Kendaraan Pengangkut Personil Amfibi BT-3F

Amfibi BT-3F
Amfibi BT-3F 

BT-3F adalah kendaraan pengangkut personel (APC) amfibi beroda rantai yang dirancang dan diproduksi oleh perusahaan pertahanan Rusia Concern Tractor Plants. Kendaraan ini terutama dirancang untuk digunakan oleh unit infantri angkatan laut. Pengembangan kendaraan ini dimulai pada 2010 di bawah program "desain APC berbasis BMP-3". BT-3F ditampilkan pada bulan September 2016 di Forum Teknik Militer Internasional dekat Moskow Rusia. Kendaraan itu dikembangkan berdasarkan kendaraan tempur infanteri (IFV) BMP-3F (F singkatan dari Flotskaya, Marinized) yang ditujukan untuk Infantri Angkatan Laut (Naval Infantry) Angkatan Laut Rusia. BT-3F kemungkinan akan menggantikan APC BTR-80 yang digunakan oleh Infantri Angkatan Laut Rusia.
Persenjataan
BT-3F dilengkapi dengan remotely controlled weapon station (RCWS) DPV-T yang terpasang di atap depan kompartemen pasukan yang dipersenjatai dengan senapan mesin PKTM 7,62mm. RCWS ini dilengkapi dengan perangkat penglihatan yang merupakan kombinasi dari TV channel, sistem pencitraan termal untuk penglihatan malam hari, dan laser rangefinder. RCWS tersebut dapat berputar 360° dengan elevasi senjata -5° sampai +60°, kecepatan gerak 0,03° per detik sampai 40° per detik. Tiga pelontar granat asap dipasang di setiap sisi di bagian depan kompartemen pasukan. Satu senapan mesin PKT 7,62 mm dipasang di sisi kanan depan hull, menembak kearah depan yang bisa dioperasikan oleh salah satu dari tiga awak yang duduk didepan.
Desain dan perlindungan
Desain BT-3F didasarkan pada BMP-3F namun tanpa turret dan bagian tengah hull ditinggikan untuk memberikan volume internal yang lebih banyak bagi para pasukan infanteri. Kendaraan tersebut bisa membawa total 15 personil militer (maksimal 17 orang) termasuk pengemudi, komandan dan 13 pasukan infantri. Pengemudi duduk di depan kendaraan di tengah dan memiliki pintu hatch yang terbuka ke kanan dan tiga periskop siang hari yang memberikan pengamatan ke bagian depan kendaraan. Terdapat posisi anggota awak tambahan di kiri dan kanan posisi pengemudi, masing-masing dilengkapi dengan pintu hatch atap yang terbuka ke depan dan satu periskop siang hari di atap hull di depan pintu hatch. Kompartemen pasukan berada di bagian belakang hull dengan masuk melalui dua pintu di belakang hull yang membuka ke kiri dan kanan dan dua pintu hatch besar di bagian atas. Pintu belakang kiri memiliki lubang port penembakan. BT-3F mempunyai berat 18.500 kg. Hull BT-3F memiliki panjang 7 m, lebar 3,3 m, dan tinggi 3 m. Hull BT-3F merupakan konstruksi armor all-welded aluminium yang memberikan awak kendaraan dan pasukan infanteri yang dibawanya perlindungan dari tembakan senjata ringan dan serpihan amunisi artileri. Armor ini memberikan perlindungan Level 4 STANAG 4569 terhadap tembakan senapan mesin KPVT kaliber 14,5x114 mm pada jarak 200 m.
Mobilitas
BT-3F digerakkan oleh mesin diesel berpendingin air 4-langkah UTD-29M 10 silinder yang memberikan daya 500 hp yang dihubungkan ke transmisi hidromekanis dengan 4 kecepatan maju dan 2 kecepatan mundur. BT-3F memiliki suspensi torsion bar yang terdiri dari enam road wheel berlapis
karet ganda dengan roda idler di bagian depan, menggerakkan roda sprocket di bagian belakang dan tiga roller track-return. Road wheel memiliki suspensi hidro-pneumatik individu, yang terdiri dari pegas, shock-absorber dan perangkat elevasi yang memungkinkan ground clearance disesuaikan dari 190 mm menjadi 510 mm. Peredam kejut eksternal terpasang pada road wheel pertama, kedua, dan keenam. BT-3F dapat berjalan pada jalan raya dengan kecepatan maksimal 70 km/jam dengan jarak jelajah maksimum 600 km.
Aksesoris
Peralatan standar BT-3F mencakup kemampuan untuk membuat tabir asap dengan cara menyemprotkan bahan bakar diesel ke dalam exhaust outlet, sistem perlindungan NBC (nubika) dan sistem deteksi/pemadam api di kompartemen awak depan, belakang, dan kompartemen mesin. BT-3F juga dilengkapi dengan track adjustment system elektromekanis yang memungkinkan pengemudi menyesuaikan ketegangan rantai untuk kedua track tanpa meninggalkan tempat duduknya. BT-3F sepenuhnya berkemampuan amfibi yang bergerak di air dengan kecepatan maksimum 10km/jam oleh dua water jet yang dipasang di kedua sisi bawah di bagian belakang hull. Water jet ini digerakkan dari mesin dengan transmisi hidro-mekanis.

Tak Perlu Khawatir, TNI Pasti Belajar dari Kasus HAM Masa Lalu

Pasukan Anti Teror TNI
Pasukan Anti Teror TNI 

Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah setuju TNI dilibatkan dalam penanganan terorisme di Indonesia. Alasannya, dalam Undang-Undang Nomor 34/2004 tentang TNI disebutkan, tugas pokok dan fungsi TNI ada tiga. Yaitu, menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah dan melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan.
Tugas pokok tersebut dilaksanakan melalui Operasi Militer untuk Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
"Dalam OMSP, salah satu tugas TNI adalah mengatasi aksi terorisme. Saya kira kasus-kasus terorisme yang meningkat saat ini bisa diminimalisasi dengan merevitalisasi peran TNI," ujar Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak di Jakarta, Selasa (30/5).
Menurut Dahnil, kekhawatiran sebagian kalangan akan adanya potensi pelanggaran HAM bila TNI terlibat, tidak akan terjadi. Karena terbukti, institusi tersebut selama ini sukses melakukan reformasi.
"Saya kira TNI pasti belajar banyak dari kasus-kasus masa lalu, toh koreksi terkait pelanggaran HAM penanganan terorisme oleh Densus 88 pun menjadi catatan serius dalam evaluasi Komnas HAM dan masyarakat sipil selama ini," ucapnya.
Menurut Dahnil, hal yang terpenting dari wacana pelibatan TNI dalam pemberantasan terorisme, adanya pengawasan yang melekat. Hal tersebut dalam revisi UU Nomor 15/2003 tentang Tindak Pidana Terorisme juga sudah diakomodir.
Disebutkan, lembaga pengawas melibatkan kelompok masyarakat sipil yang bisa melakukan pengawasan ketat terhadap penanganan teroris.
"Saya kira ini penting, supaya tidak lagi muncul monopoli siapa teroris dan siapa bukan. Jadi ada koreksi dan pengawasan, karena melibatkan banyak pihak yang saling mengawasi," pungkas Dahnil.

Pesawat Tempur MiG-21 di ITB, Ternyata Baru Terbang 10 Jam!

