaan-perusahaan Perancis dan Italia menjual lebih sedikit senjata, perusahaan Jerman dan Inggris berhasil meningkatkan omset mereka.
Pabrik senjata utama Jerman Krauss-Maffei misalnya, dan Rheinmetall, yang membuat kendaraan militer, mendapatkan keuntungan dari penjualan produk mereka di Eropa, Timur Tengah, dan Asia Tenggara.
"Meskipun demikian, sangat sulit untuk membuat hubungan langsung antara pembelian senjata besar dan perang yang sedang berlangsung," kata Aude Fleurant, Direkturt Program Bisnis Senjata dan Militer SIPRI.
"Namun, tentu saja ada kaitannya. Ada permintaan yang lebih besar untuk beberapa jenis amunisi senjata, rudal atau kendaraan darat, misalnya," tambah Fleurant
Peningkatan penjualan senjata di seluruh dunia, tambah dia, juga merupakan respon terhadap konflik yang sedang berlangsung. "Di beberapa daerah, ancaman yang dirasakan semakin meningkat."
Korea Selatan mempersenjatai diri
Korea Selatan adalah salah satu contohnya. Pada 2016, perusahaan Korea Selatan melaporkan kenaikan penjualan senjata sebesar 20,6 persen.
"Itu sangat jelas berkaitan dengan situasi keamanan di wilayah ini," kata Fleurant.
Korea Selatan merasa sangat terancam oleh provokasi nuklir tetangganya Korea Utara dan sebagai jawaban meningkatkan pengeluaran militernya.
Produsen senjata Korea Selatan yang terutama mendapat keuntungan dari situasi ini dengan menjual senjata ke kementerian pertahanan.
Peneliti SIPRI percaya China juga mungkin merupakan produsen senjata besar. Namun negara itu tidak muncul dalam statistik SIPRI, karena para peneliti tidak memiliki data yang dapat dipercaya mengenai perdagangan senjata China.
"Tapi kami berasumsi bahwa produsen persenjataan Cina termasuk dalam 20 besar dunia," Fleurant menegaskan.

KSAL Laporkan Rencana Pembangunan Galangan Kapal Militer ke Presiden

PT PAL
PT PAL 

Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi melaporkan rencana pembangunan area pembuatan kapal atau galangan kapal militer di Indonesia kepada Presiden Joko Widodo.
Hal tersebut dilaporkan ketika Presiden menjamu Laksamana Ade makan siang di Istana Kepresidenan Bogor, Kamis (14/12/2017), bersama-sama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Mulyono.
"Tadi Bapak KSAL menyampaikan (rencana) pembangunan galangan kapal," ujar Hadi usai jamuan makan siang Presiden.
KSAL, lanjut Hadi, menyampaikan kepada Presiden, terdapat tingkat-tingkatan dalam setiap galangan kapal militer. Ada tingkatan kecil, sedang dan besar.
"Galangan kapal yang lebih kecil itu dibangun di mana. Karena industri kapal di negara- negara lain pun tergantung dengan kelasnya," ujar Hadi.
Ia mencontohkan galangan kapal yang sudah dibangun di Surabaya. Menurut Hadi, area itu sebenarnya hanya dapat digunakan untuk membangun kapal kecil.
"Jadi mungkin kapal-kapal panjang dan besar nanti akan (dibangun) di tempat lain," ujar Hadi.
Rencana pembangunan galangan kapal, lanjut Hadi, adalah dalam rangka mewujudkan industri strategis dalam negeri. Program tersebut merupakan program jangka panjang Presiden Jokowi dalam rangka pemenuhan kebutuhan tiga matra di TNI. (Fabian Januarius Kuwado)

AS Sukses Lakukan Uji Coba Rudal Anti Kapal Jarak Jauh AGM-158C LRASM

Rudal Anti Kapal Jarak Jauh AGM-158C LRASM

Rudal Anti Kapal Jarak Jauh AGM-158C LRASM 

Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) telah berhasil menembakkan rudal anti kapal jarak jauh AGM-158C LRASM terbaru dari pesawat pembom B-1B. Begitu bunyi pengumuman produsen senjata AS, Lockheed Martin.
Dalam siaran persnya, Lockheed Martin mengatakan uji coba itu dilakukan di Sea Range, California. Selama pengujian, pesawat B-1B secara bersamaan meluncurkan dua AGM-158C LRASM terhadap beberapa sasaran maritim, berhasil melewati tes utama, termasuk dampak terhadap target sasaran.
"Kesuksesan ini berlanjut AGM-158C LRASM memberikan kepercayaan pada tonggak kemampuan operasional awal yang akan datang, menempatkan sebuah amunisi yang terbukti dan tak tertandingi ke dalam inventaris Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS," kata rilis tersebut seperti dikutip dari Sputnik, Rabu (13/12/2017).
Menurut rilis tersebut, AGM-158C LRASM dirancang untuk mendeteksi dan menghancurkan target tertentu dalam kelompok kapal dengan menggunakan teknologi canggih yang mengurangi ketergantungan pada platform intelijen, pengawasan dan pengintaian, tautan jaringan dan navigasi GPS di lingkungan peperangan elektronik.
"Rudal ini mempunyai kemampuan melacak target seperti kapal musuh, kapal selam dangkal, pesawat tak berawak, pesawat terbang dan target berbasis di darat," menurut laporan yang diterbitkan.
Pada bulan Juli, Angkatan Udara AS memberi Lockheed Martin kontrak senilai USD86 juta untuk menghasilkan batch pertama dari 23 rudal AGM-158C LRASM.
"Senjata tersebut pas dengan rencana AS menyeimbangkan kembali kawasan Asia Pasifik dan mungkin terbukti sangat berharga dalam konflik maritim karena musuh potensial terus melengkapi kapal angkatan laut mereka dengan sistem persenjataan yang sangat canggih," the Congressional Research Service mencatat dalam sebuah penelitian tahun 2014. (Berliano)

"Penerbang Tempur Skuadron 14 Tidak Nganggur Lagi"

T-50i Golden Eagle
T-50i Golden Eagle 

Para penerbang tempur yang bernaung di skuadron 14 Lanud Iswahjudi kini tidak menganggur lagi meski pesawat tempur F-5 sudah dikandangkan (grounded).
Sambil menunggu pesawat tempur Sukhoi Su-35 datang, para penerbang tempur di skuadron 14 ditugasi mengawaki pesawat tempur jenis T-50i Golden Eagle. Tak hanya itu, sebagian penerbang tempur menjadi instruktur sekolah penerbang.
"Penerbang tempur skuadron 14 tidak nganggur lagi. Mereka semua terbang. Penerbang tempur yang bernaung di skuadron 14 ikut menerbangkan pesawat tempur T-50i dan menjadi instruktur di Yogyakarta. Jadi tidak ada yang nganggur penerbang F-5 tersebut," kata Danlanud Iswahjudi, Marsma TNI Samsul Rizal, Kamis ( 14/12/2017)
Samsul menjamin penerbang tempur dan sarana yang ada di Lanud Iswahjudi siap menerima kedatangan pesawat tempur buatan Rusia itu.
"Kita masih menunggu hasil pembahasan terakahir penandatangan kontrak pengadaan pesawat tempur Sukhoi Su-35. Tetapi pada prinsipnya semua fasilitas dan personel siap menerima kedatangan Sukhoi Su-35.
Tak hanya itu, Lanud Iswahjudi juga menambah sarana dan prasarana guna mempersiapkan kedatangan pesawat tempur jenis Sukhoi Su-35.
"Untuk sarana skuadron 14 yang akan menjadi Markas Sukhoi Su-35 akan direhab sesuai kebutuhan pengoperasian pesawat tempur jenis Sukhoi Su-35. Pasti lebih besar lagi dari sekarang," demikian ungkap Samsul Rizal.(Muhlis Al Alawi)

