Hadapi Korut, Korsel Berniat Produksi Rudal Berdaya Ledak Besar

Rudal Balistik Korea Utara
Rudal Balistik Korea Utara 

Pada Sabtu 29 Juli 2017, pemerintah Korea Selatan mengumumkan tengah berdiskusi dengan Amerika Serikat, guna membahas potensi dan kemungkinan bagi Negeri Ginseng untuk memproduksi misil berdaya ledak besar milik sendiri. Gagasan itu ditujukan untuk menghadapi ancaman rudal Korea Utara yang dianggap semakin nyata bagi AS - Korsel.
Gagasan produksi misil yang diinginkan oleh Korea Selatan, juga dianggap oleh AS mampu menjadi salah satu alternatif guna menekan China agar lebih 'proaktif' untuk berkontribusi terkait isu Korea Utara. Demikian seperti yang dilansir dari New York Times, Senin (31/7/2017).
"Kita harus aktif mempertimbangkan segala kemungkinan untuk memanfaatkan kekuatan militer kita untuk menghadapi ancaman Korea Utara," kata Presiden Moon Jae-in dalam sebuah rapat darurat dewan keamanan nasional yang membahas isu rudal Korut, Sabtu 29 Juli 2017.
Pasalnya, jika Korsel berhasil memproduksi misil itu, bukan hanya Korut, namun China juga mampu masuk dalam jangkauan rudal tersebut.
Penasihat keamanan nasional Korea Selatan, Chung Eui-yong dikabarkan menelepon Penasihat keamanan Gedung Putih H.R McMaster pada Sabtu pagi waktu Seoul. Sambungan telpon itu ditujukan sebagai langkah negosiasi Korsel agar AS dan sekutunya mengizinkan Negeri Ginseng memproduksi misilnya sendiri.
Berdasarkan perjanjian bilateral, Korea Selatan harus meminta izin terhadap AS guna memproduksi misil berdaya ledak besar. Menurut perjanjian bilateral, Korsel diizinkan memiliki misil berjarak tempuh 800 km.
Akan tetapi, untuk menambah daya ledak, Seoul harus terlebih dahulu meminta izin kepada Washington, DC. Rencananya, rudal berdaya ledak besar yang ingin diproduksi oleh Korsel, akan memuat lebih dari 500 kilogram hingga batas maksimal 1 ton bahan peledak.
Menurut laporan, McMaster menyetujui proposal yang diajukan oleh Chung Eui-yong. Dan diprediksi, Negeri Paman Sam akan mendistribusikan pasokan bahan baku untuk memproduksi misil ke Negeri Ginseng dalam waktu dekat.
Akan tetapi, menurut sejumlah analis, proposal itu mungkin saja dapat ditolak oleh Gedung Putih. Pasalnya, rencana untuk mempersenjatai Korsel dengan misil canggih mungkin bukan menjadi prioritas bagi AS, mengingat rudal Korut dikabarkan mampu menjangkau wilayah tepi pantai barat Negeri Paman Sam.
Dan sejumlah pakar memprediksi, mungkin saja, pemerintahan Presiden Donald Trump akan lebih memilih untuk berfokus menguatkan sistem pertahanan dan persenjataan milik AS, ketimbang membantu negara lain.
Rencana Korsel yang berkeinginan untuk membuat rudal berdaya ledak besar yang mampu menjangkau Korut datang setelah Pyongyang kembali melakukan uji Intercontinental ballistic missile atau rudal balistik antarbenua (ICBM).
"Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengatakan tes tersebut membuktikan bahwa seluruh AS berada dalam jangkauan rudal," demikian diberitakan media pemerintah Pyongyang, seperti dikutip dari BBC, Sabtu 29 Juli 2017.
Mengonfirmasi peluncuran tersebut, pihak Korut mengatakan bahwa ICBM terbang selama lebih dari 47 menit, mencapai ketinggian 3.724 km (2.300 mil), dan jatuh di utara Laut Jepang. Pemberitaan tersebut juga menyatakan bahwa roket yang digunakan adalah Hwasong-14, model sama yang diuji Korea Utara pada 3 Juli lalu.
Sumber : http://global.liputan6.com/read/3041380/hadapi-korut-korsel-berniat-produksi-rudal-berdaya-ledak-besar

2 Pesawat Pengebom AS Unjuk Kekuatan di Langit Korea Utara

Pesawat Pengebom AS
Pesawat Pengebom AS  

Amerika Serikat, menerbangkan dua jet tempur pengebom ke atas langit Semenanjung Korea untuk unjuk kekuatan setelah Korea Utara melakukan uji coba rudal balistik antarbenua ICBM, Jumat, 28 Juli 2017 yang membuat AS dan sekutunya naik darah.
Menurut pernyataan yang dikeluarkan Angkatan Udara Amerika, jet tempur itu terbang pada Sabtu, 29 Juli 2017, setelah Korea Utara mengklaim sukses melakukan uji coba rudal ICBM pada Jumat, 28 Juli 2017.
Rudal ICBM Korea Utara diakui oleh sejumlah pengamat pertahanan sanggup menghantam daratan Amerika. Hal tersebut membuat Presiden Donald Trump murka.
"Penerbangan jet bomber B-1B adalah respon langsung atas uji coba rudal. Sebelumnya, pada 3 Juli 2017, Korea Utara meluncurkan roket Hwansong-14," bunyi pernyataan markas pertahanan Amerika.
Pernyataan itu menerangkan, kedua bomber tersebut diterbangkan dari pangkalan militer Amerika di Guam, selanjutnya bergabung dengan jet tempur Jepang dan Korea Selatan untuk latihan militer bersama.
"Korea Utara ancaman bagi stabilitas regional," kata Komandan Angkatan Udasra Pasifik, Jenderal Terrence J.O'Shaughnessy.
Dia melanjutkan, "Jika diperlukan, kami bergerak cepat, mematikan dengan kekuatan luar biasa."
Amerika Serikat sebelumnya menerbangkan beberapa jet tempurnya untuk merespons uji coba rudal atau nuklir Korea Utara.
Seperti diberitakan kantor berita Korea Utara, KCNA, Sabtu, 29 Juli 2017, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menyatakan sangat puas setelah Hwasong-14 menjangkau ketinggian maksimum 3.725 kilometer dengan jarak tem;uh 998 kilometer sebelum mendarat di perairan Jepang.
Sumber : https://dunia.tempo.co/read/news/2017/07/31/118895719/2-pesawat-pengebom-as-unjuk-kekuatan-di-langit-korea-utara

Hadapi Ancaman Rudal Korut, AS Berencana 'Melangkahi' DK PBB?

Peluncuran rudal balistik antarbenua Hwasong-14, ICBM
Peluncuran rudal balistik antarbenua Hwasong-14, ICBM 