Pesawat Tempur MiG-21  2158
Pesawat Tempur MiG-21  2158 

Dirancang untuk membunuh pembom B-52, MiG-21 ternyata juga sanggup menumbangkan F-4 Phantom II.
Meski kedigdayaannya telah padam setengah abad lalu, legenda MiG-21 masih hidup sampai sekarang. Tidak hanya di berbagai negara, tapi juga di Indonesia. Para pengagumnya tak hanya memburu kisah-kisah pertempurannya, tapi juga cerita dari jet-jet ini yang “masuk” laboratorium untuk dipelajari keunggulannya.
Seperti juga dilakukan di Amerika, enjinir Indonesia diam-diam ikut membedah kekhasan maupun keunggulannya. Setidaknya hal inilah yang dicatat penulis setelah beberapa kali berkunjung ke Laboratorium Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, ITB, Bandung, Jawa Barat.
Di sana mukim satu unit MiG-21 yang pernah memperkuat AURI (kini TNI AU) yang khusus dibeli untuk mengusir Belanda dari Irian Barat. Pencegat bernomor 2158 ini dihibahkan pada 1973 khusus untuk didedikasikan sebagai alat peraga dalam berbagai mata kuliah di FTMD. Bagi penulis (dari Angkasa), ada satu fakta yang amat mengejutkan dari warisan berharga ini . “Pesawat ini baru dipakai terbang 10 jam!” Demikian tertulis dalam Buku Emas 50 Tahun Program Aeronautika/Astronautika ITB (2012).
Kenapa AURI menghibahkannya kepada ITB? Langkah ini rupanya diambil untuk mengapresiasi perjuangan Dr. Ir. Oetarjo Diran dan Dr. Ken Liem Laheru yang begitu gigih mendirikan Pendidikan Teknik Penerbangan di ITB (kini Jurusan Teknik Penerbangan di FTMD). Demi memajukan Indonesia, mereka sampai-sampai meninggalkan jabatan bergensinya di Jerman.
Jet yang satu ini amat ditakuti Barat. Tak ayal keberadaannya pun sangat dieman-eman. “Bagaimana tidak? Jika Departemen Pertahanan AS saja harus susah payah ingin mencurinya, masak pemberian yang amat berharga ini kami sia-siakan?” ujar sumber penulis.
Sayangnya, ketika itu ITB belum punya tempat yang dianggap cocok. Sehingga untuk sementara waktu terpaksa ngendon di hanggar Lipnur (kini PT Dirgantara Indonesia). Di sana, supersonik sayap delta ini selanjutnya di antaranya dirawat oleh Prof. Dr. Harijono Djojodihardjo dan Dr. Said D. Jenie, dosen teknik penerbangan lulusan Massachussetts Institute of Technology, AS.
Keunggulan dan kelemahan
Kala itu kisah keunggulan MiG-21 beranjak mendunia. Itu karena jet yang sejatinya dirancang Mikoyan-Gurevich, Rusia, untuk membunuh pembom strategis andalan AS, B-52 Stratofortress ini, ternyata juga mampu membabat jet unggulan AS seperti F-4 Phantom II, F-104 Starfighter dan F-105 Thunderchief. Puluhan jet-jet ini rontok di medan pertempuran Timur Tengah dan Vietnam.
“MiG-21 sangat sulit diantisipasi. Bahkan meski kemunculannya datang dari depan. Ia baru tampak dalam jarak dua mil, namun sudah dalam jarak yang sangat mematikan,” aku seorang penerbang F-4 Phantom II AU AS yang pernah berhadapan dengan jet ini di ajang Perang Vietnam.
Hal inilah yang memancing ilmuwan AS untuk bisa membedah keunggulan sekaligus kelemahannya. Dari sejumlah dokumen yang kerahasiannya telah dibuka, akhirnya terungkap AS pernah “mencuri” beberapa untuk dipelajari dalam program berkode Have Drill, Have Doughnut, dan Have Ferry. Pesawat bahkan pernah dilawantandingkan dengan jet-jet AS di Area 51, laboratorium AU AS yang amat dirahasiakan di Gurun Nevada.
Dari program-program itu, akhirnya kelemahan sang legenda terbongkar. Salah satunya diantaranya ada pada celah bidik sasaran atau gunsight. Meski musuh sudah masuk dalam gunsight, penerbangnya tak serta-merta bisa mebidiknya dengan jelas. Bayangan di gunsight bahkan sering tiba-tiba menghilang. Dalam doghfight jarak dekat, kestabilannya juga sering terganggu. Hal inilah yang membuat penerbangnya harus kerja keras “memasukkan” kembali musuhnya dalam garis bidik.
Di FTMD sendiri, MiG-21 berkode 2158 ini baru benar-benar berfungsi setelah pihak ITB berhasil menyiapkan sebuah laboratorium yang cukup nyaman pada 1998. Di bodi samping pesawat yang telah dicat ulang, selanjutnya ditulis: Iron Bird untuk sistem dasar pesawat udara, yang mencakup sistem kendali hidro-mekanikal, sistem elektrik, sistem roda pendarat, sistem propulsi dan sistem avionika.
“Teknologinya memang sudah berumur, namun tetap layak untuk jadi alat peraga bagi keilmuan aeronotika yang diberikan mulai dari tingkat pertama hingga terakhir. Keilmuan ini mencakup mekanika, termodinamika, aerodinamika, kinematika hingga teknik perancangan pesawat,” ujar Kepala Program Studi Aeronotika/Astronotika, Dr. Ir. Toto Indriyanto kepada penulis, pertengahan Mei 2017 di Bandung.
Inlet cone
Bagi penulis sendiri, tak lengkap kiranya jika tak melengkapi kisahnya dengan pengakuan penerbang AURI atas pesawat yang mampu melesat lebih dari dua kali kecepatan suara ini. Mereka sepakat menyebutnya jet pemburu paling mutakhir di zamannya.
“Kemudinya sangat sensitif dan pesawat ini terbang lebih cepat dari yang saya perkirakan. Tapi, lama terbangnya, walau dengan drop tank, amat singkat. Cuma 1 jam 40 menit. Dengan begitu kita harus tahu bagaimana trik menerbangkannya,” ungkap Marsda (Pur) Roesman, sesepuh AURI yang pernah dipercaya jadi komandan skadron pencegat sayap delta ini.
selanjutnya juga terlihat di moncong mesin SR-71 Blackbird.
“Terbang lurus-lurus saja, tidak perlu belok kiri-kanan, daripada tidak bisa pulang. Untuk itu kita memang harus bisa lebih dulu menghitung di titik mana pesawat musuh yang akan dicegat,” tambahnya tentang trik itu kepada Angkasa.
Indonesia mendatangkan jet-jet ini pada 1962, sebagai bekal untuk menghadapi kekuatan militer Belanda dalam kampanye Trikora. Ketika itu bersama rombongan pembom Tu-16 serta MiG-15, MiG-17 dan MiG-19, pemerintah membeli 22 unit dari tipe MiG-21 F-13 dan MiG-21U. Namun, pesawat-pesawat ini tak pernah benar-benar turun berperang karena Belanda akhirnya bersedia mundur setelah didesak oleh PBB.
Lalu, adakah keunggulan MiG-21 yang kemudian diadopsi pesawat-pesawat berikutnya? Ada, bahkan tak sekadar pesawat, tetapi juga rudal. Kelebihan dimaksud adalah inlet cone yang bentuknya amat khas. Kerucut metal di cerobong masukan udara ini rupanya tidak dibuat untuk memperindah sosoknya, melainkan memang ada maksudnya.
Inlet cone bisa digerakkan maju-mundur tak lain untuk menyetel kecepatan mesin, terutama saat kecepatannya menembus Mach 1. Hal ini dimungkinkan karena maju-mundur inlet cone akan menentukan besar kecilnya pasokan udara ke ruang pembakaran mesin. Inlet cone selanjutnya diterapkan pada pesawat jet dan rudal supersonik, seperti SR-71 Blackbird dan P-800 Oniks/Yakhont.
Nah, ketika sejumlah staf pengajar FTMD ikut dilibatkan dalam proyek KFX/IFX dengan Korea Selatan, mestinya ada pula seuntai transfer teknologi dari sang legenda yang ikut terbawa dalam perancangan jet tempur masa depan Indonesia-Korea Selatan ini. Walau terkesan samar, sudahlah jelas bahwa mereka adalah ilmuwan yang pernah berkutat di laboratorium FTMD. Adrianus Darmawan

KSAD : Jika Dilibatkan, TNI Siap Kejar Teroris hingga ke Hutan

 Jenderal TNI Mulyono
 Jenderal TNI Mulyono 

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Mulyono mengaku, pihaknya siap jika revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme memberikan kewenangan bagi TNI melakukan tindakan. Saat ini pembahasan revisi UU Anti Terorisme masih berlangsung di DPR.
"Yang penting TNI siap dilibatkan dalam kondisi apapun," ujar Mulyono di Mabes TNI AD, Jakarta Pusat, Selasa (30/5/2017).
Namun, Mulyono tidak merinci bentuk keterlibatan yang diinginkan TNI. Akan tetapi, menurut Mulyono, keterlibatan TNI diperlukan guna mendukung penumpasan teroris.
"Tentu dilibatkan untuk selesaikan masalah," kata dia.
Jika dilibatkan, Mulyono memastikan, bahwa TNI siap mengejar kelompok teoris. Bahkan, hingga ke hutan atau daerah pedalaman sekalipun.
"Teroris mau di mana, di hutan juga boleh. Tentara kalo di hutan kan segar seperti saat sedang Idul Fitri," kata dia.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyampaikan keinginannya agar unsur TNI dapat terlibat dalam praktik antiterorisme. Presiden pun meminta keterlibatan TNI dicantumkan dalam Rancangan Undang-Undang Terorisme yang hingga kini masih dibahas di DPR RI.
"Berikan kewenangan kepada TNI untuk masuk di dalam RUU ini. Tentu saja dengan alasan-alasan yang saya kira dari Menko polhukam sudah mempersiapkan," ujar Jokowi dalam sidang kabinet paripurna di Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat, Senin (29/5/2017).

