F-16 Viper Akan Berduel dengan Gripen-E dalam Kompetisi MMRCA India

Gripen-E
Gripen-E 

India tak henti-hentinya menggeliat untuk memodernisasi kekuatan perangnya. Setelah beberapa hari disibukkan dengan berita bahwa India kemungkinan akan merealisasikan pemesanan jet tempur omnirole Rafale dari Perancis untuk gelombang kedua, kali ini muncul berita bahwa India akan benar-benar merealisasikan program pengadaan MMRCA (Medium Multi Role Combat Aircraft) untuk menggantikan MiG-21 Bison.
Kementerian Pertahanan mengumumkan bahwa mereka akan merilis RFI (Request for Information) di awal September kepada Lockheed Martin selaku pembuat F-16 Viper dan SAAB Swedia yang memproduksi Gripen-E. Kedua pabrikan ini pernah berhadapan sebelumnya dalam kompetisi MMRCA yang lalu dibatalkan sepihak oleh pemerintah India.
Di luar informasi mengenai kemampuan tempur kedua kandidat, yang sebenarnya telah diuji secara intensif oleh para penerbang tempur India, penekanan dilakukan terhadap seberapa jauh kedua pabrikan mampu memenuhi inisiatif "Make in India" yang jadi salah satu prioritas Perdana Menteri Narendra Modi. Artinya, kedua perusahaan harus mendetailkan berapa persen transfer teknologi yang sanggup diberikan dan seberapa banyak komponen yang akan diproduksi di India sendiri.
Lockheed Martin yang menawarkan F-16 Viper Block 70, serupa dengan yang ditawarkan ke Indonesia, telah berpartner dengan konglomerasi Tata untuk menyiapkan fasilitas produksi komponen. Lini produksi F-16 di Texas juga sudah dibongkar dan saat ini dikumpulkan dan siap dikirimkan ke India, apabila memang negeri kari tersebut jadi meminang F-16, membuat India akan menjadi produsen F-16 di masa mendatang.
SAAB sendiri juga tak kalah garang dalam menjawab tantangan India ini. SAAB menjanjikan akan mendirikan Gripen Design Centre yang diisi oleh enjinir dan teknisi India, sehingga mereka bisa mendesain komponen atau modifikasi sesuai dengan kebutuhan dalam negeri sehingga usia pakai Gripen-E bisa panjang.
SAAB juga menjanjikan lini produksi di dalam negeri India, pusat perawatan radar dan sensor, serta lini perawatan berat, perakitan dan pengujian akhir. Pokoknya dari proses awal sampai akhir produksi Gripen-E dapat sepenuhnya dilakukan di India.
Kedua perusahaan akan diberi waktu tiga bulan untuk menjawab RFI dari pemerintah India dengan proposal lengkap bagaimana masing-masing perusahaan akan menyiapkan cetak biru produksi di India. Sementara itu, pemerintah India juga akan merilis EoI (Expression of Interest) bagi perusahaan domestik pemasok komponen yang tertarik untuk bergabung dalam jaringan rantai produksi.
Walaupun di atas kertas dan pemberitaan masing-masing perusahaan tampaknya akan all out, masih ada sejumlah isu yang menggantung, seperti teknologi kunci seperti radar, mesin, dan avionik yang tidak akan diberikan oleh produsen begitu saja. Seperti diketahui, baik Gripen-E maupun F-16 Viper Block 70 menggunakan komponen Amerika Serikat. Hal ini bisa menimbulkan hambatan bagi inisiatif produksi di dalam negeri. Kita tunggu saja kelanjutannya. (Aryo Nugroho)