Amerika Serikat mengatakan bahwa mereka berencana untuk tidak akan memanfaatkan mekanisme Dewan Keamanan PBB untuk membahas atau merespons segala hal terkait isu rudal Korea Utara. Mekanisme itu, menurut AS, hanya akan menghasilkan produk kebijakan 'tanpa konsekuensi'.
Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley, dalam sebuah rilis resmi menjelaskan, alur pembahasan dan respons melalui mekanisme DK PBB --yang dinilai tidak efektif oleh AS-- justru hanya akan menimbulkan kesan pada Korea Utara bahwa komunitas internasional nampak tidak serius untuk menangani situasi di Semenanjung. Demikian seperti yang dilansir dari BBC, Senin (31/7/2017).
Nikki Haley juga menyatakan, Korut telah menjadi sasaran sejumlah resolusi DK PBB selama beberapa periode terakhir. Namun, menurut sang dubes, resolusi itu kerap dilanggar oleh Pyongyang dan mereka selalu terbebas dari sanksi atas pelanggaran itu.
"Menambah resolusi DK PBB namun tidak secara signifikan meningkatkan tekanan internasional terhadap Korea Utara, sama saja tidak berguna," jelas Nikki Haley.
"Bahkan, hal itu justru lebih buruk, karena seakan memberikan kesan kepada Korut bahwa komunitas internasional tidak serius menangani mereka," tambahnya.
Pada rilis yang sama, Haley juga mendesak agar China mampu berkontibrusi lebih untuk menekan Korea Utara. Ia mengatakan, "Tiongkok harus segera berkomitmen untuk mengambil langkah vital. Sudah bukan saatnya lagi melakukan dialog."
Sementara itu, pada kesempatan yang berbeda, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengkritik pemerintahan China yang dinilai pasif terkait isu Korea Utara. Melalui Twitter, Presiden Trump mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemerintahan Komunis China yang dianggap tidak melakukan apa pun guna menghentikan program rudal dan misil Korea Utara.
Pernyataan AS itu datang selang beberapa hari setelah Korea Utara dilaporkan kembali melakukan uji coba Intercontinental ballistic missile atau rudal balistik antarbenua (ICBM) pada Jumat petang, 28 Juli lalu.
"Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengatakan tes tersebut membuktikan bahwa seluruh AS berada dalam jangkauan rudal," demikian diberitakan media pemerintah Pyongyang, seperti dikutip dari BBC, Sabtu 29 Juli 2017.
Mengonfirmasi peluncuran tersebut, pihak Korut mengatakan bahwa ICBM terbang selama lebih dari 47 menit, mencapai ketinggian 3.724 km (2.300 mil), dan jatuh di utara Laut Jepang. Pemberitaan tersebut juga menyatakan bahwa roket yang digunakan adalah Hwasong-14, model sama yang diuji Korea Utara pada 3 Juli lalu.
Uji coba teranyar itu menandai kali kedua Korut melakukan tes rudal jarak jauh dalam kurun waktu kurang dari 30 hari.
Merespons hal itu, AS dan Korea Selatan dilaporkan melakukan unjuk gigi dengan melakukan uji coba peluncuran sistem misil taktis US Army’s Tactical Missile System (ATACMS) dan Hyunmoo Missile II milik Korsel. Tes gabungan itu ditujukan untuk 'melatih aset guna membalas misil Korea Utara', jelas pernyataan bersama dari AS - Korsel.
Proyektil misil taktis itu dikabarkan jatuh di kawasan yang sama dengan rudal Hwasong-14 Korut yang di-uji coba-kan pada Jumat 28 Juli lalu.
Sementara itu, pada Sabtu 29 Juli, Amerika Serikat dilaporkan mengirim 2 pesawat bomber jenis Rockwell B-1 Lancer ke Semenanjung Korea. Dua pesawat B-1 itu lepas landas dari Andersen Air Force Base di Guam, Jepang, melintasi wilayah udara Negeri Sakura, kemudian menuju Korea Selatan. Di Jepang, kedua pesawat bomber itu turut dikawal oleh dua jet tempur Japan Air Self Defense Force.
Mereka kemudian terbang melintasi Semenanjung Korea dan di atas Osan Air Base, Korea Selatan, yang hanya berjarak sekitar 244 km dari Pyongyang, Korea Utara.
Operasi aviasi itu berlangsung sekitar 10 jam. Selama periode tersebut, keempat pesawat melakukan simulasi terbang dalam formasi dan latihan pencegatan.
Negeri Ginseng juga dilaporkan tengah merencanakan untuk memproduksi misil miliknya sendiri, sebagai salah satu upaya untuk menghadapi ancaman dari Utara.
Sumber : http://global.liputan6.com/read/3041283/hadapi-ancaman-rudal-korut-as-berencana-melangkahi-dk-pbb

USS Gerald R. Ford (CVN-78) AS Catatkan Sejarah Luncurkan F/A-18 Super Hornet dengan Teknologi Magnetik

USS Gerald R. Ford (CVN-78)
USS Gerald R. Ford (CVN-78)  

Kapal induk terbaru Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), USS Gerald R. Ford (CVN-78), berhasil meluncurkan dan mendaratkan pesawat dengan teknologi digital dan magnetik canggih. Keberhasilan ini dianggap sebagai sejarah baru karena teknologi tersebut akan menggantikan sistem pelontar berbasis steam.
Misi sukses kapal induk tersebut berlangsung hari Jumat waktu AS atau kurang dari seminggu setelah Presiden Donald Trump menugaskan kapal induk yang biaya pembangunannya hampir USD13 miliar tersebut.
"Hari ini, USS Gerald R. Ford (CVN-78) membuat sejarah,” kata Laksamana Phil Davidson, komandan Pasukan Armada AS.
”Pekerjaan hebat tim Ford dan semua insinyur yang telah bekerja keras membuat kapal siap mencapai tonggak sejarah,” lanjut Davidson, yang dikutip dari Fox News, Minggu (30/7/2017).
Presiden Trump pada musim semi lalu menyarankan Angkatan Laut AS terus menggunakan sistem pelontar berbasis uap untuk meluncurkan dan mendaratkan pesawat jet tempur di atas dek kapal, di tengah kekhawatiran tentang fantastisnya biaya pembangunan kapal induk USS Gerald R. Ford.
Menurut Angkatan Laut AS, sebelum misi sukses pada hari Jumat, teknologi baru tersebut telah berhasil diuji di darat di Lakehurst.
Pesawat jet tempur yang digunakan untuk misi penerapan teknologi terbaru kapal induk itu adalah adalah pesawat tempur F/A-18F Super Hornet, yang berbasis di pangkalan angkatan laut di Patuxent River.