Panglima TNI Berencana Tambah Insentif bagi Prajurit yang Bertugas di Wilayah Perbatasan

Wilayah Perbatasan
Wilayah Perbatasan 

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto berencana menambah insentif bagi prajurit TNI yang bertugas jauh dari satuan induk. Wilayah perbatasan adalah salah satunya. Rencana tersebut diungkapkan Hadi seusai makan siang bersama Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor, Kamis (14/12/2017).
Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Mulyono dan Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi juga ikut dalam jamuan makan siang tersebut. "Diperlukan tunjangan khusus yang sesuai dengan (prajurit TNI) di sana (daerah tugas) sehingga cukup untuk kegiatan di sana," ujar Hadi.
Dengan demikian, kata Hadi, tunjangan prajurit TNI yaitu Uang Lauk Pauk (ULP) dapat diberikan kepada istri dan anak di rumah. "Sehingga dia (prajurit TNI) juga senang meninggalkan semua ULP-nya itu di rumah. Karena dia bertugas lebih dari enam bulan, hampir satu tahun, sehingga itu yang harus diperhatikan lebih," lanjut Hadi. Soal besaran penambahan insentif, Hadi belum dapat mengungkapkannya.
Ia juga belum dapat memastikan kapan insentif tersebut mulai diberlakukan. Saat ini, masih dilakukan evaluasi terkait besaran insentif. Insentif itu dalam rangka peningkatan kesejahteraan serta profesionalitas prajurit TNI.
Hadi menyadari, ada ketidaknyamanan istri dan anak prajurit TNI yang bertugas jauh dari rumah. Hadi berharap, insentif tersebut menambah kenyamanan istri prajurit sehingga akhirnya sang suami dapat bertugas dengan maksimal di daerah operasi. (Fabian Januarius Kuwado)

TAI Hurkus-C, Pesawat Serang Darat Gahar Buatan Turki

TAI Hurkus-C
TAI Hurkus-C 

Turki seolah tidak pernah kehabisan nafas saat mengembangkan produk-produk militernya di darat, laut, dan udara. Turki sendiri berencana mengembangkan tiga varian Hürkuş pada saat proyek ini ditandatangani pada 2006, yaitu versi A yaitu latih dasar yang sudah memperoleh sertifikasi EASA, versi B yang merupakan varian latih lanjut dengan kokpit digital, dan varian C yang merupakan versi serang, seperti dikutip dari Aviationweek (10/12).
Walaupun pesawat latih Hürkuş baru terbang pada Agustus 2013, TAI sudah mengembangkan varian serangnya pada waktu yang bersamaan. Maklum saja, Turki merasakan kebutuhan akan pesawat serang berbiaya rendah, terutama untuk menghadapi sayap bersenjata Partai Pekerja Kurdi (PKK) yang berupaya memerdekakan diri dan menjadi ancaman utama keamanan dalam negeri Turki.
Operasi serang darat dengan pesawat tempur seperti F-16 tentu biayanya mahal dan ada kekuatiran bahwa suku cadangnya kelak akan dipersulit oleh AS, kalau Turki menyerang PKK/ YPG yang saat ini hubungannya mesra dengan Amerika Serikat. Padahal, Erdogan sangat berambisi untuk mendominasi kekuasaan di bawah tangannya.
Varian dari Hürkuş-C ditenagai oleh mesin PT6A-68T dengan lima bilah baling-baling B5MA-3 Hartzell, yang akan menyediakan daya 1.600shp dan kecepatan maksimal 574km/jam. Walaupun purwarupanya ditenagai oleh mesin P&W Canada PT6, namun TAI sejatinya berharap bahwa varian operasionalnya kelak akan dapat ditenagai oleh mesin buatan dalam negeri buatan TEI (TUSAŞ Engine Industries).
Dari segi airframe, Hürkuş-C memiliki bentuk fuselage yang gemuk pada bagian mesin dan hidung, dibandingkan pesawat sejenis. Namun begitu, desain gelembung pada kokpit memberikan pandangan dari dalam kokpit dengan sudut pandang 50 derajat ke arah bawah.
Desain kaca kokpitnya pun sudah diperkuat untuk menahan impak dari objek asing seperti tabrakan dengan burung ataupun pecahan peluru. Keamanan pilot dan siswa pun akan terjaga dengan sistem kursi lontar Martin-Baker Mk T-16 N 0/0 zero-zero ejection seat. Kokpit dengan sistem tekanan (pressurized) juga menjadi standar untuk mengurangi kelelahan awak.
Varian serang Hürkuş-C dilengkapi dengan sayap yang didesain berbeda dengan varian Hurkus latih, karena dilengkapi dengan winglet untuk meningkatkan aerodinamika. Tujuh hardpoint disiapkan untuk menggotong beragam senjata terutama sistem roket dan bom yang dikembangkan di dalam negeri seperti roket berpemandu laser 2,75” CIRIT, dan rudal udara-darat UMTAS.
Sistem pemandu untuk kedua senjata pintar ini akan disediakan oleh sistem CATS (Common Aperture Targeting System) yang terintegrasi dengan pod elektro optik buatan Aselsan dan terpasang di perut pesawat, siap dioperasikan oleh kopilot. Selain sistem pemandu laser, pod elektro optik ini juga akan menyediakan sistem kamera siang hari dan kamera termal untuk memindai permukaan dalam kondisi minim atau rendah cahaya.(Aryo Nugroho)

TNI AU Uji Coba Bom P-250 Buatan Dislitbang TNI AU

Bom P-250 Buatan Dislitbang TNI AU
Bom P-250 Buatan Dislitbang TNI AU 

Pesawat Tempur Sukhoi Su-30 melakukan uji coba bom P-250 buatan Dislitbang TNI AU di Lanud Iswahjudi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, dari Senin-Kamis (11-14 Desember 2017).
Bom seberat seperempat ton itu diledakkan di area latihan Pandanwangi, Jawa Timur dari ketinggian 2000 kaki.
"Saat ini ada uji coba bom buatan Dislitbang TNI AU jenis P-250 di Pandanwangi. Ini buatan anak bangsa," ujar Danlanud Iswahjudi, Marsma TNI Samsul Rizal, Kamis ( 14/12/2017).
Samsul mengatakan, kemampuan bom P-250 sama dengan bom MK82 berberat 250 kilogram.
Kepala Depohar 60 Lanud Iswahjudi, Kolonel (Pnb) Wahyu Laksito menyatakan, bom P-250 dirakit untuk menunjang persenjataan pesawat tempur jenis Sukhoi Su-30. Sebelumnya, TNI AU sudah membuat bom seberat 100 kilogram.
"Ini buatan yang kedua khusus untuk pesawat Sukhoi. Sebelumnya 100 kilogram dan sudah digunakan," kata Wahyu.
Wahyu mengatakan, bom P-250 dirancang dan dibuat Dislitbang TNI AU bekerjasama dengan pihak ketiga. Sebelum diproduksi masal, bom P-250 diuji coba terlebih dahulu.
Daya ledak bom P-250 diperkirakan mencapai 1,2 kilometer. Satu pesawat tempur jenis Sukhoi Su-30 bisa mengangkut tiga ton bom. (Muhlis Al Alawi)