Boeing: Super Hornet Kompatibel dengan Kapal Induk AL India

Super Hornet
Super Hornet 

Raksasa industri pertahanan Amerika Serikat, Boeing, mengklaim bahwa pesawat tempur F/A-18E/F Super Hornet-nya kompatibel dengan platform kapal induk Angkatan Laut India saat ini, IANS melaporkan.
Mereka menambahkan bahwa pesawat tempur tersebut juga dapat diproduksi di India di bawah inisiatif "Make in India" jika dipilih oleh Angkatan Laut India.
"Analisis dan simulasi telah menunjukkan bahwa F/A-18 kompatibel dengan armada kapal induk Angkatan Laut India saat ini. Hasil tes tersebut telah diajukan sebagai tanggapan terhadap permintaan informasi (request for information - RFI) global yang dikeluarkan oleh Angkatan Laut India," kata Pratyush Kumar, Presiden Boeing India, seperti yang dikutip oleh IANS.
Kumar berbicara dengan IANS di sela-sela briefing mengenai pesawat tempur Super Hornet F / A-18 yang diadakan di New Delhi. Boeing telah mengajukan tanggapan terhadap RFI global (permintaan informasi) yang melayang oleh Angkatan Laut India pada awal tahun ini.
Saat ini, kapal induk Angkatan Laut India memanfaatkan "ski-jump ramp" untuk meluncurkan pesawat tempur untuk lepas landas, sementara kapal induk AS dilengkapi dengan pelontar uap untuk meluncurkan pesawat terbang.
Boeing dianggap sebagai salah satu pesaing utama untuk memasok 57 pesawat tempur berpangkalan kapal induk yang dibutuhkan oleh Angkatan Laut India. Eksekutif perusahaan tersebut mengatakan kepada IANS bahwa F/A-18 Super Hornet dirancang untuk operasi kapal induk dan merupakan "pesawat carrier capable paling unggul didunia" dimana Angkatan Laut AS berencana akan menggunakannya hingga tahun 2040an.
Angkatan Laut India memprakarsai penawaran tersebut dan mengeluarkan "RFI untuk Pengadaan Multi-Role Carrier Borne Fighter untuk Angkatan Laut India" pada tanggal 31 Januari 2017.
Menurut Kumar, selain memiliki teknologi canggih, pesawat tersebut memiliki biaya siklus hidup keseluruhan yang lebih masuk akal daripada pesaing lainnya dalam tender.
Dan Gillian, Vice President Program F/A-18 dan EA Boeing, mengamati bahwa platform seperti "Super Hornet" di bawah program "Make in India" akan membantu industri India memposisikan mereka untuk pembuatan "Advanced Medium Combat Aircraft" (AMCA).
"Super Hornet mewakili kemampuan abad ke-21 untuk kekuatan pertahanan India dan kemampuan industri di mana kita telah
mengevaluasi 400 pemasok untuk kampanye pesawat tempur tersebut dan telah melakukan penilaian mendalam terhadap kemampuan lebih dari 160 pemasok India," kata Kumar. "Kami telah melipatgandakan sumber kami dari India dan saat ini menghasilkan $ 1 miliar dari India."
Gillian menyebutkan bahwa Super Hornet berada di depan pesaingnya dalam hal keterjangkauan, survivabilitas, stealth built-in, senjata yang lebih cerdas, dan telah terbukti dalam pertempuran.
Saat ini, Angkatan Laut India memiliki satu kapal induk, INS Vikramaditya yang berbasis di Wilayah Samudra Hindia. Kapal ini mengoperasikan pesawat tempur Mikoyan MiG-29K buatan Rusia.
Sumber : defpost.com

