Korea Selatan Mulai Pembangunan Kapal Serbu Amfibi Kedua

ROKS Dokdo
ROKS Dokdo 

Korea Selatan telah memulai pembangunan kapal serbu amfibi 14.500 ton untuk digunakan oleh angkatan laut negara tersebut. Badan Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan (DAPA) mengumumkan bahwa pembangunan kapal serbu amfibi kelas Dokdo kedua telah dimulai pada hari Jumat tanggal 28 April.
Sebuah upacara peletakan lunas kapal kelas Dokdo kedua tersebut dilakukan di galangan kapal Hanjin Heavy Industries & Construction Co. di Busan.
Kapal kelas Dokdo kelas pertama, ROKS Dokdo, dibangun di galangan kapal yang sama. Kapal tersebut diluncurkan pada tahun 2005 dan masuk kedinasan pada tahun 2007. Dengan panjang 199 meter dengan beam 31 meter, ROKS Dokdo adalah salah satu kapal amfibi terbesar di Asia, menurut DAPA.
Dinamai sebagai ROKS Marado, kapal kedua tersebut akan diluncurkan pada bulan April 2018, sementara peresmiannya diharapkan akan berlangsung pada tahun 2020, setelah menyelesaikan tes dan evaluasi.
DAPA juga mengatakan bahwa kapal baru tersebut akan memasukkan perbaikan dan peningkatan yang berdasarkan pengalaman AL Korea Selatan mengoperasikan ROKS Dokdo.
Seringkali disebut sebagai "kapal induk ringan" karena kemampuannya untuk membawa helikopter, kendaraan lapis baja, truk, artileri, kapal berkecepatan tinggi dan peralatan lainnya serta ratusan tentara sekaligus. Kapal multi fungsi yang dapat digunakan untuk operasi penjaga perdamaian dan bantuan bencana. "Kapal kelas Dokdo pertama adalah buah yang berharga dari tekad Korea Selatan untuk mampu membela dirinya dan teknologi pembuatan kapal terbaik di dunia," kata Moon Ki-jeong, seorang pejabat senior DAPA.

Setelah Enam Tahun, Modernisasi KC-10A “Extender” USAF Akhirnya Selesai

KC-10A “Extender” USAF
KC-10A “Extender” USAF 

Dengan dikirimnya pesawat terakhir ke Pangkalan Udara Travis, California, selesai sudah program modernisasi pesawat tanker (aerial refueling) McDonnell Douglas KC-10A “Extender” US Air Force/USAF (Angkatan Udara AS) yang menghabiskan waktu selama enam tahun.
Pengiriman pesawat ke-59 itu telah melalui proses modifikasi sistem manajemen penerbangan (FMS) 800 termasuk memasangkan sistem CNS/ATM (Communication, Navigation, Surveillance/Air Traffic Management) terbaru yang dimulai pada tahun 28 Maret 2011 dan baru diumumkan oleh USAF pada 19 April.
Modifikasi tersebut memodernisasi pesawat hingga meningkatkan efektifitas misi dan memperbaiki sistem bahan bakar.
“Sebelumnya sistem FMS 800 menggunakan giroskop untuk menampilkan fungsi dan status pesawat terbang, seperti akselerometer. Giroskop ini sering kali menjadi terlalu panas serta membutuhkan perawatan,” tutur sumber dari USAF seperti dikutip IHS Jane’s, Kamis (27/4/2017).
Sumber tersebut menambahkan, “CNS/ATM menggantikan giroskop tua dengan sebuah sistem inframerah. Sistem tersebut meningkatkan akurasi serta tidak mengalami panas yang berlebihan, sehingga meningkatkan efisiensi bahan bakar pesawat.”
Saat ini USAF memiliki total pesawat tanker sebanyak 510 armada yang terdiri dari: 59 unit McDonnell Douglas KC-10A “Extender”; 342 Boeing KC-135R “Stratotanker”; 18 Lockheed Martin MC-130H “Combat Talon Ils” dan 37 MC-130J “Commando Ils”. Fery Setiawan

Diserang AS dan Israel, Suriah Akan Beli Sistem Pertahanan Udara Rusia

Sistem Pertahanan Udara Rusia
Sistem Pertahanan Udara Rusia 

Presiden Suriah Bashar Assad mengatakan bahwa pihaknya berniat membeli sistem pertahanan udara terbaru Rusia guna menangkal serangan dari Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Suriah.
Assad menyebut pemerintah Suriah sedang berunding dengan Rusia soal rencana pembelian itu.
"Sungguh wajar jika kita harus memiliki sistem seperti itu, untuk bisa mengatasi ancaman udara Israel mau pun rudal AS. Ini bisa terjadi setelah agresi AS di Ash Sha’irat," ujar Assad seperti dikutip kantor berita resmi Suriah, SANA, pada Kamis (27/4) waktu setempat.
AS meluncurkan puluhan rudal jelajah Tomahawk ke lapangan udara militer Suriah di Ash Sha'irat, dekat Homs. AS menjustifikasi serangan itu dengan mengatakan bahwa ia merupakan respons atas dugaan penggunaan senjata kimia di Idlib pada 4 April, yang dituduhkan Washington kepada Damaskus.
Di sisi lain, Israel pada hari Kamis (27/4) meluncurkan misil ke dekat Bandara Internasional Damaskus di Suriah, menyebabkan kerusakan material untuk sebuah fasilitas militer.

Uji Sistem Pertahanan Udara S-350 Vityaz Rusia Akan Selesai Tahun Ini

S-350 Vityaz Rusia
S-350 Vityaz Rusia 

Uji sertifikasi pemerintah Rusia pada sistem pertahanan udara S-350 Vityaz akan selesai pada akhir tahun ini. Hal baik tersebut disampaikan oleh Pavel Sozinov, Perancang Umum Bidang Pertahanan Udara dan Antariksa Almaz-Antey, Senin (24/4/2017) seperti dikutip Kantor Berita Rusia, TASS.
Sementara itu, dalam sebuah wawancara dengan Majalah National Defense, Sozinov mengungkapkan bahwa uji sertifikasi yang dilakukan pemerintah Rusia terhadap S-350 ini dilakukan sampai akhir tahun. Saat ini uji tembak pembuka sedang berlangsung.
Sistem radar dan kontrol sampai saat ini sedang diuji secara penuh tanpa adanya pertentangan yang mendasar.
“Selama periode watu yang tersedia dibutuhkan statistic peluncuran tempur dan intersepsi target yang sesungguhnya dalam berbagai kondisi manuver yang akan dikumpulkan,” pungkas Sozinov. Fery Setiawan

Korea “Jual” Kapal Perang ke Filipina Seharga 100 Dolar

Kapal Perang Korea Selatan dijual ke Filipina
Kapal Perang Korea Selatan dijual ke Filipina 

