Salah Pakai Oli, Mesin E-2C Hawkeye Jebol

 E-2C Hawkeye
 E-2C Hawkeye 

Ini contoh bagi pembaca yang hobi gonta-ganti merk oli setiap kali servis kendaraan, pastikan selalu bahwa spesifikasi olinya sesuai spesifikasi kendaraan. Kalau tidak, bisa-bisa nasibnya seperti tiga unit pesawat intai E-2C Hawkeye milik AL AS.
Seperti dilaporkan oleh media Virginia Pilot, nasib nahas menimpa AEWS 124 (Airborne Early Warning Squadron - VAW-124) “Bear Aces” yang berpangkalan di Naval Station Chambers Field.
Petaka bermula pada pertengahan Januari 2017 setelah kapal induk USS H.W. Bush (CVN-77) menerima perintah layar, mengisi kekosongan kapal induk AS yang sempat menghilang dari seluruh samudera.
Perintah layar itu tentu diikuti dengan penyiapan seluruh pesawat-pesawat yang akan ditugaskan bersama kapal induk. Salah satu aset Carrier Air Wing 8 yang merupakan kekuatan dari USS H.W. Bush adalah pesawat peringatan dini (Airborne Early Warning & Control) E-2C Hawkeye dari VAW-124.
Petinggi militer AS memerintahkan agar USS H.W. Bush berlayar pada 21 Januari 2017 menuju Timur Tengah, maka E-2C menjalankan overhaul dengan penggantian seluruh oli mesin pada E-2C Hawkeye.
Malangnya, teknisi yang melakukan perawatan pada E-2C tersebut menggunakan oli yang tidak dispesifikasikan untuk mesin Rolls Royce T56-A-427 yang mentenagai pesawat peringatan dini tersebut.
Akibatnya, enam mesin dari tiga unit E-2C yang disiapkan ke Timur Tengah tersebut langsung mengalami kerusakan begitu dilakukan uji mesin.
Lalu berapa biaya yang dibutuhkan oleh AL AS untuk memperbaiki kerusakan mesin tersebut? AL AS melaporkan bahwa mereka harus mengeluarkan maksimal USD 2 Juta untuk mengganti keenam mesin yang rusak.
Jumlah ini tentu bukan jumlah yang sedikit bagi AL AS di tengah program pengetatan anggaran dan tantangan untuk tetap menjaga tempo operasinya di tengah tuntutan misi yang begitu tinggi.
Untungnya, dukungan logistik dan kontraktor memampukan penggantian mesin seketika sehingga ketiga E-2C Hawkeye bisa berangkat bersama USS H.W. Bush pada 21 Januari 2017.
AL AS sendiri mengatakan bahwa biaya perbaikan untuk mesin-mesin tersebut bisa lebih rendah dari estimasi semula. Sebabnya, tidak seluruh mesin harus diganti. Aryo Nugroho
Sumber : http://angkasa.co.id/

Apa Kehebatan Jet Tempur Tejas Buatan India?

Jet Tempur Tejas Buatan India
Jet Tempur Tejas Buatan India 

India, negeri penghasil film terbanyak di dunia dan gadisnya beberapa kali menjadi ratu kecantikan dunia, sudah memiliki jet tempur buatan sendiri yang dinamakan Tejas. Diumumkan pada 1990-an, pesawat demonstrator pertama sudah terbang 4 Januari 2001.
Tejas dirancang dan dikembangkan oleh Aeronautical Development Agency (ADA) dan Hindustan Aeronautics Limited (HAL) untuk memenuhi kebutuhan AU India dan AL India. Kehadiran Tejas saat Aero India 2017 di Bangalore baru lalu, mampu menyita perhatian pengunjung.
AU India berencana membeli sebanyak 20 Tejas. AU India sudah menempatkan dua Tejas di Skadron 45 Flying Daggers yang dibentuk 1 Juli 2016. Berikut 9 teknologi kunci yang disiapkan untuk Tejas.
  1. Luasan penggunaan bahan komposit mencapai sekitar 90% dari area permukaan dan 45% dari berat.
  2. Sensor & Avionik Canggih.
  3. Konfigurasi tidak stabil yang secara aerodinamika menjadikan Tejas memiliki kemampuan manuver tinggi.
  4. Dilengkapi kendali komputerisasi digital (DFCC) dari sistem kontrol fly by wire (FBW).
  5. Piringan rem karbon untuk efisiensi pengereman.
  6. Sistem hidrolik tekanan tinggi (4.000 psi) untuk mentenagai kendali terbang dan sistem lainnya.
  7. Komputer untuk memonitor “kesehatan” sistem di pesawat.
  8. Kursi lontar zero-zero.
  9. Fasilitas simulasi dan uji lanjutan guna mengukung desain dan pengembangan sebelum uji terbang sesungguhnya. Beny Adrian

Sumber : http://angkasa.co.id/

Moskow : Indonesia Inginkan Senjata Rusia

BMP 3F Marinir TNI AL
BMP 3F Marinir TNI AL 

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhael Y Galuzin mengatakan, negaranya sangat terbuka untuk dialog dengan Indonesia soal kerjasama militer dan pertahanan, termasuk pembelian senjata. Menurut diplomat Moskow ini, Indonesia tertarik dengan senjata buatan Rusia.
”Ini sudah dijelaskan pejabat Indonesia, bahwa Indonesia tertarik senjata buatan Rusia. Kami siap dialog dengan pemerintah Indonesia terkait hal ini. Segera setelah ada hasil konkret, kami akan jelaskan lebih rinci lagi,” katanya, pada harI Senin (27/2/3017), di kediamannya, di Jakarta Selatan.
Menurutnya, kerja sama teknis antara Rusia dan Indonesia, khususnya dalam bidang militer sudah sangat baik. Meski demikian, Rusia siap untuk menjalin pembicaraan lebih lanjut dengan Indonesia tentang kerja sama ini.
”Saya ingin konfirmasi soal kerja sama teknis antara Rusia dan Indonesia. Rusia siap melakukan kerja sama yang lebih kuat lagi, khususnya di area yang lebih teknis seperti pertahanan dan militer,” imbuh dia.
Kerja sama bilateral kedua negara, sambung Galuzin, juga sangat positif. Dia mencontohkan, pada akhir tahun 2014 lalu Indonesia telah menerima pesawat jet tempur Su-30.
Rusia juga telah merampungkan pengiriman kendaraan tempur kepada Angkatan Laut Indonesia. ”Kami berharap ada perkembangan baru terkait kerja sama bilateral ini,” katanya.
Sumber : https://www.sindonews.com/

Militer UAE Pilih Ranpur Buatan Dalam Negeri

MRAP NIMR
MRAP NIMR 

Kendati lebih sering membeli peralatan tempur dari negara lain karena dikenal sebagai negara kaya raya, Uni Emirat Arab (UAE) ternyata juga memiliki industri pertahanan, namanya NIMR.
Divisi otomotif industri NIMR bahkan sudah memproduksi beragam kendaraan tempur (ranpur) dan akan mengirim sebanyak 1.750 unit ranpur lapis baja ke militer UAE.
Kepastian bahwa militer UAE akan menerima ribuan ranpur dari NIMR itu diumumkan langsung pada acara pameran persenjataan IDEX 2017 yang berlangsung di Abu Dhabi (19-23 Februari).
Alutsista yang akan dikirim NIMR ke militer UAE antara lain ranpur jenis JAIS 4×4 dan 6×6. Ranpur ini akan digunakan untuk pasukan infanteri sebanyak 1.500 unit.
Selain itu NIMR juga menyediakan 150 unit ranpur pendukung kendaraan artleri HAFEET 630A, dan ranpur AJBAN 440A yang dilengkapi rudal antitank sebanyak 115 unit.
Proses pengiriman semua ranpur lapis baja NIMR ke militer UAE akan berlangsung hingga tahun 2018.
Sebagai industri pertahanan yang beroperasi sejak tahun 2000, NIMR merupakan industri militer terbesar di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.
Untuk meningkatkan kemampuan produksinya, NIMR telah melakukan program kerjasama dengan sejumlah negara, seperti Rusia, Chekoslovakia, dan Ukraina.
Produk ranpur JAIS, HAFEET, dan AJBN yang dipesan oleh militer UAE sendiri merupakan produk unggulan karena memiliki kualifikasi sebagai ranpur canggih dan mematikan, serta memenuhi syarat untuk kepentingan perang asimetrik.
Keselamatan para operator ranpur itu juga dijamin “aman dan nyaman”. Pasalnya selain dilengkapi sistem pendingin udara, semua ranpur yang akan dioperasikan militer UAE juga memiliki sistem pelindung ruangan yang dibuat dari bahan baja pilihan. Material itu tahan terhadap gempuran ledakan ranjau, dan bahan peledak berdaya tinggi (IED) lainnya.
Semua ranpur produksi NIMR bertransmisi otomatis, bermesin diesel, dan semua ban kendaraan terbuat dari bahan khusus yang tahan ledakan serta antibakar. Agustinus Winardi
Sumber : http://angkasa.co.id/

