Pengganti F-5E/F Tiger II Belum Ada Hingga Kini

F-5E/F Tiger II
F-5E/F Tiger II  

Seperti diketahui, pesawat F-5E/F Tiger milik TNI Angkatan Udara telah purnatugas. Namun, hingga kini masih belum juga ditentukan siapa calon penggantinya.
Kementerian Pertahanan hingga kini masih mengkaji secara mendalam untuk menentukan pesawat apa yang pantas menghuni Skadron Udara 14 menggantikan F-5.
“Jadi untuk pengganti F-5 ini sementara masih digodok dulu di Kementerian Pertahanan. Yang jelas TNI Angkatan Udara mengajukan pengganti F-5 ini dengan generasi 4,5,” terang Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsma TNI Jemi Trisonjaya, Rabu (29/3/2017).
Penempatannya nanti di Skadron 14 Iswahjudi, kata Jemi, karena markas F-5 memang di pangkalan udara tersebut. Sementara para penerbangnya, tutur Jemi, sekarang sudah dibagi dua, ada yang berlatih (konversi) di T-50 ada yang berlatih di Skadron 11 ini (Sukhoi).
Jemi menegaskan, sampai sekarang pengganti F-5 belum ada dan hanya menyebutkan bahwa yg akan menggantikan F-5 adalah pesawat tempur dari generasi 4,5.
“Sampai sekarang penggantinya masih generasi 4,5. Belum ditentukan apakah itu Sukhoi, F-16, masih belum tahu. Yang jelas TNI Angkatan Udara akan memberikan spektek kebutuhan teknis dan kebutuhan operasi yang disampaikan kepada Kementerian Pertahanan,” jelas Jemi.
Terkait dengan rumor bahwa jet tempur multiperan paling anyar buatan Rusia, Sukhoi Su-35, digadang jadi calon kuat pengganti F-5, Jemi meluruskan rumor tersebut.
“Jadi sampai sekarang Sukhoi Su-35 itu akan diadakan atau tidak, penggantinya yang jelas generasi 4,5,” jelas Jemi.
Menurut penjelasannya, pesawat yang akan menggantikan F-5 jelas harus memiliki keunggulan dari sisi avioniknya. Kemudian pengganti F-5 juga harus memiliki keunggulan dari sisi persenjataannya.
Pengganti F-5 tentunya juga harus memiliki maneuverability yang melebihi dari generasi yang saat ini ada. Fery S.
Sumber : http://angkasa.grid.id/

AS Bakal Jual 19 Jet Tempur F-16 Rp 66,5 Triliun ke Bahrain

Jet Tempur F-16
Jet Tempur F-16 

Pemerintahan Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump akan menjual 19 pesawat jet tempur F-16 senilai USD5 miliar atau sekitar Rp66,5 triliun kepada Bahrain. Rencana itu diungkap seorang sumber di Kongres AS.
AS di era kepemimpinan Presiden Barack Obama menghentikan penjualan pesawat jet tempur produksi Lockheed Martin tersebut ke Bahrain. Alasannya, catatan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di negara Timur Tengah itu dianggap buruk.
Penjualan pesawat-pesawat jet tempur canggih itu sedianya dilanjutkan lagi pada September lalu. Departemen Luar Negeri AS era Obama saat itu sudah menyampaikan pemberitahuan kepada Kongres.
Tapi, rencana itu ditarik lagi setelah Bahrain dianggap tidak memperbaiki catatan pelanggaran HAM.
Menurut sumber di Kongres AS, seperti dikutip Reuters, Kamis (30/3/2017), Pemerintah Trump sekarang telah memisahkan masalah HAM dengan penjualan alutsista (alat utama sistem pertahanan).
Para anggota Kongres AS belum bersedia mengomentari bocoran informasi ini, termasuk apakah mereka akan setuju atau keberatan dengan penjualan jet-jet tempur F-16 terkait keprihatinan HAM di Bahrain.
Selain pesawat jet tempur F-16, rencana penjualan itu juga mencakup 23 mesin pesawat, radar hingga rudal udara dan rudal darat.
Pemberitahuan terbaru dari Pemerintah Trump itu dikirim ke Kongres untuk ditinjau hingga 40 hari, Jika memenuhi syarat Undang-Undang Pengendalian Ekspor Senjata, penjualan belasan jet tempur ke Bahrain itu berpotensi disetujui Kongres.
Pihak Lockheed Martin sebagai produsen pesawat-pesawat jet tempur tersebut menolak berkomentar.
Sumber : https://www.sindonews.com/

TNI AU: Tahun 2017 Tak Ada Lagi Pelanggaran di Wilayah Udara NKRI

 Pelanggaran di Wilayah Udara NKRI
 Pelanggaran di Wilayah Udara NKRI 

TNI Angkatan Udara (AU) menegaskan pelanggaran batas wilayah udara di Indonesia sudah semakin berkurang. Kepala Dinas Penerangan (Dispen) TNI AU Marsekal Pertama Jemi Trisonjaya menyebut di tahun 2017 sudah tak ada lagi pelanggaran udara.
"Tahun 2016 masih ada beberapa pesawat asing yang yang tidak memilik izin melintas di udara Indonesia. Dan untuk tahun 2017 ini sudah tidak ada lagi," ungkap Marsekal Pertama Jemi Trisonjaya kepada wartawan di Lanud Abdulrahman Saleh, Malang, Jawa Timur, Kamis (30/3/2017).
Jemi menjelaskan hal tersebut karena ada pengoptimalan radar dan pengamanan di beberapa titik di Indonesia. "Kita sudah menyiagakan pesawat-pesawat tempur di beberapa skadron salah satunya di Pekanbaru. Kita juga telah mengoptimalkan radar menjadi 24 jam di beberapa titik. Dan radar sipil saat ini sudah terintegrasi dengan radar militer. Sehingga pesawat yang masuk sudah terpantau semua," ungkapnya.
Jemi menyebut sebelumnya pelanggaran batas wilayah udara banyak terjadi pada tahun 2015. Jemi pun mencontoh tindakan yang dilakukan kepada pesawat-pesawat asing yang tak memiliki izin tersebut. Salah satunya force down atau penurunan paksa pesawat di wilayah Tarakan, Kalimatan Utara.
"Contoh tugas yang dilaksanakan oleh Pesawat Sukhoi yang ada di Skadron 11 yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu di wilayah Tarakan. Sehingga saat itu dilakukan force down terhadap pesawat asing yang masuk tanpa izin," ungkapnya.
Sebelumnya ketahui, Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan melalui Danflight Mayor Pnb Setyo Budi mencatat pelanggaran batas wilayah udara paling banyak dilakukan pesawat militer dan pesawat tanpa jadwal dari negara lain. Pesawat-pesawat tersebut masuk dari Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) 2 yakni Laut Sulawesi, Selat Makassar, Laut Flores, dan Selat Lombok yang hanya bisa dideteksi oleh radar militer.
"Mereka memanfaatkan ALKI 2, ketika dideteksi oleh radar militer sudah banyak. Itu hanya bisa dideteksi oleh radar militer," ucap Mayor Pnb Setyo Budi, di Lanud Hasanuddin, Sulsel Rabu (30/3).
Sumber : https://news.detik.com/