Korea Selatan mencatat rekor unik dalam “penjualan” kapal perangnya ke negara lain.
Korea Selatan akan menyerahkan kapal perang anti-kapal selam tua kelas Pohang kepada Filipina pada tahun ini dengan imbalan hanya 100 dolar Amerika Serikat (satu juta rupiah lebih), kata kementerian pertahanan Filipina, Kamis (27/4/2017).
Kapal tersebut akan meningkatkan kemampuan negara kepulauan itu meronda wilayah luas perbatasan lautnya.
Di luar Amerika Serikat, bekas penjajah dan sekutu lama keamanannya, Korea Selatan menjadi sumber terbesar perangkat keras tentara Filipina, mulai dari pesawat tempur dan kapal patroli hingga kendaraan lapis baja serta truk tentara.
Manila menerima dua pesawat tempur ringan FA-50 dari Seoul pada Rabu dan dua lagi akan dikirimkan pada bulan depan untuk melengkapinya menjadi 12 pesawat, dengan kesepakatan 18 miliar peso.
Filipina menyatakan minatnya mendapatkan enam pesawat serupa.
“Kami berharap mendapatkan kapal tersebut dalam tahun ini,” kata juru bicara pertahanan Arsenio Andolong tentang kapal perang tersebut.
“Pembayaran akan berupa sumbangan. Kami akan membayar 100 dolar AS, tapi kapal pengawal itu akan tetap mengalami Perbaikan,” katanya.
Dia mengatakan tidak tahu berapa banyak Filipina harus mengeluarkan biaya untuk memperbaiki dan memulihkan kapal perang tersebut.
Andolong mengatakan, Filipina dapat memperoleh hingga tiga kapal perang serupa, karena Seoul mengganti dengan kapal lebih baru dan lebih cepat.
“Itu mungkin kapal tua tapi pasti akan meningkatkan kemampuan kami meronda perairan kami dan melawan terorisme,” tambahnya.
Korea Selatan menyumbangkan banyak perangkat keras militer kepada Filipina dan menyatakan terima kasih atas peran Manila dalam Perang Korea pada 1950-1953.
Spesifikasi Korvet Kelas Pohang
  • Displacement : 1.200 ton
  • Panjang : 88,3 m
  • Beam : 10 m
  • Draft : 2,9 m
  • Kecepatann : Max 32 knot
  • Jelajah 15 knot
  • Jangkauan : 4.000 mil laut
  • Awak : 95 orang
Persenjataan :
  • 2 x rudal MM-38 Exocet
  • 1 x meriam OTO Melara 76 mm/62
  • 2 x meriam Emerlec 30 mm
atau
  • 2 x meriam OTO Melara 76 mm/62
  • 4 x rudal Harpoon 
  • 2 x meriam Nobong 40 mm/70 twin
  • 2 x tabung torpedo triple Mark 32

Prancis Pesan Kendaraan Militer Griffon dan Jaguar

Griffon
Griffon 

Badan Pengadaan Pertahanan Prancis (DGA) telah melakukan pemesanan kepada Nexter, Renault Trucks Defense dan Thales untuk kendaraan Griffon dan Jaguar, untuk mendukung program modernisasi militer Scorpion.
Program ini menyediakan pengiriman oleh Temporary Business Grouping, sejumlah 1.668 kendaraan Griffon dan 248 Jaguar ke Angkatan Darat Prancis, beserta fasilitas pendukung logistik terkait.
Dalam pesanan produksi ini, yang telah dipesan sebagai bagian dari kontrak kendaraan lapis baja multi-peran, akan mencakup pengadaan 319 kendaraan Griffon dan 20 kendaraan Jaguar.
Kendaraan lapis baja multi-peran Griffon dan kendaraan tempur dan intai lapis baja Jaguar ditujukan untuk masing-masing menggantikan VAB dan AMX10RC, SAGAIE ERC dan kendaraan VAB HOT yang digunakan oleh Angkatan Darat Prancis selama lebih dari 30 tahun.
Direktur program Scorpion Jean-François Pellarin mengatakan: "Kami bangga dengan tanda kepercayaan baru dari pihak Badan Pengadaan Pertahanan Prancis ini dan tidak sabar untuk mulai memproduksi peralatan baru ini, yang akan memproyeksikan kemampuan operasional tentara ke masa depan."
Produksi kendaraan baru ini akan dimulai setelah 27 bulan pengembangan, kata pihak Thales.
Pengiriman pertama Griffon dan Jaguar diperkirakan akan berlangsung pada tahun 2018 dan 2020.
Kontrak yang diberikan oleh DGA juga mencakup dukungan logistik dan pelatihan terkait.
Perusahaan peralatan pertahanan darat Prancis Nexter selama ini juga terlibat dalam penyediaan sistem senjata dan amunisi untuk Angkatan Udara dan Angkatan Laut Perancis.
Sementara Renault Trucks Defense mengembangkan dan memproduksi berbagai macam kendaraan lapis baja, taktis dan logistik.
Mereka juga memasok driveline 8x8 lengkap untuk 630 kendaraan tempur infanteri milik Angkatan Darat Prancis dan sasis khusus untuk howitzer swagerak 155mm Caesar dari Nexter Systems.

Rudal S-500 Mampu Menyasar Target hingga Lapisan Luar Bumi

S-500 Prometey
S-500 Prometey 

Sistem rudal pertahanan udara terbaru Rusia, S-500 Prometey, mampu menyasar target hingga lapisan atas atmosfer bumi, ujar Pavel Sozinov, CEO perusahaan Almaz Antei yang merupakan perancang sistem mutakhir tersebut, Senin (24/4).
“Kita berbicara tentang bagaimana sistem ini mampu mengakis serangan yang berada di lapisan atmosfer tidak padat, seperti di lapisan yang berjarak seratus kilometer dari bumi,” ujarnya kepada majalah National Defense.
Menurutnya, S-500 “mampu menghadapi sistem apa pun yang akan hadir di masa depan”.
S-500 Prometey merupakan sistem pertahanan canggih anti-pesawat dan anti-rudal yang sedang dikembangkan Rusia. Sistem yang juga dikenal dengan nama 55R6M Triumfator-M ini diklaim memiliki jangkauan hingga 600 kilometer. S-500 dapat secara bersamaan menangkis hingga sepuluh rudal balistik dan hipersonik yang melaju dengan kecepatan hingga tujuh km/detik.
Sebelumnya, Panglima Pasukan Kedirgantaraan Rusia Kolonel Jenderal Viktor Bondarev mengatakan bahwa pasukannya akan mulai mengoperasikan sistem pertahanan udara canggih S-500 Prometey dalam waktu dekat.
“Setiap tahun, kami mendapat lima sistem pertahanan udara S-400 dan juga stasiun radar baru. Kami puas dengan laju pemasokan ini, dan saat ini pengembangan lebih lanjut tengah dikerjakan. Sistem rudal modern S-500 dikembangkan dengan cepat, dan dalam waktu dekat akan mulai dioperasikan untuk pertahanan udara,” ujarnya.

Pesawat Tempur JF-17B/FC-1B Kursi Ganda Terbang Perdana

Pesawat Tempur JF-17B/FC-1B Kursi Ganda
Pesawat Tempur JF-17B/FC-1B Kursi Ganda 

Pesawat tempur JF-17B Thunder/FC-1B Xiaolong berkursi ganda buatan Pakistan Aeronautical Complex/Chengdu Aircraft Industry Corporation (PAC/CAC) telah melakukan penerbangan perdananya, menurut foto-foto yang diposkan di forum online Tiongkok pada tanggal 27 April.
Varian baru pesawat tempur JF-17/FC-1 tersebut diyakini telah menyelesaikan penerbangan pertamanya dari lapangan udara CAC di Chengdu, di mana hanya beberapa hari sebelum nya pesawat itu difoto tengah melakukan taxiing test sejak setidaknya pada tanggal 24 April.
Foto-foto yang baru saja diposting tersebut mengkonfirmasi bahwa pesawat tempur tersebut memiliki stabilizer vertikal swept back yang lebih besar seperti yang terlihat pada model pesawat yang diperlihatkan di Airshow China pada bulan November 2016. Foto-foto itu juga mengkonfirmasi bahwa varian tersebut memiliki dorsal spine yang lebih besar, yang menambahkan kapasitas bahan bakar untuk mengimbangi penambahan berat.
Spesifikasi yang diberikan oleh Aviation Industry Corporation of China (AVIC) menyatakan 'Pesawat Latih Kursi Tandem FC-1' memiliki bentang sayap lebih besar (9.465 m) daripada varian kursi tunggal (8,5 m) dan juga bagian hidung yang sedikit dimodifikasi.
Seorang pejabat AVIC mengatakan kepada Jane di acara IDEX 2017 di Abu Dhabi bahwa sistem fly-by-wire baru telah membantu mengurangi bobot varian baru tersebut.
Menurut Jane's All the World's Aircraft: Development & Production, sebuah kartu display yang muncul beberapa tahun yang lalu mengutip dimensi varian baru yang sedikit berbeda dari yang ada pada varian kursi tunggal, termasuk tinggi (4,6 m bukan 4,7 untuk kursi tunggal) dan panjang (14,5 m bukan 14,2 m).
Model kursi tandem FC-1 pertama kali dipamerkan di Paris Air Show pada bulan Juni 2013 oleh China National Aero-Technology Import & Export Corporation (CATIC).
Laporan media Tiongkok menyebutkan prototipe pertama dari pesawat varian kursi ganda tersebut selesai pada akhir 2016.