Angkatan Bersenjata Rusia Akan Pesan 100 unit Tank T-14 Armata

Tank T-14 Armata
Tank T-14 Armata 

Sebagai pemegang status tank paling modern di dunia saat ini, T-14 Armata memang sanggup menarik perhatian banyak pengamat militer dan juga negara-negara yang selama ini waspada akan perkembangan militer Rusia yang makin hari makin menunjukkan geliat pemulihannya.
Maklum saja, desain dari T-14 juga tidak biasa, menempatkan seluruh kru dalam satu hull dan didudukkan berjejeran. Hal ini memungkinkan koordinasi yang meningkat dalam pertempuran, sekaligus mematahkan mitos kalau selama ini Rusia cuma ikut-ikutan negara-negara Barat dalam menentukan desain alutsistanya.
T-14 Armata pun digadang modern, dengan sistem proteksi Afganit yang mampu menolak 'bala' roket atau rudal anti tank sebelum menyentuh kulit kendaraan. Bahkan Afganit diklaim bisa mematahkan penetrator APFSDS yang saat ini jadi andalan munisi tank untuk menjebol lapisan baja tang tebal.
T-14 Armata juga dibekali kemampuan tempur yang tidak biasa, seperti kemampuan mengendalikan langsung drone atau UAV mini untuk mengamati kondisi sekitar sehingga tidak tergantung pada unit pengintai garis depan. Hasil tangkapan videonya bisa disaksikan langsung di layar LCD yang ada di dalam tank. T-14 Armata juga dipersiapkan sebagai wahana tempur otonom yang memungkinkan pengendaliannya dari jauh.
Nah, pertanyaannya, berapa banyak T-14 Armata yang akan dibangun untuk memodernisasi Korps lapis baja Rusia? Setelah banyak spekulasi, Deputi Menteri Pertahanan Yury Borisov akhirnya mengkonfirmasi bahwa Rusia akan memesan seratus unit T-14 Armata untuk gelombang pertama yang diperkirakan akan selesai pada tahun 2020 dan diserahkan ke Angkatan Bersenjata Rusia.
Deputi Menhan Borisov dalam pameran ARMY-2017 di Kubinka mengatakan bahwa T-14 saat ini masih menjalani berbagai pengujian operasional. Pemesanan dalam jumlah yang sebenarnya terhitung sedikit untuk ukuran Rusia ini masuk akal karena beberapa alasan.
Yang pertama adalah soal dana. Anggaran militer Rusia saat ini tersedot untuk operasi militer di Suriah, sementara negara yang kena sanksi embargo internasional juga menghadapi kenyataan kalau mereka tidak memiliki banyak sumber penerimaan, apalagi harga minyak terus berada dalam level yang rendah. Oleh karena itu, harus ada prioritas mengenai mana yang didahulukan, dalam hal ini amunisi seperti rudal jelajah menerima prioritas tertinggi.
Yang kedua, T-14 Armata sendiri juga masih belum matang teknologinya. Adalah benar kalau T-14 dilengkapi dengan meriam 2A82-1M Rapira generasi terkini, tapi ini bukanlah meriam yang seharusnya menjadi senjata utama untuk T-14. Tank Rusia ini dikabarkan akan menerima meriam yang jauh lebih besar, di atas 150mm untuk mampu menghadapi tank-tank modern Barat.
Dengan membeli sejumlah kecil T-14, Rusia bisa memesan T-14 yang sudah dilengkapi persenjataan dan sensor terkini pada gelombang kedua yang jauh lebih besar, serta memesan paket modernisasi untuk gelombang pertama. Melalui strategi ini, Rusia dapat menjaga bahwa seluruh varian T-14 yang dimilikinya di masa mendatang akan memiliki kualitas yang serupa. Kita tunggu saja. (Aryo Nugroho)