Setelah Diupgrade, Pesawat F-16C/D Milik TNI AU Lebih Canggih dan Mampu Beroperasi Hingga 20 Tahun Kedepan

Pesawat F-16C/D Milik TNI AU
Pesawat F-16C/D Milik TNI AU 

Pesawat tempur jenis F-16C/D yang dihibahkan ke TNI AU merupakan pesawat ex-USNG. Namun, setelah di-upgrade jadi lebih canggih. Selain jago bertempur jarak dekat, pesawat tempur ini juga jago bertempur jarak jauh.
"Pesawat F-16C/D dapat mendeteksi sasaran dari jarak dekat maupun jauh. Radar pendeteksi dapat mencari sasaran dari jarak 10 mil hingga 200 mil. Bahkan, tinggi dan besaran sasaran dapat dideteksi," kata Mayor (Pnb) Pandu Eka, salah satu penerbang tempur Lanud Iswahjudi, kepada wartawan, Selasa (12/12/2017).
Menurut Pandu, jangkauan kemampuan radar pesawat tempur F-16C/D yang sudah di-upgrade bila saat menyerang tidak perlu datang mendekat. Pasalnya, pesawat tempur ini dilengkapi rudal dengan jarak tempuh hingga ratusan mil.
"Pesawat dilengkapi sembilan hard point untuk tempat rudal. Pesawat berkempuan multi role ini dapat bertempur air-to-air (antar-udara) hingga air-to-ground (udara ke darat) dan membawa sembilan ton rudal dan bom dengan berat take off maksimal 19 ton," ungkap Pandu.
Pandu mengatakan, pesawat tempur F-16C/D sudah di-upgrade dan dilengkapi dengan sistem avionik (perangkat elektronik) terbaru dari Block 52. Selain itu, memiliki radar pencari sasaran RWR (radar warning receiver) untuk mendeteksi ancaman musuh.
Untuk sistem pertahanan, kata Pandu, pesawat itu dilengkapi radar peringatan musuh. Teknisnya, peringatan langsung menyala jika pesawat terkunci radar musuh sehingga pesawat langsung bisa menghindar.
Pandu mengatakan, pesawat tempur jenis F-16C/D ini juga dilengkapi sistem chaff/flare untuk mengecoh rudal musuh.
Komandan Lanud Iswahyudi Marsma TNI Samsul Rizal menyebut total biaya mendatangkan 24 pesawat bantuan AS sebesar 690 juta dollar AS. Biaya itu sudah termasuk untuk upgrade.
"Jadi pesawat ini sebelum dikirim mendapat peningkatan terlebih dulu. Pengiriman bertahap dan ini pengiriman terakhir kali," kata Samsul.
Samsul menjelaskan, hadirnya pesawat tempur hibah dari AS menjadikan di Skadron 3 Lanud Iswahyudi memiliki beberapa pesawat tempur F-16C/D dan A/B. Sepuluh pesawat tempur F-16 A/B sudah berada di Lanud Iswahyudi sejak 1989 silam. Selain itu, terdapat 16 pesawat T50i Golden Eagle di Skadron 15.

Pentagon : Rusia akan Punya 8.000 Hulu Ledak Nuklir pada 2026

Rudal Nuklir Rusia (Yars)
Rudal Nuklir Rusia (Yars) 

Rusia disebut akan menambah kekuatan persenjataan nuklirnya dan pada tahun 2026, diperkirakan mereka akan memiliki hingga 8.000 hulu ledak nuklir.
Tak hanya itu, pemerintah Rusia juga tengah gencar membangun gudang persenjataan nuklir dan juga tempat perlindungan bawah tanah.
Dilansir Daily Mail, informasi tersebut diperoleh dari sumber pejabat Pentagon, mengutip Washington Free Beacon.
Perjanjian baru saat ini antara AS dan Rusia masih membatasi jumlah hulu ledak nuklir masing-masing hanya berjumlah 1.550 buah.
Sedangkan fasilitas bawah tanah disebut disiapkan sebagai pusat komando selama terjadinya perang nuklir.
Untuk peningkatan jumlah hulu ledak nuklir, hal tersebut akan secara serius melanggar perjanjian pengurangan senjata strategis baru, New Start, antara AS dan Rusia.
Perjanjian tersebut dimaksudkan untuk membangun kepercayaan dan mengurangi risiko perang nuklir.
Masing-masing pihak dibatasi untuk memiliki hanya 1.550 hulu ledak nuklir strategis.
Namun atas desakan Rusia, setiap pembom dihitung sebagai hulu ledak tunggal tanpa memperhitungkan berapa banyak bom nuklir yang dibawa. Alhasil, batas sebenarnya meningkat hingga sekitar 2.000 buah.
Diperkirakan AS memiliki 1.740 hulu ledak nuklir siap luncur, dengan Rusia juga tidak jauh dari angka tersebut.
Kedua pihak juga memiliki ribuan hulu ledak di gudang penyimpanan, termasuk yang telah lewat masa penggunaan dan yang menunggu pembongkaran. (Agni Vidya Perdana)

TUDM Malaysia Sedang Mengevaluasi Nilai Aset Pesawat MPA dan UAV

P-8A Poseidon buatan Boeing Defense, Space & Security
P-8A Poseidon buatan Boeing Defense, Space & Security 

Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) sedang mengevaluasi untuk menentukan empat unit pesawat Maritime Patrol Aircraft (MPA) yang sesuai untuk kemampuan masa depan.
Panglima Tentera Udara, Jenderal Tan Sri Affendi Buang mengatakan keempat pesawat adalah aset terakhir yang disetujui pemerintah kepada TUDM dalam presentasi Anggaran 2018 Oktober lalu.
Selain itu, Affendi mengatakan bahwa pihaknya juga melihat kemampuan relevan lainnya yang melibatkan pengembangan pesawat tak berawak (UAV) selangkah lebih maju dari ancaman baru tersebut.
"Pada saat yang sama, TUDM juga dalam perjalanan untuk memperkuat dan memperkasakan kemampuan kita (AU) dengan peralatan konvensional dan non konvensional.
"Ini untuk memastikan kita siap menghadapi ancaman baik sekarang maupun di masa depan, serta memastikan bahwa kemampuan kita selalu setara dengan kemampuan negara-negara regional lainnya," katanya.
Dia mengatakan hal ini dalam sebuah konferensi pers setelah menyelesaikan parade pelatihan atlet muda TUDM 57/2017 di lapangan Akademi Tentera Udara (ATU)..
Sebanyak 285 peserta berhasil menyelesaikan pelatihan 22 Minggu mulai 1 Juli hingga 31 Desember ini. (Herru Sustina - TSM)