10 Kali Juara Umum Kompetisi di Australia, Tim Penembak TNI AD Diapresiasi KSAD

Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) 2017
Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) 2017 

Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Mulyono mengapresiasi tim tembak TNI AD atas keberhasilan kembali meraih juara umum dalam kompetisi menembak Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) 2017.
Hal itu disampaikan Mulyono dalam acara penyambutan kontingen tim tembak di Mabes TNI AD, Jakarta Pusat, Selasa (30/5/2017).
"Selamat datang kembali kepada kontingen. Ini sudah menjadi kebanggaan bangsa. Saya memaknai keberhasilan ini sebagai momen bagi masyarakat Indonesia untuk lebih mencintai TNI AD," kata Mulyono dalam sambutannya.
Raihan ini mengukuhkan Indonesia sebagai negara yang sejak 2008 berturut-turut mempertahankan gelar sebagai juara umum dalam kompetisi tersebut.
Menurut Mulyono, mempertahankan gelar juara umum selama 10 kali bukanlah tugas yang mudah.
Terlebih, harus dihadapkan dengan dinamika dan situasi berbeda dalam kompetisi disetiap tahunnya.
"Semoga kemenangan ini dapat memotivasi melahirkan penembak-penembak baru yang akan membanggakan kita semua," ucap Mulyono.
Bagi Mulyono, kemenangan tersebut memiliki makna kebanggaan tersendiri, karena sejumlah senjata yang digunakan kontingen TNI AD adalah senjata yang diproduksi di dalam negeri, yakni dari PT Pindad.
Dalam kesempatan ini, Mulyono menyampaikan terima kasih kasih atas peran PT Garuda Indonesia yang mendukung fasilitas dan akomodasi perjalanan para penembak TNI AD.
AASAM 2017 diikuti oleh 20 negara peserta dari wilayah Asia Pasifik. Dalam kompetisi ini, dibawah Pimpinan Letnan Kolonel Joseph T Sibabutar, TNI AD menerjunkan satu tim yang terdiri dari 10 penembak.
TNI AD memboyong 28 mendali emas, 6 perak, dan 5 perunggu dari total 68 mendali emas yang dilombakan.
Sebagai tuan rumah kali ini, Australia menjadi pesaing Indonesia karena menempati urutan kedua dengan perolehan 14 emas.
Disusul oleh Jepang yang menduduki peringkat ketiga dengan raihan 10 emas.
Sersan Dua Wolly Hamsan pada kompetisi kali ini menorehkan catatan positif secara pribadi. Ia menyabet gelar penembak terbaik.
Wolly sehari-harinya bertugas di Detasemen Markas (Denma) Divisi Infanteri 1 Kostrad, Cilodong, Depok, Jawa Barat.
Atas prestasinya itu, Wolly menerima hadiah khusus dari Kasad Mulyono berupa rumah tipe 45.

Lockhed Martin Kembali Produksi Hercules Sipil, Namanya LM-100J

Hercules versi Sipil,  LM-100J Hercules
Hercules versi Sipil,  LM-100J Hercules 

Tidak mau terbawa arus menurunnya pembelian alutsista dalam beberapa waktu terakhir, Lockheed Martin berinovasi dengan meluncurkan pesawat Hercules versi sipil terbaru LM-100J Hercules.
Peluncuran ini diabadikan lewat penerbangan perdana LM-100J pada 25 Mei kemarin, seperti dikutip janes.com.
Varian terakhir versi sipil dari pesawat militer C-130J ini, tiba di Georgia sebagai tempat produksi Lockheed Martin untuk menjalani penerbangan perdana. Oleh pilot ujinya penerbangan ini diistilahkan tanpa cacat (flawless).
Sebelumnya, LM-100J sudah melaksanakan rollout pada Februari, melancarkan jalan LM-100J uji terbang dan memperoleh sertifikat dari Federal Aviation Administration (FAA).
LM-100J meneruskan pendahulunya L-100 yang dibuat pada antara 1964 dan 1992 (terjual 115 ). LM-100J diperuntukkan bagi penggunaan sipil dengan ruang kargo yang panjang.
Beragam penggunaan bisa diaplikasikan ke LM-100J seperti sebagai pesawat pemadam kebakaran, misi penyaluran bantuan kemanusiaan, misi SAR, ambulan udara, misi pertambangan dan sebagainya.
Walau disebut sebagai pesawat sipil, LM-100J sesungguhnya menyasar pembeli dari pemerintah dan militer yang sudah terbiasa mengoperasikan Hercules, atau terlalu mahal untuk membeli C-130J.
Sebagai contoh, jaringan komunikasi terbatas dan peralatan perang elektronik, rak, dan kabel-kabelnya dihilangkan. Semua ini memangkas harga per unit LM-100J. Lockheed Martin menyebutkan harganya antara 60 hingga 70 juta dolar AS, bandingkan dengan C-130J yang mencapai 100 juta dolar AS.
Sejumlah negara termasuk Indonesia, mengoperasikan L-100. Mereka adalah Argentina, Ekuador, Gabon, Libya, Peru, Filipina, Arab Saudi, Uni Emirat Arab.
Indonesia mengoperasikan L-100 untuk menyukseskan program Transmigrasi yang dicanangkan Presiden Soeharto pada akhir 1970-an. Pada puncaknya antara 1979 dan 1984, 535.000 keluarga (hampir 2,5 juta jiwa) pindah tempat tinggal melalui program transmigrasi. Selain menggunakan kapal laut, keperluan yang cepat diatasi dengan membeli pesawat L-100 yang dioperasikan Pelita dan Merpati.
Saat ini sejumlah L-100 dioperasikan oleh TNI AU setelah menerima hibah dari Pelita beberapa tahun lalu. Beny Adrian

Leopard 2A4SG Singapura Tercanggih di Kawasan

MBT Leopard 2A4SG Singapura
MBT Leopard 2A4SG Singapura 

Sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang memboyong Main Battle Tank buatan Jerman Leopard 2A4, Singapura tidak lantas berhenti.
SAF (Singapore Armed Forces) terus menerus mengupgrade Leopard 2A4SG dengan berbagai perangkat elektronik yang memastikan bahwa MBT yang mereka gunakan selalu satu langkah di depan teknologi yang digunakan oleh tetangganya, dan harus diakui, tercanggih di kawasan.
Bukti kecanggihan itu terpampang jelas dalam Army Open House 2017 yang diselenggarakan di F1 Pit pada 27-28 Mei 2017. Dalam pameran statik, terpampang dua Leopard 2A4SG yang dibeli Singapura dari perusahaan Krauss Maffei Wegmann, seolah jadi macan penjaga ke arena display statik.
Awalnya penulis biasa-biasa saja. Soalnya Leopard 2A4SG sudah cukup lama dibeli, bahkan sudah lebih 5 tahun umurnya digunakan SAF.Mau naik ke atas juga malas, karena palkanya ditutup.
Tapi tunggu dulu, saat menengok ke arah atap kubah, kok ada yang tidak biasa? Di tempat yang biasanya dihuni sistem optik panoramik untuk komandan yaitu Hensoldt PERI R-17A2, sekarang digantikan sebuah sistem optik panoramik dalam modul berukuran besar.
Buka-buka kitab rujukan, penulis terkaget-kaget karena ternyata sistem optik tersebut adalah ELOP COAPS (Commander Open Architecture Panoramic Sight) buatan Elbit Optronics Israel.
COAPS menawarkan sistem optik untuk komandan tank yang lebih baik dari PERI R-17 dengan kamera termal terintegrasi buatan Sagem-Matis-STD Perancis, kamera FLIR (Forward Looking Infra Red) kamera berwarna yang bisa di-zoom, serta laser pengukur sasaran (laser rangefinder), seluruhnya distabilisasi pada dua sumbu.
Untuk menggambarkan seberapa canggihnya COAPS, Leopard 2A4SG kini bisa mengenali sasaran berupa tank atau ranpur dalam kondisi gelap malam pada jarak 10,5 km melalui sistem FLIR yang terpasang.
Tampilannya pun bisa dilihat pada display LCD dengan resolusi HD sehingga membantu awak tank untuk mengenali sasaran secara jelas. Apabila tank yang menggunakan COAPS juga membawa amunisi berupa rudal, COAPS dapat diprogram untuk memandu sistem rudal berbasis sistem laser pandu.
COAPS juga sudah terbukti laris. Sebelum Leopard 2A4SG menggunakannya, India sudah membeli COAPS untuk dipasangkan ke program MBT dalam negeri, Arjun MK1A. Program upgrade tank medium Argentina TAM juga memilih COAPS sebagai solusi modernisasi tank yang berbasis dari sasis Marder.
Nah, kecanggihan Leopard 2A4SG juga ditampilkan pada dynamic show yang diadakan setiap hari pada pukul 10 pagi dan 4 sore. Penonton yang mengambil tempat duduk di tribun akan disuguhkan atraksi Leopard 2A4SG menari pivot dengan lincahnya, lalu tanpa ragu melindas mobil yang diletakkan di tengah-tengah panggung, tanpa ampun.
Pertunjukan semacam ini rasa-rasanya perlu juga untuk dipelajari TNI setiap kali menyelenggarakan pameran alutsista, untuk mengaduk emosi masyarakat dan menumbuhkan jiwa patriotisme. Aryo Nugroho