Mengenal Leonardo AW139M, Modern Medium Lift Utility Helicopter

Leonardo AW139M Basarnas
Leonardo AW139M Basarnas 

Helikopter angkut sedang serbaguna (multirole) Medium Lift Utility Helicopter Leonardo AW139M dari aspek teknis layak disandingkan dengan H225M Caracal dan Sikorsy S-70i Black Hawk. AW139M sendiri pada dasarnya merupakan versi militer dari AW139, dan di Indonesia AW139 telah dikenal sebagai helikopter tercanggih dengan kemampuan endurance tertinggi yang dimikiki BASARNAS (Badan SAR Nasional).
Meski secara teknis bisa disandingkan dengan Caracal dan Black Hawk, yakni sudah mengandalkan full glass cockpit, twin engine, dan tidak memiliki pintu rampa (ramp door), harus diakui mungkin akan butuh ‘tenaga’ ekstra bila Leonardo Helicopters berniat menawarkan AW139M ke Indonesia. Sebagai informasi, produk lain dari Leonardo, yaitu AW101 kini statusnya masih menjadi polemik akibat jalur pengadaan yang kurang jelas. Di luar kelaziman, AW139 versi SAR pesanan BASARNAS pun tak dirakit oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI), melainkan oleh PT Indopelita Aircraft Services. Walau sejatinya pihak BASARNAS sangat puas pada performa AW139, toh akhirnya yang dipilih untuk pengadaan helikopter SAR selanjutnya adalah AS365N3+ Dauphin buatan Airbus Helicopters yang dirakit PT DI.
Seperti halnya jargon yang digadang Black Hawk dan Caracal, AW139M dirancang untuk menndukung seabreg misi, mulai dari surveillance, utility, troop transport, special force insertion, medevac (medical evacuation), Combat SAR, command & control, dan fire support (bantuan tembakkan). Mirip dengan Caracal, AW139M sudah menggunakan lima bilah baling-baling utama (main rotor blade). Sumber tenaganya berasal dari dua mesin turbin 2 x Pratt & Whitney PT6C-67C. Dengan dukungan teknologi One Engine Inoperative (OEI), mesin dirancang untuk adaptif dalam beragam kondisi ektrim. Kemampuan hovering yang baik juga menjadi daya pikat AW139 sebagai heli tempur yang tangguh.
Dari sisi avionik, teknologi kokpitnya sudah tergolong state-of-the-art display dengan 4-axis digital autopilot (with hover mode) dan full digital electronic engine control (FADEC) meminimalkan beban kerja pilot dan mengoptimalkan efisiensi operasional.
Sebagai helikopter militer, AW139M sudah barang tentu punya ke-khasan, ini bisa dilihat dari hadirnya NVG (Night Vision Goggles) yang kompatibel dengan pencahayaan di luar dan dalam helikopter, secure communications termasuk jalur V/UHF, HF, dan Satcom, serta tactical data link berikut video data link. Yang membedakan dengan versi sipil, pada bagian hidung heli terdapat radar intai dan cuaca. Jika mau paket komplit seperti halnya varian SAR bisa dilengkapi electro optical/infra red dengan laser range finder serta illuminator. Untuk keamanan awak kokpit dan penumpang, Leonardo telah menyiapkan modular armour.
Lantas bagaimana dengan urusan persenjataan? AW139M dapat dipasangi wing pylon pada sisi kiri dan kanan. Di pylon ini dapat dipasang roket FFAR dan rudal anti tank, bahkan rudal udara ke udara. Tak mau kalah dengan Black Hawk, ada window gun yang bisa dipasangi senapan mesin sedang FN MAG kaliber 7,62 mm. Atau jika mau lebih sadis lagi pada door gun bisa dipasang senapan mesin berat 12,7 mm sekelas M2HB Browning.
AgustaWestland 139M fasilitas dasarnya juga mencakuo electrical hoist kit yang dapat menarik beban lewat tali seberat 272 kg, panjang kabelnya sendiri 90 meter. Pintu geser besar di setiap sisi kabin menyediakan akses yang luas ke kabin untuk korban dan tandu. Uniknya AW139 memiliki tambahan 3,4 m3 dari kompartemen bagasi yang dapat diakses dari dalam atau luar helikopter. Selain digunakan oleh militer Italia, AW139M juga telah dipesan oleh AB Pakistan. (Gilang Perdana)
Spesifikasi AW139M :
  • Overall Length: 16,66 meter
  • Overall height: 498 meter
  • Rotor diameter 13,8 meter
  • Powerplant: Pratt & Whitney PT6C-67C Turboshafts with FADEC
  • Weight (MTOW) Internal load: 6.400/6.800 kg dan External Load 6.800 kg
  • Crew 1-2
  • Passenger seating: Up to 15 in light order, or 8 deployable troops in combat order and 2 armed cabin crew for aircraft protection
  • Stretchers: Up to 4 (with 5 attendants)
  • Baggage compartment: 3.4 m3
  • Max speed: 310 km/h
  • Cruise Speed: 306 km/h
  • Rate of Climb 10.9 m/s
  • Service Ceiling 6.096
  • Maximum range: 1.061 km
  • Maximum endurance: 5 h 13 min

Sumber : http://www.indomiliter.com/

AD Thailand Pesan 34 Ranpur ZBL-09 Tiongkok

Ranpur ZBL-09 Tiongkok
Ranpur ZBL-09 Tiongkok 

Angkatan Darat Thailand telah memesan 34 unit kendaraan tempur ZBL-09 yang dikembangkan oleh NORINCO (China North Industries Corporation) Tiongkok, sebagaimana dilaporkan oleh thaiarmedforce.com (TAF).
Koresponden asing mengatakan kepada TAF pada pameran LIMA 2017 bahwa Angkatan Darat Thailand memesan 34 unit kendaraan tempur ZBL-09 8x8 dan 12.506 butir amunisi 30 mm dari NORINCO Tiongkok.
ZBL-09 sebanding dengan BTR-3E1 yang telah dibeli AD Thailand sebelumnya dan kini dioperasikan oleh unit-unit infanteri AD Thailand. AD Thailand akan membeli satu batalyon ZBL-09 dan akan diserahkan pada tahun 2020 dengan harga USD 1,695 juta per unitnya.
ZBL-09 (nama ekspor VN-1) merupakan kendaraan tempur infanteri 8x8 produksi Tiongkok dengan desain modular yang dikembangkan dalam beberapa varian, antara lain model Infantery Fighting Vehicle (IFV) dengan turret 2A72 30 mm, varian APC dengan senapan mesin 12,7 mm, varian assault gun dengan meriam 105 mm, varian self propelled howitzer 122 mm dan 155 mm, varian pertahanan udara CS/SA5 dengan gatling gun 6 laras, varian mortar carrier PLL-09 120 mm, varian intai, varian kendaraan komando, serta varian kendaraan engineering.
Sumber : http://thaiarmedforce.com/

BPPT Berguru ke Prancis Pelajari Teknologi Baterai Kapal Selam

 Teknologi Baterai Kapal Selam
 Teknologi Baterai Kapal Selam

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menjadi salah satu lembaga pemerintah yang akan bekerja sama dengan institusi penelitian dan pengembangan (litbang) Prancis. Rangkaian kerja sama ini menjadi rangkaian lawatan Presiden Prancis, Francois Hollande ke Indonesia.
Dua institusi litbang Prancis yang hari ini mengadakan pertemuan dengan BPPT, yakni INSA dan CEA.
Kepala BPPT, Unggul Priyanto, menyampaikan bahwa Prancis cukup maju dalam hal riset di bidang energi serta informasi dan teknologi komunikasi (ICT). Dalam hal energi misalnya, Unggul menjelaskan, seperti energi terbarukan seperti solar cell, fuel cell, dan teknologi baterai. Sementara itu, di bidang ICT, seperti security dan micro electronic.
"Atau teknologi lain, seperti manufakturing, kapal selam kalau mungkin (dikerjasamakan)," ujar Unggul usai courtesy call BPPT dengan CEA dan INSA Prancis di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta Rabu 29 Maret 2017.
Terkait kapal selam, Unggul mengatakan, erat kaitannya dengan teknologi baterai. Sebab, kualitas kapal selam tergantung sekali dengan kualitas baterainya.
"Jadi, kapal selam ketika menyelam, energi mengandalkan baterai, semakin qualified baterainya, semakin lama bisa menyelam," kata Unggul.
Sementara itu, kapal selam bisa menyelam juga karena beban dari baterai. Sekitar 60 persen berat kapal selam adalah berat baterai.
Kapal selam yang dikembangkan BPPT, baterainya terbuat dari lithium ion. Saat ini, kekuatan durasi menyelamkan kapal selama empat hari.
Sementara itu, Prancis, telah mengembangkan baterai sodium-ion. Diklaim, baterai pengganti lithium ini lebih murah dan memiliki kerapatan penyimpanan energi sangat tinggi, ketersediaan sodium pun melimpah.
"Kami masih lihat (hasil riset Prancis) baterai sodium ion ini," tutur Unggul.
Kerja Sama Pendidikan Periset
Unggul menyatakan, tak dipungkiri bahwa tenaga peneliti dari BPPT dan lembaga litbang lain di Indonesia masih minim yang menempuh S3 atau doktor. Disebut, BPPT baru sembilan persen, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tujuh persen, bahkan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) hanya tiga persen.
"Itu sangat jauh dari ideal. Kalau saya bandingkan di Jepang, doktor untuk lembaga seperti BPPT ini bisa 80 persen. Kemudian Taiwan 50 persen, Thailand 30 persen, jadi untuk mencapai ke sana itu cukup jauh," ujar Unggul.
Untuk itu, selain mengambil kesempatan kerja sama dengan Prancis soal terapan teknologi, Unggul ingin menjajaki bidang pendidikan untuk para periset Indonesia.
"Nah, dengan adanya kerja sama seperti ini, paling tidak kita mendapat jaminan bahwa mereka mau menampung, menerima peneliti kita untuk mengambil S2 atau S3," kata Unggul.
Sebagai informasi, untuk tindak lanjut diskusi, akan ada MoU antara BPPT dan CEA di bidang teknologi kelautan atau kemaritiman. Selain itu, dengan INSA untuk teknologi terapan. Penandatanganan akan dilakukan sore nanti secara tertutup.
Sumber : http://www.viva.co.id/