Stryker 8x8, Pasang Pagar untuk Antisipasi Roket Anti-Tank

Stryker 8x8
Stryker 8x8 

Apa momok paling menakutkan untuk kendaraan tempur dan tank? Jawabannya bisa beragam. Namun ditilik dari prevalensinya, ancaman yang paling besar alias clear and present danger adalah roket dan rudal anti-tank.
RPG-7. Mendengar namanya, para awak ranpur dan tank di seluruh dunia boleh jadi meringis saja. Walaupun terlindung di balik tebalnya baja atau alumunium, RPG-7 dengan hululedak HEAT (High Explosive Anti-Tank) berbasis prinsip shaped charge bisa membongkar logam sampai ketebalan tertentu. Karena bobotnya yang ringan, seorang penembak RPG-7 bisa membawa tiga sampai empat hululedak sekaligus.
Karena harganya yang murah, penembak RPG-7 pasti jumlahnya lebih dari satu, dan bisa muncul secara simultan dari berbagai arah. Berbagai konflik sudah membuktikan bahwa RPG-7 bisa digunakan untuk menghabisi ranpur dalam sekejap melalui taktik gerilya yang efektif. RPG-7 menjadi ikon perlawanan sekaligus momok yang menakutkan, karena jumlahnya memang jauh lebih banyak daripada populasi roket dan rudal antitank lainnya.
Untuk tank modern mungkin relatif lebih aman walau tidak sepenuhnya kebal, namun untuk ranpur dan kendaraan angkut pasukan tunggu dulu. Walaupun teknologi ranpur dan kendaraan angkut pasukan berkembang cukup drastis sejak 1960-an, namun secara konsep kurang lebih masih sama: satu shell atau cangkang keras yang dipasangi mesin, transmisi, sistem penggerak roda atau rantai, serta kursi untuk penumpang.
Ketebalan bahan pembuat ‘cangkang’ kulit kendaraan tersebut memiliki keterbatasan dalam hal seberapa tebal tubuh ranpur bisa dibuat. Menambah proteksi yang berarti harus menambah tebal kendaraan akan meningkatkan bobot kendaraan secara drastis. Sebagai akibatnya, daya gerak akan melorot, kecuali memasang mesin yang lebih bertenaga.
Memasang mesin yang lebih besar pun juga memiliki keterbatasan, seperti semakin melonjaknya bobot kendaraan yang berarti akan mempersulit mobilitas kendaraan dari markas ke teater operasi, atau kendaraan menjadi terlalu berat jika ada kebutuhan untuk operasi amfibi.
Nah, untuk menangkal ancaman RPG-7 (dan rudal antitank modern lainnya), beragam pabrikan menawarkan solusi yang juga bermacam jenisnya. Secara umum sistem penangkalan RPG-7 terbagi menjadi Empat kelompok besar. Yang pertama adalah sistem penangkalan berbasis deteksi aktif atau yang dikenal sebagai Active Protection System.
Sistem APS ini mengandalkan pada kamera dan sensor untuk mendeteksi vektor dan kecepatan ancaman yang datang, lalu melontarkan sistem penangkal dengan memanfaatkan gotri atau proyektil berkecepatan tinggi yang dapat meledakkan roket atau rudal sebelum menyentuh permukaan kendaraan.
Sistem Trophy dari Rafael Israel dan Afghanit buatan Rusia adalah contoh dari kategori pertama ini. Solusi kedua adalah membuat sistem panel ERA (Explosive Reactive Armor) atau elemen dinamis yang melontarkan bahan peledak ke arah berlawanan begitu roket atau rudal antitank menyentuhnya sehingga kendaraan pengguna terlindungi.
Versi ketiga adalah dengan menambahi ‘rompi anti peluru’ pada kendaraan berupa pelat-pelat Applique yang terbuat dari material sintetik berkepadatan tinggi, sehingga mampu menyerap dan menahan impak dari hululedak HEAT. Opsi keempat adalah menggunakan ‘pagar’ alias slat armor.
Sejatinya opsi keempat ini tidaklah menerapkan teknologi yang njelimet: awak kendaraan angkut pasukan M113 di Vietnam memanfaatkan kawat pagar kandang ayam (chicken coop wire) dan rantai besi yang dipasang di rangka seadanya untuk mengalahkan RPG-2 dan RPG-7.
Menggunakan pagar berongga macam kawat kandang ayam untuk mengalahkan RPG-7, bagaimana bisa? Rupa-rupanya inilah kelemahan inheren dari RPG-7. Sumbu PIBD (Point Initiating Base Detonating Fuse) bekerja dengan mengirimkan sinyal elektrik dari kepala sumbu saat menumbuk permukaan, yang memerintahkan sirkuit di dasar hululedak untuk memantik bahan peledak dan memicu reaksi detonasi.
Nah, dengan ukuran rongga yang tepat, kawat ayam tersebut mampu menjepit sumbu dan membuatnya korslet, sehingga tidak bisa mengirimkan sinyal elektrik untuk memantik hululedak. Kalaupun ternyata meledak juga, roket akan meledak pada pagar yang terpasang dengan selisih ruang kosong dari kulit kendaraan, sehingga inti jet yang terbentuk tidak sempat merusak kulit kendaraan, atau daya hancurnya sudah jauh berkurang.
Di antara keempat solusi tersebut, racikan model slat armor dianggap paling ideal karena mudah dan murah. Penambahan pelat applique menjadi opsi populer berikutnya, lagi-lagi karena ringan dan mudah digelar, karena pelatnya modular dan bisa cepat diperbaiki. Memasang sistem APS dianggap masih terlalu mahal dan teknologinya relatif belum matang, dengan sedikit pabrikan dan lebih sedikit lagi militer di dunia yang mengaplikasikannya, walaupun secara konsep sudah terbukti jaguh menangkal rudal antitank.
Sejauh ini baru Israel dengan MBT Merkava IV yang mengaplikasikannya dalam level operasional. Untuk proteksi ERA, beragam pabrikan sudah menawarkan bermacam solusi dan cukup banyak penggemarnya, khususnya untuk Main Battle Tank. Namun untuk ranpur aplikasinya masih sangat terbatas karena daya rusak yang dihasilkan tekanan ke arah dalam saat pelat ERA meledak. Kulit ranpur yang tipis bisa retak akibat tekanan tersebut.
Nah, di masa modern yang serba konsumtif, proteksi hasil kreasi sendiri nyaris sudah tidak dapat ditemui lagi. Beragam pabrikan berlomba-lomba mendorong versi canggih dari slat armor tersebut. Beragam inovasi ditabur, semua demi mencapai proteksi yang diharapkan dengan bobot seringan mungkin, plus agar juga masuk ke dalam rentang harga yang diinginkan dalam anggaran pertahanan.
Mittal Steel USA Slat Armor
Dalam hal penggunaan slat armor sebagai pelindung ranpur, yang bertanggungjawab memulai tren ini adalah AD AS, yang memasang slat armor untuk Stryker ICV. AD AS memang menemukan fakta pahit, bahwa Stryker yang mereka gunakan ternyata terlalu tipis proteksinya, tanpa mampu menahan impak dari RPG-7. Karena beroperasi di Irak, tentu saja AD AS ketakutan. Mereka kemudian mendorong agar General Dynamics Land System (GDLS) sebagai kontraktor Stryker buru-buru memasang slat armor sebagai pelindung dari RPG-7, dalam waktu hanya 10-12 minggu. Pendek sekali untuk hitungan industri pertahanan.
GDLS kemudian mengontak pabrik baja Mittal Steel Company milik konglomerasi Mittal India. Sebelumnya pabrik baja ini sudah menyuplai sejumlah pelat baja untuk paket up-armor HMMWV, yang dibuat di fasilitas mereka di Coatesville. Beruntung, Mittal masih memiliki sejumlah sisa inventori baja anti peluru dari pesanan AD AS sebelumnya, dan mereka dengan cepat berkumpul di meja desain.
Fasilitas Coatesville membuat baja dengan melebur baja scrap pada tungku AC Electric Arc Furnace, dilanjutkan dengan pemurnian di Ladle Refining Furnace, kemudian ditambahkan logam campuran lainnya, lalu dihilangkan gasnya di Ladle Degasser. Baja cair tersebut kemudian dimasukkan ke cetakan, kemudian digulung, dan akhirnya pendinginan sehingga bentuknya menjadi slab baja canai gulung. Slab ini kemudian dipertipis di fasilitas di Conshohocken, kemudian diproses lebih lanjut di rolling mill, roughing mill, dan Steckel Mill.
Produk jadinya kemudian dipotong menjadi panel-panel kecil sesuai ukuran tiap sirip dalam slat armor untuk Stryker, diberikan heat treatment, diinspeksi, dan kemudian dirakit kedalam satu rangka besar yang siap dipasang pada Stryker. Untuk bobotnya tak usah ditanya, mencapai 2,5 ton karena penggunaan baja tanpa adanya komponen komposit!
AD AS sampai harus meminta penerbangan khusus untuk mengangkut paket-paket sangkar baja tersebut, untuk kemudian dipasang di setiap Stryker yang transit di Kuwait. Hasilnya memang efektif, dimana Stryker mencatatkan 91 hit dari RPG-7, dan hanya dua yang berhasil menembus, itupun tidak fatal pada tahun pertama penggunaannya.
Salah satu Stryker berkode C21 malah menerima sembilan kali hantaman RPG-7, yang berhasil ditahan sepenuhnya berkat keefektifan slat armor. Apa yang diawali oleh Mittal tersebut akhirnya menjadi batu loncatan untuk perusahaan lain dalam mengembangkan sistem perlindungan yang ringan, murah, dan efektif. (Aryo Nugroho)

F-16V Block 72, Tawarkan Layar Tengah untuk Jadi Andalan

F-16V Block 72
F-16V Block 72 

Ini masih tulisan serial mengenai even perkenalan F-16V Block 72 di @America. Saat penulis duduk di simulator dan menghadap ke arah panel avionik, saya bergumam, ah tidak secanggih F-18XT atau F-35 yang menggunakan satu layar display besar tanpa batas. Padahal Lockheed Martin sebagai pabrikan sudah punya pengalaman merancang kokpit F-35 dengan display besar yang tentu memudahkan pilot untuk melihat informasi hanya pada satu layar utama.
Namun begitu, Lockheed Martin pasti punya pertimbangan sendiri. Panel kokpit pada F-16V Block 70/72 adalah sebuah hasil evolusi panjang dari keluarga F-16. Harus diakui, panel kokpit tersebut masihlah konvensional, dengan dua panel CMFD atau display multifungsi yang mendominasi panel kokpit, dan satu panel pedestal.
Nah, yang berbeda pada F-16 Block 70/72 adalah panel pedestal ini, atau yang disebut Center Pedestal Display (CPD). Pada generasi lanjut F-16 seperti Block 52, panel pedestal ini masih diisi indikator analog untuk horison dan kecepatan. Pada F-16 Block 60 yang dipesan oleh Uni Emirat Arab, sudah ada display ketiga tapi ukurannya masih biasa saja, ditambah satu baris indikator analog dibawahnya. Sebagai pembanding, lihat kokpit F-16 Block 50/52 di bawah ini.
Nah, pada F-16 Block 70/72, Lockheed Martin memperbarui CPD tersebut dengan menggunakan display resolusi tinggi berukuran 6x8 inci yang mendominasi seluruh panel pedestal tersebut. Panel baru ini kini mampu menampilkan file video karena dukungan prosesor grafis terdedikasi, ditambah dengan CPU dengan banyak inti (multi core).
Sistem CPD dengan dukungan video ini menjadi penting karena kemampuan F-16 Block 70/72 untuk beroperasi dalam sistem manajemen pertempuran udara berbasis datalink, sehingga mampu berbagi informasi kondisi dan gambaran sasaran yang mungkin telah ditangkap oleh pesawat intai yang terbang jauh di depan. Pilot F-16 Block 70/72 dapat mengenali sasaran dengan lebih baik.
Pilot kini dapat menampilkan informasi di CMFD dan CPD secara berganti-ganti, seperti informasi tangkapan radar AESA APG-83 SABR dalam moda SAR (Synthetic Aperture Radar) untuk sasaran darat maupun moda penjejakan untuk sasaran udara, informasi yang disampaikan oleh datalink standar Link-16, maupun informasi dari CMM (Color Moving Map) untuk navigasi.
Kalau F-16 Block 70/72 membawa pod elektro optik dan pengarah sasaran seperti LITENING atau SNIPER ATP, hasil tampilan kamera dalam moda termal ataupun FLIR bisa ditampilkan di ketiga layar, pilot tinggal memilih mau menggunakan display yang mana. Kalau misalnya butuh lebih banyak informasi, CPD masih bisa mendukung picture in picture, dimana satu pinup berukuran 2x6 bisa ditampilkan dalam segmen layar CPD.
Pendek kata, penerbang ataupun Angkatan Udara yang mengoperasikan F-16 legacy dari generasi awal sudah pasti akan senang ketika melihat kokpit F-16 Block 70/72 karena tambahan CPD tersebut. Namun kalau melihat persaingan yang ada di luar sana, terutama dari pesawat tempur generasi 5, bisa jadi mereka akan berpikir ulang kalau melihat user experience yang dialami.
Merasakan Sensasi Simulator F-16V Block 72 di @America
Niatan Lockheed Martin untuk memasarkan F-16V Viper Block 72 memang tidak main-main. Walaupun pabrikan lain seperti SAAB dan Eurofighter juga melakukan kegiatan sosialisasi terhadap publik, baru Lockheed Martin yang memboyong 'simulator' F-16V Block 72 untuk dicoba oleh publik.
Kata simulator diberi tanda petik karena memang apa yang dibawa Lockheed Martin dalam even publik yang diadakan di pusat kebudayaan Amerika Serikat @America, Pacific Place lantai 3 tersebut memang bukanlah simulator yang digunakan latihan pilot F-16 sungguhan.
Simulator ini lebih berupa demonstrator dari kondisi kokpit F-16V Block 72 yang sesungguhnya, dipadu dengan program simulator komersial yang disajikan dalam lima display vertikal yang digabung menjadi satu.
Tidak ada motor penggerak yang bisa memutar atau menggerakkan 'kokpit' sesuai manuver yang dilakukan, atau menyimulasikan gaya gravitasi yang dirasakan pilot saat mengeksekusi manuver ekstrim. Untuk sarana pemasaran bolehlah, agar yang menaiki punya gambaran seperti apa kokpit F-16V Block 72 sesungguhnya. Yang jelas, seluruh display, tombol, tuas, dan avionik berfungsi seperti aslinya.
Mereka yang berhak menaiki simulator ini adalah yang beruntung memenangkan kuis yang diselenggarakan oleh @America melalui media sosial Twitter. Bagi anda yang belum beruntung, bisa mencoba kuis raffle menggunakan roda keberuntungan yang dilaksanakan langsung di lokasi.
Nah, setiap orang yang menjajal simulator tersebut didampingi oleh seorang bule yang merupakan pilot F-16 yang terlibat dalam pengembangan F-35 Lightning II, jadi pengalamannya sudah cukup banyak. Ia dengan senang hati akan menjelaskan fungsi tombol-tombol dari kokpit F-16V. Beragam angka yang tersaji di indikator juga akan dijelaskan dengan rinci, jadi anda akan tahu yang mana indikator kecepatan, ketinggian, dan g yang dirasakan.
Saat menjalankan misi, semua akan dimulai di sebuah pangkalan militer yang berlokasi dekat Las Vegas, Nevada. F-16V sudah menerapkan prinsip HOTAS (Hands on Throttle and Stick) Jadi saat anda meletakkan tangan kanan di joystick dan tangan kiri di stick throttle, semua kontrol mayoritas sudah ada di situ. Tinggal melihat display di layar depan saja lalu lepas landas.
Soal kontrol, jangan bayangkan tangan kanan yang membelok-belokkan stick. Kontrol untuk F-16, dan kemudian F-16V, ternyata minim gerakan. Stick bisa menerjemahkan input selembut apapun menjadi perintah untuk mengubah arah sesuai perintah yang diberikan.
Manuver yang dapat dilakukan bermacam-macam, apakah mau standar-standar saja seperti terbang mengitari kota Las Vegas dan kemudian mendarat. Kalau mau ekstrim, coba saja terbang di antara gedung-gedung tinggi sambil mencoba fitur GCAS (Ground Collision Avoidance System) yang secara otomatis akan mengendalikan F-16 ketika sudah terlalu dekat dengan permukaan tanah.
Kalau yang mau memacu adrenalin sedikit, ya minta simulasi air to air menyasar jet tempur musuh. Nanti akan dimunculkan bandit berupa MiG-29. Vektor dan arah sasaran diperlihatkan, begitu pula ketinggian. Karena senjata yang disimulasikan adalah rudal AIM-120 AMRAAM, kita tidak akan melihat fisik musuh begitu rudal dilepaskan dari jarak 20 kilometer. Yang terlihat tinggal sasaran yang sudah jatuh. (Aryo Nugroho)