C-130J-30 Super Hercules India Rusak Berat Usai Mendarat

C-130J-30 Super Hercules India
C-130J-30 Super Hercules India 

Pesawat angkut Lockheed Martin C-130J-30 Super Hercules milik Angkatan Udara India kembali dihadang kecelakaan. Pesawat yang masih terbilang kinyis itu mengalami kecelakaan di lapangan terbang Thoise di kawasan Himalaya yang berada di ketinggian 3.070 meter di Ladakh, yang berbatasan dengan China dan Pakistan.
Juru bicara AU India, Wing Commander Anupam Banerjee mengatakan sebagaimana dikutip Janes.com pada 24 Februari, bahwa C-130J-30 Super Hercules ini juga mengalami ground incident di Thoise pada 13 Desember 2016, namun tidak menjelaskan rinciannya.
Menurut sumber di lingkungan AU India, pesawat dikabarkan rusak berat (badly damaged) sebagai hasil benturan dengan tiang atau tanggul dan benda-benda lainnya di landasan pada kecepataan cukup tinggi saat taxiing sesaat setelah mendarat di Thoise yang bersalju.
AU India kembali menerima 4 C-130J-30 pada Januari 2017. Saat ini total 12 C-130J-30 sudah dipesan AU India sejak Desember 2013. Sebanyak 6 Super Hercules sudah dikirim, 1 jatuh tahun 2014 dan lainnya juga mengalami insiden pada Desember 2016.
Lockheed Martin sesuai rencana akan mengirimkan 6 C-130J Super Hercules pada tahun ini ke AU India.
Selain Super Hercules, untuk pesawat angkut AU India juga mengoperasikan Ilyusin Il-76 yang diberi nama Gajraj (Raja Gajah). AU India mengoperasikan 17 Il-76 yang secara bertahap digantikan oleh C-17 Globemaster III. Masih ada pesawat Antonov An-32 Sutlej sebagai pesawat angkut sedang. Beny Adrian
Sumber : http://angkasa.co.id/

2 Pesawat TC-90 JMSDF akan Dikirimkan ke Filipina pada Bulan Depan

 Pesawat TC-90 JMSDF
 Pesawat TC-90 JMSDF 

Japan Maritime Self Defense Force (JMSDF) akan mengirimkan dua dari lima pesawat turbo-prop TC-90 yang disewakan ke fasilitas udara Angkatan Laut Filipina (PN) Sangley Point pada 27 Maret.
Hal ini dikonfirmasi oleh juru bicara Angkatan Laut Filipina Captain Lued Lincuna dalam sebuah wawancara hari Kamis (23/02).
Pesawat ini akan dikirimkan ke Filipina oleh pilot JMSDF dan akan secara resmi ditransfer ke Angkatan Laut Filipina pada hari yang sama.
Lincuna mengatakan tiga TC-90 sisanya akan ditransfer ke Angkatan Laut Filipina sebelum akhir tahun.
Dia menambahkan bahwa TC-90 tersebut akan digunakan untuk menambah armada Norman-Britten BN-2 Islander yang sudah ada, yang digunakan AL Filipina untuk misi patroli, pengawasan dan bantuan kemanusiaan dan bantuan bencana (HADR) dan misi rapid assessment.
November lalu, dua pilot dan enam awak pesawat AL Filipina berangkat ke Jepang untuk memulai pelatihan penerbangan TC-90 mereka.
Departemen Pertahanan Nasional Filipina (DND) sebelumnya mengumumkan bahwa Filipina akan melengkapi kembali TC-90 tersebut dimana Jepang telah melucuti beberapa peralatannya, termasuk sistem pengintaian mereka.
Filipina membayar Jepang USD7.000 untuk masing-masing empat pesawat pertama setiap tahunnya dan hanya USD200 untuk pesawat kelima, dengan total USD28.200 sebagaimana diatur dalam perjanjian sewa-nya.
DND menambahkan bahwa mereka juga melihat kemungkinan menggunakan TC-90 selama 20 tahun sementara militer Filipina mengupgrade peralatannya.
TC-90, yang merupakan bagian dari keluarga pesawat Beechcraft King Air, ditawarkan oleh Jepang tak lama setelah Perjanjian Mengenai Transfer Peralatan dan Teknologi Pertahanan diselesaikan pada 29 Februari tahun lalu.
Jangkauan patroli TC-90 dua kali lipat dari pesawat Filipina yang kecil, yang hanya memiliki jangkauan maksimum 300 km.
Sumber : pna.gov.ph

A-4E Skyhawk Berdiam Tenteram di Museum Satria Mandala, Jakarta

A-4E Skyhawk
A-4E Skyhawk 

Sejak awal menjabat Kepala Staf TNI AU (KSAU), Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.Ip memerintahkan agar ada pesawat tempur strategis A-4E Skyhawk yang dijadikan monumen di Museum Satria Mandala, Jakarta.
Perintah itu langsung dijalankan dengan mengirim satu unit Skyhawk yang berada di Lanud Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan ke Jakarta dengan pesawat angkut C-130 Hercules 6 Februari lalu.
Rencananya, KSAU akan meresmikan monumen A-4E Skyhawk pada bulan April mendatang.
Bagaimana penampakan A-4E Skyhawk saat ini? Remigius Septian/Alex Sidharta
Sumber : http://angkasa.co.id/

Selandia Baru akan Jadi Pangkalan Pesawat Tempur Singapura

Pangkalan Pesawat Tempur Singapura
Pangkalan Pesawat Tempur Singapura 
Singapura tengah mengincar pangkalan udara Ohakea di Manawatu, Selandia Baru sebagai pangkalan potensial untuk satu skuadron jet tempur F-15 Angkatan Udara Singapura.
Hingga 500 orang akan ditempatkan di atau dekat pangkalan di wilayah tersebut.
Menteri Pertahanan Selandia Baru Gerry Brownlee membenarkan bahwa Pemerintah Singapura sedang melakukan studi kelayakan untuk menentukan langkah apa yang akan diperlukan, termasuk untuk kebutuhan perumahan dan pendidikan keluarga personil pangkalan.
Studi tersebut harus diselesaikan sebelum proposal apapun bisa dimasukkan ke pemerintah Singapura atau New Zealand.
Brownlee mengatakan bahwa posisi Singapura di Asia Tenggara begitu dekat dengan Malaysia dan Indonesia sehingga ruang udaranya sangat sempit.
"Selandia Baru tidak memiliki masalah seperti itu sehingga kesempatan untuk terbang yang lebih bebas jelas ada di Ohakea."
Angkatan Udara Singapura memiliki pangkalan luar negeri lainnya, seperti di Perancis, Amerika Serikat dan Pearce Air Base di Australia Barat di mana satu skuadron ditempatkan.
Brownlee mengharapkan manfaat bagi Selandia Baru berupa hal strategis dan ekonomi.
"Ini berarti akan ada sampai 500 orang ditempatkan di Ohakea di wilayah Manawatu sehingga memiliki efek ekonomi yang besar bagi masyarakat setempat," katanya kepada Weekend Herald.
"Tapi manfaat dari penguatan aliansi strategis dengan Singapura adalah aspek yang paling penting."
Brownlee mengatakan ada batas waktu dimana proposal tersebut perlu dipertimbangkan tetapi ia memperkirakan apabila proposal itu disetujui, perlu beberapa tahun untuk dilakukan pembangunannya.
Singapura dan Selandia Baru memiliki hubungan pertahanan yang sudah berjalan lama. Angkatan Darat Selandia Baru menempatkan satu batalion di Singapura selama 20 tahun sampai tahun 1989. Keduanya merupakan anggota dari Five Power Defence Arrangements bersama dengan Inggris, Australia dan Malaysia.
Pesawat tempur Angkatan Udara Selandia Baru diberhentikan pada tahun 2001 oleh Pemerintah Partai Buruh yang dipimpin Clark Helen.
Ditanya apakah usulan Singapura mungkin menjadi cara bagi Selandia Baru untuk membangun kembali satuan tempurnya, Brownlee mengatakan "tidak."
"Pangkalan itu akan menjadi operasi Singapura keseluruhannya tetapi berbasis di Ohakea."
Ia belum mengetahui berapa banyak pesawat yang akan ditempatkan tapi sebuah skuadron biasanya terdiri antara 12 dan 24 pesawat.
F-15 Singapura saat ini berada di Selandia Baru untuk ambil bagian dalam sebuah Air Force Tattoo di Ohakea pada akhir pekan lalu.
Sumber : nzherald.co.nz