Tinggal Finishing, Bima Suci Dikirim Agustus

Finishing KRI Bima Suci
Finishing KRI Bima Suci 

Indonesia tengah bersiap memiliki kapal layar latih baru. Kapal yang sudah diberi nama Bima Suci dan dibuat di Spanyol ini ditargetkan akan dilepas untuk dikirim ke Indonesia pada pertengahan Agustus mendatang. Kapal yang dibuat Freire Shipyard, perusahaan produsen kapal ternama Spanyol yang berlokasi di kota Vigo ini sedang dalam proses finishing.
"Kami mendapat informasi pembuatan kapal sudah tinggal finishing. Setelelah selesai, targetnya Bima Suci ini akan berangkat dari Spanyol pada 15 Agustus dan sampai di Indonesia pada 5 Oktober 2017," kata Dubes RI untuk Spanyol, Yuli Mumpuni Widarso di Madrid, Jumat (20/5).
Bima Suci akan menggantikan KRI Dewa Ruci yang sudah terlalu tua karena sudah beroperasi sejak 1953. Target pengiriman dan tiba di Indonesia pada awal Oktober sepertinya akan berbarengan dengan momen peringatan HUT TNI.
Kapal yang mulai dikerjakan Freire Shipyard pada 2014 ini disebut-sebut memiliki spek canggih. Rancangan teknis kapal layar tiang tinggi itu, memiliki panjang total 111,20 meter, lebar 13,65 meter, kedalaman draft 5,95 meter, dan tinggi maksimal tiang layar 49 meter dari permukaan dek atas. Kapal kelas Bark (Barque, bahasa Inggris) tiga tiang itu akan memiliki 26 layar dengan luas keseluruhan layar 3.352 meter persegi. Ketinggian dek utamanya 9,20 meter dari permukaan laut.
Bima Suci, yang sudah diresmikan oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu ini mempunyai kecepatan maksimal 12 knot jika menggunakan daya dorong mesin. Sementara jika ditambah dengan menggunakan layar, menjadi 15 knot. Untuk tingkat endurance (ketahanan berlayar tanpa mengisi BBM) dapat mencapai 30 hari. Kapal layar tiang tinggi ini dilengkapi dengan 5 dek, 7 kompartemen, dan 48 blok.
Keistimewaan kapal ini terletak pada instrumen navigasi pelayarannya yang lebih canggih. Instrumen pemurnian air laut menjadi air tawar, hingga alat komunikasi dan data digitalnya.
Dari segi kapasitas, kapal ini dapat menampung 120 taruna dengan 80 awak kapal. Jumlah layar keseluruhan ada 26 buah, lebih banyak dari KRI Dewa Ruci dengan 16 buah layar. Jika di KRI Dewaruci tidak terdapat ruang kelas, KRI Bimasuci menyediakan ruang kelas secara khusus sebagai tempat belajar para taruna AAL saat berlatih dalam operasi Kartika Jala Krida. Ruang kelas yang tersedia mampu memuat 100 taruna.

Opini : Drama Helikopter AW 101 di Garis Polisi

Helikopter Kepresidenan
Helikopter Kepresidenan 

Sejak awal proses pembelian helikopter AgustaWestland AW 101 menyiratkan tanda tanya besar di khalayak. Ketika sudah ditolak Presiden Jokowi akhir tahun 2015 mestinya urusan pembelian helikopter canggih mewah itu selesai, alias tidak jadi. Presiden tidak memerlukan helikopter VVIP Kepresidenan karena helikopter eksisting Super Puma yang ada masih bagus dan siap operasional.
Tapi ternyata dalam perkembangannya ada arogansi dan pemaksaan kehendak. Serangan awalnya adalah menjelek-jelekkan PT DI. Syahwat yang menggebu untuk membeli helikopter merk lain dibahasakan dengan audio dan visual yang menggebu di media. PT DI dijadikan kambing hitam karena lambatnya proses produksi atau tak berkeinginan ada merek lain selain serial Super Puma. Maksudnya untuk penggiringan opini supaya AW 101 bisa gol.
Kita bisa saksikan di episode itu seorang pengamat militer di beberapa media dengan bahasa yang vulgar menjatuhkan wibawa industri kerdigantaraan dalam negeri. PT DI ditelanjangi sebagai sebuah BUMN “karatan” alias tak mampu buat helikopter. Bisanya hanya merakit dan mengecat, bisanya hanya memonopoli merek dan hanya bisa buat CN-235. Tapi dia lupa bahwa saat ini PT DI sedang bekerjasama pembuatan jet tempur KFX/IFX dengan Korsel. Publik pun “terkesima” dengan penggiringan opini ini.
Ketika korupsi bernilai 220 Milyar dari harga helikopter yang 738 Milyar terbuka maka benarlah asumsi khalayak selama ini bahwa memang terjadi mark up harga dalam pembelian helikopter buatan Inggris dan Italia itu. Sekedar membandingkan harga helikopter Caracal EC (Eurocopter) 725 alias Super Cougar yang dirakit PT DI bernilai US$ 35 juta sementara si AW 101 dihargai US$55 juta. Ketika kasus ini terbongkar mana ya suara si pengamat militer tadi.
Drama tak elok ini sepertinya mengikuti jejak India yang tahun 2010 memesan 12 unit helikopter AW 101. India sudah menerima 3 unit helikpoter, sisanya masih 9 unit dan masih dirakit. Kemudian terjadilah penangkapan Giuseppe Orsi CEO Finmeccanica, perusahaan induk AgustaWestland di Italia. Efek domino dari penangkapan itu ternyata KSAU India termasuk salah satu dari banyaknya politikus dan pejabat militer India yang terkena suap dari pembelian helikopter senilai 7 trilyun itu. Ada indikasi kuat bahwa helikopter yang dibeli Indonesia itu adalah paket helikopter yang bermasalah di India.
Bisa jadi cerita korupsi jamaah di India itu diikuti Indonesia sebab korupsi 220 Milyar itu secara logika tidaklah mungkin hanya melibatkan 3 orang tersangka militer aktif Indonesia termasuk jendral bintang satu. Tetapi setidaknya dalam kondisi saat ini ada yang merasa berdebar-debar ketika pintu rumahnya diketuk, jangan-jangan ada yang menjemput atau bertanya. Kita tunggu saja perkembangan kasus korupsi alutsista terbesar ini yang “mengungguli” nilai korupsi pengadaan jet F-16 dan helikopter AH-64E Apache Guardian bernilai US$ 12,4 juta.
Dramanya adalah baru pertama kali terjadi pengadaan helikopter militer diberi garis polisi di pangkalan militer bergengsi. Kedatangan si AW 101 seakan tak ada yang bisa menghadang dan dengan gagah memasuki Halim AFB. Atau boleh jadi kasus ini mengikuti doktrin TNI,masuk dulu baru digebuk. Heli dibiarkan masuk lalu diberi garis polisi, dikasih kesempatan terbang untuk uji kelayakan lalu masuk garasi dan kembali diberi garis polisi. Nah sekarang orang-orang yang terlibat sudah digebuk dan sangat mungkin akan bertambah jumlahnya.
Anggaran pertahanan Indonesia menjadi yang terbesar mulai tahun depan. Madu manis ini tentu menarik perhatian para semut-semut makelar, produsen, user militer, pengambil kebijakan atau bahkan pihak-pihak yang mengaku dekat dengan kekuasaan. Inilah ujian Kementerian Pertahanan dan TNI yang diamanahkan mengemban modernisasi militer Indonesia secara besar-besaran.
Dua kasus korupsi bernilai ratusan milyar ini hendaknya dijadikan semangat untuk berbenah dan bersih-bersih di tubuh militer kita. Pemerintah mengucurkan dana ratusan trilyun untuk menggagahkan hulubalang republik. Lihatlah Natuna sekarang, demam terus, lihatlah selatan Kupang ada pergerakan milter teknologi tinggi, lihatlah Ambalat dan perbatasan Filipina ada klaim teritori dan militan ISIS. Kita perlu militer yang kuat secara kuantitas dan kuat secara teknologi.
Anggaran besar itu digelontorkan agar pertahanan teritori kita kuat dan berdaya tahan tinggi. Maka bangunlah militer dengan semangat membangun kekuatan bangsaku, bukan bank saku mu yang dikuattebalkan karena ingin mencicipi manisnya madu anggaran alutsista. Bulan puasa ini saatnya menjernihkan pola sikap untuk tidak rakus karena puasa mengajarkan kepada kita tidak rakus, tidak tamak. Itu saja harapan kita Jendral, kata Nagabonar.
Sumber : TSM - Jagarin Pane