AU Filipina Terima FA-50PH Ke-7 dan Ke-8

FA-50PH
FA-50PH 

Angkatan Udara Filipina hari rabu lalu (29/03) menerima pesawat tempur/Lead-in Fighter Trainer (LIFT) Korea Aerospace (KAI) FA-50PH ke-7 dan 8. Wakil Panglima Angkatan Udara Filipina Mayor Jenderal Conrado V. Parra Jr memimpin upacara penyambutan di Haribon Hangar, Air Force City, Clark Air Base di Pampanga.
Dua belas pesanan FA-50PH diharapkan akan selesai pada Mei 2017. FA-50PH 009 dan 010 dijadwalkan akan tiba pada bulan April, sementara 011 dan 012 diharapkan akan diserahkan pada bulan Mei.
“FA-50 adalah varian tempur multirole dari pesawat latih lanjut jet supersonik KAI T-50 Golden Eagle. Pesawat ini mampu membawa rudal udara-ke-udara jarak pendek, rudal udara-ke-permukaan serta countermeasure seperti chaff dan flare inframerah,” kata pihak AU Filipina. “Dengan kedatangan batch keempat jet FA-50PH, AU Filipina kini memiliki delapan jet dalam armadanya sementara pengiriman jet sisanya akan selesai pada tahun 2017.”
Sumber : update.ph

Pertengahan Tahun Ini, PT DI Mulai Serahkan Helikopter AS556 MBe Panther ke TNI AL

Helikopter AS556 MBe Panther
Helikopter AS556 MBe Panther 

Sudah agak lama tak terdengar kabar tentang status helikopter AKS (Anti Kapal Selam) pesanan Puspenerbal (Pusat Penerbangan Angkatan Laut), seperti diketahui sejak pertengahan November 2016 pihak Airbus Helicopters telah menyerahkan tiga unit AS565 MBe Panther kepada PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di Marignane, kota di bagian selatan Perancis. Dan akhirnya hari ini (29/3/2017) ada kabar lebih terang seputar kehadiran helikopter AKS canggih ini.
Seperti dikutip dari siara pers PT DI, BUMN Strategis yang kinerjanya tengah mendapat sorotan publik ini menyebut bahwa pesanan tiga unit AS565 MBe Panther akan diserahkan ke pihak Kemhan/TNI AL pada pertengahan tahun ini (2017). Ini seolah menjadi komitmen PT DI setelah beberapa waktu lalu didera persoalan keterlambatan pengiriman pesanan kepada sejumlah klien. Selain komitmen menuntaskan pesanan untuk TNI AL, PT DI juga akan merampungkan sisa pesanan tiga unit helikopter H225M Caracal untuk TNI AU. Dua unit H225M yang telah diserahkan pada pertengahan Maret lalu ke TNI AU adalah unit ketiga dan keempat dari total enam unit yang disepakati dalam kontrak dengan pelanggan. Penyerahan unit-unit berikutnya kepada TNI AU akan diselesaikan dalam beberapa minggu mendatang. Helikopter multi peran H225M ini dimaksudkan untuk misi tempur, pencarian dan penyelamatan (CSAR).
Dua unit platform dasar, atau disebut juga dengan “unit hijau”, pertama tipe AS565 MBe Panther telah tiba di Indonesia untuk diperlengkap dan diselesaikan oleh PT DI. Secara keseluruhan ada 11 helikopter AS565 MBe Panther yang akan tiba di Indonesia, dan tiga unit yang diserahkan saat ini adalah gelombang pertama. Kilas balik, kontrak pengadaan helikopter AKS AS565 MBe Panther resmi ditandatangani pada akhir tahun 2014, bertepatan dengan momen Indo Defence 2014. Sebagai pihak penerima ToT (Transfer of Technology) dari Airbus Helicopters adalah BUMN PT DI.
Bukan Hanya Merakit
Peran PT DI dalam proyek ini tidak sebatas merakit ulang helikopter Panther setibanya di Indonesia, lebih jauh PT DI mengambil peran besar dalam penentuan desain sistem anti-submarine warfare (ASW) suite. Untuk menjalankan peran sebagai helikopter AKS, AS565 MBe Panther TNI AL akan dipasang perangkat integrasi yang mencakup L-3 Ocean Systems DS-100 Helicopter Long-Range Active Sonar (HELRAS). Sementara untuk misi menghancurkan kapal selam, dalam kesepakatan Panther TNI AL juga akan dipasang sistem peluncur torpedo, sistem peluncur ini disiapkan untuk menghantarkan jenis torpedo Raytheon MK46 atau Whitehead A244/S. Kedua torpedo tersebut kebetulan sudah sejak lama dimiliki TNI AL.
Sebelumnya pada Maret 2015, PT DI dan Rotorcraft Service Group Inc. (RSG) telah mengadakan kontrak kesepakatan untuk adopsi pengembangan dan sistem integrasi ASW pada armada AS565 MBe Panther pesanan TNI AL. Meski kodrat utama AS565 MBe Panther adalah untuk melibas kapal selam, tapi basis heli ini adalah multirole. Oleh sebab itu, sistem yang di integrasikan RSG bersifat modular, saat sang Panther dibutuhkan untuk misi SAR (Search and Rescue), Medevac (Medical Evacuation), intai maritim, dan eksternal cargo, maka dengan cepat konfigurasi tempur heli dapat diubah ke non combat roles. (Gilang Perdana)
Sumber : http://www.indomiliter.com/

Kepala Staf Angkatan Laut Resmikan Dua Kapal Perang di Batam

KRI Torani 860 dan KRI Lepu 861
KRI Torani 860 dan KRI Lepu 861 

Kekuatan armada tempur TNI Angkatan Laut semakin kuat dengan diresmikannya dua Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) oleh Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi SE MAP pada suatu upacara militer yang dilaksanakan di dermaga Pelabuhan Batuampar, Kota Batam, Kepulauan Riau, Kamis (30/3/2017).
Kedua kapal yang akan diresmikan, yakni KRI Torani 860 dan KRI Lepu 861, merupakan alutsista karya cipta anak bangsa yang diproduksi PT Karimun Anugerah Sejati Batam.
KRI Torani-860 dan KRI Lepu-861 memiliki kemampuan untuk melaksanakan peperangan anti kapal permukaan, peperangan anti udara dan pertempuran kepulauan serta melaksanakan tugas tambahan yakni melaksanakan patrol laut dalam rangka menegakkan hukum laut dan melaksanakan fungsi Search and Rescue (SAR).
Dipersenjatai dengan meriam kaliber 30 mm OTO Melara pada haluan dan dua pucuk Senapan Mesin Berat (SMB) kaliber 12,7 mm pada buritan. Masuk dalam kelas kapal patroli cepat (PC-40), panjang keseluruhan 45,5 meter dan lebar 7,9 meter dengan kecepatan maksimal 24 knot serta kecepatan jelajah 15 knot.
Kapasitas bahan bakar dalam sekali jalan adalah 70.000 liter dan memiliki endurance berlayar selama 6 hari. Dapur pacunya didukung dengan 2 buah mesin diesel MTU yang masing-masing berkekuatan 2.480 HP.
Rangkaian upacara peresmian diawali dengan sambutan Direktur Utama PT Karimun Anugerah Sejati dilanjutkan dengan penandatanganan Protocol of Delivery oleh Dirut PT Karimun Anugerah Sejati dan pihak TNI Angkatan Laut dilanjutkan dengan penyerahan maket kapal dari Dirut kepada Kasal.
Uapacara peresmian ditandai dengan pernyataan Irup yang disertai dengan penekanan sirine, penaikan ular-ular perang, gauk kapal bunyi dan terbukanya selubung nama KRI. Rangkaian acara diakhiri dengan peninjauan ke KRI Layaran-854, penandatanganan prasasti dan pemotongan pita.
Pada kesempatan tersebut, Kasal melantik Mayor Laut (P) Taufiq Pamungkas sebagai komandan KRI Torani 860 dan Kapten Laut (P) Rakhmad Widiyanto sebagai komandan KRI Lepu 861.
Filosofi ikan Torani yang hidup di seluruh samudera serta memiliki kelincahan dalam menghindar dan menyelamatkan diri dari setiap ancaman dengan cara meloncat hingga terbang diatas permukaan air, menjadi salah satu pertimbangan untuk dijadikan nama KRI.
Adapun Lepu dikenal sebagai ikan predator, ketika berburu mereka akan menyudutkan buruannya dengan sirip besarnya dan dengan reflex cepatnya mereka mampu melumpuhkan musuhnya. Lepu juga dikenal karena durinya yang panjang dan berwarna-warni yang selalu waspada melindungi dirinya dari predator lain.
Acara peresmian KRI dan pelantikan komandan KRI selain dihadiri oleh Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun juga dihadiri oleh pejabat teras dari Kemhan RI, Mabes TNI dan Mabesal diantaranya Sekjen Kemhan Laksdya TNI Widodo, Kabaranahan Kemhan, Kasum TNI, Asrenum Panglima TNI, Irjenal, Asrena Kasal, Asops Kasal, Aspers Kasal, Aslog Kasal, Pangarmatim, Pangarmabar, Danlantamal IV dan Kepala Kantor Zona Maritim Barat.
Sumber : http://batamtoday.com/