China Pamerkan Rudal Balistik Antar Benua DF-31AG untuk Pertama Kalinya

Rudal Balistik Antar Benua DF-31AG
Rudal Balistik Antar Benua DF-31AG  

China menggelar parade militer untuk menandai peringatan 90 tahun terbentuknya Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Dalam kesempatan itu, China untuk pertama kalinya menunjukkan rudal balistik antar benua DF-31AG.
Parade militer yang dihelat di pangkalan militer Zhurihe di daerah otonomi Mongolia, China Utara itu diikuti oleh 12 ribu prajurit. Presiden China, Xi Jinping, menginspeksi tentara tersebut selama parade seperti dikutip dari Sputnik, Minggu (30/7/2017).
Seiring dengan rudal DF-31AG, China juga mendemonstrasikan 129 jet militer dan 571 kendaraan, seperti dilaporkan China Central Television. Lebih dari 40 persen kendaraan yang diperlihatkan pada parade tersebut dilaporkan hadir untuk pertama kalinya.
Sekedar informasi, DF-31AG adalah rudal balistik antar benua dengan jangkauan yang dilaporkan lebih dari 10.000 kilometer (lebih dari 6.200 mil).
Dikutip dari Reuters, ini adalah pertama kalinya China menandai Hari Angkatan Darat dengan sebuah para militer sejak revolusi Komunis pada 1949. Secara resmi, PLA lahir pada 1 Agustus. Ini juga pertama kalinya Jinping meninjau pasukan di lapangan seperti ini.
Jinping berulang kali berteriak, "Halo Kamerad!" dan "Kamerad, kamu bekerja keras!" lewat mikrofon di atas iring-iringan mobilnya saat musik bela diri terdengar di latar belakang.
Pasukan berteriak: "Melayani rakyat!", "Ikuti garis partai!", "Berjuang untuk menang!" Dan "Menempa menjadi teladan!".
China tidak pernah terlibat dalam pertempurang dalam beberapa dasawarsa dan pemerintahnya bersikeras tidak memiliki niat permusuhan, namun hanya memerlukan kemampuan untuk mempertahankan apa yang sekarang telah menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia.
Namun, China telah menggetarkan saraf di sekitar Asia dan secara global dengan sikapnya yang semakin asertif di Laut China Timur dan Selatan serta rencana modernisasi militernya.

Tak Lama Lagi Indonesia Produksi Kapal Selam Mini (Midget)

Produksi Kapal Selam Mini (Midget)
Produksi Kapal Selam Mini (Midget) 