Water Cannon DWC6500, Rantis Canggih Tahan Peluru, Pengendali Massa Andalan Polri

Water Cannon DWC6500
Water Cannon DWC6500 

Truk yang satu ini masuk dalam kategori rantis (kendaraan taktis), meski tak dioperasikan oleh TNI, kendaraan berupa truk water cannon ini mempunyai kemampuan laksanan rantis yang dioperasikan kavaleri atau infanteri mekanis. Pasalnya water cannon tipe DWC6500 produksi Daejicar (Daeji P&I) ini dilengkapi body lapis baja, mampu menahan terjangan proyektil dan ban-nya sudah mengadopsi runflat tire, menjadikan truk ini mirip sebuah panser dengan kemampuan utama menyemprotkan air bertekanan tinggi.
Rasanya tak sulit untuk melihat sosok rantis DWC6500, populasinya dibilang cukup banyak tersebar di Polda dan Polres seluruh Indonesia. Karena digunakan untuk operasi pengendalian massa dan mengatasi kerusuhan, maka water cannon ini cukup sering tertangkap kamera media, boleh dikatakan setiap ada demonstrasi yang melibatkan massa dalam jumlah besar, maka Polri tak lupa menghadirkan rantis ini, melengkapi kehadiran rantis APC seperti Barracuda 4×4 dan DAPC 4×4. Bahkan DWC6500 berkerabat dekat dengan rantis Brimob DAPC 4×4, lantara keduanya diproduksi oleh perusahaan yang sama di Korea Selatan.
Truk water cannon DWC6500 dalam menjalankan misi Dalmas sanggup membawa 6.500 liter air. Truk yang berpenggerak 4×2 ini dilenkapi sejumlah fitur canggih, untuk menembakkan air bertekanan tinggi ada dua kanon air diatas kompartemen kemudi, untuk pengendalian kanon menggunakan joystick dan monitor. Karena digerakkan secara digital, operator mengandalkan input dari front zoom camera dan cannon camera. Tidak hanya bagian depan saja yang termonitoir, di bagian belakang kendaraan juga dilengkapi kamera intai. Untuk misi rekam kejadian di lokasi, tidak lupa terdapat DVR system dan 4 channel monitor.
Punya prinsip mirip dengan truk pemadam kebakaran, DWC6500 juga dibekali self priming cenftifugal pump, auxiliary engine dan hydrant connector. Setelah massa yang rusuh dapat dipukul mundur, rantis ini juga dapat membersihkan permukaan jalan dengan lateral nozzle dan water sprinkle.
Rantis diawaki oleh 5 personel, yakni pengemudi, navigator, dan tiga operator water cannon. Konfigurasi penempatan awak dibagi ke dalam double cabin yang tahan terjangan peluru. Dapur pacunya menggunakan mesin diesel Deewoo 340HP. Ukuran ban (runflat tire) 12R22.5-16PR. Mau tahu kemampuan mesin pompa di truk water cannon ini? Dengan basis mesin D4DA, truk ini dapat menyedot 2.200 liter per menitnya. Selain dioperasikan Satuan Sabhara, Korps Brimob diketahui juga menggunakan water cannon ini. (Gilang Perdana)

Brigade Artileri Roket Rusia Beralih Memakai Peluncur Roket Tornado-S

Roket Tornado-S
Roket Tornado-S 

Brigade artileri roket Rusia akan beralih sepenuhnya dari sistem peluncur roket Smerch ke sistem peluncur roket ganda (MLRS) Tornado-S pada tahun 2020, kata Komandan Pasukan Rudal dan Artileri Angkatan Darat Rusia Jenderal Mikhail Matveyevsky.
“Hingga 2020, seluruh brigade rudal akan dipersenjatai dengan sistem rudal canggih Iskander-M, dan seluruh brigade artileri akan dipersenjatai dengan sistem MLRS berkaliber besar Tornado-S,” ujar Matveyevsky, Senin (29/5). Ia menambahkan bahwa rencana tersebut telah dimulai sejak tahun ini.
Tornado-S dikembangkan oleh Perusahaan Penelitian dan Manufaktur Splav (bagian dari perusahaan negara Rostec). Sistem tersebut berukuran 300 milimeter, dapat meluncurkan roket hingga sejauh 120 kilometer, dan menyerang area seluas 60 hektare.
Tornado dapat meninggalkan posisinya bahkan sebelum rudal yang ditembakkan menyentuh tanah. Saat rudal terakhir meledak, menghancurkan target, sistem ini mungkin sudah ada beberapa kilometer dari lokasi penembakan.

Panglima TNI : Pasukan Siap Hadang ISIS di Perbatasan Filipina

Patroli TNI AD
Patroli TNI AD 

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan pasukannya telah berjaga di sekitar perbatasan Filipina untuk mengantisipasi masuknya kelompok ISIS Filipina ke Indonesia. Ini terkait dengan serangan militer Filipina ke basis ISIS di Marawi.
"Perbatasan kami jaga supaya ISIS tidak masuk ke Indonesia," kata Gatot setelah menghadiri acara buka puasa bersama di kantor Partai NasDem, Jakarta, Ahad, 28 Mei 2017.
Sebelumnya, pasukan militer Filipina menggempur kelompok pemberontak Maute di Kota Marawi sejak 25 Mei 2017. Pertempuran tersebut menewaskan 44 orang, 11 di antaranya pasukan militer Filipina.
Pertempuran untuk membebaskan Kota Marawi dari cengkeraman kelompok Maute masih berlangsung hingga hari ini. Filipina mengerahkan beberapa tank dan helikopter dalam operasi militer di Marawi, kota yang dihuni mayoritas muslim.
Gatot mengatakan TNI melakukan patroli laut sepanjang Maluku Utara sampai dengan Sulawesi. Ia pun mengatakan pasukannya berjaga bersama kepolisian di wilayah darat.
Gatot Nurmantyo memastikan pasukannya juga berjaga di semua wilayah perbatasan, termasuk pelabuhan-pelabuhan bayangan. "Supaya tidak ada penyusupan," katanya.

China Produksi Pesawat Pembom Nuklir dengan Data Curian dari AS

Ilustrasi 

Upaya militer China, khususnya Angkatan Udaranya (PLAAF), untuk meraih superioritas udara di kawasan Pasifik dan Timur Jauh terus digenjot.
China yang sedang mengincar perairan di Laut China Selatan (LCS) rupanya makin menyiapkan diri untuk menghadapi para rivalnya seperti Jepang, Taiwan, AS, dan lainnya.
Kendati telah berhasil memproduksi sejumlah pesawat tempur canggih seperti jet tempur generasi kelima Chengdu J-20, pesawat pembom nuklir berteknologi stealth Xian H-8, dan pembom strategis jarak jauh Xian H-6, PLAAF masih menggarap satu lagi pesawat pembom strategis berteknologi stealth yang bisa mencapai daratan AS, H-20.
Pembom canggih yang bisa membawa nuklir dan memiliki kecepatan hipersonik ini digarap sejak tahun 2008. Pesawat itu dijadwalkan bisa operasional pada tahun 2025 mendatang.
Proyek H-20 dirancang langsung oleh lembaga pengembangan dan penelitian pesawat tempur China, Shanghai Aircraft Design and Research Institute. Lembaga itu bertanggung jawab atas pengembangan teknologi stealth yang lebih maju dari pesawat sebelumnya, Xian H-8.
Program dan pengembangan H-20 dilakukan secara “licik” oleh China. Sebab, konsepnya berdasar data curian dari seorang bernama Noshir Gowadia, ahli perancang pesawat mesin tempur berteknologi stealth yang pernah bekerja di Northop Grumman, AS.
Gowadia yang merupakan warga AS keturunan India juga dikenal sebagai salah satu perancang pesawat pembom siluman B-2 Spirit. Ia berhasil dibujuk oleh China sebagai agen mata-matanya.
Atas tindakan menjual informasi teknologi mutakhir yang memiliki kerahasian tinggi itu, pengadilan AS menjatuhkan hukuman 32 tahun bagi Gowadia pada tahun 2011.
Berkat informasi yang ia berikan, program penggarapan yang dilaksanakan oleh industri pesawat China Xian Aircraft Industrila Corporation, proyek H-20 langsung mengalami kemajuan pesat.
Secara fisik dan teknologi, pembom stealth H-20 memiliki kemiripan dengan B-2 Spirit. Badannya berbentuk seperti sayap terbang (flying wing).
Sebagai bomber yang dijagokan untuk berkiprah di atas LCS, H-20 bisa terbang sejauh 8.000 km tanpa mengisi ulang bahan bakar sambil membawa persenjataan seberat 10 ton.
Dengan kemampuan itu, H-20 bisa dengan leluasa terbang ke arah utara menuju Jepang, Bonin, dan Kepulauan Mariana. Sedangkan jika terbang ke arah selatan, H-20 bisa terbang di atas Carolina dan Indonesia. A. Winardi