TNI AU Gelar Kekuatan di Pangkalan Terdepan

F-16 TNI AU
F-16 TNI AU 

KSAU Marsekal TNI Hjadi Tjahjanto S.IP menyatakan, TNI AU akan mengubah pola gelar kekuatan tempur . Pola gelar yang selama ini terpusat di wilayah tertentu, diperbarui dengan kebijakan menempatkan satu flight pesawat tempur di beberapa pangkalan udara terdepan. Dengan pola gelar tersebut diharapkan TNI AU dapat mewujudkan konsep “No Area left with no air cover” (tidak ada wilayah dibiarkan tanpa perlindungan udara).
“Saat ini sedang di gelar satu flight pesawat T-50i Golden Eagle di Kupang. Kedepan juga akan di gelar unsur-unsur pesawat tempur di Pangkalan terdepan lainnya”. Kata KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.IP., dalam pembekalannya kepada 105 Pasis Sekolah Komando Kesatuan Angkatan Udara (Sekkau) Angkatan 102 di ksatrian Sekkau, Halim Perdanakusuma, Selasa (12/12). Sekkau Angkatan 102 diikuti 101 TNI AU, tiga Pasis diantaranya Wara, lima Pasis TNI AU di luar negri, serta dua Pasis TNI AD dan dua Pasis TNI AL.
Kasau optimis kebijakan dan strategi tersebut dapat dilaksanakan mengingat kondisi kesiapan pesawat mencapai 100% demikian juga kesiapan pesawat helikopter yang tinggi untuk misi SAR, akan mendukung penempatan pesawat tempur di beberapa pangkalan udara terdepan. Bila hal ini dikaitkan dengan kebijakan pemerintah untuk mengembangkan Indonesia sebagai poros maritim dunia maka, kebijakan penggelaran “ No area left with no air cover” dapat memberikan jaminan perlindungan udara di atasnya.
Di bidang pembangunan kekuatan, kedepan TNI AU akan menambahan 3 Skadron tempur, 2 Skadron angkut berat/sedang/ringan,1 Skadron helikopter, 2 Skadron PTTA. Selain itu juga pengadaan pesawat berkemampuan khusus terdiri dari 4 Pesawat Airborne Early Warning and Control (AEW & C), 4 Pesawat jet tanker, Helikopter anti teror, 12 Satuan Radar, serta pengadaan pesawat Multipurpose Amphibious.
Sedangkan bidang pembinaan kemampuan, TNI AU akan memenuhi siklus latihan yang telah direncanakan secara ketat dan terus meningkatkan kualitasnya melalui pelaksanaan evaluasi serta melaksanakan latihan bersama dengan negara lain.

Jet Siluman J-20 PLAAF China, Bayangi F-22 AS dalam Latihan Militer Vigilant ACE

Jet Siluman J-20 PLAAF China
Jet Siluman J-20 PLAAF China 

Untuk menghadapi ancaman nuklir Korea Utara, AS dan Korea Selatan Selenggarakan latihan militer bersandi Vigilant ACE (Air Component Exercise) yang diselenggarakan mulai 4 Desember dan melibatkan lebih dari 200 pesawat. Seperti dikutip dari The Diplomat dan CNN (11/12), AS mengirimkan 6 unit jet tempur siluman F-22 Raptor dan 18 unit F-35 ke Korea Selatan.
Keterlibatan pesawat tempur siluman AS yang sangat banyak ini tentu memancing ketertarikan negara-negara tetangganya. China, yang memiliki program pesawat tempur siluman J-20, dilaporkan telah melaksanakan penerbangan intai pada saat latihan Vigilant ACE dilaksanakan dengan jet tempur siluman yang masih dalam tahap akhir penyempurnaan tersebut.
J-20 dilaporkan lepas landas dari pangkalannya di China Utara, kemudian terbang melalui rute ke arah samudera, kemudian melintasi Laut China Timur dan Laut Kuning, yang berbatasan dengan wilayah Korea Selatan. J-20 diasumsikan melintas masuk ke wilayah Korsel, seperti disampaikan sejumlah pengamat militer China seperti dikutip dari Defenseworld (12/12).
Pesawat tersebut bisa melintas tanpa terdeteksi, apalagi sampai dikawal atau dicegat jet tempur Korea Selatan. Ini sebuah hal yang luar biasa mengingat Korea Selatan dalam kondisi kesiagaan tinggi dan radar-radarnya seharusnya bisa mendeteksi keberadaan J-20.
Semua keterangan tersebut seolah didukung oleh akun resmi AU Tentara Pembebasan China di Sina Weibo yang menyatakan bahwa pesawat intainya terbang pada rute yang belum pernah mereka tempuh sebelumnya, “ke tempat mereka belum pernah berada sebelumnya” yang mengindikasikan bahwa J-20 memang digunakan untuk menguji kekuatan pertahanan Korea Selatan.
Tiadanya respon atau keterangan resmi dari Korea Selatan atau Amerika Serikat mengindikasikan bahwa mereka tidak berhasil mendeteksi kehadiran J-20, dan mengirimkan F-22 atau F-35 untuk melakukan pencegatan. Padahal akan sangat menarik untuk menyigi jika memang dua jet tempur siluman dari dua negara ini bisa berhadap-hadapan di atas Semenanjung Korea.
AU Tentara Pembebasan China sendiri dilaporkan sudah mengoperasionalkan sejumlah J-20 dalam skala unit, yang dipangkalkan di Cangzou, terletak di propinsi Hebei yang terletak di Utara. Posisinya sangat strategis karena ada di seberang Teluk Korea dan Pantai Barat Semenanjung Korea. (Aryo Nugroho)

AD Thailand Terima Tambahan Lima Tank Oplot

AD Thailand Terima Tambahan Lima Tank Oplot
AD Thailand Terima Tambahan Lima Tank Oplot 

Perusahaan UkrOboronProm Ukraina mengirimkan ke Thailand batch terdiri dari lima tank tempur utama (MBT) Oplot pada tanggal 10 Desember, sebagaimana yang dilaporkan oleh media lokal.
Ukraina mendapatkan kontrak untuk memasok satu batalion tank terdiri dari 49 MBT Oplot senilai 7,2 miliar Baht pada 2011 namun proses produksi dan pengirimannya terlambat karena masalah keamanan di Ukraina.
Menurut laporan di jaringan sosial Thailand, batch tank Oplot baru-baru ini tiba dari Ukraina melalui laut ke Pangkalan Angkatan Laut Thailand Sattahip.
MBT Oplot dikembangkan oleh Kharkiv Morozov Machine Building Design Bureau (KMDB) untuk Angkatan Bersenjata Ukraina. Angkatan Darat Thailand memesan varian khusus tank Ukraina tersebut dengan beberapa modifikasi kecil untuk memenuhi persyaratan lokal dan disebut sebagai Oplot-T (Thailand).
Tank tempur utama Oplot dipersenjatai dengan meriam smoothbore 125 mm yang distabilkan, dilengkapi autoloader tipe carousel. Sistem proteksi MBT Oplot mengintegrasikan armor pasif dan explosive reactive armour. MBT ini dilengkapi dengan built-in Explosive Reactive Armor (ERA) Duplet (Nozh-2) generasi baru, yang melindungi dari hulu ledak tandem. Tangki Oplot dapat menahan ledakan sampai 10kg trinitrotoluene (TNT) di bawah rantai (track) tank dan sampai 4kg TNT di bawah kompartemen pengemudi.
Selain itu, Thailand juga memesan tank VT4 dari NORINCO pada tahun 2016 menyusul kontrak yang tertunda dan terganggu dengan Ukraina untuk MBT Oplot. Thailand memesan 28 tank dari Tiongkok pada tahun lalu. VT4 akan menjadi bagian dari armada MBT yang akan menggantikan tank buatan AS yang sudah menua yang masih beroperasi pada AD Thailand. (Angga Saja - TSM)

Setelah Helikopter AH-64E Apache, Selanjutnya Boeing Tawarkan Helikopter CH-47 Chinook