Eksistensi Perempuan Makin Penting dalam Misi Perdamaian PBB

Tentara Perempuan Misi Perdamaian PBB
Tentara Perempuan Misi Perdamaian PBB 

Wakil Tetap Indonesia untuk PBB, Dian T Djani, mengtakan, peran dan eksistensi perempuan dalam misi-misi pemeliharaan perdamaian PBB makin signifikan.
Dia katakan itu dalam diskusi di Markas Besar PBB di New York, beberapa hari lalu, seturut keterangan pers yang diterima di Jakarta, Senin.
Deputi Sekretaris Jenderal untuk Urusan MPP, Herve Ladsous, yang hadir pada diskusi panel sebagai pembicara kunci, menyambut baik komitmen pemerintah Indonesia meningkatkan jumlah personil perempuan dan upaya Indonesia untuk memajukan agenda perempuan, keamanan, dan perdamaian.
Diskusi Panel itu menghadirkan dua panelis dari Indonesia, yakni Letnan Kolonel TNI Ratih Pusparini, mantan anggota misi pemelihara perdamaian PBB di Suriah, Kongo dan Lebanon, serta AKBP Yuli Cahyanti, mantan anggota misi pemelihara perdamaian PBB di Sudan.
Pusparini dalam paparan, menyampaikan personil perempuan biasanya lebih bisa membaur dengan masyarakat lokal dibandingkan personil laki-laki, hal ini yang memberikan nilai lebih bagi kesuksesan misi di daerah operasi.
Cahyanti dalam paparannya juga menyampaikan hal senada bahwa personil perempuan pada umumnya lebih dekat dengan korban konflik dan pengungsi internal , khususnya perempuan dan anak-anak.
Diskusi itu bagian dari rangkaian kegiatan kampanye pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2019-2020.
Acara itu dihadiri lebih dari 120 peserta di Markas Besar PBB, yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan dari Sekretariat PBB, Departemen Misi Pemelihara Perdamaian PBB, Departemen Pendukung Operasional PBB, negara-negara anggota PBB serta akademisi yang berkecimpung dalam isu perdamaian.
Direktur Keamanan Internasional dan Perlucutan Senjata Kementerian Luar Negeri, Andy Rachmianto, turut hadir sebagai moderator dalam panel diskusi itu.
Sejalan dengan amanah konstitusi, Indonesia telah terlibat dalam misi PBB sejak 1957. Saat ini Indonesia berada pada urutan ke-9 negara kontributor terbesar personil militer dan polisi pada misi pemeliharaan perdamaian PBB.
Sumber : http://www.antaranews.com/

N219 Lakukan Uji Wings Static, Terbang Perdana Terserah Pilotnya

N219  Lapan PT DI
N219  Lapan PT DI

N219, pesawat yang dibangun PT Dirgantara Indonesia, akan melakukan terbang perdana (first flight) pada akhir April nanti. Setidaknya, jika masih ada kendala, N219 bisa terbang perdana pada Juli 2017. Selanjutnya adalah proses sertifikasi, dan diharapkan mulai diproduksi pada 2018.
“Sekarang ini sedang dilakukan pengujian-pengujian. Berikutnya adalah pengujian engine, engine sudah mulai naik. Yang kita perlukan waktu satu atau satu setengah bulan. Insyaa Allah…,” ujar Budi Santoso, Direktur Utama PTDI, sewaktu menerima kunjungan Menteri Riset &Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir di PTDI Bandung hari ini (27/2/2017).
Prototipe pertama N219 sedang melakukan pengujian wings static. Pengujian struktur sayap pesawat N219 itu dapat menjadi bahan evaluasi para engineer PT DI untuk melakukan pengembangan.
Wings static test merupakan pengujian struktur sayap pesawat yang diberi beban limit mencapai 100 persen bahkan hingga ultimate atau dipatahkan. Ini untuk melihat kekuatan maksimum yang dapat ditahan oleh sayap N219.
Seperti yang diungkapkan Budi, berbagai pengujian yang sudah dilakukan itu, antara lain, electrical grounding bonding test, leak test, dan cleaning test di tangki bahan bakar untuk memastikan ada tidaknya kebocoran. Pengujian lainnya adalah landing gear drop test dan electrical power test.
Prototipe pertama N219 masih dalam proses basic airframe dan basic system instalation. Setelah itu akan dilakukan beragam uji fungsi untuk memastikan setiap komponen berfungsi dengan baik.
Menurut Budi, “Untuk first flight itu tidak bisa ditentukan harinya atau kapannya. Itu tergantung pilotnya. Kapan ia siap terbang, boleh terbang. Karena begitu ditentukan tanggalnya, kami tak ingin Bu Esther itu stress. Kami tak ingin terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Jadi, first flight terserah dari pilotnya.”
Apa Capt Esther Gayatri Saleh, pilot uji yang akan menguji terbang pesawat N219, memang stress? “Normal saja,” jawabnya. Kata dia, jika pesawat memang sudah siap dan seluruh pengujian komponen sudah lulus uji, ia siap.
“Kami ada tim juga. Kalau pesawat N219 sudah siap first flight sesuai dengan list kami, kami pasti siap,” ujar Capt Esther. Reni Rohmawati
Sumber : http://angkasa.co.id/

Pesawat Tempur F-16 dan Sukhoi TNI AU Siaga di Madiun & Makassar untuk Amankan Kunjungan Raja Arab ke Bali

Pesawat Tempur F-16
Pesawat Tempur F-16  

Menjelang kedatangan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud berlibur di Bali pada 4-9 Maret 2017, TNI AU Ngurah Rai masih berkoordinasi untuk pengamanan udara. Komandan Pangkalan Angkatan Udara Ngurah Rai Kolonel Pnb Wayan Superman mengatakan pengamanan di udara saat ini sudah berjalan.
"Di udara sudah diawasi, untuk pesawat tempur belum ada perintah, tetapi sudah direncanakan," katanya di Base Ops Pangkalan TNI Angkatan Udara Ngurah Rai, Kuta, Senin, 27 Februari 2017.
Ia mengatakan kendati belum ada perintah khusus dari Mabes TNI-AU, namun pesawat tempur akan disiagakan di Madiun dan Ujung Pandang (Makassar). "Kami tinggal menunggu instruksi pimpinan kami. Lanud Ngurah Rai tidak bisa menggerakkan pesawat itu," tuturnya.
Menurut dia, untuk pengamanan udara menggunakan pesawat tempur saat ini masih dalam kesiapan rutin. "Ya belum beralih fungsi (kesiapan khusus keamanan) untuk Raja Arab," tuturnya.
Pertemuan Raja Salman dengan Presiden Joko Widodo bertujuan untuk meningkatkan hubungan bilateral kedua negara. Selain itu, keduanya akan membahas berbagai kerja sama dalam berbagai bidang antara Arab Saudi dan Indonesia.
Sumber : https://nasional.tempo.co/

Asal Mula Patung Jenderal Sudirman di Jepang

Patung Jenderal Sudirman di Jepang
Patung Jenderal Sudirman di Jepang 

Kalau di Belanda, ada jalan-jalan yang memakan nama-nama tokoh pahlawan Indonesia, dari RA Kartini hingga Sutan Sjahrir. Tapi did you know bahwa di Negeri Sakura – Jepang, justru ada seonggok patung Panglima Besar Jenderal Sudirman?

Patung Jenderal Sudirman itu berada di Tokyo. Bukan di tepi jalan atau di tengah-tengah taman, atau Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo, melainkan berada di halaman kantor Kementerian Pertahanan Jepang lho!
Patungnya berdiri tegak nan gagah, terbuat dari perunggu setinggi empat meter. Patungnya menggambarkan sosok Jenderal Soedirman lengkap dengan berpeci, berbusana militer khas PETA (Pembela Tanah Air), plus sepatu boot setinggi lutut.
Diketahui, dulu memang sosok Jenderal Sudirman sebelum jadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR, kini TNI), meniti karier kemiliterannya di Pusat Pendidikan Kyodo Boei Gyugun atau PETA di Bogor.
PETA itu sendiri adalah pasukan cadangan bentukan Jepang yang melatih para pemuda Indonesia dengan beragam pendidikan militer khas Jepang. PETA dibentuk dan dipersiapkan seandainya sekutu masuk ke Indonesia di masa Perang Dunia II Front Pasifik.
Dari informasi yang dihimpun, patung itu ternyata merupakan hadiah persahabatan dari Kemenhan RI pada 2011 dengan diwakili Menhan RI kala itu, Purnomo Yusgiantoro.
Figur Jenderal Sudirman setidaknya bisa diterima dan jadi salah satu tokoh Indonesia yang dihormati Jepang, lantaran dipandang sebagai prajurit
“Ketika Menteri Purnomo mengunjungi Jepang pada Januari 2011, Indonesia mempersembahkan sebuah patung perunggu Jenderal Soedirman yang punya kedekatan dengan Jepang,” ungkap pernyataan resmi di situs Kemenhan Jepang, mod.go.jp, kala itu.
“Patung ini simbol berkembangnya persahabatan dan kerja sama antara Jepang dan Indonesia,” sambung pernyataan Kemenhan Jepang.
Sumber : http://news.okezone.com/read/2017/02/23/337/1626499/top-files-wuih-ada-patung-jenderal-sudirman-di-jepang