Tak lama lagi Indonesia akan memproduksi kapal selam mini. Produksi sendiri akan mulai dilakukan September mendatang.
Kapal selam ini merupakan hasil produksi galangan kapal PT Palindo Marine Shipyard Batam. Kementerian Pertahanan (Kemhan) telah memesan satu unit untuk menambah alutsista (alat utama sistem pertahanan).
Kehadiran kapal selam mini ini tentu bukan hanya melengkapi keberadaan kapal selam yang sudah dimiliki TNI AL, termasuk KRI Nagapasa-403 atau Changbogo Class yang segera dikirim dari Korea Selatan, tapi juga memiliki posisi penting dalam strategi pertahanan.
Kapal selama mini ini dinilai cocok dengan kondisi perairan Indonesia. Pengamat militer Conny Rahakundini Bakrie mengakui nilai strategis kapal selam mini ini. Menurut dia, kondisi alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) sebagian besar tidak bisa dilalui kapal selam besar. "Pas dengan kondisi Indonesia. Kecil dan lincah. Untuk ALKI barat dan tengah pas menggunakan kapal selam mini karena lautnya tidak terlalu dalam," ujar Conny kemarin.
Diharapkan kapal selam ini menjadi proyek serius termasuk menjadikan kapal selam mini ini memiliki kemampuan stealth. Dengan kemampuan ini, kapal selam mini tidak akan terdeteksi radar.
"Ini juga bisa menjadi pemacu untuk kita mengembangkan energi mini nuklir sebagai bahan bakar karena energi nuklir kan terbarukan," Conny dia.
Rencana ini mengemuka ke publik pada pekan ini setelah Satuan Kapal Selam (Satsel) Hiu Kencana yang bermarkas di Armada Timur Surabaya mengunggah rencana besar tersebut ke media sosial.
Selain Palindo sebagai pabrikan, perancangan kapal juga melibat Balitbang Kementerian Pertahanan, Universitas Indonesia, ITS Surabaya, dan Balai Hidrodinamika- BPPT. Desain kapal selam mini ini sudah dipamerkan pada Indo Denfence 2016. Berdasar informasi yang beredar, kapal selam yang memiliki panjang 22 meter dan lebar 3 meter ini mampu menyelam pada kedalaman 150 meter.
Kecepatan maksimal kapal selam ini mencapai 10 knot. Adapun bobot kapal selam saat menyelam yakni 127,1 ton dan memiliki endurance selama enam hari dan dapat regenerasi udara selama tiga hari. Untuk bodi, kapal selam ini akan menggunakan bahan baja HY-80 22mm. Baja ini berjenis high-tensile alloy steel yang memang biasa digunakan untuk membuat hull atau badan kapal selam.
Untuk material ini, PT Krakatau- Posco sudah diminta untuk memasoknya. Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyebut rencana pembangunan kapal selam mini sebagai bagian upaya memenuhi kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) sesuai dengan minimum essential force (MEF) tahap kedua 2015- 2019.
Kemhan menyebut ini sebagai kapal selam kelas menengah (midget submarine). Namun, kapal selam dengan bobot di bawah 500 ton masih dikategorikan kapal selam mini. "(Pembuatan) belum. Kita beberapa waktu lalu baru saja melihat galangan kapal di Batam, apakah sudah memenuhi standar internasional atau tidak.
Jadi masih menunggu. Ini baru pertama kali (pembuatan kapal selam menengah). Semua luar biasa di Batam," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik (Kapuskompublik) Kemhan Brigjen TNI Totok Sugiarto.
Ini Alasan Indonesia Produksi Kapal Selam Mini
Selain dinilai cocok untuk kondiri perairan Indonesia, produksi kapal selam ini dirasa juga cocok untuk urusan harga. Seperti diberitakan sebelumnya, tak lama lagi Indonesia akan memproduksi kapal selam mini. Kementerian Pertahanan (Kemhan) telah melakukan pemesanan pada galangan kapal PT Palindo Marine Shipyard Batam selaku produsen.
Kepala Pusat Komunikasi Publik (Kapuskompublik) Kemhan Brigjen TNI Totok Sugiarto menuturkan, kapal selam midget dipilih karena Indonesia merupakan negara kepulauan sehingga dibutuhkan kapal selam yang mampu bermanuver dengan baik, terutama di perairan dangkal.
Selain itu, juga terkait keterbatasan anggaran. "Harganya juga lebih terjangkau dan sesuai permintaan TNI AL sebagai user. Kalau kelas kilo, kan kelas besar dan lebih modern," kata dia.
Walaupun dibuat di Tanah Air, teknologi kapal selam tetap mengadopsi teknologi dari sejumlah negara. Secara diplomatis Totok menyebut Indonesia menggunakan banyak alutsista dari berbagai negara dengan teknologi yang berbeda-beda seperti Rusia, Korea Selatan, dan sebagainya. "Kemungkinan paling besar adopsi teknologi dari Korea," ujar Totok.
Dari pihak TNI AL, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama Gig Jonias Mozes Sipasulta mengaku belum bisa memaparkan secara detail terkait rencana pembuatan kapal selama jenis itu. Namun, dia mengakui TNI AL membutuhkan sedikitnya 12 kapal selam untuk menjaga perairan Indonesia yang sangat luas.
"Bukan kapasitas saya menjawab karena semua yang belum ada itu merupakan kebijakan. Kan belum masuk ke jajaran TNI AL," ucap dia.
Keberadaan kapal selam ini saat ini digunakan sejumlah negara. Negara yang dikenal mengoperasikannya adalah Korea Utara dan Iran. Masing-masing diperkirakan memiliki 50 dan 19 kapal selam mini.
Walaupun kecil, keberadaannya cukup strategis karena mempunyai daya tangkal yang kuat. Pengamat angkatan laut Christopher Harmer menyebut Amerika Serikat (AS) menemui kesulitan besar untuk melacak kapal selam mini Iran.
Harmer yang pernah menjabat sebagai direktur Future Operation untuk Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain 2008-2009 itu menjelaskan, kapal selam mini menjadi ancaman karena mampu dengan mudah bergerak di sepanjang Teluk Persia dan Laut Arab. Dengan kemampuan tersebut, kapal selam mini akan dengan mudah menjalankan misi penyergapan atau penyerangan mendadak.
Banyak Kalangan Sambut Baik Produksi Kapal Selam Mini
Banyak Kalangan Sambut Baik Produksi Kapal Selam Mini. Para wakil rakyat yang duduk di Gedung DPR RI menyambut baik inovasi anak bangsa dengan memproduksi kapal selam mini. Secara keseluruhan Indonesia memang belum mempunyai kapal selam yang memadai sebagai alat pertahanan.
"TNI tidak memiliki kapal selam yang baik. Hanya tiga masih perbaikan di PT PAL di Surabaya," kata DPR Syaifullah Tamliha, anggota Komisi I DPR Syaifullah Tamliha.
Sementara itu pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati pun memberikan apresiasi terhadap produksi kapal selam ini. Ia juga mengingatkan TNI AL perlu pula membeli antikapal selam untuk menghadapi kapal selam lawan.
"Sistem antikapal selam juga kita butuhkan untuk menghadapi kapal selam lawan. Kapal selam yang kita miliki (Kelas 209) dan kapal selam yang akan kita beli (Kelas Kilo) kita gunakan untuk melawan kapal permukaan lawan dan peluncuran rudal strategik bawah air," tegas dia.
Saat ini Indonesia mengoperasikan dua kapal yakni KRI Cakra-401 dan KRI Nanggala-402. Keduanya merupakan kapal selam Type 209/1300 yang diproduksi Howaldtswerke, Kiel, Jerman pada 1981. Selain dua kapal selam tersebut, Indonesia juga telah membeli tiga kapal selam Changbogo dari Korea Selatan.
Dari dua kapal selam yang diproduksi di Negeri Ginseng tersebut, satu di antaranya segera dikirim ke Tanah Air dan satu lainnya diproduksi di galangan PT PAL dengan skema transfer of technology (ToT). Beberapa waktu lalu Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo juga mengungkapkan keinginannya mendapatkan kapal selam dari Rusia, Kilo Class. (Sucipto/Tita Anga)

Ardi Widodo MT, Terkesan saat Pasang Rudal Yakhont Rusia meski Harus Bertaruh Nyawa