Helikopter CH-47 Chinook
Helikopter CH-47 Chinook 

Menteri Pertahanan Republik Indonesia Ryamizard Ryacudu menerima Wakil Direktur Global Sales and Marketing Boeing Defence Space (BDS) Mr. Yeong Tae Pak, Rabu (13/12) di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membicarakan tentang kerja sama pengadaan Alutsista yakni terkait dengan pengadaan helikopter serbu Apache dan juga penawaran helikopter angkut besar Chinook.
Wakil Direktur Global Sales and Marketing Boeing Defence Space menyampaikan ucapan selamat kepada Indonesia yang dalam waktu dekat akan menerima helikopter serbu Apache pesanan TNI AD. Pihaknya menjamin bahwa Apache adalah helikopter terbaik saat ini.
Selain itu pihak Boeing juga menjanjikan akan memberikan pelatihan dan dukungan yang terbaik. “Jadi terkait dengan dukungan suku cadang dan pemeliharaan sudah dibicarakan dengan pihak PT DI”, ungkapnya.
Terkait dengan penawaran helikopter Chinook, Wakil Direktur Global Sales and Marketing Boeing Defence Space lebih lanjut menjelaskan apabila Indonesia berminat, maka pihak Boeing akan memberikan penawaran dengan skema pembiyaan dan harga yang terbaik.
Boeing juga bersedia memberikan penjelasan selengkap – lengkapnya bagaimana sistem offset-nya yang sesuai dengan keinginan Indonesia untuk memajukan industri pertahanan dalam negeri.
Lebih lanjut dijelaskannya, helikopter Chinook memiliki multi fungsi karena dapat digunakan untuk mendukung berbagai macam tugas kebutuhan mulai dari operasi militer khusus, hingga penanganan bencana alam dan kebakaran hutan.
Sementara itu menanggapi penawaran tersebut, Menhan RI menyampaikan akan berkomunikasi dengan pihak pengguna dalam hal ini TNI AD atau TNI AU. Karena dalam setiap proses pengadaan Alutsista, didasarkan kepada kebutuhan pengguna. (BDI/SSI)

Australia Sepakat Menjual 18 Unit Pesawat Tempur F/A-18A/B Hornet ke Pemerintah Kanada

Pesawat Tempur F/A-18A/B Hornet
Pesawat Tempur F/A-18A/B Hornet  

Menteri Pertahanan, Senator Hon Marise Payne, hari ini mengumumkan bahwa Pemerintah telah menyetujui penjualan 18 pesawat tempur F/A-18A/B bekas pakai milik Royal Australian Air Force (RAAF) kepada Pemerintah Kanada.
Tawaran tersebut mengikuti ungkapan minat dari Pemerintah Kanada yang diterima pada bulan September. Penjualan pesawat terbang beserta suku cadang yang terkait tetap tunduk pada negosiasi akhir dan persetujuan ekspor Negara Asal (AS).
Kementrian Pertahanan semula berencana untuk menarik armada F/A-18A/B Hornet dari layanan pada tahun 2022, dan akan digantikan oleh F-35A Joint Strike Fighter, kemampuan tempur udara generasi kelima Australia yang baru.
Menteri Pertahanan Australia Payne akan membicarakan hal ini dengan rekannya Menteri Pertahanan Nasional Harjit Sajjan dari Kanada untuk menyambut penjualan tersebut.
"Australia sangat menghargai hubungan pertahanan bilateral yang sudah berlangsung lama dan luas dengan Kanada, dan keputusan ini adalah contoh lain dari kemitraan kami yang sangat erat," kata Menteri Payne.
"Pesawat tempur F/A-18A/B Hornet tersebut akan melengkapi armada yang sudah ada di Angkatan Udara Kanada yang saat ini sedang mengembangkan dan menerapkan rencananya untuk mengganti armada jet tempur Royal Canadian Air Force.
Transfer dua pesawat pertama diperkirakan terjadi mulai semester pertama 2019, seiring dengan rencana saat ini untuk beralih ke pesawat tempur F-35A Joint Strike Fighter.
Dua Strike Fighters pertama Australia diharapkan tiba di Australia pada akhir 2018. (Riza Tjahyadi)

Gripen The Smart Fighter, Pesawat Tempur Canggih dan Efisien Mahakarya Saab AB Swedia

Gripen The Smart Fighter
Gripen The Smart Fighter 

Pabrikan pesawat asal Swedia, Saab AB, pernah secara resmi menyampaikan proposal penawaran penjualan jet tempur Gripen kepada Indonesia.
Dalam penawaran tersebut, Saab menyertakan biaya dan skema transfer teknologi yang akan didapat oleh Indonesia.
Hal itu diungkapkan Kepala Saab Indonesia, Peter Carlqvist, kepada sejumlah wartawan sekitar setahun yang lalu atau tepatnya Senin 27 Juni 2016.
Carlqvist menyebut angka 1,14 miliar dolar AS dapat digunakan untuk membeli satu skadron Gripen sebanyak 16 pesawat.
Ia juga menambahkan bahwa 85% dari angka tersebut dapat berupa alih teknologi yang dapat dikerjasamakan dengan Indonesia.
Bila Indonesia membeli satu skadron Gripen, maka pihak Swedia dalam hal ini Saab AB akan menyertakan tenaga kerja Indonesia ikut dalam pembuatan jet tempur mesin tunggal Gripen di Swedia.
Nantinya, mereka yang dikirim ini akan memperoleh ilmu dalam hal pembuatan pesawat tempur. Dari situ mereka kemudian bisa mengaplikasikan ilmunya di Indonesia.
“Dari 16 pesawat yang dibeli, enam pesawat silakan dirakit di Indonesia. Engineer dan teknisi kami akan datang ke Indonesia dan membantu proses perakitannya,” tutur Carqvist.
Pusat Teknologi
Menyangkut kerja sama dan alih teknologi antara Swedia dan Indonesia, Saab dapat membantu Indonesia membangun sebuah pusat teknologi (technology center).
Tempat ini nantinya akan menjadi ruang kreatif bersama antara Indonesia dan Swedia dalam menciptakan teknologi-teknologi baru yang dibutuhkan.
Bisa menyangkut kedirgantaraan maupun teknologi lainnya.
Syaratnya, tambah Peter, pemerintah harus melibatkan dua lembaga lain, yakni perguruan tinggi dan industri.
Inilah yang menjadi basis pengembangan teknologi di Swedia dengan konsep “Triple Helix”dimana pemerintah, industri, dan perguruan tinggi (akademia) berjalan bersama-sama.
Peter Carlqvist memandang Indonesia sebagai sebuah negara besar yang memiliki segala potensi. Apa yang dibutuhkan, di sini semuanya ada.
“Tidak seperti kami di Swedia, banyak keterbatasan menyangkut sumber daya alam maupun manusia,” ujarnya.
“Maka filosofi kami kalau membuat sesuatu itu harus efisien, ini yang kami terapkan termasuk dalam membuat pesawat tempur,” di Swedia kata Peter Carlqvist.