AS Beli Pembunuh Drone Israel Rp 200 M untuk Lawan ISIS

Sistem Pembunuh Drone
Sistem Pembunuh Drone  

Angkatan Udara AS menghabiskan US$ 15 juta (Rp 200 miliar) untuk sistem pembunuh drone misterius dari sebuah perusahaan Israel.
Kontrak untuk sistem itu akan memasok 21 kit, yang diyakini dialokasikan untuk berurusan dengan ancaman drone dari ISIS.
Namun, rincian kit dan bagaimana mereka akan bekerja belum terungkap, meskipun diyakini menjadi versi modifikasi dari ‘drone shield’ perusahaan itu.
Menurut dokumen Angkatan Darat, ELTA North America Inc, Annapolis Junction, Maryland, telah mendapatkan surat kontrak senilai US$ 15.553.483 untuk sistem itu.
"Kontraktor akan menyediakan pengadaan, pengiriman, dan pelatihan dari 21 Sistem Pertahanan Udara Portabel. Kit akan dibuat Israel dan dikirim ke pangkalan AS pada 28 Juli 2017," tulis dokumen itu sebagaimana dikutip Daily Mail, akhir pekan ini.
Menurut situs Defence One, sistem ini dibeli oleh Air Force Life Cycle Management Center di Hanscom Air Force Base di Massachusetts.
"Lembaga ini mengawasi pembelian komunikasi dan elektronik, yang mengisyaratkan kesepakatan itu kemungkinan untuk beberapa jenis sistem penghambat yang dapat menjatuhkan drone kecil tanpa melepaskan tembakan."
ELTA Amerika Utara merupakan anak perusahaan dari Israel Aerospace Industries, yang membuat drone buster disebut Drone Shield. Sistem radar ini dapat mendeteksi, melacak dan menghambat drone kecil.
Tahun lalu, perusahaan mengatakan telah menjual Drone Guard ke beberapa pelanggan untuk perlindungan aset dan personil, tetapi tidak mengungkapkan pembelinya.
"Anak dan Grup IAI, ELTA Systems Ltd, menawarkan radar 3-Dimensi (3D) khusus dan sensor Electro-Optical (EO) untuk mendeteksi dan mengidentifikasi, serta sistem penghambat Serangan Elektronik (EA) untuk mengganggu penerbangan drone," kata situs itu.
Nissim Hadas, IAI Executive VP dan Presiden ELTA mengatakan, "Kami telah berhasil membuat radar militer kualitas tinggi dan kemampuan penghambat dalam sistem perlindungan drone efektif dan terjangkau."
"Sejak meluncurkan sistem Drone Guard awal tahun ini kami mengalami peningkatan penjualan dan permintaan sistem itu untuk militer, HLS dan tugas perlindungan sipil," tambahnya.
Awal tahun ini posting media sosial mengungkapkan bahwa ISIS telah memodifikasi drone komersial untuk menjatuhkan bom.
Pasukan udara koalisi telah memukul drone ISIS dan lokasi produksi drone di Suriah dan Irak.
Sumber : https://m.tempo.co/read/news/2017/02/26/072850379/as-beli-pembunuh-drone-israel-rp-200-m-untuk-lawan-isis

Khawatirkan Trump, Cina Tingkatkan Keamanan Laut Cina Selatan

Cina Tingkatkan Keamanan Laut Cina Selatan
Cina Tingkatkan Keamanan Laut Cina Selatan 

Cina segera meningkatkan kemampuan pengamanannya di Laut Cina Selatan. Angkatan Laut People's Liberation Army (PLA) Cina mendapatkan dana segar cukup signifikan untuk anggaran pertahanan mendatang, Ahad (26/2).

Langkah ini diambil sekaligus untuk menilai dominasi AS di LCS pada era Donald Trump. Kemampuan Angkatan Laut diperkirakan meningkat dalam beberapa bulan kedepan. Dipimpin laksamana yang sedang naik daun, Cina telah menunjukkan giginya.
Kapal induk pertamanya telah dipamerkan saat berlayar melintasi Taiwan beberapa waktu lalu. Termasuk parade beberapa kapal perang yang melesat ke sana kemari.
Seorang diplomat Cina anonim mengatakan tindakan ini tidak lain adalah sikap waspada Cina pada pemerintahan Trump. "Cina khawatir Trump akan tiba-tiba memanaskan situasi, karena ia tidak bisa diprediksi sehingga kami harus siap," kata dia.
Menurutnya, ini sekaligus kesempatan Cina untuk meningkatkan kemampuan militer di tengah krisis. Beijing tidak memberikan informasi soal peningkatan anggaran belanja angkatan lautnya. Untuk tahun 2016, tercatat 139 milyar dolar AS.
Jumlah ini meningkat hanya 7,6 persen dari anggaran sebelumnya. Cukup mengejutkan karena Cina selalu meningkatkan anggaran sebanyak dua digit persentase dari tahun sebelumnya. Tahun 2016 jadi tahun pertama dengan kenaikan single digit sejak 2010.
Pengamat keamanan, Richard Bitzinger mengatakan Cina sudah diuntungkan dengan peningkatan anggaran dalam 15 tahun terakhir. Senior Fellow and Coordinator of the Military Transformations Programme di S.Rajaratnam School of International Studies Singapore ini mengatakan kini kemampuan mereka sudah luar biasa.
Sumber : http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/global/17/02/26/olzda6335-khawatirkan-trump-cina-tingkatkan-keamanan-laut-cina-selatan

Iran Gelar Latihan Militer di Selat Hormuz

Iran Gelar Latihan Militer
Iran Gelar Latihan Militer 

Angkatan Laut Iran telah memulai latihan militer tahunan di dekat Selat Hormuz yang strategis. Latihan militer terbesar ini adalah yang pertama dilakukan sejak pelantikan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Televisi pemerintah Iran melaporkan manuver latihan ini akan mencakup area seluas 2 juta kilometer persegi di Laut Oman dan Samudra Hindia dekat selat. Laporan itu mengutip Kepala Angkatan Laut Iran, Laksamana Habibollah Sayyari, seperti dikutip dari Al Arabiya, Minggu (26/2/2017).
Sekedar informasi, hampir sepertiga perdagangan minyak melewati Selat Hormuz. Selat ini sebelumnya telah menjadi ajang konfrontasi antara AS dan Iran.
Meski begitu, latihan ini tidak melibatkan pasukan Garda Revolusi. Pasukan elit Iran ini kerap dikritik oleh Angkatan Laut AS sebagai pengganggu dan kerap melecehkan kapal perang.
Armada ke-5 Angkatan Laut AS yang berbasis di Bahrain tidak bersedia untuk berkomentar terkait latiha militer Iran ini.
Hubungan AS dan Iran diliputi ketegangan setelah Washington menjatuhkan sanksi setelah Teheran melakukan uji coba rudal balistik. AS menganggap Iran telah melanggar perjanjian nuklir internasional dan resolusi Dewan Keamanan PBB. Namun, Iran membantah dan menyatakan tidak melanggar perjanjian nuklir internasional dan resolusi PBB.
Sumber : https://international.sindonews.com/read/1183423/43/iran-gelar-latihan-militer-di-selat-hormuz-1488102585

Tentara Rusia Dilatih Operasikan Sistem Rudal Masa Depan S-500

Sistem Rudal S-500
Sistem Rudal S-500 

Para tentara Rusia mulai dilatih untuk mengoperasikan sistem rudal S-500, senjata supercanggih masa depan Moskow. Pelatihan itu jadi program pendidikan baru di Zhukov Military Academy of Aerospace Defense Rusia.
Pelatihan senjata mutakhir masa depan Rusia itu dipaparkan kepala akademi, Mayor Jenderal Vladimir Lyaporov kepada stasiun radio Echo Moskvy.
Menurut Lyaporov, para tentara di akademi militer semula menjalani pelatihan umum. Selanjutnya, mereka mulai dilatih sesuai dengan spesialisasi mereka.
Siswa kami menerima pelatihan di 11 disiplin militer, termasuk operasi sistem pertahanan udara canggih, seperti S-500,” kata Lyaporov, yang dikutip semalam (25/2/2017).
Sebelumnya, Wakil Menteri Pertahanan Rusia Yuri Borisov mengatakan kepada Sputnik, bahwa unit dari sistem pertahanan udara Rusia S-500 akan siap dioperasikan pada tahun 2020.
Sistem rudal pertahanan S-500 Prometey yang juga dikenal sebagai 55R6M Triumfator-M, adalah senjati anti-pesawat dan sistem rudal anti-balistik termutakhir yang saat ini sedang dikembangkan di Rusia.
S-500, yang dirancang oleh Almaz Antei diklaim memiliki jangkauan tembakan hingga 600 kilometer. Sistem rudal ini secara bersamaan dapat mencegat hingga sepuluh rudal balistik dan rudal hipersonik yang melesat dengan kecepatan hingga 7 kilometer per detik.
Sumber : https://international.sindonews.com/read/1183332/41/tentara-rusia-dilatih-operasikan-sistem-rudal-masa-depan-s-500-1488058143