Pakistan Terima Helikopter Serbu Mi-35M dari Rusia

Helikopter Serbu Mi-35M
Helikopter Serbu Mi-35M 

Pakistan telah menerima empat helikopter serbu Mil Mi-35M dari Rusia, Badan Promosi Ekspor Pertahanan Pakistan (Defence Export Promotion Organization - DEPO) mengkonfirmasi.
Pernyataan tersebut dikeluarkan oleh pajabat DEPO, Brigadir Jenderal Waheed Mumtaz pada Forum Teknik Militer Internasional 2017 (ARMY 2017), yang berlangsung di Moskow antara 22-27 Agustus lalu.
Angkatan Darat Pakistan memesan empat Mi-35M dari Russian Helicopters pada bulan Agustus 2015 dengan kesepakatan senilai $ 153 juta, yang mencakup pelatihan, suku cadang dan peralatan pendukung darat. Helikopter Mi-35M diperkirakan akan menggantikan armada helikopter AH-1 Cobra AD Pakistan yang sudah menua yang dibeli dari AS.
Brigjen Mumtaz mengatakan kepada RIA Novosti bahwa awak pesawat Pakistan telah menyesuaikan diri dengan Mi-35. Namun, pada akhir program ini, Pakistan akan mengevaluasi usulan untuk mendapatkan senjata Rusia lainnya, apakah itu helikopter tambahan atau kendaraan lapis baja, pesawat dan kapal perang.
Ada laporan bahwa Pakistan tertarik untuk membeli tambahan Mi-35M (hingga 20 unit) di tahun-tahun mendatang. Pakistan juga melakukan negosiasi dengan Rostec untuk mendirikan pusat perawatan, perbaikan dan overhaul (maintenance, repair and overhaul - MRO) untuk sepenuhnya dapat mendukung helikopter Mi-17/171 dan Mi-35.
Pakistan terus mengembangkan kemampuan dukungan udara jarak dekatnya. Selain membeli helikopter Mi-35M, Pakistan juga tengah mengantri untuk menerima 15 helikopter AH-1Z Viper, yang penjualannya telah disetujui oleh Departemen Luar Negeri AS pada bulan April 2015.
Mi-35M adalah helikopter serang multi-role. Helikopter ini merupakan modernisasi komprehensif helikopter Mi-24V. Mi-35M dikembangkan oleh Mil Moscow Helicopter Plant dan telah diproduksi di Rostvertol sejak tahun 2005.
Mi-35M dilengkapi dengan navigasi terbaru dan suite avionik dengan display berwarna multifungsi, sistem pembidik yang mencakup thermal imager dan TV, pengukur jarak laser dan location finder.
Helikopter ini dilengkapi dengan mesin turboshaft Klimov VK-2500, bilah rotor utama fiberglass, kepala rotor utama dengan sambungan elastomer, swashplate baru dan rotor ekor berkonfigurasi X. Pesawat Mi-35M mempunyai stub wing yang pendek dan roda pendarat fixed.
Mi-35M dapat dipersenjatai rudal anti-tank (ATGM), roket berpandu laser dan gun pod. Selain membawa dua awak pesawat, Mi-35M juga bisa membawa delapan personel bersenjata di kabin pengangkutnya. Helikopter ini dapat mengangkut muatan sampai 1.500 kg secara internal dan 2.400 kg dengan sling eksternal.
Mi-35M menawarkan kemampuan terbang yang lebih baik dan dapat dioperasikan pada suhu tinggi dan di daerah pegunungan. Desain Mi-35M memiliki tingkat kebisingan rendah, ketahanan tempur lebih besar, dan dapat mengurangi beban kerja bagi staf pemeliharaan.
Mi-35M dioperasikan antara lain oleh Angkatan Bersenjata Rusia, Venezuela, Brasil dan Azerbaijan.
Sumber : defpost.com

Rusia Kembangkan Sistem Penangkal Serangan Rudal Anti-Tank

Sistem Penangkal Serangan Rudal Anti-Tank
Sistem Penangkal Serangan Rudal Anti-Tank 

Para teknisi Rusia telah menciptakan sistem yang mampu menghancurkan rudal jelajah anti-tank yang berjarak dua meter dari tank.
Jadi, bagaimana cara menyelamatkan tank dari rudal? Pertama, Anda meningkatkan lapis bajanya, dan yang kedua Anda dapat menghindarkannya dari serangan dan ini tampaknya hal yang paling aman untuk dilakukan. Untungnya, sistem perlindungan aktif (APS) baru telah dikembangkan untuk melakukan yang kedua. Sistem ini ringan dan lebih murah daripada harus menambah lapis baja lagi ke sebuah tank.
APS “Arena” buatan Rusia dikembangkan Biro Desain Teknik dari Kolomna bertindak sebagai radar untuk tank dan mampu mendeteksi rudal yang mengarah ke tank dari kejauhan hingga 50 meter. Bahkan jika rudal itu adalah TOW (rudal jelajah anti-tank) yang melaju dengan kecepatan supersonik.
Saat target telah terdeteksi dan dikunci sistem, komputer akan mengikutinya saat mengarah ke tank. Setelah itu, dua meter di depannya, sistem akan meluncurkan roket penangkal untuk menghancurkan proyektil musuh tersebut.
Ini adalah sistem otomatis tanpa kendali manual. Sayangnya manusia belum bisa bereaksi secepat komputer.
“Inovasi dari Rusia ini bisa viral karena industri militer di seluruh dunia ingin melindungi tentara dan kendaraan mereka apa pun caranya. Lebih murah, lebih baik,” kata profesor di Akademi Ilmu Militer, Vadim Kozyulin.
Ia membandingkan sistem ini dengan clay pigeon shooting (seni menembak target terbang khusus), tapi ketimbang memakai butir peluru seperti yang digunakan dalam senapan, sistem ini menggunakan puing komposit yang terbang ke arah target dengan kecepatan dua kilometer per jam.
“Sistem ini bekerja secara otomatis dan misil musuh akan mengalami nasib yang sama seperti clay pigeon hancur berkeping-keping,” ujarnya menambahkan.
Kozyulin mengatakan, setiap sistem Arena dilengkapi dengan 22 roket penangkal. “Sistem ini menggandakan nyawa tank. Ia murah dan mudah digabung ke dalam kendaraan lapis baja.”
Tentara Rusia, menurutnya, masih perlu menguji coba sistem ini tidak hanya di lapangan tembak, tapi juga di medan perang.
“Jujur saja. Sistem ini masih perlu melewati uji coba tembakan nyata. Jika Rusia tidak menggunakannya dalam operasi di Suriah, kapasitas Arena tidak akan sepenuhnya ditemukan,” ujarnya.