First Steel Cutting LPD 124 Meter PT PAL Pesanan TNI AL

LPD 124 Meter PT PAL Pesanan TNI AL
LPD 124 Meter PT PAL Pesanan TNI AL 

Pengembangan teknologi perkapalan dalam menciptakan kapal terbaik untuk negeri, menjadi fokus insan PAL Indonesia. Setelah memproduksi Kapal Landing Platform Dock (LPD) 125 Meter 2011 silam melalui Transfer of Technology, kini telah dikembangkan menjadi Strategic Sealift Vessel (SSV) 123 Meter dan LPD 124 Meter. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL) kembali menambah Armada Perang Pendukung LPD 124 Meter melalui kontrak dengan nomor KTR/03/02-49/I/2017/Disadal pada 11 Januari 2017. Sebuah Kapal Inovasi yang berfungsi dalam operasi militer maupun non-militer ini dimaksimalkan secara hakiki unutk memperkuat dan mendukung armada Republik Indonesia.
Kapal yang dibangun dengan karya inovatif, kerja keras dan semangant untuk negeri ini ditandai dengan pemotongan plat pertama oleh Kepala Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI Mulyadi didampingi Direktur Utama PT PAL INDONESIA (Persero) Budiman Saleh, Jumat pagi (28/04). Prosesi pemotongan Plat turut disaksikan pejabat Teras Markas Besar TNI AL serta jajaran Komisaris dan Direksi PT PAL INDONESIA (Persero). Memiliki Panjang kurang dari Produksi LPD Sebelumnya, Kapal ini justru mempunyai keunggulan dalam Kapasitas pengangkutan yang lebih
besar.
Kapal dengan panjang sekitar 124 Meter ini memiliki lebar 21 Meter, mampu mengangkut pasukan beserta crew sebanyak 771 personil, selama 15 hari berlayar, dengan kecepatan mencapai maksimal 16 knot. Digerakkan dengan 2 mesin setara 3.900 HP, dan bobot penuh sebesar 7.200 Ton, dapat menjangkau jarak sepanjang 10.000 mil laut. Selain mampu menampung 3 Helikopter standby, Kapal yang dilengkapi dengan kekuatan medis ini dapat menjalankan operasi kemanusian (non-militer) yang diemban. Selain itu, kapal ini membawa serta 4 kapal 2 jenis Kapal Pengangkut Pasukan batalyon dan 2 kapal pengangkut pasukan patroli militer.
Fungsi asasi kapal saat menjalankan berbagai oprasi militer sebagai bentuk penguat Diplomasi TNI AL dalam menjaga dan mengamankan wilayah perbatasan terluar laut Indonesia. Namun saat terjadi Musibah dan Bencana, kapal ini mampu menjalankan misi kemanusiaan baik secara evakuasi, pencarian, penyelamatan bahkan fungsi Administrasi Pemerintahan bergerak. Dengan proses pengerjaaan selama 23 bulan, kapal ini akan menjadi keunggulan dalam mengharumkan nama bangsa dalam tugas kemiliteran dan non-kemiliteran TNI AL.
Sumber :  bumn.go.id

Korea Selatan Produksi Kapal tanpa Awak LIG Nex 1 untuk Mengintai Korea Utara

Kapal tanpa Awak LIG Nex 1
Kapal tanpa Awak LIG Nex 1 

Angkatan Laut Korea Selatan pada Mei mendatang akan melakukan uji coba pengoperasian kapal laut tanpa awak. Kapal ini dilengkapi sistem persenjataan untuk digunakan di perairan yang berbatasan dengan Korea Utara.
"Uji coba pengoperasiannya oleh Angkatan Laut dari Mei sampai Juli mendatang," ujar Badan Program Akuisisi Pertahanan (DAPA) Korea Selatan, seperti dilansir Korea Times, 27 April 2017.
DAPA meluncurkan proyek kapal yang dilengkapi persenjataan tapi tak berawak pada akhir 2015 bekerja sama dengan LIG Nex 1, perusahaan lokal di bidang pertahanan. Proyek pembuatan kapal ini berbiaya US$ 2,9 juta atau sekitar Rp 38,6 miliar.
Kapal laut tanpa awak ini memiliki panjang 8 meter, berat bobot 3 ton, dan kecepatan 30 knot. Sistem persenjataannya tidak dijelaskan secara rinci, tapi ada water cannon dan senjata pendukung lain. Semua pengerjaannya rampung November tahun lalu.
Kapal laut tanpa awak ini nantinya berfungsi memantau, mengintai, melakukan pengejaran, dan menerabas hambatan.
Beberapa pejabat DAPA mengatakan kapal laut tak berawak ini dapat menjadi model bagi militer untuk mengambil inisiatif dalam pengembangan dan penggunaan teknologi robot bergerak secara otonom.

Rudal Hipersonik Zircon Milik Rusia Membuat Senjata Buatan Barat Terlihat "Usang"

Rudal Hipersonik Zircon
Rudal Hipersonik Zircon 

Berita bahwa rudal hipersonik terbaru Rusia, Zircon, mampu mencapai kecepatan tertinggi dalam sejarah rudal jelajah membuat khawatir media Barat. Penulis merangkum apa saja yang telah diketahui mengenai salah satu program militer paling rahasia Rusia ini.
Bulan ini, rudal hipersonik anti-kapal (permukaan) terbaru Rusia, Zircon, mencapai kecepatan tertinggi dari rudal jelajah apa pun yang ada dalam sejarah. Menurut seorang narasumber di bidang militer, dilaporkan bahwa rudal tersebut mampu mencapai delapan kali kecepatan suara Mach 8, yang sama dengan 9.800 kilometer per jam.
Dengan kemungkinan jangkauan tembakan sekitar 400 kilometer, Zircon dapat mencapai jarak tersebut hanya dalam dua setengah menit. Media Barat khawatir rudal ini akan membuat persenjataan laut NATO terlihat usang.
Menurut The Independent, sistem Sea Ceptor milik Angkatan Laut Inggris hanya mampu menghentikan rudal yang melaju dengan kecepatan 3.700 kilometer per jam. Tim Ripley, yang meliput isu pertahanan untuk majalah Jane’s Defence Weekly mengatakan kepada Dw.com bahwa Zircon akan “membuat mereka (unit-unit militer Barat) harus turut mengerahkan pertahanan dan tindakan balasan”.
Mantan komandan di Angkatan Laut Rusia, Laksamana Viktor Chirkov, mengatakan bahwa pada tahun 2020, AL Rusia berencana membuat sebuah “grup aksi pencegahan nonnuklir strategis” yang dilengkapi dengan senjata jarak jauh berpresisi tinggi. Menurutnya, ini berarti dalam tiga tahun, Zircon akan dikerahkan.
Menurut pakar militer Konstantin Sivkov, penggunaan Zircon akan melemahkan kemampuan pesawat AS dalam menyerang Rusia karena kapal jelajah Moskow akan dipersenjatai dengan rudal ini.
Tentang Zircon
Semua informasi mengenai Zircon hanya dihimpun dari komentar pejabat militer Rusia dan bocoran informasi media, meski hal tersebut tidak dibantah oleh para pakar militer dan pertahanan.
Dmitry Kornev, editor Militaryrussia.ru, yang memiliki informasi paling banyak mengenai Zircon, mengatakan kepada penulis bahwa ia yakin rudal tersebut telah dikerahkan di kapal selam tempur kelas Yasen.
Menurutnya, ini berarti para perancangnya sedikit lagi berhasil mengerahkan rudal tersebut di kapal selam, kapal, dan darat.
Menurut beberapa laporan, rudal tersebut akan dikerahkan pada tahun 2018 di beberapa kapal selam dan kapal kelas besar yang akan diperbaiki untuk dapat memuat Zircon. Rudal itu juga akan ditempatkan di kapal induk tunggal Rusia Laksamana Kuznetsov setelah rekonstruksinya, di kapal penghancur kelas Lider, dan di Husky, kapal selam generasi kelima.
Peluncuran Zircon yang akan menggunakan platform universal Agat 3S14, yang juga digunakan oleh rudal jelajah Klub, mengartikan bahwa ia dapat dikerahkan secara virtual di platform mana pun.
Menurut Wakil Perdana Menteri Rusia Dmitry Rogozin, sebagai pejabat tinggi pertama yang mengkonfirmasi uji coba Zircon, rudal tersebut berada di “generasi senjata yang sama sekali baru”, dan “dijamin dapat melewati sistem pertahanan anti-rudal mana pun”.