TGM-65 Maverick, Rudal Latih Udara ke Permukaan TNI AU

Hawk 209 TNI AU
Hawk 209 TNI AU  

Jet tempur taktis Hawk 109/Hawk 209 TNI AU sudah lazim dipasangi rudal udara ke permukaan Raytheon AGM-65 Maverick, dalam sekali terbang jet tempur single engine besutan British Aeropsace ini dapat membawa dua unit AGM-65 Maverick. Dan belum lama berselang, Skadron Udara 12 “Black Panther” Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru, pada Senin (20/2/2017) telah melaksanakan latihan tempur diatas udara wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Lima unit Hawk 109/Hawk 209 dikerahkan dengan masing-masing mengusung rudal AGM-65 Maverick.
Untuk misi penghancuran, Hawk 109/Hawk 209 di setting untuk membawa rudal AGM-65G Maverick. Ada label seri “G”menyiratkan bahwa ini adalah seri keluarga Maverick yang beroperasi dengan sistem pemandu infra red. AGM-65G sendiri berasal dari pengembangan AGM-65D dan diluncurkan perdana pada Februari 1986. Dengan hulu ledak seberat 136 kg, AGM-65G memang pas untuk menghajar sasaran dari jarak jauh, termasuk sasaran favoritnya adalah kapal permukaan. Bobot total AGM-65G ditaksir mencapai 301,5 kg. Bila Hawk 109/Hawk 209 hanya bisa menggotong dua unit Maverick, maka F-16 Fighting Falcon bisa membawa empat unit Maverick.
Resminya AGM-65G mampu melesat dengan kecepatan 1.150 km per jam, sementara jarak jangkaunya ada di rentang 13 – 27 km (tergantung sudut ketinggian pelepasan rudal). Karena merupakan alutsita berharga tinggi, untuk uji cobanya pun harus selektif, Hawk Skadron Udara 1 TNI AU pernah melaksanakan uji tembak rudal ini pada bulan Juni 2011 di Air Weapon Range (AWR) Pulung, Ponorogo, Jawa Timur dengan melibatkan tujuh pesawat Hawk 109/209.
Pakai TGM-65 Maverick?
Dalam misi latihan tempur 20 Februari lalu, lima pesawat jenis Hawk ini take off dari Lanud Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Aceh Besar, Setelah berputar-putar di udara Tanah Rencong sekitar 45 menit, pesawat ini kembali ke Lanud. Pada sesi pertama, ada tiga pesawat yang terbang disusul dua pesawat lainnya. Kelima pesawat ini terbang pada ketinggian 6 ribu kaki. Lokasinya 15 mil dari Lanud SIM di sisi barat dan timur.
Namun melihat dari foto yang dipublikasikan di beberapa media, Nampak rudal Maverick yang terpasang di Hawk 109/Hawk 209 dilengkapi cincin (ring) berwarna putih. Jenis Maverick dengan ring putih menandakkan bahwa rudal tersebut adalah TGM-65, jenis rudal latih yang juga dimiliki TNI AU dalam paket pembelian Maverick pada dekade 90-an. TGM-65 resminya adalah Training Groung Missile-65. Ditandai dengan cincin putih yang berarti dummy dipakai sebagai prasarana latihan penerbang dalam hal pembidikan di udara. Mempunyai sistem serupa dengan AGM-65, cuma tidak dilengkapi motor roket, jadi tidak dapat diluncurkan.
Selain TGM-65, TNI AU juga memiliki MLT-65, yakni Munition Load Training-65. Digunakan para teknisi di darat untuk latihan loading dan unloading agar terlatih sewaktu memasang Maverick yang asli. MLT-65 mempuyai bentuk, berat, warna sama dengan rudal asli, dan ditandai cincin biru. Karena mempunyai kemiripan dengan rudal asli, sering dipakai saat static show. Masih ada lagi MMT-65, yaitu Munition Maintenance Training. Dipakai teknisi guna mengecek sistem alat bidik yang ada di pesawat, untuk membedakan dari jenis lain alat peraga ini bercincin kuning. (Gilang Perdana)
Sumber : http://www.indomiliter.com/

Viktor Bondarev : Angkatan Bersenjata Rusia Akan Mendapatkan Jet Tempur dan Helikopter Baru

Helikopter serbu Mi-24 Hind
Helikopter serbu Mi-24 Hind 

Militer Rusia dalam tahun berjalan 2017 ini akan menerima sekitar 160 pesawat dan helikopter baru, 140 di antaranya akan diberikan untuk pasukan udaranya, demikian diungkap Panglima Pasukan Kedirgantaraan Rusia Kolonel Jenderal Viktor Bondarev.
“Ada 140 pesawat dan helikopter untuk Pasukan Kedirgantaraan Rusia tahun ini,” ujarnya, Minggu (26/2). “Ada juga unit aviasi laut, sehingga totalnya sekitar 160.”
Pesawat dan helikopter itu akan menambah jumlah armada milik pasukan kedirgantaraan sebanyak 55 persen, sebagaimana unit-unit milik mereka sudah dipakai semua saat ini.
“Kami terus membeli dan menerima perlengkapan. Pabrik pembuatannya sedang bekerja dengan kemampuan maksimum,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa ia “tidak melihat masalah dengan suplai perlengkapan”.
Pada 2016, Pasukan Kedirgantaraan Rusia menerima 139 perlengkapan aviasi baru.
Sumber : http://tass.com/defense/932755

Indonesia-Australia Sepakat Lanjutkan Kerja Sama Pelatihan Militer

 Kerja Sama Pelatihan Militer
 Kerja Sama Pelatihan Militer 

Indonesia dan Australia sepakat meneruskan kerja sama di bidang pelatihan militer.
Hal tersebut disepakati ketika Presiden Joko Widodo melaksanakan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull di Sydney, Minggu (26/2/2017).
"Di bidang pertahanan dan keamanan, kedua negara juga sepakat untuk kembali melanjutkan kerja sama melalui kerja sama pelatihan kemiliteran," tulis siaran pers resmi Istana.
Diketahui, kerja sama pelatihan militer kedua negara sempat dihentikan beberapa waktu. Hal itu menyusul insiden dugaan pelecehan Pancasila oleh unsur militer Australia.
Insiden dugaan pelecehan Pancasila itu sendiri berawal dari laporan instruktur bahasa Indonesia dari Kopassus yang bertugas di Australia bernama Lettu Inf Irawan Maulana Ibrahim ke satuannya.
Dalam misinya sebagai pengajar di pangkalan militer di Perth, Australia, Maulana menemukan materi pelajaran yang melecehkan Pancasila dan TNI.
Kurikulum yang diterapkan dan perilaku militer Australia, menurut Lettu Irawan, juga menunjukkan sikap yang mendiskreditkan ideologi Pancasila, yakni mengubahnya menjadi "Pancagila".
Belakangan, militer Australia memberikan sanksi unsurnya yang diduga terlibat dalam perkara itu.
Militer Australia juga meminta maaf secara terbuka kepada TNI dan berjanji membenahi sistem kurikulum pendidikan militernya kembali.
Dalam pertemuan bilateral, Jokowi dan PM Turnbull juga sepakat akan terus membina hubungan baik dengan menghargai wilayah teritorial dan kedaulatan negara masing-masing.
"Hubungan yang baik dapat tercapai saat kedua negara menghargai wilayah teritorial masing-masing dan tidak ikut campur urusan dalam negeri dan mampu mengembangkan hubungan yang saling menguntungkan," ujar Presiden Jokowi.
PM Turnbull berpendapat sama. Australia berkomitmen terus mengakui dan menghargai kedaulatan dan keutuhan NKRI.
"Lombok traktat tahun 2006 merupakan fondasi hubungan strategis dan keamanan kedua negara bahwa Australia betul-betul memiliki komitmen untuk kedaulatan dan terirorial Indonesia," ujar PM Turnbull.
Sumber : http://www.kompas.com/