Serius Hadapi Korut, AS Kirim Kapal Induk Ketiga USS Nimitz (CVN 68) ke Semenanjung Korea

USS Nimitz (CVN 68)
USS Nimitz (CVN 68) 

Militer Amerika Serikat (AS) ternyata mengirim kapal induk ketiga ke semenanjung Korea setelah dua kapal induk lainnya sudah lebih dulu siaga di kawasan tersebut. Mengirim tiga kapal induk sekaligus di kawasan yang sama merupakan langkah tak biasa bagi militer Washington.
Kapal induk ketiga yang sedang bergerak ke semananjung Korea adalah kapal induk USS Nimitz (CVN 68) Kapal yang rencananya akan ditempatkan di Pasifik barat selama sekitar enam bulan ini ternyata digerakkan menuju kawasan semenanjung Korea.
USS Nimitz, salah satu kapal perang terbesar di dunia itu, akan bergabung dengan dua kapal induk AS lainnya, USS Carl Vinson (CVN 70) dan USS Ronald Reagan (CVN 76), yang sudah berlayar di kawasan perairan Korea.
Pengiriman tiga kapal induk sekaligus oleh AS ini terjadi di tengah memanasnya ketegangan di semenanjung Korea, di mana rezim Korea Utara (Korut) yang dipimpin Kim Jong-un gencar menguji tembak rudal balistiknya.
Angkatan Laut AS tidak secara eksplisit menyebut bahwa USS Nimitz ditujukan untuk operasi yang berkaitan dengan Korut. Namun, mereka mengatakan bahwa kapal induk raksasa itu akan dimobilisasi di Asia Pasifik dan Timur Tengah.
”Saya sangat bangga dengan seluruh tim Nimitz, koordinasi dan dukungan hebat di seluruh kelompok penyerang, terutama dalam siklus latihan yang kental. Awak melangkah dan saya yakin kami siap untuk bertemu. Apapun tantangan yang ada di depan, penerapan yang akan muncul,” kata Kapten Kevin Lenox, komandan kapal USS Nimitz, sebagaimana dikutip dari IB Times, Senin (29/5/2017).
Kapal USS Nimitz dalam pelayarannya diapit oleh kapal perusak bersenjata rudal yang dipandu dan kapal dengan rudal jelajah.
Dua sumber terkait mengatakan kepada Voice of America bahwa penyebaran kapal induk ketiga ini ditujukan untuk menunjukkan kekuatan kepada Korut, setelah Pyongyang dengan cepat meningkatkan program persenjataannya dalam beberapa bulan terakhir.
Kapal USS Ronald Reagan dan kapal USS Carl Vinson yang sudah berada di kawasan semenanjung Korea merupakan kapal induk bertenaga nuklir yang membawa puluhan pesawat jet tempur.
Kapal Ronald Reagan dengan panjang 1.092 kaki membawa lebih dari 4.500 awak dikirim ke wilayah tersebut pada pertengahan bulan Mei, sedangkan kapal Carl Vinson dikirim lebih dulu pada bulan April lalu.

FPB-57 Nav V, Varian Kapal Cepat TNI AL dengan Bekal Senjata dan Sensor Maksimal

FPB-57 Nav V
FPB-57 Nav V 

Dari segi kecepatan, sejatinya FPB-57 tidak masuk dalam klasifikasi kapal cepat, karena kecepatan maksimum yang bisa digenjot hanya 30 knot. Namun, berkat bekal tambahan senjata yang diusungnya, beberapa FPB-57 layak ‘naik kelas’ dari armada Satrol (Satuan Kapal Patroli) menjadi kekuatan armada Satkat (Satuan Kapal Cepat). Dengan perubahan satuan, maka identitas nomer lambung pun berubah dari 8xx menjadi 6xx.
FPB (Fast Patrol Boat)-57 merupakan bukti nyata kemampuan PT PAL memasok kebutuhan kapal perang untuk armada TNI AL. Hingga kini, tercatat ada 12 unit FPB-57 dalam berbagai varian yang telah dioperasikan TNI AL. Dirunut dari sejarahnya, rencana pembuatan FPB-57 muncul pada tahun 1975. Saat itu, Laksamana Sudomo yang menjabat sebagai Pangkopkamtib mengutarakan keinginan untuk membangun sendiri kapal perang di dalam negeri kepada Mensristek (saat itu) BJ Habibie. Ide ini pun ditindak lanjuti oleh Habibie dalam bentuk jalinan kerjasama dengan FLW (Friedrich Luersen Werft), sebuah industri perkapalan kondang dari Jerman.
Empat tahun kemudian, pihak TNI AL menyetujui proposal PT PAL untuk membangun kapal cepat hasil desain FLW yang selanjutnya dikenal dengan kode FPB-57. Sejumlah tenaga PT PAL kemudian dikirim ke Jerman untuk mempelajari manajemen produksi kapal perang ke Jerman. Sepulang dari Jerman, tepatnya pada tahun 1984, pembangunan fisik FPB-57 pun dimulai oleh PT PAL.
Lewat berjalannya waktu dengan meluncurkan beragam varian, pembangunan FPB-57 berakhir pada tahun 2013 dengan diproduksinya 12 unit kapal dalam lima sub varian. Masing-masing sub varian diberi kode Nav I sampai V yang memiliki beberapa karekter. Dan, sudah barang tentu yang paling akhir dibuat, yakni FPB-57 Nav V adalah jenis yang paling canggih. Bahkan, meski kini sudah ada platform kapal cepat yang lebih maju, seperti KCR60, tetap untuk urusan kelengkapan dan kualitas senjata yang terpasang, varian FPB-57 Nav V adalah jawaranya. Pasalnya KCR60 masih belum terpasang perangkat sensor dan meriam nya sementara masih comotan bekas pakai dari kapal perang lain.
FPB-57 Nav V terdiri dari 4 unit kapal perang, yakni KRI Todak-631, KRI Lemadang-632, KRI Hiu-634, dan KRI Layang-635. Seri FBP-57 Nav V kerap disebut sebagai Todak Class, karena KRI Todak adalah jenis pertama yang meluncur dari keempatnya. Sebagai kapal cepat, FPB-57 Nav V punya kemampuan perang aspek permukaan, anti serangan udara, dan anti kapal selam. Hanya sayang, di FPB-57 Nav V tidak dipasangi torpedo SUT (surface and underwater target) 533 mm, seperti halnya terpasang sebelumnya di FPB-57 Nav II yang terkenal sebagai KCT (Kapal Cepat Torpedo).
Sebagai varian terakhir, FPB-57 Nav V dilengkapi beberapa kelebihan, diantaranya adopsi pada sistem kendali persenjataan (fire control system) yang lebih canggih. Dirancang mampu menyusup ke daerah lawan secara silent dengan dukungan radar yang dirancang khusus. Beberapa perangkat sensor yang dikenali seperti radar permukaan Racal Decca/Signaal Scout, Countermeasures Dagie decoy RL, pengontrol tembakan DR-2000 S3 intercept, dan Sonar PHS-32 hull mounted MF. Tidak cuma itu, FPB-57 Nav V juga padat teknologi canggih lainnya, mulai dari sonar (Sound Navigation and Ranging), optronic (optical electronics), Weapon Control Console (WCC), Konsol Peralatan Perang Elektronika, Tactital Display Console (TDC), Identification Friend or Foe (IFF), dan meja plot otomatis, kesemuanya tersaji di dalam PIT (Pusat Informasi Tempur). Bahkan di bagian anjungan belakang, ada perangkat Optronic Director, alat ini diletakkan pada bagian atas kapal, terdiri atas lensa tele, kamera TV, dan laser. Optronic ini tidak diawaki oleh operator.
Untuk racikan senjata, yang paling afdol adalah adopsi rudal anti kapal C-802 yang terpasang 2 peluncur di tiap-tiap kapal. Lain dari itu senjata unggulannya adalah kanon Bofors 57/70 MK.2 kaliber 57 mm yang terpasang pada sisi haluan kapal. Secara teori, Bofors 57 mm MK.2 dapat memuntahkan 220 proyektil untuk tiap menitnya. Namun untuk operasional, jumlah amunisi yang siap tembak di dalam cupola hanya mencapai 120 peluru dalam magasin. 40 peluru dalam posisi siap tembak, 40 peluru dalam 2 magasin sekunder, dan 40 peluru lagi dalam 2 magasin tengah dengan dua jenis peluru.
Jarak tembak maksimum Bofors 57 mm MK.2 bisa mencapai 17.000 meter, dengan sudut elevasi laras 45 derajat berhulu ledak HE (high explosive). Sudut elevasi laras dapat dimainkan mulai dari -10 hingga 75 derajat. Sedangkan untuk jarak tembak efektif bisa dicapai pada jarak 8.500 meter. Tiap proyektil yang ditembakkan mempunyai kecepatan luncur 1.035 meter per detik. Sebagai bukti bahwa Bofors 57 mm adalah kanon reaksi cepat, dapat dilihat dari kecepatan reaksi laras yang mencapai 40 derajat untuk tiap detiknya. Dalam pengendaliannya, kanon ini dapat dioperasikan secara remote dari PIT (pusat informasi tempur), sebagai perangkat pemandu tembakkan ke sasaran (fire control tracking system) dipilih Lirod MK.2 buatan Thales.
Sementara di bagian buritan ada kanon Bofors 40 mm L/70. Dilihat dari efek gempurnya, Bofors 40 mm mampu menghantam sasaran secara efektif di udara hingga jarak 3.000 meter. Sedangkan jarak tembak maksimum secara teori dapat mencapai 12.500 meter. Dalam satu menit, awak kanon yang terlatih dapat memuntahkan 240 peluru. Untuk kecepatan luncur proyektil mencapai 1.021 meter per detik.
Dan, terakhir masih ada dua pucuk kanon PSU (penangkis serangan udara) kaliber 20 mm. Jenis yang digunakan adalah Rheinmetall Rh202 laras tunggal. Untuk kecepatan memuntahkan amunisi, Rheinmetall 20 mm sanggup menembakkan mulai dari 880 hingga 1.030 peluru per menit. Lebih dalam lagi, kecepatan luncur peluru sanggup mencapai 1.050 meter per detik dengan amunisi tipe HE-T, dan 1.100 meter per detik dengan amunisi tipe AP-T. Amunisi disalurkan lewat sistem belt ke laras, dimana tiap belt dapat dirangkai hingga 200 peluru.
Kedepan, TNI AL akan memajukan KCR60 Class untuk andalan di Satkat, namun karena instalasi sensor dan persenjataan di KCR60 belum benar-benar siap, maka hingga kini keluarga FPB-57 masih menjadi yang diandalkan, apalagi FPB-57 Nav V sudah dipasangi rudal anti kapal modern C-802 yang punya daya getar lumayan tinggi. Tantangan terbesar di FPB-57 Nav V saat ini konon lebih pada ketersediaan suku cadang. (Haryo Adjie)
Spesifikasi FPB-57 Nav V :
  • Bobot : 445 ton
  • Panjang keseluruhan : 58,1 meter
  • Panjang pada garis air : 54,4 meter
  • Lebar : 7,62 meter
  • Tinggi pada tengah kapal : 4,75 meter
  • Mesin : Diesel MTU2 x 3.025HP
  • Kecepatan ekonomis : 15 knot
  • Kecepatan maksimum : 30 knot
  • Awak : 47