PT DI Tahun Ini Siap Tuntaskan Seluruh Pesanan Helikopter AS550 Fennec untuk TNI AD

Helikopter AS550 Fennec
Helikopter AS550 Fennec 

Mungkin karena tengah mendapat sorotan atas kinerjanya, BUMN Strategis PT Dirgantara Indonesia (PT DI) terus berusaha untuk meningkatkan produksi dan komitmen pencitraan positif perusahaan di mata publik. Salah satu langkah yang menjadi prioritas adalah proses penyerahan helikopter pesanan TNI AD, TNI AU, dan TNI AL. Seperti untuk Puspenerbad (Pusat Penerbangan Angkatan Darat), akhir tahun ini juga PT DI akan menyerahkan sisa sembilan unit helikopter AS550 Fennec.
Sebagai informasi, TNI AD memesan total 12 unit serbu ringan AS550 Fennec. Dikutip dari siaran pers PT DI (29/3/2017), disebutkan dua helikopter Fennec yang diserahkan pada Januari 2017 adalah dua unit intai pertama untuk TNI AD. Bersama dengan unit pertama yang telah diserahkan pada 2015. Sesuai dengan penempatannya, Fennec yang merupakan generasi penerus NBO-105 akan dibentuk menjadi satu skadron serbu ringan. Berdasarkan kesepakatan antara Airbus Helicopters dengan PT Dirgantara Indonesia, peralatan tempur untuk AS550 Fennec TNI AD mencakup senapan mesin dan peluncur roket FFAR yang akan dipasang oleh PT Dirgantara Indonesia di pabriknya di Bandung.
Fennec adalah versi militer dari seri helikopter Airbus Ecureuil. Seri ini terdiri dari tipe mesin tunggal dan ganda yang memiliki kemampuan adaptasi dan solusi sistem yang hemat biaya. Pembelian Fennec oleh TNI AD ini dilakukan menyusul pembelian enam buah helikopter H225M Caracal oleh TNI AU pada tahun 2012. Di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik, sebelumnya Royal Thai Army juga memesan delapan buah Fennec untuk misi pengintaian pada tahun 2011.
Bicara soal ketangguhan, Fennec disokong desain airframe dan fuselage dari bahan fiberglass khusus, sehingga bobot total helikopter ini jauh lebih ringan dibanding heli lain dikelasnya. Rotor utama Fennec dibuat dari bahan khusus Starflex , demikian pula untuk blade rotor, dibalut bahan komposit yang kuat dan mampu mereduksi kebisingan akibat putaran rotor. Sementara untuk urusan mesin, mengadopsi jenis Turbomeca Arril B agar mampu menahan tembakan senapan mesin kaliber besar, mesin diberi lapisan baja yang cukup tebal. Kendati punya kemampuan serbu, Fennec tidak memiliki senjata internal.
Tak hanya mesin yang mendapat porsi perlindungan khusus dari ancaman tembakan musuh, kursi pilot dan penumpang juga dilapisi baja. Saat digunakan sebagai heli transpor, Fennec sanggup membawa lebih dari lima orang pasukan dengan senjata lengkap. Sementara saat difungsikan sebagai ambulan udara, ruang kabin Fennec dapat memuat satu tandu pasien dan dua dokter. Desain pintu belakang Fennec dirancang dengan model buka tutup dengan cara sliding (geser) memudahkan penumpang atau kargo yang dimuat serta dikeluarkan dari heli. Pola yang sama juga digunakan oleh heli ringan BO-105. Muatan kargo yang bisa dimuat sebanyak 1.160 kg dan barang yang dibawa dengan hoist atau sling seberat 204 kg.
Kokpit Fennec dilengkapi dengan peralatan canggih dan berfungsi secara single control dan sanggup dioperasikan saat gelap karena dbekali dengan alat penglihatan malam. Perangkat navigasi yang ada di dalam kokpit mencakup GPS, VHF omni directional radio ranger dan instrument landing system (VOR/ILS), penentu arah dan target yang bekerja secara otomatis, dan masih banyak lainnya. Saat menerbangkan Fennec, pilot juga dapat memonitor kondisi mesin dan putaran rotor menggunakan layar khusus di dalam kokpit.
Sumber : http://www.indomiliter.com/

Peringati Hari Jadi AD Ke-72 Myanmar Pamerkan Rudal

Rudal SA-6 buatan Rusia
Rudal SA-6 buatan Rusia 

Angkatan Darat Myanmar baru saja merayakan hari jadinya yang Ke-72 hari Senin (27/3/2017) lalu. Peringatan yang dilaksanakan secara meriah itu diwarnai parade militer dengan memamerkan alutsista yang mencerminkan kecanggihan tempur di Abad 21. Tujuan utama parade militer besar-besaran di kota Naypyitaw adalah untuk selalu siap memerangi terorisme internasional dan memperkuat ketahanan nasional.
Perayaan hari jadi AD itu sendiri merupakan peringatan atas kemenangan pasukan Myanmar ketika berhasil mengalahkan penjajah Jepang pada tahun 1945. Sebagai hari kemenangan pertempuran dan sekaligus mengenang para jasa pahlawan yang telah gugur, peringatan ini juga dikenal sebagai Tatmadaw.
Sejumlah alutsista AD Myanmar yang dipamerkan dalam parade antara lain tank-tank lapis baja, meriam artileri, sistem rudal pertahanan udara, persenjataan antitank, dan lainnya.
Khusus untuk sistem pertahanan udara, Myanmar juga memamerkan alutsista Bae Dynamic Bloodhound MkII, KS-1A (China), SA-6 (Rusia), Pechora-2 M (Rusia), dan lainnya. A. Winardi
Sumber : http://angkasa.grid.id/

Tentara Amerika Siapkan Helm Unggulan, Lebih Ringan dan Tahan Peluru

Desain Helm Militer Amerika
Desain Helm Militer Amerika 

Tentara Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) sedang mempersiapkan helm baru yang lebih ringan tapi sama kuat dengan material kevlar yang mereka gunakan sekarang. Desain baru ini dibuat menggunakan polietilena bermassa molekul sangat tinggi, yang kira-kira lebih ringan sekitar 22 persen.
Para ahli mengatakan material helm ini bisa menangkal peluru berukuran 9 milimeter dan pecahan-pecahan granat sehingga mampu membuat tentara AS tampil lebih baik tanpa mengurangi alat pelindung yang mereka kenakan.
Selasa, 28 Maret 2017, Angkatan Darat AS memberikan kontrak kepada Revision Military di Vermont, negara bagian AS, untuk desain helm tempur canggih generasi II (ACH Gen II) itu.
Kontrak tersebut menyebutkan bahwa produksi helm ini memakan biaya lebih dari US$ 98 juta (Rp 1,3 triliun) selama lima tahun ke depan.
Pengurangan berat helm nantinya akan beragam, bergantung pada ukuran helm tersebut. Ukuran helm kebanyakan Angkatan Darat AS yakni ukuran besar (L) ACH Gen II nanti akan berbobot sekitar 11 kilogram. Kira-kira 340 gram lebih ringan dibanding desain yang dikenakan sekarang. Ukuran superbesar (XL) akan mengalami pengurangan bobot paling drastis, lebih ringan sekitar 450 gram.
Menurut Juru Bicara Eksekutif Program Militer AS, helm yang lebih ringan ini mampu mengurangi kelelahan dan membantu pasukan agar tetap waspada. Selain itu, dia mengatakan, helm yang lebih ringan membantu pasukan bekerja lebih efektif dan bahkan meningkatkan kemampuan bertahan hidup mereka secara keseluruhan.
Angkatan Darat AS juga sedang mengimplementasikan sistem perlindungan baru untuk kepala, leher, dan wajah yang diproyeksikan akan tersedia pada 2020. Mereka tengah mengembangkan pelindung tubuh yang lebih baik untuk tentara yang bertubuh kecil hingga yang bertubuh besar. Termasuk yang lebih sesuai untuk tentara wanita.
Sumber : https://tekno.tempo.co/