Kapal Latih KRI Bima Suci Indonesia Telah Dipasang Tiang Utama

 Kapal Latih KRI Bima Suci TNI AL
Kapal Latih KRI Bima Suci TNI AL 

Galangan kapal di Vigo Spanyol, Construcciones Navales Paulino Freire (Freire Shipyard) mencapai kemajuan dalam pemasangan peralatan kapal latih baru untuk Angkatan Laut Indonesia, yaitu Bima Suci, panjang 110 meter dengan lebar 12,6 meter. Secara teknis, pada akhir pekan kapal telah terpasang tiang utamanya dengan bantuan derek besar.
Ketika kapal selesai, Bima Suci dapat membentangkan layar seluas 3.350 meter persegi yang tersusun pada barque (terdiri dari tiga tiang layar). Pengiriman kapal dijadwalkan pada musim panas mendatang. Perahu layar, yang dinamai tokoh mitologi dari Indonesia, akan dipasang patung di anjungan, karya pematung dari Galicia, José Molares..
Kapal ini akan berfungsi sebagai platform pelatihan angkatan laut yang dapat menampung 200 orang di dalamnya, termasuk 120 taruna dalam pelatihan untuk Angkatan Laut Indonesia.
Sumber : http://www.farodevigo.es/economia/2017/02/23/buque-escuela-indonesia-luce-trinquete/1628673.html

Damen Shipyard Tampilkan Korvet SIGMA 6110

Korvet SIGMA 6110
Korvet SIGMA 6110 

Pada pameran NAVDEX 2017 lalu, Damen Shipyards dari Belanda menampilkan untuk pertama kalinya anggota baru dalam keluarga SIGMA: korvet SIGMA 6110.
Kapal ini dirancang untuk menjawab kebutuhan khusus dari angkatan laut di kawasan Teluk. Misi utamanya adalah perang laut, keamanan maritim, misi kemanusiaan dan misi penyelamatan.
Dengan panjang 61 meter dan lebar 10 meter, SIGMA 6110 mempunyai displacement 639 ton. Kecepatan maksimumnya 32 knot, jangkauan 6000 mil laut pada kecepatan 15 knot (4500 mil laut pada 18 knot). Mampu berlayar selama 14 hari. Jumlah awak sekitar 30 pelaut.
Seorang perwakilan perusahaan dalam pameran itu menjelaskan bahwa peralatan dan konfigurasi sistem tergantung pada kebutuhan pelanggan tetapi model skala yang dipajang di NAVDEX 2017 dilengkapi dengan persenjataan sebagai berikut:
  • 1x meriam utama 76mm
  • Sistem peluncuran vertikal 2x4 untuk peluru kendali darat ke udara VL MICA 
  • 1x radar NS 100 dalam kubah khusus
  • 2x 30mm RWS dengan rudal permukaan ke udara jarak pendek
  • 2x peluncur decoy Rheinmetall MASS
  • 4x rudal anti-kapal (dalam dua peluncur) Marte
  • 1x peluncur RAM terletak di buritan

Selain itu terdapat satu RHIB ukuran 7,25 meter yang dapat diturunkan dengan crane khusus.
Sumber : http://navyrecognition.com/

Erdoğan Akan Berkunjung ke Rusia Temui Putin di Moskow

Putin - Erdogan
Putin - Erdogan 

Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan berencana mengunjungi Moskow pada 9 - 10 Maret mendatang, kata Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov, Kamis (24/2).
“Ya, tanggal kunjungannya sudah disetujui,” ujar Peskov ketika ditanya para wartawan, sebagaimana dikutip TASS. “Saya mengonfirmasi hal itu.”
Sebelumnya, saluran televisi Turki NTV mengatakan ada rencana pertemuan bilateral antara Presiden Erdoğan dan Presiden Putin, serta pertemuan Dewan Kerja Sama Rusia-Turki Tingkat Tinggi.
NTV menyebutkan, kedua pihak akan mendiskusikan banyak hal, termasuk pemasokan sistem pertahanan udara S-400 ke Turki. Namun demikian, saluran televisi Turki tersebut tak menyebutkan sumber informasinya.
Sebelumnya Kremlin menyatakan bahwa Putin dan Erdoğan sepakat untuk memperluas koordinasi militer selama operasi terhadap militan ISIS dan kelompok-kelompok ekstremis lainnya di Suriah.
Hubungan antara Rusia dan Turki membaik setelah Erdoğan meminta maaf atas insiden penembakan pesawat Rusia Su-24 di wilayah Suriah. Setelah itu, kedua negara telah bekerja sama dalam sejumlah isu penting, termasuk konflik Suriah.
Sumber : http://tass.com/politics/932633

Opini : Belajar Perang dari Australia

Belajar Perang dari Australia
Belajar Perang dari Australia 

Setelah ditunda tahun lalu, akhir Februari 2017 Presiden Joko Widodo dijadwalkan mengadakan kunjungan kenegaraan ke Australia. Kunjungan Presiden Jokowi kali ini bisa disebut istimewa, karena akan selalu dihubungkan dengan insiden materi pelajaran bahasa yang sempat terjadi di markas Special Air Service Regiment (SASR), di Perth, akhir tahun lalu.
Meskipun tidak secara eksplisit disebutkan bahwa kunjungan Presiden Jokowi ke Australia terkait dengan insiden tersebut, namun dengan kunjungan nanti, merupakan sinyal bahwa kasus tersebut dianggap selesai.
Pada tataran kelembagaan pertahanan kedua negara, kasus tersebut juga sudah bisa disebut selesai, ketika Chief of Army (KSAD) Australia Letjen Angus Campbell menyampaikan permintaan maaf secara resmi pada Panglima TNI, baru-baru ini di Mabes TNI Cilangkap. Secara protokoler dan etika hubungan antar negara, prosedur itu sudah memadai. Tinggal bagaimana kedua pihak menjaga hubungan yang sudah mulai mencair ini.
Pasang surutnya hubungan
Kalau kita ingat, hubungan Indonesia dan Australia memang memiliki pasang surutnya sendiri. Di masa Orde Baru misalnya, Australia melalui PM Gough Whitlam (1972-1975) ikut memberi jalan ketika Indonesia berencana melakukan invasi ke Timor Timur, dalam sebuah pertemuan dengan Presiden Soeharto di Wonosobo, Jateng (1974). Namun di kemudian hari Australia pula yang paling aktif mendukung agar Timor Leste bisa lepas dari Indonesia.
Memang selalu ada batu kerikil dalam hubungan antara Indonesia dan Australia, tetapi eskalasi konfliknya tidak serumit dengan yang terjadi di Laut Cina Selatan hari-hari ini. Bahkan untuk kerja sama pertahanan, hubungan kedua negara bisa disebut clear, sebelum adanya insiden di Perth itu. Memang sempat ada pelajaran pahit soal hibah pesawat Hercules, karena pesawat ini jatuh di Papua (pertengahan Desember 2016), belum genap setahun pasca diterima dari RAAF (The Royal Australian Air Force).
Bantuan Australia yang paling signifikan adalah ketika RAAF menghibahkan satu skadron (16 unit) F-86 Avon Sabre kepada TNI AU, di awal 1970-an. Bantuan ini sangat fenomenal, mengingat saat itu kekuatan pesawat tempur TNI AU berada di titik nadir, pasca berakhirnya era kejayaan pesawat supersonik (keluarga) MiG, akibat embargo suku cadang dari Rusia, menyusul peristiwa tragedi nasional tahun 1965.
Dari segi kecanggihan, F-86 masih kalah jauh dibanding keluarga MiG. Pesawat MiG-21 misalnya, sudah sanggup mencapai kecepatan Mach 2 (dua kali kecepatan suara), sementara F-86 maksimum Mach 1. Namun masalahnya bukan di situ, arti penting F-86 adalah untuk memelihara kemampuan para fighter (penerbang tempur) kita, setelah jajaran pesawat MiG di-grounded. Juga untuk menyiapkan penerbang tempur generasi baru, bila sewaktu-waktu menerima pesawat yang lebih canggih.
Hal itu terbukti, ketika dua penerbang tempur F-16 Fighting Falcon generasi pertama, yakni (dengan pangkat terakhir) Marsdya Wartoyo (AAU 1971, terakhir WAKSAU) dan Marsdya M Basri Sidehabi (AAU 1974, terakhir Dansesko TNI) adalah penerbang yang dibesarkan melalui F-86 Sabre, juga F-5E Tiger. Salah satu penerbang F-86 Sabre bahkan sempat menjadi Menkopolhukan, Panglima TNI dan KSAU, yaitu Marsekal Djoko Suyanto (AAU 1973).
Selama dua dasawarsa terakhir Australia menggunakan enam kapal selam kelas Collin bertenaga diesel buat mengamankan wilayahnya. Namun dalam waktu dekat kapal selam buatan dalam negeri itu harus dibesituakan dan diganti dengan jenis teranyar dengan balutan teknologi paling mutakhir saat ini. Hasilnya adalah Barakuda Sirip Pendek buatan Perancis.
Selalu ada tempat untuk pendidikan militer
Satu lagi yang patut dicatat, Australia tidak sekeras Amerika Serikat dalam hal sanksi kerja sama militer. Mungkin kita masih ingat, bagaimana AS menghentikan seluruh bantuan pendidikan bagi perwira TNI, yang dikenal sebagai program IMET (International Military Education & Training), sebagai dampak dari Peristiwa Santa Cruz, Dili, November 1991.
Sementara bagi Australia, di tengah pasang surut hubungan kedua negara, selalu ada alokasi bagi perwira TNI dalam lembaga pendidikan lanjutan seperti Australian Command and Staff College (setingkat Sesko matra) atau Centre for Defence and Strategic Studies (CDSS, kira-kira setingkat Lemhanas).
Posisi Australia penting, karena militer Australia masih kuat memegang tradisi militer Barat (khususnya Inggris), namun dekat secara geografis. Jadi ketika kita diembargo AS dalam hal pendidikan dan update strategi tempur, kita masih bisa menimba ilmu dari Australia.
Pada pertengahan tahun 1990-an, mulai muncul tren apa yang dikenal sebagai perang perkotaan (urban war), sebagai antisipasi ancaman terorisme dan model pertempuran di kawasan Timur Tengah. Hingga muncul metode pelatihan Close Quarter Battle (CQB, pertempuran jarak dekat) dan Military Operation in Urban Terain (MOUT). TNI, khususnya Kopassus dan Korps Marinir banyak belajar dari tentara Australia, termasuk update perkembangan dua model tempur tersebut, sampai sekarang. Aris Santoso.
Penulis:
Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer (khususnya TNI AD), kini staf administrasi di lembaga yang bergerak di bidang HAM (KontraS).
Sumber : http://www.dw.com/id/rubrik/s-11546