Rudal Yakhont Rusia
Rudal Yakhont Rusia 

Foto Presiden RI ke-3, B.J. Habibie, terpampang di ruang kerja Ir Kartiko Ardi Widodo MT di ruang Perkumpulan Pengelola Pendidikan Umum dan Teknologi Nasional (P2PUTN) di Jalan Tenes, Kota Malang. Keberadaan foto itu seolah-olah menunjukkan betapa kagumnya Kartiko pada sosok presiden berlatar belakang ilmuwan tersebut.
Apalagi Kartiko menggeluti bidang yang hampir sama dengan Habibie. Bila Habibie dikenal sebagai ahli pesawat terbang, maka Kartiko merupakan ahlinya kapal perang. Secara khusus, pria 49 tahun ini punya keahlian memasang rudal pada kapal-kapal perang.
Ada sejumlah kapal perang milik TNI Angkatan Laut (AL) yang pernah dia garap. Di antaranya, Kapal Republik Indonesia (KRI) Hiu-634, KRI Layang-635, KRI Todak-631, KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355, KRI Yos Sudarso-353, KRI Diponegoro-365, KRI Hasanuddin-366, hingga KRI Oswald Siahaan-354.
Jenis maupun asal rudal itu pun beragam. Di antaranya, rudal Exocet buatan Prancis yang pernah dia pasang untuk KRI Diponegoro-365 dan KRI Hasanuddin-366, hingga rudal Yakhont buatan Rusia yang dia pasang untuk KRI Owa-354.
Yakhont sekaligus menjadi rudal terbesar yang pernah dipasang oleh Kartiko. Rudal itu memiliki panjang 9 meter dengan berat sekitar 3 ton.
Sementara daya jangkauannya mencapai 300 kilometer dengan kecepatan 750 meter per detik atau 2,5 kali kecepatan suara. ”Ini (rudal Yakhont) adalah teristimewa yang pernah saya kerjakan,” ujar dosen Teknik Elektro Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang ini.
Tak melulu di dalam negeri, Kartiko juga dipercaya menjadi ahli pemasang rudal untuk sejumlah kapal perang milik negara lain. Di antaranya, Belanda menjadi negara yang paling sering memanfaatkan jasanya.
Kartiko pernah menggarap pemasangan rudal untuk kapal selam Schelde Naval Vlissingen milik Angkatan Laut Belanda. Selain itu, Kartiko juga menjadi ahli pemasangan rudal untuk kapal perang milik Selandia Baru, Prancis, dan Brasil.
Tak semua orang yang punya kesempatan dan mendapatkan kepercayaan untuk menjadi pemasang rudal. Sebuah profesi yang dulunya sempat tidak terpikirkan oleh Kartiko.
Pria kelahiran Malang, 27 Juli 1968, ini mengaku punya cita-cita menjadi dokter. Tapi, menamatkan studinya di SMAN 3 Malang pada 1987 silam, dia malah memilih untuk kuliah di Jurusan Teknik Elektro Universitas Brawijaya (UB). ”Niatnya iseng sih. Tapi, akhirnya keterima dan lama-lama menyukainya,” ujar dia.
Setelah lulus kuliah, Kartiko sempat bekerja di bagian produksi PT Astra. Tapi, hanya setahun berada di sana, Kartiko mendapatkan kesempatan untuk bekerja di Badan Pengendali Industri Strategis (BPIS) Negara. Tak lama, dia lantas ditempatkan di PT PAL Indonesia (Persero) di Surabaya.
Di PT PAL Surabaya, Kartiko meniti karirnya dari posisi paling bawah. Dia menjadi teknisi pada 1993 - 1996. Spesialisasinya adalah bidang elektronika, navigasi, dan telekomunikasi.
Dalam perjalanannya, dia mulai terlibat sebagai teknisi di beberapa proyek pemerintah. Mulai pengeboran lepas pantai, pengeboran darat, pembangkit listrik, kapal niaga, dan kapal tanker.
Selama bekerja di PT PAL, Kartiko mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program transfer of technology (ToT) di luar negeri. Dia mengambil spesialisasi untuk sistem persenjataan, khususnya rudal.
Kartiko masih ingat, ToT pertamanya digelar di Jerman pada 1994 silam. Seleksinya cukup ketat karena diikuti 100 orang warga negara Indonesia (WNI). ”Kebanyakan mereka lulusan luar negeri. Dari 100 orang itu, hanya dipilih lima orang. Salah satunya saya,” ungkapnya.
Sejak 1994 itu, ada beberapa ToT yang dia ikuti. ToT itu membuat Kartiko punya keahlian dan kemampuan yang komplet sebagai engineer pemasang rudal. Di antaranya, penguasaan sistem komunikasi, rekayasa perangkat lunak, aeromaritime, hingga sensor terpadu sistem tempur.
Menjadi seorang ahli rudal, kata Kartiko, memang harus memahami banyak hal. Seorang ahli rudal yang baik dituntut untuk menguasai disiplin ilmu lainnya. Mulai dari mekanika, konstruksi, ilmu komputer, ilmu jaringan komputer, ilmu geodesi, ilmu kebumian, ilmu kelautan, ilmu perkapalan, hingga ilmu militer.
”Saya harus menguasai sistem engineer dari masing-masing ilmu tersebut. Kalau cuma ngerti manajemennya saja, pasti akan dikomplain,” kata pria yang menjadi dosen ITN sejak 1995 tersebut.
Apalagi pemasangan rudal bukanlah sesuatu yang remeh. Risikonya sangat besar. Sebab, yang dia tangani adalah benda dengan bobot besar dan bisa meledak. ”Kalau ada satu saja yang bermasalah, kapal bisa tenggelam,” ungkap alumnus S-2 Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) ini.
Meski sudah resign dari PT PAL pada 2014 lalu, Kartiko tetap mendapatkan kepercayaan untuk memasang rudal kapal perang. Belakangan, Kartiko lebih sering menjadi konsultan dan pembina untuk proyek-proyek pemasangan rudal.
”Saat ini saya bersama Kementerian Pertahanan (Kemenhan) dan Universitas Pertahanan Indonesia (Unhan) juga sedang concern (perhatian) untuk membuat konsep sistem pengindraan di batas negara. Selain itu, dalam waktu dekat, dia ada agenda menjadi pembicara untuk konsep industri pertahanan di serikat pekerja PT PAL,” terang bapak tiga anak ini.
Dalam waktu dekat ini, Kartiko juga memiliki rencana melanjutkan studi S-3. Dia ingin memperdalam ilmu soal bahan-bahan komposit dalam sistem persenjataan.
Kartiko menyatakan, motivasinya untuk terus belajar tak pernah surut. Apalagi, dia melihat, tingkat kepercayaan lembaga di dalam negeri terhadap ahli rudal seperti dirinya masih terbilang rendah.
Dia mengakui, lembaga-lembaga di dalam negeri lebih percaya pada tenaga asing. ”Padahal, belum tentu orang dari luar negeri itu lebih ahli sehingga saya masih harus terus memberikan pembuktian lebih banyak lagi,” pungkas dia.