Presiden Trump Minta Kompensasi Rp.13 Triliun Pada Korsel Begitu Rudal Anti-Serangan Udara THAAD Tiba di Seoul

Rudal Anti-Serangan Udara THAAD
Rudal Anti-Serangan Udara THAAD 

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Korea Selatan harus membayar US$ 1 miliar atau sekitar Rp 13,13 triliun atas penempatan sistem pertahanan rudal tercanggih milik Amerika atau THAAD di negara itu.
“Saya informasikan ke Korea Selatan untuk sepantasnya mereka membayar. Ini sistem seharga satu miliar dolar,” ujar Trump.
Menurut Trump, THAAD yang diproduksi Lockheed Martin ditempatkan di Korea Selatan untuk melindungi sekutunya dari kemungkinan diserang rudal milik Korea Utara.
Apakah uang sebesar itu berarti Korea Utara membeli THAAD? Trump tidak menjelaskan dengan jelas. Namun seorang mantan pejabat di Kementerian Luar Negeri Amerika mengatakan Amerika tidak akan menjual THAAD kepada Korea Selatan yang harganya US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 15,9 triliun.
"Kami ingin mempertahankan THAAD sebagai senjata kami, sama seperti semua sistem persenjataan Amerika yang ditempatkan di Semenanjung Korea. Kami pemiliknya. Kami mempertahankannya. Kami berhak memindahkannya," ujar pejabat itu.
Penasihat urusan luar negeri untuk pelaksana tugas Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, menganggap keharusan membayar untuk THAAD sebagai opsi tak masuk akal.
"Bahkan, jika kami membeli THAAD, pengoperasiannya ada di tangan Amerika Serikat. Jadi pembelian itu opsi yang tak mungkin. Itu topik kami saat mempertimbangkan opsi itu," tutur Moon, seperti dilansir Reuters.

Seluruh Pembom Strategis "Tu-160 dan Tu-22M3" Milik Rusia Akan Menjalani Modernisasi

Pembom Strategis Tu-160
Pembom Strategis Tu-160 

Rusia akan memodernisasi penuh seluruh pesawat pengebom modern Tu-160 Blackjack dan Tu-22M3 Backfire yang digunakan Pasukan Kedirgantaraan Rusia, ujar Wakil Menteri Pertahanan Yuri Borisov, Kamis (27/4).
“Seluruh 16 pesawat Tu-160 yang digunakan (oleh Pasukan Kedirgantaraan Rusia) akan dimodernisasi secara penuh,” ujar Borisov seperti yang dikutip Sputnik. Ia menambahkan bahwa pesawat pengebom Tu-22M3 juga akan diperbarui.
Namun begitu, Borisov tidak menerangkan lebih lanjut kapan kedua pesawat tersebut akan diperbarui sepenuhnya.
Tu-22M3 merupakan pesawat pengebom yang memiliki radius jangkauan tempur sekitar 2.400 kilometer. Pesawat ini memiliki teknologi penyamaran, dilengkapi dengan sistem navigasi mutakhir, dan teknologi modern lainnya.
Sementara itu, Pesawat Tu-160, yang dijuluki sebagai ‘Angsa Putih’, merupakan pesawat supersonik terbesar, terberat, dan paling kuat dalam aviasi militer. Ia dapat dilengkapi dengan segala jenis bom nuklir dan bom lainnya, seperti penembus lapis baja, penembus beton, klaster, ranjau laut, dan lain-lain. Total bobot hulu ledaknya dapat mencapai 40 ton.
Kedua pesawat ikut serta dalam operasi Rusia membasmi teroris di Suriah.

Akhirnya Bulgaria Pilih Saab Gripen

Saab Gripen C/D
Saab Gripen C/D 

Bulgaria telah memilih Saab Gripen sebagai pesawat tempur masa depannya yang baru, deputi perdana menteri interim negara itu dilaporkan mengumumkannya pada 26 April.
Stefan Yanev mengatakan perundingan sekarang tengah berlangsung dengan Swedia untuk mengakuisisi delapan pesawat untuk menggantikan pesawat tempur MiG-29 'Fulcrum' era Pakta Warsawa, kantor berita Reuters melaporkan, menambahkan bahwa sebuah komisi khusus untuk pengadaan akan dibentuk dalam waktu seminggu mendatang.
Saab menolak untuk mengkonfirmasi penjualan tersebut kepada Jane's, dan hanya menyebutkan, "Kami telah melihat informasi tersebut di media, dan ini mendorong untuk berada diatas daftar evaluasi. Ini adalah satu langkah dalam proses yang ekstensif yang akan terus berlanjut. "
Meskipun tidak disebutkan dalam laporan Reuters, Saab telah menawarkan kepada Bulgaria Gripen varian C/D, dan telah menawarkan untuk memulai kembali jalur produksinya yang mana baru-baru ini dialihkan ke model E (beberapa pekerjaan Gripen C/D masih berlanjut karena Saab mempersiapkan untuk kontrak dengan Slovakia).
Dalam kompetisi pengadaan, Gripen mengalahkan Lockheed Martin F-16 Fighting Falcon bekas, yang ditawarkan oleh Portugal, dan Eurofighter Typhoon surplus yang ditawarkan oleh Italia.
Upaya modernisasi dan pengadaan pesawat tempur Bulgaria telah berjalan lama, dimana negara tersebut ingin meng-upgrade pesawat era Soviet-nya sejak bergabung dengan NATO pada tahun 2004. Pada tahun 2011, negara tersebut membatalkan rencana untuk meluncurkan tender terbuka untuk pesawat tempur baru dan mempertimbangkan kesepakatan untuk mendapatkan pesawat F-16 bekas dalam kesepakatan yang serupa dengan pengadaan pesawat eks-Portugis milik Romania. Sebelum pembatalan tender pengadaan 2011 ini, Saab dilaporkan telah menawarkan untuk mencocokkan harga pesawat Gripen C/D baru dengan F-16 bekas.

TNI Siapkan Satgas Kompi Zeni Konga XXXVII-D ke Republik Afrika Tengah

Satgas Kompi Zeni Konga XXXVII-D
Satgas Kompi Zeni Konga XXXVII-D 

Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyiapkan Satgas Kompi Zeni TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXVII-D/Minusca (Multi-Dimensional Integrated Stabilization Mission in Central African Republic) yang akan bertugas sebagai pasukan pemeliharaan perdamaian dunia dibawah naungan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) selama satu tahun di wilayah Republik Afrika Tengah/Central Afrika Republic (CAR) untuk menggantikan Satgas Kompi Zeni TNI Konga XXXVII-C/Minusca yang akan berakhir masa tugasnya.
Upacara pembukaan Latihan Pratugas Satgas Kompi Zeni TNI Konga XXXVII-D/Minusca digelar dalam suatu upacara beberapa waktu lalu, dengan Inspektur Upacara Komandan PMPP TNI Brigjen TNI Ahmad Marzuki, bertempat di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI, Sentul Bogor Jawa Barat.
Dalam sambutannya Komandan PMPP TNI Brigjen TNI Ahmad Marzuki mengatakan bahwa, para prajurit Satgas Kompi Zeni TNI Konga XXXVII-D/Minusca yang mengikuti PDT (Pre Deployment Training) di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI merupakan prajurit-prajurit yang terpilih melalui seleksi yang ketat dan sulit.
Lebih lanjut Brigjen TNI Ahmad Marzuki menyampaikan bahwa, materi latihan yang akan didapatkan meliputi materi umum berupa Core Pre Deployment Training Material (CPTM), CPDT (Core Pre Deployment Training), materi teknis, materi pendukung dan beberapa materi aplikasi yang dirancang khusus guna mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. “Personel Satgas harus memahami karakterisitik wilayah Afrika yang tentu saja berbeda dengan negara kita, baik dari sudut geografis, demografis maupun kondisi sosial budayanya”, katanya.
“Semua materi yang diberikan kepada peserta PDT merupakan bekal persiapan yang dirancang sedemikian rupa, sehingga sesuai dengan SOP (Standar Operasi Prosedur) dan ROE (Rule Of Engagment) di daerah misi serta sejalan dengan tuntutan operasi penugasan,” ujar Brigjen TNI Ahmad Marzuki.
Diakhir pengarahannya, Komandan PMPP TNI Brigjen TNI Ahmad Marzuki memberikan beberapa penekanan kepada seluruh anggota Satgas, diantaranya : Pertama, tingkatkan Iman dan Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar senantiasa mendapat perlindungan-Nya dalam setiap pelaksanaan tugas. Kedua, laksanakan latihan ini dengan penuh rasa tanggung jawab, kesungguhan, dedikasi dan disiplin yang tinggi sehingga mendapatkan hasil yang optimal. Ketiga, tingkatkan profesionalisme prajurit dan kerja sama antar unit/tim serta pelihara kecakapan dan keterampilan teknis maupun taktis. Keempat, perhatikan faktor keamanan dan keselamatan selama pelaksanaan latihan, baik personel dan materiil.
Personel Satgas Kompi Zeni TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXVII-D/Minusca yang berjumlah 200 orang (176 TNI AD, 19 TNI AL dan 5 TNI AU), akan dipimpin oleh Letkol Czi Chotman Jumei Arisandy, S.E. (Akmil 1999) sebagai Komandan Satgas, yang sehari-hari menjabat Danyon Zipur 5/ABW Kodam V/Brawijaya sebagai satuan main body dalam Satgas ini.