Advanced Hawk, Peningkatan Performa Maksimal dari Keluarga Hawk 100

Advanced Hawk
Advanced Hawk

Di arsenal jet tempur TNI AU, kodrat Hawk 109 dan Hawk 209 sudah dipatok sebagai penempur lapis kedua yang punya peran tempur taktis. Meski dari aspek payload ada perbedaan, tapi keduanya dapat menggotong jenis senjata yang serupa, bahkan Hawk109/Hawk 209 sama-sama tidak dilengkapi kanon internal. Namun bila ditelaah lebih dalam, Hawk 209 sanggup terbang lebih lama dan lebih jauh berkat adanya fasilitas air to air refueling, berbeda dengan Hawk 109 yang tandem seat, jet tempur yang dijuluki Lead In Fighter Trainer ini harus pasrah terbang sesuai kapasitas tangki bahan bakar.
Sejak keluarga Hawk 100 mulai dirilis British Aerospace (BAe) pada awal dekade 90-an, berlanjut ke akhir tahun 2016, tidak satu pun varian Hawk 100 yang dilengkapi fasilitas refueling probe. Kodrat Hawk 100 (untuk versi TNI AU disebut Hawk 109) hanya dipatok pada jet latih tempur dengan kemampuan serba terbatas, terlebih dari segi endurance. Baru kemudian ada gebrakan yang terbilang revolusioner, di pameran dirgantara Aero India 2017 yang berlangsung 13 - 18 Februari lalu di Bangalore, BAe Systems dan Hindustan Aeronautics Limited (HAL) resmi meluncurkan versi terbaru Hawk yang paling mutakhir, diberi label Advanced Hawk, jet latih tempur dengan kemampan ground attack ini dilengkapi refueling probe.
India yang berstatus rawan pecah konflik dengan Pakistan, memang berusaha menyiapkan kekuatan udara dengan segala upaya. Selain bintang-bintang utama seperti Sukhoi Su-30MKI, Mirage 2000, MiG-29, Specat Jaguar, MiG-21 Bishon, dan Tejas, AU India juga menyiapkan bala bantuan cadangan, yaitu bilamana diperlukan armada jet latih tempur diharuskan dapat mengambil peran dalam babak pertempuran. Dan yang dipersiapkan sebagai penempur cadangan lapis kedua adalah Hawk MK132.
India sampai saat ini menjadi pengguna terbesar keluarga Hawk 100, setidaknya AU India mengoperasikan 106 unit Hawk 132 yang disokong mesin Rolls-Royce Adour Mk 871. Karena India membeli dalam jumlah besar, maka nilai ToT (Transfer of Technology) yang didapat juga signifikan, ini terbukti dengan HAL yang merilis versi Hawk i pada awal tahun ini. Nah, menengok kebisaan Hawk 200 yang dibekali air refueling probe, menjadikan HAL terobsesi untuk menawarkan versi baru Hawk 100, dan yang ini disebut Advanced Hawk.
Karena Advanced Hawk tak hanya diproyeksi untuk kebutuhan India, agar moncer dalam pasar ekspor, sedari awal HAL telah melibatkan BAe Systems dari Inggris pada rancangan Advanced Hawk. Bukan sekedar pemasanan air refueling probe pada bagian hidung, sejumlah pemaharuan dilakukan untuk mengurangi tuntutan pelatihan pada pesawat tempur utama yang memakan biaya operasional besar.
Meski sosoknya tak berbeda dengan Hawk 109 milik TNI AU, tapi sejumlah peningkatan telah dilakukan pada Advanced Hawk, diantaranya pada bagian sayap ekor dibekali defensive aids suite, pada bagian ini terdapat komponen RWR (Radar Warning Receiver) dan counter measure dispensing system. Guna membawa jenis senjata yang lebih beragam, pada struktur sayap telah diberi kekuatan pada combat flap.
Pada bagian kokpit juga di-upgrade dengan keberadaan datalink, sensor simultan,digital head up display, autopilot, dan ground proximity warning system. Terkhusus untuk kapasitas beban, Advanced Hawk sudah dibekali smart weapon enabled, laser designation pod, dan centerline dual purpose fuel. Di Aero India 2017, beberapa senjata yang dipajang untuk Advanced Hawk seperti smart bomb Paveway, ruda udara ke permukaan Brimstone, dan rudal udara ke udara Cobham.
Lain dari itu, Advanced Hawk dilengkapi perangkat elektronik yang serupa Hawk 109, seperti komponen elektronik pada bagian hidung berupa sensor penjejak laser (laser range finder) dan perangkat FLIR (Forward Looking Infra Red). (Haryo Adjie)
Sumber : http://www.indomiliter.com/