Admiral Tributs, Perkasanya Kapal Perusak Rusia

Admiral Tributs
Admiral Tributs 

Jika pada bulan Desember 2015 kapal perang AL Rusia jenis Destroyer Bystriy (715) dari kelas Sovremenny (Projekt 956) berkunjung ke Jakarta, maka pada bulan November 2016 giliran Admiral Tributs (564) dari kelas Udaloy (Projekt 1155) yang beranjangsana dalam rangka memeriahkan pameran Indo Defence Exhibition & Forum (IDEF) 2016.
Seperti biasa, hari kunjungan pers dilaksanakan berbarengan dengan konferensi pers Duta Besar Rusia HE Mikhail Galuzin. Kapal perusak spesialis peperangan bawah air ini dipimpin oleh Laksamana Muda Eduard Mikhailov dan saat ini merupakan bagian dari gugus tugas anti perompakan di bawah Armada Pasifik AL Rusia.
Sejatinya Admiral Tributs hendak datang bersama kompanionnya, kapal perusak Bystriy, tanker Boris Butoma, dan kapal tugboat samudera Alatau. Gugus tugas ini berangkat menjalankan misi dari markas Armada Pasifik AL Rusia di Vladivostok. Sayangnya, hanya Admiral Tributs yang berhasil sampai ke Jakarta kali ini karena tiga kapal lainnya mengalihkan tujuan karena adanya panggilan tugas lain.
Kapal perusak kelas Udaloy sendiri dikembangkan hampir berbarengan dengan Sovremenny, dimana kehadiran keduanya pertama kali dipergoki pesawat pengintai NATO. Para perencana militer Uni Soviet saat ini memang memutuskan untuk membuat kapal perusak dengan kemampuan terdedikasi, karena membangun satu platform kapal yang bisa melakukan semua dianggap terlalu mahal dan ambisius. Saat itu Udaloy diberikan kode sementara BALCOM-3 (Baltic Combat-3), dan tampil dengan seluruh sistem perang bawah permukaan sudah terpasang.
Udaloy sendiri dikembangkan berdasarkan desain kapal perusak kelas Krivak dan dikerjakan oleh Biro Desain Severnoye dengan nama resmi Projekt 1155 Fregat 1. alasan Krivak perlu diganti adalah karena ketidakmampuan kapal perang tersebut untuk membawa helikopter dan sistem sonarnya dianggap ketinggalan jaman. Pembuatan seluruh kapal kelas Udaloy dilakukan di dua galangan kapal: Severnaya Verf dan Yantar, Kaliningrad.
Karena mengambil basis Krivak, maka dimensi antara keduanya pun mirip. Udaloy memiliki panjang 163 meter, lebar 19,3 meter, dan benaman 6,2 meter. Bobotnya mencapai 6.200 ton, atau selisih kurang 1.000 ton dari Bystriy, mengingat sistem persenjataannya juga tidak selengkap dan seberat adiknya yang jago perang permukaan itu.
Sistem senjata anti permukaan pada Udaloy pun boleh dikata hanya dicukupkan untuk pertahanan diri belaka. Bentuk lambung dan superstruktur tidak berbeda jauh dengan Krivak, dimana Udaloy menggunakan desain standar Rusia dengan dua casemate meriam di depan, anjungan yang diapit oleh dua sel rudal, kemudian tiang-tiang radar, dua cerobong, dan di bagian belakang ada dua hangar helikopter yang bersisian untuk helikopter anti kapal selam Ka-27 Helix.
Hangar ini membuka ke arah atas pada saat helikopter hendak masuk atau keluar, dengan difasilitasi lift. Pendaratan helikopter di dek Udaloy difasilitasi dengan sistem Fly Scren-B yang memancarkan gelombang mikro untuk pandu pendaratan otomatis helikopter. Udaloy juga dapat membawa kapal kecil sekelas RHIB untuk operasi pasukan khusus di tengah laut.
Kapal ini memiliki set awak sebanyak 29 perwira dan 191 kelasi, serta dapat beroperasi selama 30 hari sebelum harus sandar untuk isi ulang bahan bakar dan perbekalan. Navigasi untuk Udaloy disediakan oleh tiga unit radar MR-212/201 Vagyach-U (NATO: Palm Frond)
Sistem penggerak pada Udaloy mengandalkan kombinasi COGAG (Combination of Gas Turbine and Gas Turbine) M-9 yang terdiri dari 2 turbin gas M-8KF untuk akselerasi dengan daya @ 22.500shp dan dua M-62 turbin gas untuk kondisi jelajah normal dengan daya @ 7.500shp sehingga total seluruh mesin kapal dapat menyalurkan daya sampai 60.000shp.
Kombinasi mesin ini menggerakkan dua batang propeller dengan lima bilah tiap unitnya dengan kecepatan jelajah 18 knot, dan maksimal 29.5 knot. Desain awal Udaloy sendiri direncanakan memiliki mesin dengan daya mencapai 72.000shp namun kemudian dibatalkan karena alasan keekonomian konsumsi bahan bakar.
Sistem persenjataan utama pada Udaloy terdiri dari dua sistem kubah AK-100 DP yang terpasang pada dua kubah di haluan, masing-masing dengan satu laras meriam 100mm L70 A-214. Kubah di belakang posisinya lebih tinggi sedikit di atas kubah depan, untuk memberi ruang putar laras. Setiap laras meriam dibungkus dengan jaket berisi air untuk pendinginan secara cepat, dan sistem pasokannya juga otomatis untuk memberikan kecepatan tembak maksimal.
Kubah dari bahan baja yang menaungi meriam sanggup menampung dua drum amunisi berkapasitas 174 butir peluru per kubah. Kecepatan tembak maksimal dari meriam ini adalah 50-60 peluru per menit, dengan jarak maksimal jangkauan lintas lengkungnya mencapai 21 kilometer dengan amunisi HE-F (High Explosive-Fragmentation).
Tersedia amunisi tebar yang dapat didesain untuk meledak di udara dengan sumbu waktu untuk perlindungan terhadap serangan pesawat, dengan jarak 10 kilometer melawan sasaran berukuran besar, atau 5 kilometer terhadap sasaran seperti rudal anti kapal. Sepintas AK-100 DP memang terlihat besar untuk ukuran Barat, tetapi bandingkan dengan AK-130 milik Sovremenny yang memang didesain untuk melawan kapal dan bantuan tembakan ke darat.
Sistem AK-100 DP dikendalikan melalui dua cara, yang pertama dengan sistem radar kendali penembakan berupa dua unit radar MR-145 Lev (NATO: Kite Screech-B) yang terpasang di atas anjungan, dengan jarak deteksi dan penguncian sasaran mencapai 11-30 kilometer (8-17 mil laut). Sebagai cadangan disediakan sistem elektro optik berbasis televisi Kondensator-214A apabila sistem radar menghadapi masalah.
Udaloy justru baru bersinar dengan segenap sensor dan persenjataan yang ditujukan untuk mencari, mengidentifikasi, dan menghancurkan kapal selam. Sistem pencari kapal selam utama pada Udaloy adalah MGK-335 Platina (NATO: Bull Horn) LF (Low Frequency) sonar yang dipasang di lambung haluan kapal.
Sonar yang dapat dioperasikan pada mode aktif dan pasif ini dapat diandalkan untuk mendeteksi kapal selam sampai jarak 27,8km dalam kondisi ideal. Selain Platina ada lagi Orion (NATO: Horse Tail) variable depth sonar yang merupakan sistem sonar yang digantung pada kabel dan bisa dinaik-turunkan untuk mendeteksi kapal selam yang bersembunyi dalam lapisan termal di bawah laut.
Untuk komunikasi dengan kapal selam kawan, Udaloy pun dilengkapi dengan sistem telefonik bawah air MG-35. Pada saat adu kucing-kucingan dengan kapal selam lawan, Udaloy pun dibekali dengan sistem sonar MGK-355TA yang mampu mendeteksi torpedo yang diluncurkan oleh lawan untuk diantisipasi dan dihindari.
Sementara untuk menghancurkan kapal selam lawan yang terdeteksi, Udaloy membawa sistem peluncur torpedo tabung 533mm CLTA-53-1155 sebanyak dua unit, masing-masing terdiri dari empat tabung (quadruple) yang terpasang di dekat buritan Tabung peluncur ini dapat dipasangi dengan torpedo tipe 53-65K, SET-65, atau PLUR 83RN. Untuk kontak jarak dekat dengan kapal selam, ada pelontar roket anti kapal selam RBU-6000 sebanyak 2 unit, masing-masing terdiri dari 12 roket RGB-12. Untuk operasi blokade disediakan dua rel pelontar ranjau atau depth charge yang terpasang di buritan.
Untuk menangani kapal selam atau bahkan kapal permukaan pada jarak yang lebih jauh dari jangkauan torpedo dan RBU-6000, Udaloy dibekali dengan dua sel peluncur yang mengapit anjungan, diposisikan depan tepat di belakang kubah AK-100 kedua. Sel peluncur ini masing-masing berkapasitas empat rudal anti kapal selam URPK-5 Metel/ Rastrub (NATO: SS-N-14 Silex).
Rudal ini bekerja tandem, dengan torpedo UGMT-1 terpasang di bawah rudal. Rudalnya sendiri berfungsi sebagai pembawa torpedo ke jarak yang lebih jauh, dan baru dijatuhkan ke posisi dimana kapal selam musuh diperkirakan berada. UGMT-1 sendiri dapat diprogram untuk menghantam kapal selam maupun permukaan.
Jarak efektifnya adalah 5-50 kilometer, tentu dengan bantuan deteksi target dari Ka-27 Helix yang bertugas sebagai pemburu kapal selam. Apabila menyasar sasaran permukaan, jarak efektifnya mencapai 90km. Sistem kendali untuk Metel/ Rastrub disediakan oleh dua sistem Drakon (NATO: Eye Bowl).
Walaupun diproyeksikan untuk beroperasi dalam kelompok, Udaloy tetap dilengkapi dengan sistem perlindungan udara yang mumpuni. Bekal pertahanan diri kapal ini adalah delapan rudal Kinzhal (SA-N-9) sebanyak 8 unit yang terpasang pada sistem VLS (Vertical Launch System) PU 4S-95 dengan jarak efektif mencapai 12 kilometer, yang sasarannya dipasok oleh satu radar 3D MR-760MA Fregat-MA (NATO: Top Plate) yang berbentuk kotak dan MR-320M Topaz-V (NATO: Strut Pair).
Pengendalian rudal disediakan oleh sistem MR-360 Podkat (NATO: Cross Sword). Sistem perlindungan jarak dekat mengandalkan pada sistem kanon multi laras 30mm AK-630M sebanyak 4 buah yang dikendalikan oleh dua radar MR-123 Vympel (NATO: Bass Tilt). Sistem perlindungan pasif disediakan oleh pelontar decoy PK-2 (ZIF-121) sebanyak dua buah dan 10 unit PK-10. Untuk peringatan adanya iluminasi laser dari rudal atau sistem laser pengukur jarak kapal lain ada sistem peringatan iluminasi laser sebanyak 6 unit Spektr-F (NATO: Half Cup).
Kapal perusak kelas Udaloy pada awal 1990an diteruskan oleh Projekt 1155.2 Udaloy 2 dengan fokus pada peningkatan kemampuan tempur permukaan dengan penggantian meriam dan sistem rudal, sehingga komplemen senjata Udaloy 2 sama dengan Sovremenny. Pada dekade 1990an hampir seluruh kapal perang kelas Udaloy jarang terdengar penggunaannya, tetapi akhir-akhir ini seiring dengan Rusia yang mengencangkan otot-ototnya, maka manuver mereka yang berani pun masuk pemberitaan.
Terakhir, Admiral Vinogradov (572) membayangi kapal pendarat amfibi (LHA)-6 USS America LPD-22 dan USS San Diego saat melaksanakan latihan RIMPAC pada 16 dan 17 Juli 2016. Kapal perang kelas Udaloy tersebut membayangi USS America dengan sangat dekat, bahkan hanya berjarak 1.000 meter dari kapal perang AS tersebut. (Aryo Nugroho)

Kunjungi Pasukan Filipina di Marawi, Manny Pacquiao Nyatakan Siap Tempur Melawan Teroris Pro-ISIS

Manny Pacquiao
Manny Pacquiao 

Petinju legendaris Manny Pacquiao mengunjungi pasukan Filipina yang sedang bertempur melawan teroris pro-ISIS di Kota Marawi, Mindanao, Sabtu, 29 Juli 2017.
Atlet tinju yang sekarang menjadi anggota Senat Filipina itu tampak mengenakan seragam tempur militer di depan para serdadu. Ia pun mengatakan bahwa dia siap bergabung untuk berperang melawan ISIS yang melakukan penyanderaan dan pembakaran gedung.
"Kalian semua benar-benar pahlawan negara, bukan Manny Pacquiao. Saya hanyalah seorang petinju, tapi kalian menyerahkan hidup Anda demi bangsa dan negara kita," kata dia kepada anggota militer di kamp Ranao di Kota Marawi.
"Saya berharap bisa kembali ke sini dan memberikan ucapan selamat kepada kalian ketika perang telah selesai dan jika perang belum berakhir, saya akan kembali. Selanjutnya saya akan ikut berperang.”
Pacquiao yang mendapatkan pangkat kehormatan letnan kolonel di kemiliteran atas prestasi tinjunya, saat ini menjadi tokoh sangat populer di Filipina.
Dia tumbuh dari kaum miskin sebelum menjadi jutawan yang diperoleh dari ring tinju. Popularitasnya dimanfaatkan untuk menjadi anggota Senat Filipina.
Namun bintang Manny Pacquiao mulai redup dalam beberapa tahun terakhir ini setelah usianya menginjak 38 tahun. Dia kehilangan gelar juara dunia kelas welter ringan dari petinju Australia, Jeff Horn, bulan lalu. Perang di Marawi sejak akhir Mei 2017 telah menewaskan 630 jiwa, termasuk 471 milisi Maute, 45 warga sipil, dan 114 pasukan pemerintah.