Bekal Ulang di Lantamal I, KRI Usman Harun Bertolak ke Lebanon

KRI Usman Harun
KRI Usman Harun 

Wakil Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Wadan Lantamal) I Belawan Kolonel Marinir I Made Wahyu Santoso melepas Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Usman Harun-359 salah satu unsur Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Koarmatim selesai melaksanakan bekal ulang (Bekul) untuk melanjutkan pelayaran misi perdamaian dunia di Lebanon yang tergabung dalam Satuan Tugas Maritim TNI Kontingen Garuda (Konga) XXVIII-J/UNIFIL tahun 2017 atau Maritime Task Force (MTF) in Lebanon XXVIII-J/UNIFIL di Dermaga Penumpang Gudang Arang, Belawan, Selasa (29/08).
Misi perdamaian dunia ke Lebanon yang ke-10 kalinya tersebut, TNI Angkatan Laut kali ini mengirimkan satuan tugas (Satgas) Maritim TNI Konga XXVIII-J/UNIFIL KRI Usman Harun-359 dengan Komandan Kolonel Laut (P) Alan Dahlan, S.T.
KRI Usman Harun-359 akan mengemban misi perdamaian PBB di Lebanon selama enam bulan dan pelayaran selama dua bulan pulang pergi. Dalam pelayaran ke Lebanon, KRI Usman Harun-359, merupakan Kapal Perang kelas Multi Role Light Frigate (MRLF) kedua setelah KRI Bung Tomo.
Turut hadir dalam pelepasan KRI Usman Harun-359, Asisten Danlantamal I, Kasatker/Kadis Lantamal I, Para Komandan KAL, Perwira, Bintara, Tamtama dan Korsik Lantamal I Belawan.

Kapal Induk Helikopter Inggris HMS Ocean Memulai Penugasan Terakhirnya Sebelum Pensiun

HMS Ocean
HMS Ocean 

Berlayar dari Naval Base Plymouth pada hari Selasa (29/08), kapal induk helikopter Inggris HMS Ocean memulai penugasan terakhirnya sebagai kapal Angkatan Laut Kerajaan Inggris.
Fleet flagship tersebut akan bergabung dengan Standing Maritime Group 2 NATO di Mediterania sebagai flagship.
HMS Ocean dan para awaknya diperkirakan baru akan kembali ke pangkalannya pada bulan Desember mendatang.
HMS Ocean yang merupakan kapal induk AL Inggris satu-satunya saat ini, ditetapkan akan dinonaktifkan pada tahun depan dan perannya sebagai fleet flagship akan diambil alih oleh HMS Queen Elizabeth.
Diresmikan pada bulan Oktober 1995, HMS Ocean yang memiliki panjang 202 meter menggantikan HMS Bulwark sebagai fleet flagship pada bulan Juni 2015. Dalam perannya sebagai kapal induk helikopter dan kapal serbu amfibi, Ocean dirancang untuk mengirim pasukan dengan helikopter atau dengan kapal pendarat.
Setelah pemensiunannya diumumkan, media Brasil melaporkan bahwa HMS Ocean dapat dijual ke Angkatan Laut Brasil dengan "harga yang wajar".
Kementerian pertahanan Inggris sebelumnya mengatakan bahwa 'sejumlah opsi' masih dipertimbangkan mengenai masa depan HMS Ocean dan menambahkan bahwa terlalu dini untuk membicarakan hal-hal yang spesifik.