Rudal Kh-29, “Maverick” versi Rusia Milik TNI AU

Rudal Kh-29
Rudal Kh-29 

Kh-29 atau X-29 yang dalam inventori Departemen Pertahanan Rusia diberi kode 9M721 mulai digunakan dalam jajaran dinas AU Rusia (Uni Soviet kala itu) sejak tahun 1980. Hingga kini masih menjadi salah satu rudal udara ke permukaan (ASM - air to surface missile) paling berbahaya.
Pembuatan rudal ini dimulai tahun 1975 oleh biro desain Molniya di Moskwa yang sebelumnya telah melahirkan rudal udara ke udara semacam R-8, R-4 (K-80) dan R-40.
Dibandingkan dengan rudal AGM-65 buatan Hughes Missile Systems/Raytheon dari AS, kehadiran Kh-29 memang delapan tahun lebih lambat. AU AS mulai menggunakan AGM-65 Maverick sejak 1972 dan kini telah memasuki masa operasional 42 tahun serta digunakan oleh lebih 30 negara.
Kh-29 merupakan produk pertama rudal udara ke darat Molniya dengan kode awal “Izdelye 64” (Produk 64). Rudal ini pertama kali diuji coba tahun 1976 dan terus disempurnakan hingga akhirnya masuk ke dalam jajaran arsenal AU Uni Soviet.
Setahun berikutnya, pengembangan Kh-29 dilanjutkan oleh biro desain Vympel di Tushino dekat Moskwa karena Molniya beralih ke proyek ruang angkasa.
Pada awal masa operasional, rudal Kh-29 menjadi senjata ampuh bagi armada pesawat penyerang darat Su-24M. Rudal ini tercatat banyak digunakan perang Iran-Irak.
Rudal dengan panjang 3,9 m dan diameter 38 cm (40 cm lebih panjang dan 8 cm lebih besar dari Maverick). Dilengkapi hulu ledak seberat 320 kg, berarti lebih banyak dari hulu ledak Maverick yang berkisar antara 37-136 kg.
Bobot keseluruhan rudal Kh-29 adalah 660-690 kg, atau lebih dua kali bobot Maverick yang 210-304 kg.
Dari sisi kecepatan terbang, Kh-29 mampu meluncur 1.470 km/jam, atau lebih gesit dibanding Maverick yang 1.150 km/jam. Dibandingkan dari berbagai sisi, rudal Vympel Kh-29 dapat dikatakan memang lebih superior ketimbang AGM-65 Maverick.
Tidak salah bila rudal Kh-29 didesain untuk menghancurkan sasaran yang lebih besar dari apa yang dapat dihancurkan Maverick. Kh-29 dapat menghancurkan infrasturuktur seperti gedung industri, depot senjata, jembatan, shelter pesawat, landasan beton, hingga kapal berbobot 10.000 ton.
Dari sisi kompatibilitas penggunaannya, Kh-29 dapat diluncurkan dari Su-22, Su-24, Su25, MiG-27, MiG-29, Su-27/30, Su-33, Su-34, dan bahkan penempur terbaru Su-27SM maupun Su-35. Sementara Maverick dapat diluncurkan dari pesawat F-16, F-15, F/A-18, AV-8B, A-10, Hawk 100/200 dan beberapa pesawat baru seperti FA-50 dari Korea Selatan.
Di medan perang, Maverick tercatat lebih banyak digunakan di perang-perang besar. Termasuk dalam Operasi Badai Gurun di Irak tahun 1991 dimana 5.000 rudal ini diluncurkan untuk menghancurkan kendaraan-kendaraan lapis baja Irak. Kemudian tahun 2003 sekira 1.000 rudal ini kembali diluncurkan dalam Operasi Iraqi Freedom.
TNI AU telah melengkapi armada Flanker Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin dengan rudal Kh-29T dan Kh-29TE (extended range).
Tidak ada perbedaan mencolok dari kedua varian ini kecuali jarak jangkau yang lebih jauh untuk varain Kh-29TE serta bobot yang lebih berat dan dimensi panjang yang lebih pendek sedikit. Kedua rudal ini berpemandu TV pasif (passive TV guided).
Kh-29T/TE memiliki ciri khas berupa kepala bulat dengan kaca transparan serta sirip-sirip lebar dan tipis di bagian depan dan belakang. Hal ini berbeda dengan varian Kh-29L yang memiliki kepala mengecil dan meruncing berpemandu laser semi aktif.
Basis rancangan Kh-29 secara umum diambil dari rudal udara ke udara R-60 (AA-8 Aphid), menunjukkan sisa-sisa peninggalan Molniya dalam merancang rudal udara ke udara sebelumnya. Sementara pemandu TV-nya diambil dari Kh-59 (AS-13 Kingbolt), rudal jelajah buatan Raduga. Roni Sontani.
Sumber : http://angkasa.co.id/

PT Dirgantara Indonesia Sebenarnya Mampu Produksi Helikopter Sendiri

 EC725 Super Cougar
 EC725 Super Cougar

PT Dirgantara Indonesia (Persero) dinilai sangat mampu mendesain dan memproduksi helikopter sendiri untuk mewujudkan kemandirian pertahanan nasional.
"Bukan suatu hal yang tidak mungkin, dengan dukungan penuh pemerintah terhadap industri pertahanan, PTDI siap memproduksi helikopter sendiri," kata Deputi Bidang usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno, saat berbincang dengan wartawan, di Jakarta, Jumat.
Demikian diungkapkan Harry, menjawab pertanyaan sejumlah kalangan terkait kemampuan perusahaan tersebut mengembangkan sendiri helikopter.
PT DI yang merupakan ikon industri kedirgantaraan Indonesia, sejauh ini sudah banyak mendisain pesawat dan merakit pesawat pesanan beberapa negara di dunia.
Pesawat jenis CN-235 pesawat itu merupakan desain asli anak bangsa yang dalam produksinya bekerjasama dulu dengan CASA Spanyol kini Airbus. Bahkan, saat ini PT DI tengah merancang jenis pesawat baru yaitu CN-245. Hanya saja, hingga kini, PT DI belum bisa mendesain jenis pesawat seperti helikopter.
Menurut Harry sesungguhnya sudah banyak helikopter yang terbang perdana dari pabrik PT DI di Bandung.
Hanya saja helikopter ini merupakan desain dari beberapa produsen helikopter dan kemudian PT DI hanya merakitnya.
"Helikopter-helikopter itu tidak desain PT DI, tapi kita hanya manufacturing atau merakit kemudian menerbangkan," katanya.
Ia mengakui tidak mudahnya PT DI mendesain helikopter, dikarenakan pesawat jenis ini banyak memiliki varian. Berbagai produsen helikopter seperti Bell, Eurocopter sudah memiliki banyak varian, sehingga pasar yang harus dihadapi juga sangat kompleks.
Namun Harry memastikan PT DI sudah bekerjasama dengan beberapa produsen helikopter tersebut untuk bisa merakit di Bandung. Dengan begitu, beberapa pasar di ASEAN bisa menjadi lahan PT DI mengingat akan lebih efisien.
Mengenai kualitas produk helikopter yang dirakit PT DI, diklaim Harry juga sama dengan yang dirakit di pabrik masing-masing.
Dia mengemukakan kualitas helikopter jenis EC725 Super Cougar tidak kalah jika dibandingkan dengan jenis AW 101.
"Jadi tetap, PT DI dalam memproduksi pesawat sekarang disesuaikan dengan Rencana Strategis Hankam," ujar Harry.
Dengan begitu, bukan suatu hal yang tidak mungkin dengan dukungan penuh pemerintah PT DI mampu mendesain dan memproduksi helikopter sendiri.

Jangan Batalkan Pembelian Helikopter EC725 Cougar dari PT DI
Polemik pembelian helikopter AgustaWestland AW101 diharapkan tak membuat pemerintah membatalkan kontrak pembelian 16 helikopter EC725 Cougar buatan PT Dirgantara Indonesia. Pembatalan akan merugikan dan mencoreng nama baik PT DI di dunia industri penerbangan internasional.
Permintaan ini mengemuka dalam kunjungan Tim Komite Kebijakan Industri Penerbangan (KKIP) ke PT DI di Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (22/2). Kunjungan tim KKIP itu ingin meninjau secara langsung kemampuan PT DI memproduksi EC725 Cougar.
"Jangan sampai karena polemik AW101 ini mengganggu proses bisnis PT DI. PT DI sudah belanja untuk produksi hingga pemeliharaan, jangan sampai dibuat rugi," kata Ketua Pelaksana KKIP Laksamana (Purn) Sumardjono.
Sebelumnya, pemerintah dan PT DI menyepakati pembelian 16 helikopter EC725 Cougar. Dua unit sudah dikirim 25 November 2016. Empat unit lainnya sudah rampung meski belum ada keputusan kapan pengiriman akan dilakukan. Sementara 10 unit lagi masih dalam proses pembuatan.
Sumardjono berpendapat, heli EC725 Cougar buatan PT DI sebenarnya punya kemampuan setara dengan AgustaWesland 101 (AW 101). Dengan demikian, apabila spesifikasi di antara kedua heli itu tidak terlalu jauh, sebaiknya TNI AU tidak membeli AW 101. "Kita perlu mendukung dan mengembangkan industri pertahanan dalam negeri," ujar Sumardjono.
Kepala Bidang Transfer of Technology & Ofset KKIP Rachmad Lubis juga mengingatkan Kementerian Pertahanan bahwa pembelian 16 helikopter EC725 Cougar itu sesuai dengan rencana strategis pertahanan.
EC725 Cougar merupakan helikopter kapasitas dua mesin yang mampu mengangkut beban hingga 11 ton dengan kemampuan jelajah jarak jauh. Heli ini memiliki kapasitas ruang yang mampu mengakomodasi berbagai pengaturan tempat duduk hingga 29 anggota pasukan ditambah 2 orang sebagai pilot dan kopilot.
Kepala Divisi Rekayasa Manufaktur Direktorat Produksi PT DI Mukhamad Robiawan mengemukakan, EC725 Cougar unggul dibandingkan AW101 dalam beberapa spesifikasi. Dalam hal pendaratan darurat di perairan, sistem pelampung Cougar dapat mengembang sebelum heli mendarat di air. Berbeda dengan AW 101 yang sistem pelampungnya baru akan terbuka setelah badan heli menghantam air.
"Selain itu, untuk kedap suara di dalam kabin, Cougar relatif lebih bagus," lanjut Robiawan.
Sebelumnya, Direktur Niaga dan Restrukturisasi PT DI Budiman Saleh mengemukakan, harga jual EC725 Cougar sekitar 30 juta euro atau lebih kurang Rp 420 miliar. Harga tersebut relatif lebih murah dibandingkan heli AW 101 yang diperkirakan seharga 55 juta dollar AS atau Rp 761 miliar (Kompas, 28/12/2016).
Sementara itu, Direktur Teknologi dan Pengembangan PT DI Andi Alisjahbana menyebutkan, apabila PT DI diminta untuk memproduksi helikopter AW 101, hal itu memerlukan investasi besar, mulai dari sarana produksi hingga kemampuan dasar manusia.
Sumber : http://www.antaranews.com/ https://kompas.id/

Radar Acak