TNI Teken Kerja Sama dengan Kampus dan Industri Alutsista Swedia

Kerja Sama dengan Industri Alutsista Swedia
Kerja Sama dengan Industri Alutsista Swedia 

Dalam rangka penguatan sistem pertahanan di Indonesia, TNI adakan Seminar Scenario Forecasting Technology dan menandatangani Letter of Aggreement. Kerja sama itu dilakukan dengan Swedish Defence University, dan Industri Alutsista asal Swedia SAAB.
Acara yang dibuka langsung oleh Aspers Panglima TNI Marsda, TNI Bambang Samoedro ini dihadiri oleh Stevan Silversklold dari Swedish Defence University, Anders Goyer selaku Head Of SAAB Indonesia. Mereka turut menandatangani Letter of Aggreement.
Aspers Panglima TNI Marsda, TNI Bambang Samoedro menyambut kerja sama di bidang pendidikan pertahanan ini. Menurutnya, acara ini memiliki dampak yang positif untuk kemajuan prajurit TNI di Indonesia, terutama dalam bidang pertahanan.
"Saya yakin kegiatan ini akan bisa disampaikan sebagai tambahan wawasan dalam menyambut pertahanan teknologi, besar harapan saya kepada seluruh peserta seminar untuk dapat memanfaatkan sumber dayanya di Indonesia," kata Bambang di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (29/03/17).
Selanjutnya, Anders Foyer sebagai Head Of SAAB Indonesia mengatakan, acara ini diadakan untuk membangun kerja sama antara Swedia dan Indonesia. Karena melihat banyaknya produk yang digunakan Indonesia berasal dari Swedia.
"Kerja sama untuk menjembatani kerja sama dari Swedia ke Indonesia. Produk yang dipasarkan di Indonesia, Port management sistem di Tanjung Priok, SAAB merupakan satu-satunya perusahaan di dunia yang bisa membuat pesawat tempur, dan kapal selam," ujar Anders.
Sementara itu, Stefan Silversklold selaku perwakilan dari Swedish Defence University mengatakan program ini akan diadakan selama lima bulan sampai bulan Agustus. Di sela-sela program peserta akan mengunjungi beberapa tempat di Swedia.
"Akan ada kunjungan selama tiga Minggu di Swedia, Stockholm, Linkoping, dan beberapa tempat," ujar Stefen.
Peserta kegiatan ini terdiri dari Perwira menengah perwakilan dari satuan kerja Mabes TNI sejumlah 60 orang. Peserta tersebut nantinya akan diberangkatkan ke Swedia untuk mempelajari bagaimana sistem pertahanan di Swedia, yang nantinya akan diterapkan di Indonesia.
Sumber : https://news.detik.com/

Jenderal Rusia Melihat Patroli AS di Laut Hitam sebagai Potensi Ancaman Keamanan

Patroli AS di Laut Hitam
Patroli AS di Laut Hitam 

Patroli yang dilakukan kapal militer AS di Laut Hitam dan Laut Baltik dapat memberikan ancaman keamanan terhadap Rusia karena belum diketahui misil apa yang terdapat di dalam kapal tersebut, ujar Letnan Jenderal Viktor Poznikhir, Kepala Staf Jenderal Angkatan Bersenjata Rusia
“Kapal militer bermisil balistik yang berpatroli di Laut Hitam dan Laut Baltik adalah ancaman untuk fasilitas-fasilitas Rusia bagian Eropa, karena kami tidak tahu senjata apa yang digunakan: misil jelajah atau misil pencegat,” ujar Poznikhir dalam Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa, Selasa (28/3).
“Potensi serangan dari misil balistik adalah ancaman yang serius baik bagi Rusia mau pun China. Kapal AL AS yang dilengkapi dengan misil pencegat biasanya juga dilengkapi dengan misil jelajah Tomahawk yang berjarak jangkau hingga 2.500 kilometer,” ujar Poznikhir.
Kapal perang amfibi milik AS, USS Carter Hall, masuk ke wilayah Laut Hitam minggu lalu untuk mengikuti latihan militer dengan Romania.
“Kapal ini dikirim dengan USS Bataan untuk mendukung operasi keamanan maritim dan upaya kerja sama di medan perang untuk keamanan di wilayah operasi Armada Keenam AS,” demikian diungkapkan Angkatan Laut AS dalam rilis pers tanggal 23 Maret.
Armada tersebut ikut serta dalam pengerahan militer NATO di Eropa Timur seiring meningkatnya tensi dengan Rusia setelah kudeta Ukraina tahun 2013.
Rusia telah berkali-kali mengatakan bahwa langkah NATO itu provokatif, bertolak belakang dengan perjanjian kedua negara sebelumnya dan dapat berujung pada ketidakstabilan di sana.
Sumber : https://sputniknews.com/politics/201703281052029417-us-patrol-black-sea/

Airbus dan PTDI Serahkan 7 Helikopter Militer untuk TNI

Helikopter Militer untuk TNI
Helikopter Militer untuk TNI 

Airbus Helicopters dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah bersama-sama menyerahkan 7 unit helikopter kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI). Helikopter yang diserahkan terdiri dari satu unit helikopter H215M dan dua H225M kepada TNI Angkatan Udara (AU), serta dua helikopter intai bersenjata tipe Fennec kepada TNI Angkatan Darat (AD).
Sementara untuk TNI AL, dua unit platform dasar, atau disebut juga dengan "unit hijau", pertama tipe AS565 MBe Panther telah tiba di Indonesia untuk diperlengkap dan diselesaikan oleh PTDI.
Seluruh helikopter ini telah diserahkan, dan beberapa di antaranya tercatat diserahkan satu tahun lebih cepat dari jadwal. Penyerahan lebih awal tersebut dapat terlaksana berkat kerja sama industri yang strategis antara Airbus Helicopters dan PTDI. Sebagai mitra industri di Indonesia, PTDI akan melengkapi helikopter-helikopter tersebut dengan sejumlah peralatan penunjang misi kunci di dalam negeri, sebelum menyerahkannya pada masing-masing matra TNI.
"Kemampuan untuk memenuhi sejumlah program penting pertahanan Indonesia lebih cepat dari jadwal membutuhkan kerja sama industri yang teramat kuat serta komitmen yang teguh. Adanya mitra yang memiliki nilai-nilai serta dorongan yang sama kuatnya dengan kami menjadi suatu keharusan, dan kami telah menemukan mitra tersebut dalam diri PTDI," papar Managing Director Airbus Helicopters Indonesia, Ludovic Boistot dalam keterangan tertulis, Rabu (29/3/2017).
Dengan kontrak yang mencakup 11 unit, helikopter AS565 MBe Panther untuk TNI AL dilengkapi oleh PTDI dengan sistem persenjataan antikapal-selam, yang mencakup dipping sonar dan peluncur torpedo. Dua unit platform dasar pertamanya telah tiba di Indonesia pada pertengahan Maret tahun ini, untuk kemudian dilengkapi dan diselesaikan oleh PTDI serta diserahkan pada TNI AL pada pertengahan tahun.
Dua helikopter Fennec yang diserahkan pada Januari 2017 adalah dua unit intai pertama untuk TNI AD. Bersama dengan unit pertama yang telah diserahkan pada 2015, ketiga helikopter ini akan digunakan untuk pelatihan pilot. Sembilan unit lainnya dari 12 unit yang telah dipesan akan diserahkan dalam tahun ini.
Dua unit H225M yang telah diserahkan pada pertengahan Maret lalu ke TNI AU adalah unit ketiga dan keempat dari total enam unit yang disepakati dalam kontrak dengan pelanggan. Penyerahan unit-unit berikutnya kepada TNI AU akan diselesaikan dalam beberapa minggu mendatang. Helikopter multi-peran H225M ini dimaksudkan untuk misi tempur, pencarian dan penyelamatan (CSAR).
Airbus Helicopters dan PTDI saat ini menjalankan kerja sama untuk 11 tipe helikopter berbeda, yaitu H225M, H215, AS565 MBe Panther, AS365 N3+, H135, Fennec (AS550, AS555 dan AS350), dan juga pada platform yang sudah ada lebih dahulu seperti NAS330, NSP332, dan MBO-105, untuk armada Kepresidenan Indonesia, TNI AU, TNI AD, TNI AL, POLRI, Basarnas, dan pusat pelatihan STPI; mendukung pelaksanaan berbagai misi operasional.
"Kami amat menghargai kepercayaan yang telah diberikan oleh Kementerian Pertahanan Indonesia pada kami, dan terus berkomitmen untuk menghadirkan solusi serta layanan terbaik demi mendukung industri kedirgantaraan Indonesia. Kami amat senang dapat memenuhi janji kami pada para pelanggan. Penyerahan lebih awal tersebut merefleksikan kemitraan yang telah berakar kuat dan dapat diandalkan dengan Airbus Helicopters selama beberapa dekade terakhir," papar CEO dan Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso.
Sumber : https://finance.detik.com/