TNI AU Perpanjang Penempatan Tiga Pesawat Tempur di Kupang

T-50i
T-50i 

Mabes TNI Angkatan Udara memperpanjang penempatan tiga pesawat tempur jenis T-50i dan satu helikopter tempur jenis Puma di Pangkalan Lanud El Tari Kupang, kata Komandan Lanud El Tari Kupang Kolonel Pnb Ronny I Moningka, Selasa (29/08).
"Penempatan pesawat tempur dan helikopter Puma diperpanjang hingga September nanti," katanya kepada Antara di Kupang.
Sebelumnya pada Juli lalu ia mengatakan bahwa kedatangan tiga pesawat tempur T-50i yang dikenal dengan sebutan Golden Eagle dan satu helikopter Puma itu akan ditempatkan di hanggar Lanud El Tari Kupang mulai 24 Juli hingga 24 Agustus.
Namun hingga kini melalui pantauan Antara hampir setiap hari pesawat tempur buatan Korea Selatan itu masih terus melintas di atas wilayah udara Kota Kupang dalam rangka mengelar operasi pengamanan wilayah perbatasan di daerah itu.
"Ada kebijakan tertentu yang mungkin saja menjadi pertimbangan para pimpinan di Mabes, sehingga penempatan tiga pesawat tempur dan satu helikopter ini diperpanjang penempatannya hingga 24 September nanti, dan suratnya sudah kami terima," ujarnya.
Ia mengatakan salah satu pertimbangan perpanjangan penempatan sejumlah pesawat tempur tersebut karena memang NTT merupakan daerah strategis yang berbatasan darat dengan Republik Demokrat Timor Leste serta berbatasan laut dengan Australia.
Lebih lanjut ia mengatakan penempatan tiga pesawat tempur dan satu helikopter tempur di NTT itu bukan karena daerah tersebut sedang dalam bahaya atau ancaman dari musuh.
"Penempatan pesawat tempur tersebut hanya merupakan bagian dari pengamanan dan pencegahan saja," katanya menegaskan.
Lebih lanjut Ronny menambahkan pesawat tempur dan satu unit helikopter itu sudah cukup mengamankan wilayah udara serta pemantauan di wilayah laut NTT.
"Ini hanya bagian dari pengamanan saja. Oleh karena itu masyarakat tidak usah khawatir kalau penempatan sejumlah pesawat dan helikopter tempur ini karena ada ancaman dari luar," tambahnya.
Pengamanan dilakukan hingga ke wilayah perbatasan di bagian selatan yang berbatasan dengan Australia serta juga bagian utara yang berbatasan dengan Timor Leste.