Perang Elektronika Itu Ibarat “Ilmu Setan”

Pesawat Intai Berkemampuan AEW (Active Early Warning)
Pesawat Intai Berkemampuan AEW (Active Early Warning) 

Bicara tentang perang elektronika (electronic warfare) itu ibarat ilmu setan, tidak ada wujudnya namun bisa langsung dirasakan dampaknya. Dengan basis teknologi elektromagnet, implementasi peperangan elektonik dapat diwujudkan dalam banyak hal, bahkan ke sesuatu yang belum dibayangkan sebelumnya. Ketika sebuah rudal jelajah berhasil menerjang ke jantung pertahanan lawan, bukan berarti prosesnya instant, unit electronic warfare di laut dan udara harus berjibaku untuk ‘membutakan’ kemampuan deteksi radar musuh, dan masih banyak aktivitas lain yang terkait kerja intelijen.
Perang elektronik yang diumpamakan sebagai ilmu setan dituturkan langsung oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Elekronika (Kadiskomlek) TNI AU Marsma TNI Wishnu Sukardjo saat menjadi pembicara dalam seminar “Achieving Defence Superiority Through Electronic Warfare Technology” di Gedung BBPT, Jakarta (27/4/2017). Meski peran electronic warfare tak bisa dikesampingkan, bahkan menjadi unsur dominan dalam setiap babak pertempuran, tapi ironis pengembangan unsur perang elekronik (pernika) belum menjadi prioritas utama di lingkup TNI. Kesan bahwa pernika adalah sesuatu yang mahal, terlebih bicara komponen (hardware) yang masih berpangku pada produk impor.
Marsma TNI Wishnu Sukardjo
Salah satu turunan dari elemen pernika adalah pengadaan radar pertahanan udara untuk Kohanudnas. “Dari empat unit radar baru yang tempo hari dicanangkan, saat ini baru dua unit yang berhasil direalisasi,” ujar Wishnu. Perwira tinggi bintang satu ini juga menyorot pentingnya kehadiran pesawat intai berkemampuan AEW (Active Early Warning) yang sudah lebih dulu dimiliki Thailand dan Singapura. “Kami telah memberikan spesifikasi teknis standar yang dibutuhkan kepada pemangku kebijakan, tapi semuanya ya kembali ke pemilik anggaran,” tambah Wishnu yang menganalogikan pernika di Indonesia ibarat “Daun Salam” dalam masakan, hanya dicemplungkan sebentar, setelah itu dibuang.
Guna menyiasati tingginya biaya implementasi pernika, TNI beberapa tahun belakangan telah bekerjasama dengan BUMN Strategis untuk mewujudkan kemandirian pada electronic warfare. Satu contoh berhasil ditunjukkan PT Len yang berhasil meluncurkan tools IFF (Identification Friend or Foe) untuk kebutuhan pesawat udara TNI AU dan kapal perang TNI AL. Dalam tataran mitra perusahaan swasta, PT Hariff Daya Tunggal Engineering bersama Litbang TNI AD juga berhasil menghadikan model Battlefield Management System yang digunakan satuan kavaleri dan infanteri.
Karena adaptasi dan kemajuan teknologi pernika berasal dari luar negeri, maka guna mewujudkan kemandiran pernika mutlak membutuhkan ToT (Transfer of Technology). Diantara mitra pemasok alutsista TNI, Saab dari Swedia lewat diskusi menawarkan solusi jangka panjang untuk membangun electronic warfare yang terpadu, berkesinambungan dan dukungan penuh pada industri lokal. Geoff Van Hees, Director Marketing & Sales Saab Asia Pacific yang ikut berbicara dalam seminar menyebut bahwa sebelum bicara detail tentang solusi pernika yang akan ditawarkan, lebih tepat bila negara telah merumuskan arah dan kebijakan strategis mengenai electronic warfare yang akan dibangun. (Haryo Adjie)

AU Filipina Dapatkan Dua Tambahan Jet Tempur FA-50PH

 Jet Tempur FA-50PH
 Jet Tempur FA-50PH 

Armada pesawat tempur FA-50PH "Fighting Eagle" Angkatan Udara Filipina (PAF) telah bertambah menjadi 10 dengan kedatangan dua pesawat lagi di Pangkalan Udara Clark, Angeles City, Pampanga, Rabu pagi (26/04).
Hal tersebut ditegaskan oleh juru bicara PAF Kolonel Antonio Francisco dalam sebuah pesan kepada PNA.
"FA-50 dengan nomor ekor 009 mendarat di 11:20, sementara FA-50 dengan nomor ekor 010 (mendarat) pada pukul 11:21," katanya.
Francisco mengatakan kedua pesawat tersebut berangkat dari Saechon, Korea Selatan pada pukul 07:59 tanggal 25 April dan mendarat di Jeju pada pukul 8.50 pagi pada hari yang sama.
Setelah mengisi bahan bakar di Jeju, pesawat-pesawat tersebut lepas landas sekitar pukul 12:39 dan mendarat di Taiwan sekitar pukul 14.47 juga pada tanggal 25 April. FA-50PH berangkat dari Taiwan pada pukul 10:08 tanggal 26 April.
Sebelumnya, FA-50PH dengan nomor ekor 007 dan 008 tiba di Filipina pada 29 Maret lalu dan masuk kedinasan pada 6 April lalu.
Francisco mengatakan bahwa FA-50PH sangat berguna bagi PAF karena dapat digunakan untuk pelatihan pilot dan pertahanan teritorial yang penting karena mereka sekarang berfokus pada "generasi" pilot yang mampu mengawaki jet tempur canggih yang direncanakan akan dibeli oleh negara tersebut untuk program modernisasi militernya.
Dua unit FA-50PH pertama dikirim pada 28 November 2015 sementara batch kedua diserahkan pada 8 Desember lalu.
Batch ketiga diserahkan ke PAF pada 22 Februari lalu.
Dengan kedatangan dua pesawat jet tersebut, tinggal dua pesawat FA-50PH lagi yang dijadwalkan akan dikirim pada bulan Mei, menyelesaikan pesanan sejumlah 12 pesawat PAF dari Korea Aerospace Industries (KAI) senilai PHP18,9 miliar.
FA-50PH memiliki kecepatan maksimum Mach 1,5 atau satu setengah kali kecepatan suara dan mampu dipasangi rudal udara-ke-udara, termasuk rudal udara-ke-udara pencari panas AIM-9 "Sidewinder" selain meriam otomatis ringan.
Sumber : pna.gov.ph