Jerman Berencana Produksi Jet Tempur Generasi Keenam

Ilustrasi 

Militer Jerman sedang merancang sebuah lompatan besar untuk menaikkan kekuatan tempur alutsistanya dengan merancang jet tempur generasi keenam. Langkah Jerman ini menjadikan negara yang pernah kalah dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II itu kembali menunjukkan taringnya.
Program produksi jet tempur generasi keenam itu rencananya akan digarap oleh Pemerintah Jerman dan industri militer Airbus Defense and Space. Jet tempur yang nantinya akan dioperasikan oleh AU Jerman (Luftwaffe) itu dinamai Future Combat Air System (FCAS).
Jika sudah siap operasional, FCAS akan dijagokan untuk mengganti jet-jet tempur Luftwaffe yang sudah memasuki masa purna tugas, Panavia Tornado.
Kehadiran FCAS nantinya sekaligus menjadi partner bagi Eurofighter Typhoon yang sudah dimiliki oleh Luftwaffe untuk meraih keunggulan udara di kawasan Eropa.
Sebagai jet tempur generasi keenam FCAS menggunakan dua mesin, dioperasikan oleh dua awak dan rencananya militer Jerman sudah siap mengoperasikan FCAS antara tahun 2030 hingga 2040.
Operasional tempur FCAS juga dirancang untuk bisa menjalankan misi tempur nirawak. A. Winardi
Sumber : http://angkasa.grid.id/

Paket Pengiriman Tuntas, Indonesia Kini Punya 61 Unit MBT Leopard 2Ri dan 42 Unit Leopard 2A4

MBT Leopard 2Ri
 MBT Leopard 2Ri 

On Time Delivery, menjadi kalimat yang pas untuk menggambarkan proses pengiriman MBT (Main Battle Tank) Leopard 2A4 Revolution atau Leopard 2Ri (Republic of Indonesia). Seperti telah diwartakan sebelumnya, disebut bahwa pengiriman MBT Leopard 2A4 Revolution bakal tuntas pada Maret 2017. Dan sebelum bulan ini berakhir, pada Senin 27 Maret lalu telah tiba gelombang terakhir dari total pengadaan 61 unit MBT asal Jerman ini.
Dilayarkan menggunakan kapal MV Hoegh Bangkok, sebanyak 21 unit MBT Leopard 2A4 Revolution tiba IPC (Indonesia Port Corporation) Car Terminal, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Dengan kedatangan 21 unit tank Leopard 2RI maka lengkaplah sudah 61 unit tank Leopard 2RI ini diterima Indonesia, melengkapi 42 unit tank Leopard 2A4 yang telah tiba sebelumnya, untuk selanjutnya MBT ini akan diserahkan kepada Kavaleri TNI AD sebagai penggunanya.
Leopard 2 Ri merupakan versi Leopard 2A4 standar yang mendapatkan sejumlah upgrade dari Rheinmetall Defence. Letak perbedaan utama dengan versi 2A4, yakni pada Leopard 2Ri telah digunakan lapisan komposit Advanced Modular Armor Protection (AMAP). Lapisan pelindung ini terdiri atas materi nanokeramik serta titanium dan baja alloy, yang diklaim memberikan kemampuan perlindungan yang jauh lebih baik. Karena sifatnya yang modular alias bisa dibongkar pasang, pengguna bisa memilih variasi kemampuan proteksi sesuai kebutuhan, seperti untuk menangkal granat berpeluncur roket (RPG) atau untuk peledak improvisasi (IED).
Meski ada perbedaan penampilan, antara Leopard 2A4 dan Leopard 2Ri mengusung jeroan mesin yang sama, bahkan untuk laras meriamnya pun tak berbeda, yakni mengadopsi meriam Rheinmetall L/44 120mm yang menggunakan sistem pengisian amunisi manual. Dalam proyek pengadaan Leopard yang bernilai US$280 juta, jumlah tank bekas pakai AD Jerman yang akan dikirim sebanyak 153 unit, terdiri dari tank Leopard 2Ri sebanyak 61 unit, tank Leopard 2A4 sebanyak 42 unit, dan sisanya tank IFV (Infantry Fighting Vehicle) Marder 1A3 sebanyak 50 unit. Selain itu kavaleri TNI AD juga akan mendapatkan 11 unit armoured recovery and engineering vehicles bekas pakai AD Jerman. Diantaranya adalah Bergepanzer 3Ri Buffalo, Pionierpanzer 2Ri Dachs, dan tank jembatan Bruckenlegepanzer Biber (Beaver) atau disingkat BRLPZ-1. (Sam)
Sumber : http://www.indomiliter.com/

PT PAL Akan Serahkan KRI I Gusti Ngurah Rai-332 Pada Oktober 2017

KRI I Gusti Ngurah Rai-332
KRI I Gusti Ngurah Rai-332  

PT PAL Indonesia (Persero) tengah menyelesaikan kapal perang kedua jenis Guided Missile Frigate/Perusak Kawal Rudal (PKR). Kapal perang kedua yang tengah dikerjakan BUMN asal Surabaya ini merupakan pesanan TNI AL.
Ini merupakan kapal perang kedua buatan PT PAL pertama kali untuk kebutuhan dalam negeri. Sebelumnya, kebutuhan kapal jenis PKR ini dipesan dari luar negeri.
"Untuk kita sendiri frigate (ringan) ini di buat oleh PT PAL Indonesia pertama kali. Biasanya beli, tetapi ini untuk AL (TNI Angkatan Laut) untuk tipe ini kita pakai sendiri, belum ekspor," jelas Direktur Utama PAL, Firmansyah Arifin, Selasa (28/3/2017).
Firmansyah menambahkan, sebelumnya PAL sudah menyerahkan kapal perang pertama KRI RE. Martadinata-331 ke TNI AL beberapa waktu lalu. Kemudian untuk pesanan kapal kedua akan dikirim pada Oktober 2017 mendatang.
"Ada dua unit, satu sudah serah terima. Kedua mungkin Oktober-November kita serahkan," tutur Firmansyah.
Kapal perang jenis frigate ini memiliki panjang 105 meter dengan lebar 14 meter. Kapal ini bisa melesat dengan kecepatan 28 knots. Saat beroperasi, PKR bisa membawa 120 kru kapal.
Kapal perang ini memiliki kemampuan perang antar permukaan. Dengan tembakan torpedo dan rudal, PKR bisa menenggelamkan kapal perang dan kapal selam musuh.
"Ini bisa untuk perang 4 matra sekaligus, perang permukaan sesama kapal perang, perang bawah air melawan kapal selam, perang dengan udara pesawat tempur, perang elektronika," kata Firmansyah.
Selanjutnya yang tidak kalah canggih adalah perang elektronika. Kapal perusak ini bisa membajak sistem persenjataan dan kendali dari kapal perang musuh.
"Perang elektronika itu misalnya mengarahkan rudal ke satu titik itu computerized. Kalau di perang elektronik itu di-jammer," tutur Firmansyah
Sumber : https://finance.detik.com/