MRAP Cougar, Kendaraan Taktis Tangguh yang Kebal Seribu Kali Ledakan Ranjau

MRAP Cougar
MRAP Cougar 

Dengan AS berperang di Irak dan Afghanistan, korban dari ledakan IED (Improvised Explosive Device) terus berjatuhan. Kendaraan taktis macam Humvee jadi korban, dilumat oleh bahan peledak yang kadang terbuat dari munisi artileri kaliber besar.
Ketika Obama naik menjadi Presiden, menteri Pertahanan Robert Gates mulai memberikan perhatian terhadap kendaraan anti ranjau MRAP (Mine Resistant Ambush Protected) yang dibangun khusus untuk melindungi penumpang dari ranjau dan IED.
Salah satu perusahaan pertama yang bermain di bidang ini adalah Force Protection, yang tadinya adalah perusahaan pembuat kapal. Force Protection pun perlahan-lahan mulai mendapatkan order dari Pentagon. Beroperasi dari pabrik eks perusahaan General Electric di Charleston, South Carolina, Force Protection memiliki dua gacoan, Bufallo dan Cougar.
Cougar buatan Force Protection adalah yang pertama dan terdepan dari kelasnya. Mengisi berbagai program terbatas seperti Joint EOD Rapid Response Vehicle (JERRV) Korp Marinir, Badger ILAV (Iraqi Light Armored Vehicle), HEV (Hardened Engineer Vehicle) dan Ridgeback/ Mastiff/ Wolfhound untuk AD Inggris, Cougar membuktikan dirinya mampu bertahan dalam lebih dari insiden 1.000 peledakan jebakan IED dari berbagai tipe tanpa insiden hilangnya nyawa prajurit AS.
Paling banter, Cougar hanya kehilangan ban atau sistem penggeraknya yang lepas akibat ledakan. Harus dicatat, walaupun tidak ada korban tewas, ledakan ranjau tetap menimbulkan trauma karena gelombang kejut yang menjalar ke dalam kabin kendaraan, dan bisa menyebabkan cedera serius.
Sama seperti MRAP generasi pertama lainnya, Cougar dibangun di atas sasis monokok dengan fitur V-hull untuk memantulkan arah ledakan dari bom, ranjau, atau IED yang ditanam di bawahnya. Ini adalah desain paling dasar dalam teknologi pembuatan kendaraan anti ranjau, untuk membuang arah ledakan ke samping, sehingga penumpang di kabin tetap terlindungi. Proteksi di sisi kiri-kanan serta atas juga tak kalah mumpuni, mampu menahan hantaman peluru 7,62x51mm.
Bedanya, Cougar dibangun secara modular, dimana Force Protection mampu menyediakan konfigurasi 4x4 ataupun 6x6. Kedua varian memiliki konfigurasi modul yang sama, dengan mesin terpasang di bonnet depan, kompartemen pengemudi, dan penumpang. Pintu akses prajurit di belakang memiliki dua pintu yang terbuka ke kiri-kanan.
Rating ketahanan ledaknya mirip dengan Bushmaster, dua ledakan TM-57 di bawah setiap roda dan satu ledakan ranjau di bawah sasis. Kursi-kursi penumpangnya sudah dibangun dengan spesifikasi anti kejut impak ranjau.
Bobot kendaraan yang cukup gambot diimbangi dengan tenaga yang dipasok mesin diesel Caterpillar C-7 yang dikawinkan dengan transmisi 6 percepatan Allison 3500 SP yang sudah menganut model otomatis. Mesin ini mampu menyemburkan daya 330hp yang mampu mempersembahkan torsi sebesar 1.166nm pada putaran 1.450rpm.
Tenaga ini disalurkan lewat keempat roda Hutchinson VFI (Variable Function Insert) berkategori run-flat yang mampu diajak jalan walaupun kempes. Kenyamanan dan kemampuan lintas rintangan semakin meningkat apabila pengguna memasang sistem suspensi independen TAK-4, yang merupakan fitur standar apabila pengguna membeli varian ISS (Independent Suspension System).
Dengan sosoknya yang gambot, Cougar enteng saja diajak melintasi genangan air setinggi 1 meter Karena dimensinya, Cougar hanya bisa diakomodasi oleh pesawat angkut sekelas C-17 ke atas. Biarpun begitu, Cougar boleh dibilang sebagai MRAP tersukses, bahkan melebihi Bushmaster. Kontrak besar pertama pada Februari 2007 menandai akuisisi 65 Cougar 4x4 (Cat I) dan 60 Cougar 6x6 (Cat II). Pada bulan April tahun yang sama, 300 varian 4x4 dan 700 varian 6x6 dibeli oleh Korp Marinir AS.
Pada bulan Juni giliran AL AS membeli 395 Cougar Cat I dan 60 Cat II. Pembelian untuk Sekutu AS di luar negeri juga tak kalah moncer. Melalui skema FMS (Foreign Military Sales), 157 varian Ridgeback dibeli oleh Inggris, yang merupakan varian Cougar 4x4 yang dimodifikasi. 157 unit ini merupakan penambahan dari jumlah 86 Mastiff yang dibeli pada Agustus 2006, atau lebih dahulu dari program MRAP Amerika Serikat. (Aryo Nugroho)