KLL Bima Suci Siapkan Pelatihan Calon Awak Tahap II

KLL Bima Suci
KLL Bima Suci 

Usai proses pemasangan peralatan tiang dan layar, Satgas Yekda Kapal Layar Latih (KLL) menyiapkan pelatihan tahap II yang ditujukan untuk seluruh personel calon awak (cawak) KLL Bima Suci. Sebelumnya, 10 Cawak KLL Bima Suci telah mengikuti pelatihan Tahap I yang berlangsung sejak Desember 2016 hingga pertengahan April 2017.
Dalam acara morning brief pada Rabu pagi (26/04), Dansatgas Laksma TNI Sutarmono menyampaikan agar kesiapan kapal harus dibarengi dengan kesiapan personel Satgas dan Cawak untuk bersama-sama menyiapkan pelatihan yang lebih aplikatif, seiring rencana kedatangan 56 Cawak pada tanggal 1 Mei mendatang.
Pelatihan tahap II akan dimulai pada tanggal 4 Mei 2017. Para cawak akan mendapatkan metode pelatihan langsung dari instruktur yang ahli di bidangnya, mulai dari teori, pengenalan alat, dan praktek langsung, termasuk prosedur penanganannya bila terjadi masalah (troubleshooting). Pada umumnya, instruktur tersebut berasal dari tenaga ahli dari setiap pabrik atau perusahaan yang membuat peralatan.
Pelatihan dalam kelas dan praktek di kapal (dermaga) direncanakan 1 Agustus 2017. Instruktur dari galangan Freire akan lebih banyak memberikan materi Pengenalan Umum Sistem Kapal dan Prosedur Penggunaan Alat Keselamatan. Pada bidang Navigasi Operasi, cawak akan menerima pelatihan dari perusahaan Raytheon, Redcai, dan Norispan dengan tujuan memahami dan menggunakan Sistem Navigasi dan Komunikasi. Peralatan navigasi sudah dibuat terintegrasi dengan semua sistem, seperti RADAR, AIS, dan E-chart.
Pada bidang bahari, Detlev Lloel akan melatihkan teori berlayar, praktek menggunakan layar, dan bahkan beberapa personel Detlev Lloel ikut berlayar minimal 2 etape dalam pelayaran perdana Vigo ke Indonesia. Bidang lain, meliputi mesin pokok, diesel generator, propeler, thruster, multimedia, peralatan dapur, dan lain-lain.
Beberapa peralatan canggih yang tidak ditemukan di KRI Dewaruci adalah winch (lir elektrik), peralatan navigasi, peralatan dapur, dan multimedia. Lir elektrik untuk mengembangkan layar dan mengubah arah peruan. Dengan peralatan ini, untuk mengembangkan dan menurunkan layar cukup diawaki oleh 12 orang. Namun, aturan dalam lomba layar tidak memperbolehkan digunakan pada saat lomba.
KLL Bima Suci memiliki 2 kemudi, yaitu kemudi manual di geladak terbuka dan kemudi hidrolik di anjungan. Cawak juga akan dilatih oleh perusahaan Buraglia untuk praktek menggunakan peralatan dapur berstandar hotel bintang lima. Sedangkan multimedia merupakan sarana dokumentasi untuk komunikasi dan pembelajaran yang terhubung secara internal (LAN) ke setiap kamar dan ruang publik dan eksternal untuk pertukaran data dan teleconference.
Di akhir pengarahan, Dansatgas menekankan agar menyiapkan dengan baik rencana dan metode yang telah disiapkan, menjalin koordinasi dan komunikasi yang baik dengan Staf Freire dan Antonio, koordinator pelatihan yang ditunjuk oleh Galangan Kapal Freire.
Sumber : tnial.mil.id

F-20 Tigershark, Pesawat Tempur Canggih Buatan Northrop yang Layu Sebelum berkembang

F-20 Tigershark
F-20 Tigershark 

Pesawat yang resminya berkode F-5G ini mungkin sudah banyak dilupakan orang dan seperti hilang dari sejarah. Namun menurut penulis Robert F. Dorr, penulis buku profil F-20, pesawat itu amat berkualitas.
Pesawat yang mengambil bentuk dasar dari F-5 Tiger, namun bermesin tunggal ini memang terlihat cantik. Indonesia adalah salah satu negara yang pernah ditawari. Tidak tanggung-tanggung, saat terbang langsung ke Jakarta, F-20 Tigershark itu diterbangkan oleh veteran perang kenamaan Brigjen Charles E. “Chuck” Yeager.
Saat itu Yeager disewa secara khusus oleh Northrop sebagai produsen F-20 untuk mempromosikan pesawat ini ke negara-negara yang berpotensi menjadi penggunanya.
Dalam sejarah pengembangannya, F-20 Tigershark baru dibuat tiga buah ini. Masing-masing diberi warna abu-abu, merah-putih, dan biru gelap. Ketiganya dikenal dengan proyek ‘FX’.
Pada saat dikembangkan, F-20 Tigershark sangat menjajikan. Tidak salah jika pihak pabrikan begitu optimis karena mereka melihat keberhasilan keluarga F-5, mulai dari Freedom Fighter hingga Tiger, laris manis di pasaran. Keluarga F-5 sendiri dibuat lebih dari 2.000 unit.
Terbang perdana pada 30 Agustus 1982 pilot uji Russ Scott, F-20 Tigershark ditenagai oleh mesin General Electric F404-GE-100. Pabrikan sesumbar, mesin ini lebih kuat sekitar 40% dari dua mesin lain yang digunakan oleh F-5E Tiger II.
Saat melakukan terbang perdana tidak ada masalah serius yang dialami F-20 Tigershark. Tim yang terlibat dalam pengembangan F-20 adalah orang-orang yang sudah banyak makan asam garam di dunia penerbangan, seperti Everest Riccioni, Robert Sandusky, Richart T. Whitcomb, dan Walt Seller.
Rupanya nasib berbicara lain. F-20 Tigershark lahir di saat yang tidak tepat. Ia lahir bersamaan dengan F-16 Fighting Falcon yang dikembangkan oleh General Dynamic (sekarang Lockheed Martin).
Pihak AU AS rupanya lebih tertarik dengan F-16 yang menggembar-gemborkan mengunakan teknologi fy-by-wire.
Rencana F-20 Tigershark untuk dijual luas ke negara-negara di luar AS terancam gagal. Apalagi dalam industri penerbangan militer AS saat itu ada semacam kepercayaan, jika produk mereka tidak digunakan oleh negara sendiri, maka dapat dipastikan produk mereka akan gagal di pasar bebas.
Walaupun sudah dipastikan tidak terpilih oleh AU AS, pihak Nortrop masih berusaha menawarkan ke berbagai negara. Nortrop juga mencoba mendekati AL AS agar F-20 bisa digunakan di sekolah Topgun yang fenomenal itu. Namun usaha itu nyatanya tidak berhasil.
Pengembangan F-20 makin berat lantaran dua unit di antaranya jatuh ketika sedang didemonstrasikan.
Pesawat pertama jatuh pada 10 Oktober 1984 di Lanud Suwon, Korea Selatan.
Saat itu pilot uji Darrell Cornell yang terbang dengan F-20 registrasi 82-0062 (GG.1001) sedang mendemonstarasikan pesawat terbang dengan kecepatan tinggi pada ketinggian rendah. F-20 yang ia kendarai tidak terkendali dan jatuh. Cornell pun ikut gugur dalam kecelakaan itu.
Pesawat kedua mengalami kecelakaan pada 14 Mei 1984. Saat itu pilot uji David Barnes yang menerbangkan F-20 dengan registrasi 82-0063 (GI.101) terbang di atas Lanud Goose Bay, Labrador, Kanada. Pesawat jatuh akibat mengalami G-LOC dan juga menewaskan penerbangnya.
Memang tidak ada catatan resmi soal alasan utama berakhirnya program ini. Namun banyak pengamat memperkirakan, Northrop menutup program F-20 Tigershark lantaran kecelakaan itu.
Proyek ini berhenti pada tahun 1986 setelah menghabiskan dana sebesar USD 1,2 miliar.
Walaupun tak kasat mata, beberapa bagian suku cadang F-20 itu kini menjadi bagian dari pesawat KAT T-50 Golden Eagle, AIDC Ching-kuo, dan FMA IA 63 Pampa.
Kini satu-satunya F-20 Tigershark yang tersisa masih bisa dilihat di California Science Center, Los Angeles, AS. Harzan DJ