Indonesia Desak Negara-Negara Hapuskan Senjata Nuklir

Hulu Ledak Nuklir
Hulu Ledak Nuklir 

Pemerintah Indonesia mendesak negara-negara pemilik senjata nuklir agar segera memulai proses perlucutan senjata nuklirnya mengingat besarnya dampak senjata nuklir terhadap kemanusiaan di dunia, seperti disampaikan dalam keterangan pers dari Kementerian Luar Negeri di Jakarta, Selasa.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Duta Besar Dian Triansyah Djani, Wakil Tetap RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, pada Konferensi Perundingan Traktat pelarangan senjata nuklir di New York (27/3).
"Situasi keamanan dunia saat ini sudah sangat mengkhawatirkan karena ancaman senjata nuklir. Untuk itu, satu-satunya cara untuk melawan ancaman dan penggunaan senjata nuklir adalah penghapusan total seluruh senjata nuklir di dunia," ujar Dubes Dian Triansyah Djani di hadapan Sekjen PBB dan negara-negara peserta konferensi.
Menurut Dubes Djani, selama ini negara-negara pemilik senjata nuklir menjadikan alasan keamanan sebagai upaya melegitimasi keberadaan senjata nuklirnya.
Sebaliknya, Dubes Djani memandang bahwa justru keberadaan senjata nuklir tersebut semakin mengancam keamanan global. Untuk itu, Indonesia sangat mendukung dan berpartisipasi aktif dalam perundingan pelarangan senjata nuklir.
Konferensi perundingan Traktat perlarangan senjata nuklir dilaksanakan di New York sejak 27 hingga 31 Maret 2017. Konferensi itu dihadiri oleh Wakil Tinggi Sekjen PBB untuk Perlucutan Senjata, Presiden Majelis Umum PBB dan negara-negara anggota PBB.
Pertemuan tersebut merupakan implementasi dari resolusi Majelis Umum PBB yang disahkan pada Oktober 2017.
"Indonesia memandang bahwa Traktat pelarangan senjata nuklir tersebut nantinya harus kuat dan tegas sehingga tidak lagi memberikan celah yang melegitimasi keberadaan senjata nuklir di dunia," kata Dubes Djani.
Dia menekankan pentingnya memastikan implementasi dari prinsip-prinsip dalam traktat tersebut.
Dubes Djani juga menekankan bahwa negara-negara pemilik senjata nuklir tidak perlu khawatir bahwa Traktat pelarangan senjata nuklir yang sedang dinegosiasikan tersebut akan memperlemah Perjanjian Non-Proliferasi (Non-Proliferation Treaty/NPT). Sebaliknya, traktat baru tersebut justru akan memperkuat dan melengkapi NPT.
Konferensi perundingan Traktat pelarangan senjata nuklir tersebut merupakan putaran pertama dari dua putaran negosiasi yang telah direncanakan. Putaran negosiasi selanjutnya akan diselenggarakan di New York, pada 15 Juni hingga 7 Juli 2017.
Sumber : http://www.antaranews.com/

Teknologi Sederhana di Balik Rudal Pintar AIM-9 Sidewinder

Rudal Pintar AIM-9 Sidewinder
Rudal Pintar AIM-9 Sidewinder 

Bagaimana pun, pabrikan senjata di negara-negara maju akan membuat produk rudal pintar andalannya sedemikian rupa, hingga terkesan canggih dan sulit ditiru. Tapi jika ditelusuri, cukup banyak dari rudal-rudal pintar itu yang sesungguhnya memiliki konsep sederhana.
Rudal paling laris, AIM-9 Sidewinder, yang digunakan di hampir 60 negara, misalnya. Rudal udara ke udara yang satu ini pada prinsipnya hanya terdiri dari dua bagian.
Bagian utama adalah roket konvensional berhulu ledak ukuran kecil. Kedua, sistem kendali yang dipasang di kepalanya.
Kesederhanaan konsep dan kemudahan operasionalnya membuat rudal ini disukai banyak angkatan udara dunia. Tak heran, jika dalam waktu singkat, Aerojet dan Raytheon, pembuat AIM-9 Sidewinder langsung kebanjiran order.
Aerojet/Raytheon sendiri sebenarnya bukanlah perancang AIM-9 Sidewinder sesungguhnya. Perancang sebenarnya adalah Dr. William B. McLean.
Konsep AIM-9 Sidewinder yang amat sederhana bisa dikatakan berangkat dari kebiasaan hidupnya. Direktur Teknik Badan Uji Persenjataan Angkatan Laut AS ini telah “melepas” beberapa bagian vital dari teknologi rudal sebelumnya yang dipandang tabu untuk dibuang. Di antaranya adalah sub-unit pelacak gelombang radar.
Di tangan McLean, bagian terpenting dari Sidewinder praktis hanyalah perangkat penjejak panas (heat seeker/detector) dan kendali penerbangan (flight control) yang dikendalikan otomatis oleh sistem logika fuzzy yang “menginduk” pada perangkat penjejak panas itu.
Kesederhanaan konsep inilah yang membuat Sidewinder kerap dijadikan bahan diskusi di sekolah-sekolah, khususnya untuk menerangkan rancang bangun persenjataan masa kini. Bagi pelajar maupun enjinir, konsepnya begitu inspiratif.
Kisah perancangan AIM-9 Sidewinder sebenarnya berawal dari himpunan keluhan penerbang pesawat penyergap AS yang kerap gagal menembak jatuh pesawat pembom Jerman.
Keluhan-keluhan itu mencuat dalam perang udara di Eropa, dari masa Perang Dunia II. Kala itu memang tak ada pilihan lain selain menggunakan rudal udara ke udara dengan sistem penjejak gelombang radar.
Kala itu radar memang dikenal sebagai teknologi paling maju dalam dunia penerbangan. Namun, rudal dengan pelacak radar memiliki pola kerja yang amat rumit , merepotkan, namun ironisnya kerap meleset.
Awalnya, baik pihak angkatan udara maupun angkatan laut AS yang mengoperasikan pesawat penyergap tak tertarik mengganti sistem penjejak ini dengan sistem penjejak non-radar.
Namun, sikap keras hati tersebut akhirnya luluh setelah Direktur Teknik Badan Uji Persenjataan AL AS, Dr William B. McLean berhasil menguji coba rudal baru di China Lake, Gurun Mojave, Nevada, pada 1953.
Rudal eksperimental dengan sistem pelacak panas mesin ini amat agresif memburu sebuah drone B-17. Senjata baru ini bekerja amat mandiri. Cukup menekan trigger, sang rudal akan mencari sendiri sasarannya. Fire and forget!
Profil AIM-9 Sidewinder juga dipandang mengagumkan karena bentuknya yang slim. Jika rudal sebelumnya relatif berbobot dan makan tempat, panjang rudal ini hanya 2,87 meter dan diameter 10 cm. Beratnya pun cuma 70 kg.
McLean berpikir, kenapa mesti repot-repot melumuri sasaran dengan gelombang radar, jika buruannya telah dengan sendirinya memancarkan gelombang elektromagnet yang bisa dimanfaatkan untuk penjejakan?
Yang dimaksud gelombang elektromagnet adalah gelombang yang dipancarkan radiasi infra merah dari panas cerobong keluaran gas mesin (nozzle).
Gelombang semacam ini sudah cukup memadai untuk dijejak sensor infra merah. Tak terkecuali mesin dari pesawat siluman sekali pun. Sistem penjejak panas bahkan tetap bisa menyasar pesawat yang berlindung di balik awan.
Inti dari sistem penjejak AIM-9 Sidewinder hanyalah sebuah komponen elektrik mungil bernama sel fotovoltaik atau yang biasa kita kenal sebagai solar-cell, dan pemindai gelombang inframerah, yang keduanya ada di bagian kepala rudal.
Solar-cell bukan lah barang baru. Komponen elektrik ini lazim digunakan sebagai komponen utama pemanas air dan pembangkit listrik tenaga surya.
Cara kerja sistem penjejak AIM-9 Sidewinder pun sebenarnya tidak rumit. Tak lama setelah saklar diaktifkan, sistem penjejak akan bergerak dan berorientasi melihat obyek-obyek bergerak yang ada di depan pesawat.
Di dalam sistem penjejak ini, solar cell yang tertanam di belakang pemindai gelombang inframerah akan memetakan obyek-obyek bersuhu ekstrem yang ada di hadapannya, dalam jarak beberapa kilometer.
Bayangan obyek-obyek tersebut diarahkan masuk ke sistem pemindai infra merah lewat dua cermin cekung yang disusun seperti teleskop Cassegrainian. Fisik pemindai infra-merah sendiri tak lebih dari sebuah cermin bundar bercorak bening-gelap yang bisa berputar.
Corak bening-gelap ini sendiri adalah trik untuk memastikan posisi dan profil obyek yang sedang dilihat.
Lewat pindaian gelap-terang, obyek dengan panas dominan akan segera diteruskan ke solar cell, yang selanjutnya akan diproses perangkat elektronik di belakangnya sebagai sasaran tembakan.
Penjejakan sasaran sendiri baru akan dimulai setelah penerbang mengunci (locked-on) sasaran. Lewat kabel khusus, obyek-obyek yang “dilihat” rudal akan segera diteruskan ke layar monitor dasbor kokpit agar bisa dipilah-pilah oleh penerbang.
Ketika mengunci sasaran, sinyal listrik dari sasaran terpilih inilah yang selanjutnya akan diolah dan dijadikan pulsa listrik penggerak sistem autopilot rudal.
Di saat yang sama, perangkat elektronik rudal akan aktif mengikuti sasaran, kemana pun bergerak. Dalam ranah elektronika dasar, “proses mengikuti sasaran” akan dikerjakan dengan mudah oleh sistem elektronik berbasis sistem logika.
Dengan sistem ini, otak rudal hanya akan mendefinisikan “Ya” dan “Tidak”, atau “I” dan “0”. Sistem semacam dahulu dikenal sebagai sistem biner, basis dari cara kerja komputer.
Output “Ya” dan “Tidak” itu pula yang selanjutnya dipakai untuk menggerakan servo (mekanik penggerak) empat sirip yang terpasang di bagian depan. Singkat kata, dengan gerakan sirip-sirip ini, rudal akan diperintah untuk terbang menuju sasaran.
Selama tak ada gangguan sinyal, sasaran praktis akan terus mendekat karena kecepatan rudal AIM-9 Sidewinder jauh lebih tinggi dari kecepatan pesawat terbang. A. Darmawan/Remigius S.
Sumber : http://angkasa.grid.id/