Yon Armed 12 Kostrad Uji Fungsi Self Propelled Howitzer CAESAR

Uji Fungsi Self Propelled Howitzer CAESAR
Uji Fungsi Self Propelled Howitzer CAESAR 

Batalyon Artileri Medan (Yon Armed) 12 Kostrad, unsur kekuatan di bawah Resimen Artileri Divisi Infanteri 2 Kostrad pada Sabtu lalu (9/12/2017) telah melaksanakan uji fungsi penembakan meriam swa gerak atau SPH (Self Propelled Howitzer) TRF-1 CAESAR (Camion Equipe’ d’un Syste’me d’ ARtillerie) kaliber 155 mm produksi Nexter, Perancis.
Dikutip dari Pendiv 2 Kostrad, uji fungsi disebutkan dilakukan di daerah latihan Desa Tegalrejo, Tempur Sari, Lumajang, Jawa Timur. YonArmed 12 sendiri bermarkas di Ngawi, kesatuan ini juga pernah mengoperasikan Howitzer legendaris M2A2 105 mm. Dalam kegiatan uji fungsi, dilaksanakan penyiapan Komando Latihan, peninjauan sasaran, pencarian data tembak, penyiapan alat komunikasi, koordinasi keamanan wilayah sasaran dan penyiapan akhir kesiapan meriam, yang diakhiri dengan pelaksanaan penembakan.
Pada uji fungsi meriam CAESAR 155 mm, sebanyak 4 butir munisi berhasil ditembakan dengan sasaran sejauh 36 Km. Danyonarmed 12 Kostrad, Letkol Arm Wahyu Jatmiko menyampaikan bahwa Meriam 155 MM/GS CAESAR merupakan salah satu alutsista baru andalan TNI AD khususnya Artileri Medan, sehingga kegiatan uji fungsi munisi ini dilakukan untuk menguji kelayakan munisi meriam, sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi pimpinan, dalam penyediaan pengadaan munisi bagi satuan ini.
Sebelum pelaksanaan kegiatan uji munisi, dilaksanakan latihan pendahuluan di home base sebagai upaya satuan dalam rangka memelihara dan meningkatkan kemampuan prajurit agar dalam pelaksanaan berjalan dengan lancar dan tidak ada kendala sesuai rencana dan prosedur dengan hasil yang optimal.
“Dalam setiap kegiatan prajurit harus selalu siap, apalagi uji fungsi munisi meriam ini yang digunakan adalah munisi tajam jadi konsentrasi, penguasaan materi dan kemampuan operasional meriam ini harus dikuasai betul oleh prajurit, kesalahan sekecil apapun akan berakibat fatal,” tegas Wahyu.
Sebagai informasi, TRF-1 CAESAR mengusung kaliber 155/52mm dengan jarak tembak maksimum 42.000 meter dan jarak tembak minimum 4.500 meter. Kecepatan tembak meriam ini dapat memuntahkan 6 proyektil untuk setiap menitnya. Hebatnya sistem pemuatan amunisi sudah mengaplikasikan jalur otomatis ala revolver, pengisi tinggal menaruk proyektil ke rak, dan pengisi akan memasukkannya langsung ke dalam kamar peluru.
Perlu diketahui, berbeda dari meriam TNI AD sebelumnya, CAESAR sudah mengadopsi sistem amunisi tanpa selongsong (caseless), alhasil bobot amunisi yang dibawa lebih ringan, dan tentu saja ramah lingkungan. Dalam 1 unit truk CAESAR dapat membawa 16 amunisi yang ditelakkan dalam kompartemen kedap air dan api yang masing-masing mampu memuat delapan proyektil dan ditaruh pada flatbed di bawah laras meriam. (Haryo Adjie)

Empat Pesawat F16 C dari Guam Mendarat di Lanud Iswahjudi

Empat Pesawat F16 C dari Guam Mendarat di Lanud Iswahjudi
Empat Pesawat F16 C dari Guam Mendarat di Lanud Iswahjudi 

Sebanyak empat pesawat F16 C tiba di Lanud Iswahjudi Madiun. Keempat pesawat tempur tersebut langsung didatangkan dari Guam untuk mengisi skuadron udara 3 Lanud Iswahjudi.
"Ada 4 pesawat tempur jenis F16 C kami datangkan langsung dari Guam untuk melengkapi sarana pengamanan wilayah udara Indonesia," ujar Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama Samsul Rizal kepada wartawan di Lanud Iswahjudi Madiun, Jalan Raya Solo Maospati, Magetan, Selasa (12/12/2017).
Samsul mengatakan, seharusnya batch terakhir ini yang datang ada 6 pesawat. Namun karena masih ada masalah engine, maka dua pesawat lain belum bisa diikutkan.
"Seharusnya batch terakhir ini yang datang 6 pesawat. Karena masih ada masalah engine sehingga masih di Guam. Masih harus menunggu perbaikan dulu," terang Samsul.
Dengan hadirnya empat pesawat F16 Tipe C ini, berarti total sudah ada 22 pesawat F16 C yang di datangkan ke Indonesia. 22 Pesawat tersebut di tempatkan di Skuadron 3 Lanud Iswahjudi dan Skuadron 16 Lanud Rusmin Nurjadin Pekanbaru. Sesuai rencana, jumlah pesawat tempur F16 C yang didatangkan berjumlah 24 pesawat.
Empat pesawat F16 C ini menempuh perjalanan sekitar 5 jam dari Guam. Berangkat pukul 05.30 WIB dari Guam dan mendarat di Lanud Iswahjudi Madiun pukul 11.45 WIB. Empat pesawat tempur F16 Tipe C yang memiliki kursi tunggal ini dipiloti oleh pilot dari USAF Amerika Serikat.
Samsul menambahkan pesawat yang didatangkan dari Guam ini adalah bekas pesawat AS yang kondisinya terbilang masih bagus. Mesinnya dibuat tahun 1990 dan masih bisa digunakan hingga 20 tahun ke depan.
"Iya, ini pesawat bekas Amerika tapi masih bagus buatan tahun 1990 dan masih bisa di pakai 20 tahun ke depan," pungkas Samsul.
Kedatangan empat pesawat tempur F16 disambut pejabat muspida dan muspika se-Bakorwil Madiun. Setibanya di Lanud Iswahjudi keempat pilot mendapat kalung bunga dari Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama Samsul Rizal. Tampak Bupati Madiun Muhtarom juga hadir memberikan karangan bunga serta Kapolres Magetan AKBP Muslimin dan Komandan Kodim 0804 Letkol Heri Bayu Widiatmoko.
Sumber :  news.detik.com

LAPAN Kembangkan UAV LSU-03 Full Carbon

UAV LSU-03 Full Carbon
UAV LSU-03 Full Carbon 

Tim aerostruktur Pusat Teknologi Penerbangan Pustekbang LAPAN mengembangkan pesawat tanpa awak LAPAN Surveillance UAV LSU-03 FC (Full Carbon).
Diharapkan dengan body yang terbuat dari karbon yang lebih ringan daripada body sebelumnya dari bahan GFRP (Glass Fiber Reinforced Polymer) pesawat ini mampu meningkatkan ketahanan jelajah dengan konsumsi bahan bakar yang lebih irit.
Pada body sebelumnya (LSU-03 NG, generasi sebelum LSU-03 FC), pesawat ini mampu terbang sejauh 600 km dengan muatan seberat 24 kg. Kecepatan jelajah 100 km/jam kecepatan max 150 km/jam (arah angin juga berpengaruh).
Pesawat tanpa awak ini menjelajah pada ketinggian 150-300 meter. Pada November 2015 lalu, pesawat LSU-03 NG meraih Rekor Muri sebagai pesawat tanpa awak dengan daya jelajah terlama dan terjauh 340 km dalam jangka waktu 3 jam 39 menit. Dengan body full carbon composite nanti diharapkan akan jadi lebih cepat dan jadi lebih jauh.