KSAU Harap Pesawat Tempur Sukhoi Su-35 Segera Tiba di Indonesia

Pesawat Tempur Sukhoi Su-35
Pesawat Tempur Sukhoi Su-35 

Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Hadi Tjahjanto berharap pesawat tempur Su-35 penganti pesawat tempur F-5 Tiger II segera tiba di Indonesia.
Harapan ini bukan tanpa alasan. Selain untuk memperkuat kekuatan TNI AU, juga disebabkan para penerbang yang mengawaki F-5 Tiger II sudah lama tidak menjalakan aktivitasnya. Sehingga dengan adanya pesawat Sukhoi itu mereka dapat beraktivitas lagi.
"Para penerbang F-5 Tiger sudah tidak terbang 1,5 tahun, karena itu semoga pengantinya segera tiba. Selama penganti F-5 Tiger II belum datang, para penerbang itu sementara menjalankan aktivitasnya di Skuadron 11 dan 03," kata Hadi Tjahjanto usai upacara peringatan hari Bhakti TNI AU ke 70 di lapangan Dirgantara Akademi Angkatan Udara (AAU), Sabtu (29/7/2017).
Menurut Hadi, jumlah pesawat tempur Su-35 penganti F-5 Tiger II sebanyak 11 unit. Pengadaan Sukhoi ini juga sudah masuk dalam rencana strategis (renstra) tahap II dalam membangun kekuatan AU.
Sementara itu dalam rangkaian hari bhkati TNI AU ke 70. Selain dengan upacara di lapangan Dirgantara AAU, juga dilaksanakan bakti sosial pengobatan dan operasi katarak gratis, donor darah dan pembangunan gedung PADU di Banyumas, 22-23 Juli.
Sedangkan peresmian Monemen pesawat latih di AAU, ziarah ke monumen perjuangan Ngoto dan sarasehan di Museum Dirgantara Mandala, 28 Juli serta wisuda purna bakti perwira tinggi.
"Untuk wisuda ini, dilaksanakan di Gedung Handrawina AAU, seusai upacara hari bakti TNI AU," terang Kapen AAU Mayor Sus Ambar Rejiyati.

Korps Marinir Laksanakan Latihan Tembak Tempur Laut

Latihan Tembak Tempur Laut
Latihan Tembak Tempur Laut 

Prajurit Korps Marinir dari Pasmar-1 melaksanakan latihan Demontrasi Aksi Tempur Laut unsur Pasukan Pendarat Amfibi di pantai Banongan, Situbondo, Jawa Timur. Kamis (27/07/2017).
Kegiatan latihan tembak tempur laut yang dipimpin Komandan Batalyon Roket-1 Marinir Letkol Marinir Dian Suryansyah, S.E., M.Tr.Hanla., tersebut melibatkan dua Kompi kesenjataan yaitu satu Baterai kendaraan tempur Roket MLRS Vampire, satu Kompi Kavaleri dari Batalyon Tankfib-1 Marinir, Tim dari Batalyon Intai Amfibi-1 Marinir dan prajurit Brigif-1 Marinir.
Latihan penembakan tersebut disaksikan langsung Komandan Resimen Artileri-1 Marinir Kolonel Marinir Ainur Rofiq, S.Pi., Asops Danpasmar-1 Kolonel Marinir Nanang Saefulloh, Pabanopslat Sops Pasmar-1 Letkol Mar Rivelson Saragih dan Pabandya Opslat Sops Kormar Mayor Marinir Widarta Kusuma.
Kegiatan yang dilaksanakan dalam latihan demo uji tembak laut yaitu satu pucuk RM 70 Grad melaksanakan penembakan diatas KRI Teluk Sampit-515 yang disimulasikan sebagai pendukung pasukan pendarat saat melaksanakan operasi amfibi dan 3 pucuk Roket MLRS Vampire dan Kompi Tank Amfibi melaksanakan penembakan dari darat ke laut, sedangkan tim gabungan dari Batalyon Intai Amfibi-1 Marinir dan Brigif-1 Marinir melaksanakkan fast rope.
Gelar Kesiapan Latihan Pendahuluan Demo Aksi Tempur Laut dalam rangka peringatan HUT TNI Ke-72 tersebut juga ditinjau langsung oleh Panglima Armada Kawasan Timur TNI AL Laksamanna Muda (Laksda) TNI Darwanto, S.H.,M.A.P.
RM70 Grad Korps Marinir Kini Jadi Senjata Penggebuk dari Tengah Laut
Sampai saat ini belum ada arsenal alutsista yang punya daya hancur semasif MLRS (Multiple Launch Rocket System), sebagai contoh MLRS RM70 yang dioperasikan Batalyon Roket Resimen Artileri Korps Marinir. Dalam satu kali tembakkan salvo penuh (40 roket kontinyu), maka area seluas tiga hektar bisa luluh lantak. Dalam doktrin gelaran MLRS Marinir, alutsista ini baru digelar setelah kendaraan pengusung didaratkan ke bibir pantai. Tapi doktrin gelaram alutsista kadang harus disesuaikan bila ada kesempatan untuk melakukan inovasi yang spektakuler. Seperti belum lama ini, MLRS RM70 Grad 122mm justru berhasil diperankan sebagai senjata bantuan tembakkan ke darat.
Artinya kali ini MLRS RM70 Grad berperan sebagai senjata di atas kapal perang. Dikutip dari siaran pers Dispen Korps Marinir, pada hari Kamis lalu (27/7/2017), telah sukses dilangsungkan demonstrasi latihan tembak tempur laut. Satu unit RM70 Grad dari Batalyon Roket 1 Marinir dinaikkan ke atas deck utama LST (Landing Ship Tank) KRI Teluk Sampit-515. Dengan diikat tali baja di segala penjuru. RM70 Grad yang biasanya ditembakkan di darat, kini berubah peran menjadi senjata yang ditembakkan ke darat dari atas kapal perang. Seperti terlihat dalam foto, dalam sesi demo ini, KRI Teluk Sampit-515 mendapat kawalan dari korvet KRI Nala-363.
Dari aspek teknis, waktu untuk melakukan satu kali rangkaian penembakan (salvo) sekitar 18 sampai 22 detik, dengan tempo jeda antar roket 0,5 detik.Saat dipakai untuk menghajar target dengan jarak maksimum 20,75 km, butuh waktu 77 detik untuk menghabiskan 40 roket tanpa henti. Tiap roket RM70 dapat mengubah status operasionalnya dari kondisi lintas di jalan raya ke posisi siap tembak dalam tempo 2,5 menit. Sementara proses kebalikannya sedikit lebih lama, yakni 3 menit.
Setiap roket punya bobot 66 kg. Komponennya terdiri dari hulu ledak seberat 18,3 kg, lalu ada motor roket dengan double base solid propellant seberat 20,5 kg. Sisanya adalah cangkang roket. Dimensi panjang roket keseluruhan adalah 2,88 meter dan lebar rantang sirip 0,226 meter. Dengan kecepatan jelajah 2.516 meter per jam, maka jarak jangkau roket bisa mencapai 20,75 km. Saat terdetonasi, hulu ledak bisa menghamburkan 3.150 serpihan kecil baja yang terserak hingga radius 28 meter. Mau tahu seberapa besar area kehancuran dari RM70? Jika diopersikan secara tepat, dipastikan area seluas 3 hektar akan luluh lantak akibat ulah roket multi laras ini.
Sedemikian mematikannya RM70, alutsista ini tak pelak selalu diandalkan dalam setiap ajang latihan tempur, termasuk dalam tingkat latihan gabungan TNI yang diadakan secara rutin. Dalam sebuah operasi militer untuk merebut daerah yang dikuasi lawan, tembakan pertama memang dilancarkan oleh tank-tank amfibi yang baru saja mendarat di pantai. Lalu berikutnya resimen artileri yang akan ambil bagian. Selain mengandalkan meriam Howitzer LG-1 MK II kaliber 105mm, sudah barang tentu unsur deteren juga ditampilkan, tak lain RM70 Grad. Menyadari bahwa truk platform pengusung RM70 tidak punya kemampuan amfibi, dalam gelar operasinya RM70 dibawa dari LPD (landing platform dock) ke pantai dengan menumpang LCU (Landing Craft Utility).
Resimen Artileri Korps Marinir memiliki 9 pucuk roket multilaras RM70 Grad. Namun pada tahun 2016 lalu, Batalyon Roket Marinir mendapat perkuatan dengan MLRS jenis yang lebih baru, yakni RM70 Vampire. Masih dalam sesi latihan yang sama, tiga pucuk RM70 Vampire juga melakukan uji tembakkan, namun RM70 Vampire menjalankan peran pertahanan pantai, yakni melakukan penembakkan roket dari darat ke laut. Kegiatan latihan tembak tempur laut yang dipimpin Komandan Batalyon Roket-1 Marinir Letkol Marinir Dian Suryansyah dengan melibatkan dua Kompi kesenjataan yaitu satu Baterai kendaraan tempur Roket MLRS Vampire, satu Kompi Kavaleri dari Batalyon Tankfib 1 Marinir, Tim dari Batalyon Intai Amfibi 1 Marinir dan prajurit Brigif 1 Marinir. (Haryo Adjie)

Radar Acak