Fokus : Misteri Pembelian Heli AW 101 Mulai Terkuak

 Heli AW 101
 Heli AW 101 

Kejanggalan pengadaan Helikopter AgustaWestland AW 101 akhirnya mulai terkuak. Dua perwira dan satu bintara ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi militer (POM) TNI.
Ketiga tersangka dari unsur militer tersebut yaitu Marsma TNI FA selaku pejabat pembuat komitmen, dan Letkol WW selaku pejabat pemegang kas. Lalu, Pembantu Letnan Dua (Pelda) SS yang menyalurkan dana ke pihak tertentu.
Tiga tersangka tersebut diduga menyalahgunakan wewenang yang berujung kerugian negara mencapai Rp220 miliar. Penetapan tiga tersangka tak lepas dari pembentukan tim investigasi yang dimulai sejak akhir 2016. TNI AU saat itu masih di bawah pimpinan Marsekal (Purn) Agus Supriatna.
Dilihat dari gonjang-ganjing pengadaan, heli buatan Inggris ini sejak awal menuai kontroversi. Awalnya, TNI AU akan membeli delapan unit AW 101. Namun, rencana mendatangkan 8 unit tersebut panen kritikan.
Beberapa alasan menjadi penyebabnya. Misalnya, peran AW 101 yang diisyaratkan akan bentrok dengan helikopter NAS 332 Super Puma bila tetap didatangkan. Pihak istana pada akhir tahun lalu pernah menekankan bila helikopter Super Puma yang biasa dipakai Presiden Jokowi masih layak digunakan. Oleh karena itu, AW 101 akan mubazir dan belum tepat kalau didatangkan.
Usulan AW-101 menggantikan Super Puma yang dinilai sudah uzur memang memunculkan polemik. Bahkan, kritikan sempat datang dari dalam negeri agar lebih baik TNI AU menggunakan helikopter buatan PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Argumen ini karena PT DI punya produk heli anti-peluru yang bisa disetel untuk keperluan pengangkutan VVIP seperti kepresidenan. Selain itu, harga yang mahal menjadi alasan lain ditolaknya AW 101.
Ditolak untuk peran pengangkutan VVIP, pembelian AW 101 diubah sebagai helikopter angkut berat militer. Helikopter ini juga dianggap multifungsi untuk bencana dan SAR. Pengadaan AW 101 dengan perubahan fungsi pada 2016 ditangani TNI AU yang saat itu dipimpin Marsekal (Purn) Agus Supriatna.
Meski ditolak, tapi heli mewah rancangan Eropa Barat ini tetap tiba di Tanah Air. Namun, kedatangan satu unit AW 101 di Lapangan Udara Halim Perdana Kusuma pada akhir Januari 2017 tak dianggap sebagai kekuatan alutsista TNI AU. Apalagi, baik Panglima TNI maupun Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu saat rapat kerja dengan Komisi I DPR sempat sama-sama bingung dengan munculnya satu unit AW 101.
"Heli datang pada akhir Januari, tetapi satu heli itu belum kami terima sebagai kekuatan AU, sehingga yang ada hanya satu versi militer yang speknya belum memenuhi fleksibilitas itu," kata KSAU, Marsekal Hadi Tjahjanto, di kantor KPK, Jumat 26 Mei 2017.
Hadi menceritakan, usai dilantik menggantikan Agus Supriatna, ia mengaku mendapat tugas khusus. Tugasnya yaitu mengawal proses investigasi sesuai instruksi dari Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.
Setelah ada hasil investigasi, Hadi atas nama KSAU melapor kepada Panglima TNI. Menindaklanjuti hasil investigasi, Panglima TNI kemudian langsung menggandeng PPATK, KPK, dan Polri.
Hasilnya, dari penyidikan, POM TNI menjerat tiga tersangka dari unsur TNI terkait kasus mark up pembelian AW-101 tersebut. Sementara itu, berkaitan dengan terduga yang berasal dari sipil, diserahkan kepada KPK penanganannya.
Dalam pengadaan AW 101, dana yang digunakan berasal dari APBN tahun 2016, dengan nilainya Rp738 miliar. Namun, diduga angka korupsinya mencapai Rp220 miliar.
Janji Panglima TNI
Meski sudah ada tiga tersangka dalam kasus dugaan korupsi pembelian AW 101, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berjanji akan transparan dalam mengungkap kasus ini. Hal ini yang menjadi alasan TNI menggandeng KPK.
Gatot menegaskan bersama KPK akan mengawasi kasus ini sampai selesai dan tak ada yang ditutupi. Pembagian dengan KPK ini yaitu unsur militer akan diadili di pengadilan militer. Sementara, dari swasta atau sipil akan diadili di pengadilan tipikor.
"Jangan khawatir, kalau kita tidak terbuka tidak mungkin saya kerja sama dengan KPK. Saya minta untuk mengawasi sampai selesai, tidak ada yang ditutupi. Ini adalah uang rakyat, harus tanggung jawab kepada rakyat. Hukum adalah panglima tertinggi bagi TNI," kata Gatot di kantor KPK, Jumat, 26 Mei 2017.
Prajurit TNI diingatkan bahwa peran TNI adalah menjaga dengan menguatkan negara. Bukan justru melemahkan negara dengan melakukan perilaku korupsi. Tindakan korupsi dalam pembelian AW 101 dapat merugikan negara.
Kemungkinan tersangka lain bertambah pun terbuka dalam kasus ini. Gatot kembali berharap agar prajurit TNI yang diduga terlibat untuk kooperatif dan berani bertanggung jawab menghadapi kasus ini.
“Dan saya sebagai Panglima TNI meminta kepada personel TNI kooperatif, jujur dan bertanggung jawab agar bisa diungkap secara profesional,” tuturnya.
Keseriusan TNI dalam mengungkap kasus heli AW 101 direspons positif KPK. Bagi Ketua KPK, Agus Rahardjo, keinginan TNI merupakan komitmen bersama yang sudah dilakukan sejak tiga bulan lebih.
"Ini komitmen dari panglima, sudah kerja sama lebih dari tiga bulan, penyelidikan dan pengumpulan data bersama, terkait pembelian heli AW 101," ujar Agus di KPK, Jumat, 26 Mei 2017.
Kerja sama antara KPK dengan TNI sebelumnya sudah terjalin di beberapa kasus dugaan korupsi seperti suap PT PAL dan Bakamla. "Kami sudah sepakat tersangka dari TNI akan dilakukan di peradilan militer, swasta di tipikor. Kerja sama kami berlanjut, dari sebelumnya soal PT PAL dan Bakamla," katanya.