Story : Proyek Rahasia Singapura Menciptakan Amunisi Tank AMX-13

 Tank AMX-13
 Tank AMX-13

Pada tahun 1969, Singapura memamerkan tank-tank AMX-13 yang dibeli secara rahasia dari Israel dalam Parade National Day. Sempat terjadi kehebohan terutama dari Malaysia yang intelijennya gagal mengendus kehadiran tank-tank tersebut.
Dengan mengoperasikan AMX-13, Singapura menjadi negara kedua setelah Indonesia di Asia Tenggara yang mengoperasikan tank paling modern di masanya.
AMX-13 menjadi tulang punggung lapis baja Singapura selama dua dekade, hingga para perencana militer Singapura tiba di persimpangan jalan pada awal 1980-an.
Mereka hendak membeli tank yang lebih baru dan modern, tetapi khawatir kalau negara tetangganya akan bereaksi keras. Uang ada, masalahnya tidak ada yang mau menjual kepada Singapura secara terbuka.
Akhirnya keputusan pun diambil untuk meningkatkan kemampuan tank AMX-13 melalui sejumlah modifikasi.
Sebuah tank dikatakan unggul bila memiliki daya gebuk, daya gerak, dan proteksi yang mumpuni. Karena saat itu dipandang bahwa teknologi kendaraan tempur bergerak ke arah peningkatan proteksi, maka AMX-13 juga harus meningkatkan kemampuan gebuknya supaya masih bisa menandingi lawan.
Pada 1984 Kementerian Pertahanan Singapura membentuk tim bersama SAE (Singapore Automotive Engineering, cikal bakal ST Kinetics) untuk mengerjakan penyempurnaan AMX-13. Hasil studi tim ini terwujud dalam Project Archer untuk meningkatkan kemampuan gerak tank dan mobilitasnya, serta Project Spider untuk meningkatkan kemampuan hantam AMX-13.
AMX-13 versi dasar dilengkapi dengan meriam CN75-50 kaliber 75 mm, yang diadopsi dari meriam 7,5 cm Kwk 42 (L/70). Meriam ini merupakan meriam tank Panther dalam Perang Dunia II. Meriam ini memiliki kemampuan melontarkan munisi HE dan HEAT yang oleh Perancis disebut POT dan PCOT.
Meriam AMX-13 mampu melontarkan proyektil dengan kecepatan yang sangat tinggi, mencapai 1.000 m/detik. Sayangnya, meriam tidak punya amunisi pembunuh tank yang mumpuni.
Amunisi yang dibutuhkan adalah APFSDS (Armor Piercing Fin Stabilised Discarding Sabot) dengan penetrator yang mampu menembus kulit baja yang keras. Nah, program Spider dimaksudkan untuk mengembangkan amunisi tersebut, karena tidak ada satupun pabrik di dunia yang mengembangkannya.
Proses studi dan riset dilakukan secara rahasia, karena teknologinya tak boleh jatuh ke negara lain yang juga menggunakan AMX-13. Salah satu persyaratan yang cukup sulit dan menantang adalah bahwa AMX-13 yang akan menggunakan amunisi APFSDS tidak perlu dimodifikasi. Ini adalah tantangan sulit karena muzzle brake pada AMX-13 berbentuk T, padahal kelopak sabot dari munisi akan terlepas dan terlempar begitu seluruh penetrator keluar dari laras. Bentuk muzzle brake yang tidak tepat bisa menghambat proses pelepasan kelopak sabot dan akan merusak laras.
Para desainer SAE juga menemukan tantangan besar lainnya. Penetrator APFSDS harus dapat menjebol RHA (Rolled Homogeneous Armor) setebal 240 mm pada jarak 1.200 m. Ini mendekati performa munisi 105 mm dari tank Centurion generasi awal.
Proses pengembangannya juga tidak mudah. Banyak penetrator yang justru patah pada titik impak di masa awal percobaan, dan malah meleleh dan menempel ke pelat baja RHA yang dijadikan sasaran tembak.
Untungnya, beberapa enjinir dikirim ke sejumlah seminar dimana mereka mendapati bahwa faktor primer memegang peranan penting untuk memantik propelan. Propelan munisi APFSDS tidak bisa dipantik dari arah bawah seperti munisi konvensional. Ia harus terbakar merata dari arah tengah agar tidak menimbulkan tekanan berlebih bagi batang penetrator pada saat detonasi awal.
Akhirnya, para perancang SAE kembali ke meja desain dan menciptakan primer berbentuk silinder yang menyalakan propelan dari arah tengah. Begitu munisi desain baru tersebut diuji, hasipnya pun memuaskan.
Munisi 75 mm APFSDS-T (T untuk Tracer) akhirnya dijadikan standar munisi untuk AMX-13SM1 (Singapore Modification 1). Setiap awak AMX-13SM1 dilarang keras untuk memotret keberadaan amunisi yang sering disebut amunisi Spider tersebut.
Dari sisi luar, tidak banyak kelihatan perubahan untuk tank ringan milik Singapura ini sehingga tidak memantik kekhawatiran negara-negara tetangg. Padahal tidak ada yang tahu, kalau taring AMX-13SM1 ini sudah terasah sangat tajam. Aryo Nugroho

Cara Jet Tempur Sukhoi Su-27/Su-30 Mengidentifikasi Sasaran di Beyond Visual Range


Teknologi OEPS-27 Sukhoi TNI AU
Teknologi OEPS-27 Sukhoi TNI AU 

Hingga tulisan ini dibuat, faktanya di lingkungan TNI AU baru armada jet tempur Sukhoi Su-27/Su-30 Flanker Skadron Udara 11 yang dibekali senjata berupa rudal berkemampuan BVR (Beyond Visual Range). Seperti telah diwartakan sebelumnya, duo jet tempur asal Rusia ini telah dipersenjatai paket rudal udara ke udara jarak menengah dan jauh, seperti R-77 yang merupakan rival AIM-120 AMRAAM (Advanced Medium Range Air to Air Missile) dan rudal Vympel R-27.
Meski belum menyandang predikat battle proven untuk duel di udara, Sukhoi Su-27/Su-30 dengan sokongan radar search and tracking Fazotron N011 Zhuck-27 (kode NATO: Beetle), plus kombinasi kemampuan rudal R-77 dan R-27 mampu memberikan efek deteren bagi lawan yang ingin menjajal kekuatan udara nasional. R-77 mampu melesat dengan kecepatan Mach 4.5 dan jarak jangkau 90 km. Sementara R-27 dengan kecepatan yan relatif sama punya jarak tembak di rentang 80 km sampai 130 km. Radar Phazotron N-001 Zhuk salah satu tugasnya berperan untuk melakukan searching and designating aerial targets untuk rudal udara jarak pendek dan menengah.
Bila ingin radar silent dan mengantisipasi kemungkinan radar di jamming, pilot bisa memakai jasa OEPS-27, yakni penjejak berbasis elektro optik. Teknologi OEPS-27 dirancang untuk mencari dan melacak target berikut emisi infra merah, atau berdasarkan panas yang dihasilkan target. Hebatnya lagi OEPS-27 dalam membidik target dilengkapi dengan sistem pengukur jarak dengan basis built in laser.
Bagi yang belum tahu, OEPS-27 mudah dikenali pada jet tempur Sukhoi Su-27/Su-30. Letak perangkat ini berada di bagian hidung, namun agak mendekat kokpit, dan bentuknya cukup unik dengan desain bola kaca. Perangkat ini terdiri dari dua bagian. Pertama disebut sebagai pengukur jarak bersistem laser (laser range finder) dengan kemampuan pengenalan target hingga delapan kilometer. Kemudian masih dalam bola kaca juga ada IRST (infra red search and track system), dimana sistem ini dapat menjangkau jarak hingga 50 kilometer. Soal cakupan (coverage), untuk sudut azimuth mulai dari -60 sampai +60 derajat, sementara sudut ketinggian mulai dari -60 sampai 15 derajat.
Mengenali Identitas Sasaran
Sebelum prosesi menghancurkan sasaran di udara, sudah barang tentu pilot Sukhoi Su-27/Su-30 wajib mengetahui status sasaran, harus dipastikan itu adalah lawan dan bukan pesawat kawan. Bila mengandalkan darto (radar moto - bahasa Jawa mata) dari sang pilot, identitas sasaran bisa langsung diketahui, tapi lain halnya bila sasaran berada dalam status beyond visual range. Radar Fazotron N011 Zhuck-27 yang ada di hidung Sukhoi memang bisa mencium dan melacak target sekecil 3 meter persegi yang berada 100 km di depan pesawat, 40 km di belakang pesawat dan mampu mengunci 10 sasaran sekaligus. Namun untuk mengenali identitas sasaran, perangkat IFF (Identification Friend or Foe) yang justru berperan penting.
Di Sukhoi Su-27/Su-30 TNI AU sudah ada bekal IFF, tapi sebagai alutsista besutan Rusia, IFF di Sukhoi tidak bisa mengidentifikasi pesawat tempur buatan AS dan Eropa Barat sebagai kawan. Tentu ini cukup berbahaya saat eksekusi tembakan rudal jarak jauh, bila salah informasi bisa-bisa yang kena hantam rudal adalah pesawat tempur kawan (friendy fire), seperti diketahui TNI AU juga mengoperasikan jet tempur andalan seperti F-16 Fighting Falcon, Hawk 109/209 dan T-50i Golden Eagle.
Nah, agar penerbang Sukhoi dapat memperoleh informasi tentang identitas sasaran yang dicurigai, maka fungsi identifikasi IFF diserahkan pada satuan radar (Satrad) yang dilengkapi kemampuan ground control intercept (GCI). Artinya identitas sasaran akan dikomunikasikan lewat radio dari operator radar GCI ke pilot Sukhoi yang sedang mengudara. Untuk saat ini, praktis ada 20 radar GCI Kohanudnas (Komando Pertahanan Udara Nasional) yang akan mendukung peran identifikasi pada Sukhoi, kedepan akan diambah 12 unit radar militer, sehingga keseluruhan akan berjumlah 32 radar hanud. Selain mengandalkan dukungan identifikasi dari ground radar, bila kelak TNI AU mengoperasikan pesawat intai AEW&C (Active Early Warning and Control) maka jangkauan identifikasi jet tempur Sukhoi bakal bertambah luas dan dinamis. (Danar Dono)