Boeing EA-18G Growler, Rajanya Pesawat Peperangan Elektronika di Dunia

Boeing EA-18G Growler
Boeing EA-18G Growler 

Pesawat tempur spesialis perang elektronika Boeing EA-18G Growler diciptakan untuk mengganti pesawat sejenis sebelumnya yakni Northrop Grumman EA-6B Prowlers. Dalam kedinasan militer AS, EA-18G Growler hanya dioperasikan oleh US Navy untuk memperkuat kehadirannya di armada kapal induk.
Setelah terbang perdana pada 15 Agustus 2006, EA-18G Growler berdinas dalam militer AS dimulai sejak September 2009. Pengguna Growler diluar AS sampai saat ini baru Australia. Dibanding EA-6B Prowlers, EA-18G Growler terasa lebih gahar, pasalnya Growler dibangun dari platform jet tempur F/A-18F Super Hornet yang reputasinya sudah tak diragukan lagi. Karena dibangun dari jagoan pertempuran jarak dekat pesawat eksekutor jamming ini juga mampu beradu duel dalam manuver 9G.
Meski tak takut meladeni perang jarak dekat (dog fight), pengembang EA-18G Growler rupanya paham bahwa peperangan udara di masa depan tak lagi berfokus pada dog fight, belajar dari tren yang ada adu rudal udara dan jamming dari BVR (Beyond Visual Range) akan mengambil porsi terbesar. Untuk itu selain bisa membawa rudal jarak dekat AIM-9X Sidewinder, andalan utama EA-18G Growler adalah rudal BVR AIM-120C AMRAAM (Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile). Itu baru bicara bagaimana EA-18G Growler mengatasi masalahnya di udara.
Sementara untuk misi penghancuran sasaran di permukaan yang dipadukan dengan aksi jamming pada target satuan radar, EA-18G Growler mengandalkan rudal udara ke permukaan AGM-88B/E HARM (High-speed Anti-Radiation Missile) besutan Raytheon. Belum lama ini, Australia telah mendapat persetujuan dari AS untuk membeli 70 unit rudal AGM-88B HARM dan 40 unit rudal AGM-88E AARGM (Advanced Anti Radiation Guided Missile).
Karena EA-18G Growler didedikasikan sebagai modern electronic warfare aircraft, rail wingtip diujung sayap EA-18G Growler yang biasanya digunakan untuk rudal AIM-9 Sidewinder, diganti dipasang pod jammer ALQ-218.
Dari sisi penampakkan fisik luar, EA-18G Growler serasa tak ada bedanya dengan pesawat tempur F/A-18 Super Hornet berkursi tandem. Peran awak di kursi belakang pada EA-18G Growler adalah sebagai EW (electronic warfare) officer. Sebagai pesawat tempur speasilis peperangan elektronika tercaggih, Growler dibekali seabreg perangkat electronic warfare yang advanced. Jammer pod tak hanya dibawa satu jenis, melainkan ada high band jammer pod dan low band jammer pod. Pesawat ini pun dilengkapi akses komunikasi langsung via satelit (Satcom). Tidak itu saja, radar utama pada moncong EA-18G Growler telah terpasang AESA (Active Electronically Scanned Array) jadi tak keliru jika admin menjuluki Boeing EA-18G Growler sebagai "Rajanya pesawat peperangan elektronika" di dunia saat ini.
Sumber : TSM

Kunjungi Suriah, Putin Nyatakan Teroris ISIS Telah Tamat

Putin Kunjungi Suriah
Putin Kunjungi Suriah 

Boleh dikata, rezim Presiden Suriah Bashar al Assad bisa berdiri dan kehancuran ISIS di Suriah dua-duanya dapat tercapai berkat dukungan besar dari Rusia. Tak sekedar menempatkan pesawat tempur, pembom, helikopter serang, dan bahkan pasukan darat untuk bertempur di negeri yang jauh, dukungan tembakan rudal jelajah Rusia ke pos-pos ISIS bukan sesuatu yang asing di Suriah.
Presiden Rusia Vladimir Putin pun melakukan kunjungan incognito untuk menyemangati pasukannya di Suriah, dimana ia secara mengejutkan hadir di pangkalan udara Khmeimim, Latakia, dimana detasemen udara Rusia ditempatkan. Di sana, ia menginspeksi pasukannya dan bertemu dengan Presiden Bashar al Assad, seperti dikutip dari Novosti (12/12).
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Putin mengklaim bahwa teroris ISIS telah sepenuhnya dapat dikalahkan dan dihapuskan dari wilayah Suriah. Rusia memang menang secara gilang-gemilang di Suriah, baik secara taktis, strategis, maupun politis sejak keterlibatannya pada bulan September 2015. Sejumlah persenjataan baru yang dicoba juga menjadi ajang pembuktian gratis dan kampanye penjualan bagi Rusia.
Di mata dunia Rusia berhasil menempatkan dirinya sebagai negara yang berani melancarkan intervensi untuk menghantam ISIS dan Al Qaeda di saat negara-negara Barat tidak punya strategi yang jelas untuk berperang di Suriah, walaupun keterlibatan Rusia sebenarnya menarik garis yang jelas, kalau Rusia memilih untuk mempertahankan rezim Bashar al Assad.
Presiden Putin pun mengumumkan penarikan sebagian pasukan Rusia, kembali ke markas mereka masing-masing di Rusia. Sebagian penasehat militer dan pasukan khusus akan tinggal di Suriah untuk membangun kembali militer Suriah yang porak-poranda, sembari menjaga pangkalan Rusia di Tartus dan Hmeimim yang sepenuhnya akan dikontrol oleh Rusia.
Rusia sendiri akan menjadi patron untuk pembicaraan mengenai masa depan Suriah, yang akan dilaksanakan di Astana, Kazakhastan bersama dengan Turki dan Iran. Iran sendiri menjadi salah satu negara yang juga banyak terlibat di Suriah, menyumbangkan pasukan, senjata, dan membangun pangkalan, yang kemudian disikat melalui serangan udara oleh Israel, seperti dikutip dari Defenseworld (7/12). (Aryo Nugroho)

TNI AL Laksanakan Uji Coba Kelaikan Hyperbaric Chamber Low Magnetic

KRI Pulau Rupat-712
KRI Pulau Rupat-712 

TNI AL melaksanakan Uji Coba Kelaikan Hyperbaric Chamber Low Magnetic DDC dan DART yang dilaksanakan di KRI Pulau Rupat-712, Koarmatim, Surabaya, Jawa Timur (10/12).
Uji coba kelaikan tersebut dilakukan terhitung dimulai tanggal 7 sampai dengan 10 Desember 2017 dengan hasil yang baik dan direkomendasikan lulus setelah menjalani beberapa rangkaian verifikasi dan uji fungsi terhadap 13 sistem.
Sistem tersebut yakni Unit Hull Chamber, Sistem Udara Bertekanan, Sistem O2 (Oksigen murni) (Tabung O2 DDC bahan baja), Sistem Pendingin, Sistem CO2 (Karbondioksida) Scrubber, Sistem Listrik/Elektrik, Sistem Komunikasi, Video dan Audio, Panel Pengendali/Console Panel, Sistem PMK Inner Chamber, Sistem PMK External/Ruangan, Dokumen Teknis, Pengawak dan Fasilitas Pendukung.
Pada sistem Uji Coba PMK Inner Chamber tanpa tekanan telah terlaksana dan berhasil dengan baik. Pelaksanaan uji coba tersebut dilakukan pada kedalaman 30 meter selama 10 menit.
Kolonel Laut (T) Sujono, S.E., selaku Ketua Tim Kelaikan menyampaikan bahwa Chamber untuk KRI Pulau Rupat-712 adalah benar Chamber type LOW MAGNETIC dengan merek DRAGER buatan Jerman tersebut telah melalui serangkaian uji kelaikan sesuai dengan prosedur dan ketentuan kelaikan direkomendasikan lulus dan aman untuk dioperasikan dalam mendukung tugas pokok TNI AL.
Dalam kesempatan tersebut Tim Kelaikan yang turut berpartisipasi mendukung kegiatan uji kelaikan tersebut yakni Mayor Laut (T) Ir. Dwi S Puto, Mayor Laut (K) Setiawan, S Farm, Peltu MES Moch. Yusuf dan Peltu Mes Winarto. (Dispenal)