Sinergi antara KPK dengan TNI diharapkan menjadi contoh ke depannya. Menurut anggota Komisi III DPR, Arsul Sani, sinergi lembaga yang terbentur perbedaan sistem peradilan harus punya solusi. Langkah Panglima TNI dinilai positif untuk pemberantasan korupsi di Indonesia.
"Sinergi semacam ini memang sudah menjadi suatu keharusan yang perlu terus dibangun di negara. Alhamdulillah Panglima TNI mendorong sinergi semacam ini. Tentu ini sesuatu yang patut kita apresiasi," kata Arsul saat dihubungi VIVA.co.id, Minggu 28 Mei 2017.
Kendala sistem peradilan yang sering dikeluhkan yaitu militer semoga akan dijawab dalam persoalan ini. Sebagai legislatif, tentu, kata Arsul, DPR terutama Komisi III, akan mendukung agar proses hukum kasus ini lebih terbuka atau melalui peradilan koneksitas.
"Peradilan koneksitas merupakan proses peradilan di mana hakimnya terdiri dari hakim peradilan umum dan hakim peradilan militer. Terdakwanya yang diadili juga terdiri dari personal sipil dan militer. Dan JPU-nya juga merupakan tim yang terdiri dari jaksa pada kejaksaan, dengan jaksa dari oditurat militer," tuturnya.
Evaluasi Pembelian Alutsista
Transparansi dalam pengadaan alutsista dinilai sangat penting. Poin ini harus menjadi prioritas agar bisa menjalankan prosedur dengan semestinya. Selain itu, dengan transparansi bisa mengurangi celah kerugian negara, baik dari sisi kualitas barang ataupun pendanaan.
"Transparansi dan akuntabilitas makanya menjadi penting. Di sini yang perlu ada pengikatan perjanjian saat pembelian. Ini berlaku untuk pengadaan pesawat harus jelas overwhole dan retrofit-nya," kata perempuan yang akrab disapa pengamat militer, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati, Minggu, 28 Mei 2017.
Nuning menilai dalam pengadaan AW 101 dinilai ada kesalahan prosedur yang tak dijalani. Hal ini yang menjadi polemik sehingga tak ada satu suara dalam pengadaan alutsista.
Pembelian helikopter AW 101 diharapkan juga menjadi evaluasi ke depannya. Pihak TNI dan Kementerian Pertahanan diminta bisa lebih bisa menjalankan koordinasi dalam membeli alutsista.
Hal ini mengacu pembelian alutsista pesawat yang sebelumnya tak pernah bermasalah dalam periode pemerintahan yang berbeda. Menurut dia, jangan sampai ada saling lempar pernyataan yang justru membingungkan publik.
"Itu biar diselesaikan pihak pemerintah. Dalam rapat kerja, kami pernah menekan hal tersebut. Ini harus jadi evaluasi," tutur Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanudin.
Ia mencontohkan proses pengadaan alutsista, harus menyesuaikan prosedur dari perencanaan sampai pembelian. Biasanya dalam setiap matra saat mengajukan alutsista maka akan dibawa ke Mabes TNI terlebih dulu. Jika sudah dipresentasikan ke Mabes dan disetujui maka selanjutnya mengajukan kepada Kementerian Pertahanan.
Dalam alutsista, setiap pembelian pasti Kementerian Pertahanan mengetahui datanya. Begitu pun termasuk pengadaan alutsista helikopter AW 101. Jika tak mengetahui pembelian alutsista yang menggunakan dana besar maka harus ada evaluasi dalam teknis prosedur.
"Kalau dari rangakaian pembelian alutsista seharusnya pihak TNI dan Kemhan itu saling mengetahui," ujar Hasanudin.
Terkait pembelian AW 101, diakuinya sudah menjadi pertanyaan sejak awal. Hal ini mengacu undang-undang tentang industri pertahanan yang mesti produk dalam negeri harus menjadi prioritas. Faktor ini menjadi perkecualian jika memang industri pertahanan di dalam negeri tak bisa membuatnya.
Sementara, yang ia ketahui masih ada produk seperti rancangan PT Dirgantara Indonesia yang bisa merancang heli sendiri.
"Nah, ini kan yang dari awal jadi sorotan. Tapi, itu ada kewenangan di TNI, bukan DPR," tuturnya.

Unsur Cassoex Melaksanakan RAN Small Arms Firing di Laut Bali

KRI Hiu-634 FPB-57 Class buatan PT PAL
KRI Hiu-634 FPB-57 Class buatan PT PAL 

Unsur-unsur kapal perang Republik Indonesia Navy dan Royal Australian Navy yang tergabung dalam latihan bersama bilateral Cassoex Exercise 2017, yang terdiri dari KRI Hiu-634 sebagai kapal markas yang dikomandani oleh Letkol Laut (P) Shayid Hasan yang sekaligis sebagai Komandan Satuan Tugas Latihan (Dansatgaslat), KRI Hiu yang memimpin manuver Small Arms Firing ( Latihan menembak meriam 40 dengan sasaran Tomatto Killer) dengan jarak RAN pertama 1 mil dan RAN kedua mengunakan senjata meriam 20 jarak 1000 yard) diikuti HMAS Glenelg dari Royal Australian Nany dan KRI Pandrong-801 serta HMAS Bathurts, diperairan laut Bali. (25/05/2017).
Latihan ini dilaksanakan di Wilayah perairan Indonesia Bagian Timur khususnya perairan perbatasan Indonesia - Australia merupakan wilayah perairan yang sangat strategis, lalu lintas pelayaran yang ramai dan kaya akan sumber daya alam serta terdapat obyek-obyek vital Nasional.
Kondisi demikian menimbulkan kerawanan - kerawanan baik dari luar maupun dari dalam yang dapat menggangu stabilitas keamanan di kawasan perairan Indonesia bagian timur. Oleh sebab itu, upaya penjagaan, pengawasan dan pengamatan perlu secara rutin dan berlanjut dilakukan untuk menciptakan kawasan perairan yang terkendali, perlu kerjasama yang positif antara negara Indonesia dan Australia
Dalam hal ini kedua Angkatan Laut yang secara langsung berkepentingan untuk memelihara stabilitas keamanan perairan tersebut. Sebagai tindak lanjut kerjasama dalam memelihara kawasan laut yang terkendali di perairan Indonesia dan Australia, unsur-unsur TNI AL dan Royal Australian Navy (RAN) melaksanakan kegiatan latihan bersama dengan sandi latihan “CASS 17”.
Latihan menembak ini salah satu rangkaian latihan bersama yang bertujuan untuk meningkatkan profesional dan kemampuan prajurit dan sistem persenjataan unsur-unsur kedua negara, selain itu untuk mempererat kerjasama bilateral khususnya dalam bidang pertahanan laut. Dispenarmatim.

Radar Acak