Gahar dan Canggih Helikopter Serang Kamov Ka-52 Alligator Rusia

Helikopter Serang Kamov Ka-52 Alligator
Helikopter Serang Kamov Ka-52 Alligator 

Ka-52 Alligator adalah helikopter serang yang dioperasikan oleh Angkatan Udara Rusia. Ka-52 Alligator yang dikembangkan oleh Biro Desain Kamov (bagian dari Russian Helicopters) ini merupakan varian kursi ganda dari helikopter serang Ka-50.
Ka-52 mampu menghancurkan target darat lapis baja (tank), target udara yang terbang dengan kecepatan rendah, dan personel musuh di garis depan dan dalam. Ka-52 juga difungsikan sebagai helikopter pengawas, pos komando udara untuk kelompok helikopter serang, dukungan tempur dalam misi pendaratan pasukan, patroli udara dan pengawalan konvoi militer.
Pengembangan Ka-52 dimulai pada tahun 1994 dan prototipe pertamanya selesai dibuat pada bulan Desember 1996 untuk selanjutnya terbang pada bulan Juni 1997. Ka-52 mulai diproduksi pada tahun 2008 di pabrik Progress Arsenyev Aviation di wilayah Primorye, Rusia.
Rusia pernah berencana melengkapi kapal serbu amfibi 'Mistral' yang dibeli dari Perancis dengan helikopter Ka-52K, yang merupakan versi angkatan laut dari Ka-52 Alligator namun gagal setelah pihak Perancis membatalkan sepihak penjualan LHD Mistral ke Rusia dan akhirnya dijual ke Mesir.
Pada bulan Desember 2010, Russian Air Force's 334th Tactical Deployment Centre menerima tiga Ka-52 yang difungsikan sebagai helikopter misi khusus. Angkatan Udara Rusia memulai induksi helikopter Ka-52 pada April 2011. Ka-52 menggantikan atau beroperasi bersama armada helikopter serang Ka-50 Black Shark.
Desain Ka-52 masih merupakan hasil modifikasi dari helikopter Ka-50. Perbedaan yang cukup mencolok, Ka-52 memiliki nose (hidung) yang lebih besar dan airframe yang lebih besar karena untuk mengakomodasi dua kursi pilot. Persentase kesamaan airframe, komponen dan sistem dari Ka-52 dan Ka-50 adalah 85 persen.
Ka-52 berdimensi panjang 16 m, tinggi 4,95 m, dan diameter rotor utama 14,5 m. Maksimum berat lepas landas Ka-52 sebesar 10.800 kg. Disebutkan, armor Ka-52 mampu menahan tembakan proyektil 23 mm.
Kokpit dua kursi Ka-52 mengakomodasi kedua awaknya dengan pengaturan side-by-side (berdampingan). Kedua awak duduk di kursi ejeksi K-37-800M. Kokpit kaca canggihnya dilengkapi dengan head-up-display (HUD), empat display multifungsi SMD 66, helmet-mounted sight display, image intensifiers dan GPS receiver. Ka-52 juga diintegrasikan dengan FAZOTRON (cabin desk radio-locator) dan sistem navigasi dan serangan untuk helikopter (NASH).
Pada September 2012 Russian Helicopters menandatangani kontrak jangka panjang dengan Ramenskoye Design Company (RDC) untuk pengiriman peralatan avionik. Tertuang dalam kontrak, RDC bertanggung jawab memasok paket avionik untuk Ka-52 dan Ka-52K untuk rentang tahun 2013 hingga 2020.
Persenjataan
Sisi kanan Ka-52 ditempatkan NPPU-80 movable gun dengan kanon otomatis 2A42 30 mm. Enam cantelan (hardpoint) eksternal pada sayap dapat dipasangi berbagai kombinasi senjata.
Cantelan Ka-52 dapat dipasangi rudal anti tank VIKHR, rudal ATAKA dengan sistem pemandu laser, dan peluncur roket B8V-20 untuk roket S-8 (unguided). Rudal anti tank VIKHR memiliki jangkauan delapan hingga sepuluh kilometer dengan daya penetrasi lapis baja 950 mm. Ka-52 juga dapat dipersenjatai dengan rudal anti pesawat IGLA-V.
Ka-52 dilengkapi dengan radar Phazotron FH-01 Millimeter Wave Radar (MMW) dengan dua antena untuk target udara dan darat. (mast-mounted)
Sistem penanggulangan (countermeasure) disupport oleh jammer elektronik dan IR, radar warning receiver (RWR), sistem deteksi laser, sensor peringatan IR missile dan UV-26 flare/chaff dispensers in wing-tip fairings.
Ka-52 dilengkapi dengan sistem manajemen pertempuran modern yang membuatnya mampu bertukar atau berbagi data dengan helikopter sejenis atau helikopter lainnya.
Mesin
Ka-52 Alligator menggunakan dua mesin turboshaft Klimov WK-2500 yang menggerakkan dua rotor utama (coaxial contra-rotating). Masing-masing mesin menghasilkan daya lepas landas maksimum 2.700 hp. Klimov WK-2500 dilengkapi dengan full authority digital control system (FADEC) baru.
Ka-52 mampu terbang pada ketinggian maksimum 5.500 m. Kecepatan maksimum dan kecepatan jelajahnya masing-masing 310 km/jam dan 260 km/jam. Tingkat pendakian mencapai 13.2 meter per detik, jangkauan penerbangan taktis 460 km, sementara jangkauan penerbangan feri 1.110 km. Helikopter segala cuaca ini juga mampu lepas landas dan mendarat di iklim panas dan di daerah pegunungan tinggi.
Kemampuan terbang Ka-52 terbilang mengesankan karena penggunaan rotor coaxial contra-rotating karena mampu bermanuver ekstrem di ruang terbatas. Dengan demikian memudahkan Ka-52 mengambil posisi serangan yang menguntungkan.
Spesifikasi Ka-52 Alligator :
  • Kru : 2 orang
  • Buatan : Kamov Design Berau
  • Diameter rotor : 14.5 m
  • Panjang : 16 m
  • Tinggi : 4.95 m
  • Berat kosong : 7,700 kg
  • Berat isi : 10,400 kg
  • Berat take-off maksimal : 11,900 kg
  • Kecepatan maksimal : 310 km/jam
  • Batas ketinggian maksimal : 5,500 m
  • Tingkat menanjak : 13.2 meter/detik
  • Daya jelajah : 1,200 km
  • Mesin : 2x Klimov WK-2500
  • Kekuatan mesin : 2,700 tenaga kuda tiap mesin

Sumber : TSM

Radar Acak