Gun Turret General Dynamics V4 untuk Helikopter AH-1Z Viper Marinir AS dan Pakistan

Gun Turret General Dynamics V4
Gun Turret General Dynamics V4  

General Dynamics-Ordnance Tactical Systems (GD-OTS) memperoleh kontrak senilai $ 9.064.921 untuk pengadaan 41 gun turret A/A49E-7 (V4) untuk helikopter AH-1Z untuk Pakistan dan Korps Marinir Amerika Serikat.
Pekerjaan akan dilakukan di Williston, Vermont (50 persen); dan Saco, Maine (50 persen), dan diperkirakan akan selesai pada Agustus 2021.
Kontrak ini merupakan pembelian Korps Marinir AS ($5.969.582; 66 persen); dan pemerintah Pakistan ($3.095.339; 34 persen), di bawah program Foreign Military Sales, kata rilis berita Departemen Pertahanan AS.
Pada bulan April 2015, Departemen Luar Negeri AS telah menyetujui penjualan 12 helikopter AH-1Z ke Pakistan bersama dengan 1.000 rudal kendali laser AGM-114R Hellfire II seharga $ 952 juta. Pakistan telah memesan tiga helikopter pertama pada bulan Agustus 2015 dan sembilan tambahan pada bulan April 2016.
Sistem gun turret A/A49E-7 (V4) GD-OTS dipasang pada dagu helikopter AH-1Z yang memberikan kemampuan untuk memposisikan, memberi asupan amunisi, dan menembakkan gatling gun M197 20mm. Komponen utama A/A49E-7 (V4) adalah gatling gun M197 20mm, gun turret, sistem kontrol dan sistem penanganan amunisi. Senjata ini memberikan kemampuan tempur jarak dekat udara ke udara dan udara ke darat. (Angga Saja - TSM)

RAND Corporation : Keunggulan Militer AS Akan Kalah dengan Rusia atau China Bila Terjadi Perang

Militer AS
Militer AS 

Amerika Serikat memang menang dari segi anggaran pertahanan dan kualitas alutsista, namun kalau harus beradu dengan Rusia atau China, Amerika Serikat dalam kondisi tertentu bisa saja kalah. Hal ini diungkap oleh lembaga kajian RAND, yang selama puluhan tahun sudah mengkaji kekuatan dan pengaruh geopolitik AS terhadap dunia.
Seperti dikutip dari CNBC (11/12), RAND merilis laporan setebal 190 halaman yang mengungkapkan bahwa kapabilitas Rusia dan China telah berkembang sedemikian rupa, sehingga dalam situasi tertentu AS bisa disalip keunggulannya dan dipertanyakan kemampuannya untuk menang dalam konflik dalam skala konvensional dan masif.
RAND mengatakan bahwa upaya modernisasi militer AS gagal untuk mengejar ketertinggalan jika dibandingkan dengan Rusia dan China yang tampil secara inovatif, dan pasukan AS di Eropa dan Asia Timur tidak memiliki postur yang memadai untuk menghadapi potensi konflik di Eropa maupun Asia Timur. Laporan bertajuk “US Military Capabilities and Forces for a Dangerous World” tersebut mengritik habis kebijakan AS di seluruh dunia, seperti diungkap CNN (11/12).
Yang menyedihkan, AS sebenarnya telah jor-joran menghabiskan anggaran militernya. Dibanding China, AS punya anggaran 2,7 kali lebih besar. Dengan Rusia, AS punya anggaran 6 kali lebih besar. Tetapi hasilnya apa? Banyak proyek ambisius yang tidak jelas seperti F-35, yang menelan biaya begitu besar tetapi hasil yang diharapkan ternyata tidak terpenuhi karena terlalu dekatnya kontraktor pertahanan dengan pemerintah.
Amerika Serikat sangat tertinggal dalam teknologi rudal jelajah, sistem komunikasi strategis yang tahan gangguan elektronik, sistem pertahanan satelit, dan bahkan pertahanan pangkalan AS di luar negeri. RAND mencatat bahwa kekuatan AS terlalu bertumpu pada Angkatan Udaranya, tetapi di sisi lain negara seperti Rusia punya sistem rudal anti pesawat yang sangat canggih dan menjadi tantangan besar bagi AS dan NATO.
Jika terjadi konflik masif di Balkan, seperti diramalkan RAND pada 2020, NATO dan AS tidak akan mampu mempertahankan negara-negara Baltik dari serangan dan agresi Rusia, seperti yang sudah ditunjukkan oleh Rusia ketika menjajah Georgia dan menyerang Ukraina. Amerika Serikat juga dikiritik karena tidak memiliki strategi yang jelas dan pasti untuk menghadapi Korea Utara yang semakin berulah dengan senjata nuklirnya. (Aryo Nugroho)

Qatar Beli Tambahan Jet Rafale, Kendaraan Lapis Baja VBCI dan Pesawat Airbus A321

Jet Rafale
Jet Rafale 

Qatar dan Prancis hari Kamis lalu (07/12) menandatangani kesepakatan senilai $ 12 miliar termasuk diantaranya untuk pembelian 12 pesawat Dassault Rafale dengan opsi pembelian 36 pesawat tempur.
Kesepakatan tersebut ditandatangani antara Emir Qatar dan Presiden Prancis Emmanuel Macron saat kunjungan presiden Prancis ke Doha pada hari Kamis.
Qatar sebelumnya telah bersepakat untuk membeli 24 jet Rafale dan memiliki opsi untuk membeli 12 pesawat tambahan. Dengan penandatanganan kesepakatan hari ini, opsi pemesanannya menjadi 36 unit.
Jika dilanjutkan dengan opsi tambahan, jumlah total jet Rafale akan menjadi 72, menjadikannya operator jet tempur Rafale terbesar di dunia setelah Prancis.
Macron melakukan lawatan ke Qatar bersama dengan Menteri Luar Negeri Jean-Yves Le Drian, yang pada 2015 turut membantu menegosiasikan kesepakatan dengan Qatar untuk membeli 24 jet tempur Rafale.
Perjalanan satu hari Macron ke negara kecil di kawasan Teluk tersebut muncul saat Qatar menghadapi isolasi dan pemboikotan oleh beberapa tetangga Arabnya.
Selain itu, Qatar telah menyetujui pembelian 490 kendaraan lapis baja VBCI dan 50 pesawat penumpang bermesin ganda Airbus A321 dengan opsi untuk membeli 30 pesawat tambahan dari Prancis. (Angga Saja - TSM)

Radar Acak