UEA dalam Pembicaraan dengan Rusia untuk Pengadaan Jet Tempur Su-35

Jet Tempur Su-35
Jet Tempur Su-35 

Rusia saat ini sedang dalam pembicaraan dengan Uni Emirat Arab untuk membahas pengadaan beberapa lusin jet tempur Sukhoi Su-35, kata Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia Denis Manturov. "Pembicaraan mengenai masalah ini saat ini sedang berlangsung. Jelas bahwa pembicaraan mengenai pengiriman beberapa lusin pesawat tersebut akan membutuhkan waktu," kata Manturov.
"Kami menyerahkan dokumentasi teknis agar rekan kami bisa memperkirakan kebutuhan mereka," tambahnya.
Menurut dia, Uni Emirat Arab diperkirakan akan merespon tawaran tersebut dalam waktu dekat.
Uni Emirat Arab mulai menunjukkan ketertarikan pada pesawat tempur multirole Rusia Su-35 pada edisi terakhir pameran pertahanan dan keamanan IDEX, pada Februari 2017.
Su-35 adalah versi moderniasasi radikal dari pesawat Su-27 untuk secara signifikan meningkatkan efektivitas tempurnya terhadap sasaran udara, darat dan laut. Perbedaan penting Su-35 di atas Su-27 adalah penggunaan mesin berdaya tinggi baru dalam sistem propulsinya. Mesin tersebut dirancang di NPO Saturnus, bagian dari UEC, dan dikenal sebagai "117S".
Meskipun tidak dilengkapi dengan active phased array antenna (APAA), sistem radar Su-35 dapat mendeteksi sasaran pada jarak hingga 400 km. Kemampuan ini berkat sistem kontrol radar tempur baru dengan phased array antenna Irbis, yang diproduksi oleh Ryazan State Instrument Enterprise, yang merupakan bagian dari KRET.
Menurut kepala eksekutif Rostec Sergey Chemezov, Rusia juga berencana untuk mengembangkan pesawat tempur ringan generasi kelima bersama UEA.
Sergey Chemezov mengatakan bahwa sebuah kesepakatan awal telah ditandatangani dan pekerjaan "proyek jangka panjang" tersebut diharapkan dimulai pada awal tahun depan. Berbicara pada pameran International Defence Exhibition (IDEX), dia mengatakan bahwa terlalu dini untuk menyebut nilai proyek tersebut.

TNI AL Latihan Tempur di Laut Natuna

TNI AL Latihan Tempur
TNI AL Latihan Tempur 

Komando Armada Republik Indonesia Kawasan Barat (Koarmabar) TNI Angkatan Laut menggelar latihan perang di perairan Natuna, Kepulauan Riau (Kepri). Latihan tempur itu akan digelar selama lima hari, Selasa-Minggu, 25-30 April 2017.
Panglima Koarmabar Laksda TNI Aan Kurnia menjelaskan, latihan perang yang diberi sandi “Latihan Siaga Tempur Koarmabar 2017” itu untuk menguji kemampuan tempur sistem senjata jajaran Koarmabar dan Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil).
Khusus untuk Lantamal IV pada harbour phase kembali menguji kemampuan, antara lain: dasar-dasar peperangan elektronika (Pernika), Sunrise Sunset Navigasi, Hukum Internasional, Raid Report Surface and Sab Surface, dan Raid Report Air yang diikuti oleh personel dari Satuan Kapal Ranjau (Satran), Satuan Kapal Cepat (Satkat), Fasharkan Tanjunguban dan Satkamla Lantamal IV.
Latihan ini, ungkap Aan Kurnia, bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme prajurit Koarmabar, baik yang berada di kapal perang (KRI), pangkalan Angkatan Laut (Lanal), maupun pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal).
"Dengan latihan ini para prajurit dapat melaksanakan tugas utamanya serta dapat meningkatkan kerja sama taktis antar unsur-unsur Koarmabar dalam melaksanakan aksi tempur laut," ungkap Aan Kurnia, Kamis, 27 April 2017.
Aan memaparkan, latihan ini merupakan yang terbesar karena melibatkan sejumlah kapal perang berbagai jenis, seperti; perusak kawal rudal (PKR), delapan kapal perang jenis kapal cepat rudal (KCR), dua kapal perang jenis penyapu ranjau (PR), sembilan kapal perang jenis patrol combat (PC).
Selain itu, kapal parang jenis angkut tank type Frosch (ATF), kapal perang jenis landing platform dock (LPD), kemudian kapal tunda (TD) serta pesawat udara jenis Cassa, KRI Banda Aceh-593, KRI Teluk Sibolga-536, KRI Diponegoro-365, KRI Kapitan Pattimura-371, KRI Sutedi Senoputra-378.
"Laut Natuna sangat strategis sebagai lokasi latihan karena melibatkan unsur 20 kapal perang (KRI), 4 pesawat udara, dan 1.000 personel dilibatkan dalam latihan ini, termasuk alutsista tercanggih yang kita miliki saat ini," paparnya.
Kepala Dinas Penerangan Lantamal IV Mayor Laut (KH) Josdy Damopolii menambahkan, latihan ini melibatkan prajurit yang ada di Lantamal I, II, III, IV, dan XII di bawah jajaran Koarmabar, termasuk Satkat, Satran, Fasharkan, Satkamla Lantamal IV.
"Latihan perang ini untuk menjaga dan meningkatkan kemampuan prajurit yang ada di kapal, pesawat dan pangkalan-pangkalan," ujarnya.
Josdy menambahkan, latihan perang ini sekaligus bertujuan untuk mengasah kemampuan taktis dan kerja sama prajurit yang sebelumnya dilaksanakan perencanaan latihan hingga tactical floor game dan manuver lapangan.

Radar Acak