Indonesia Kembangkan Kapal Selam Mini, Targetkan Selesai Pada Tahun 2025

Kapal Selam Mini
Kapal Selam Mini 

Indonesia akan membentuk konsorsium untuk mengembangkan kapal selam mini yang ditargetkan selesai pada 2025, kata Deputi Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa, Wahyu W Pandoe
"Saat ini konsorsium tersebut sedang dijajaki dan akan dibentuk dalam waktu dekat," katanya di sela Seminar BPPT-Saab "Meraih Pertahanan yang Tangguh melalui Teknologi Pertahanan Bawah Air" di Jakarta, Selasa (29/08).
Konsorsium yang akan melibatkan BPPT, TNI, PT PAL, ITS, ITB, PT Risea, dan lembaga lain itu akan mengembangkan industri pertahanan bawah laut guna membangun kemandirian bangsa.
Prototipe kapal selam mini tersebut rencananya dibangun dengan dimensi 32 meter x 3 meter yang mampu menyelam di kedalaman 150 meter di bawah laut selama 2-3 hari dengan kapasitas 11 awak.
"Ini hanya sasaran antara, tujuan berikutnya adalah mengembangkan kapal selam ukuran besar jenis U209. Penguasaan teknologi bawah laut sangat penting untuk negara maritim sehingga harus dimulai dari sekarang," kata Wahyu.
Untuk mengembangkan kapal selam ini, BPPT mulai menjajaki kerja sama dengan Saab, industri pertahanan Swedia yang bersedia melakukan alih teknologi pertahanan bawah air.
Kepala Bagian Program dan Anggaran Pusat Teknologi Industri Pertahanan dan Keamanan BPPT Dr Fadilah Hasim mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar untuk menguasai teknologi bawah laut.
BPPT, ia menjelaskan, juga memiliki berbagai laboratorium yang mendukung alih teknologi bawah laut seperti Balai Teknologi Hidrodinamika, Balai Besar Teknologi Aerodinamika, Aeroelastika dan Aeroakustika, Balai Besar Kekuatan Struktur, Balai Teknologi Mesin Perkakas Produksi dan Otomasi, Balai Teknologi Polimer dan Balai Teknologi Termodinamika Motor Propulsi.
"Negara yang mengembangkan teknologi kapal selam tidak banyak di dunia, misalnya AS, Rusia, Perancis, Jepang, dan Korea Selatan dan cukup sulit untuk melakukan alih teknologi, khususnya negara anggota NATO. Sedangkan Swedia karena bukan anggota NATO, sehingga lebih terbuka dalam alih teknologi," katanya.
Manajer Teknologi Saab Kockums Swedia, Roger Berg, mengatakan perusahaannya telah 100 tahun mendesain dan memproduksi kapal angkatan laut dan telah 100 tahun mengembangkan kapal selam serta sedang mengembangkan program kapal selam modern, A26 Kockum Class.
Teknologi kapal selam terbaru yang dikembangkan Swedia adalah kemampuan tinggal di kedalaman laut dalam waktu lama dengan nyaman, kemampuan dalam menghadapi tekanan dan kemampuan mendeteksi ancaman serta penggunaan energi ramah lingkungan, kata Berg.

Pesawat C-130H Hercules A-1333 Milik TNI AU Tiba di Malang

C-130H Hercules A-1333
C-130H Hercules A-1333 

Pesawat C-130H Hercules terbaru tail number A-1333 tiba di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh di Malang pada Senin siang, 24 Agustus 2017.
Kedatangan pesawat angkut berat C-130H menambah jumlah Hercules yang dipunya TNI Angkatan Udara menghuni Skadron Udara 32 Wing 2 Lanud Abd Saleh.(28/8)
Kehadiran pesawat tersebut disambut langsung oleh Komandan Lanud Abd Saleh Marsma TNI julexi Tambayong. dan para pejabat Lanud Abd di lapangan apel Skadron Udara 32 dengan acara penyambutan kedatangan A-1333.
Keunggulan C-130H antara lain terbukti dari kemampuan operasi mulai dari dukungan Logistik, Pasukan, kemanusian dan dukungan Operasi lainnya.
Penempatan C-130 Hercules di Malang karena Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh sudah mempunyai peralatan komplet perawatan C-130 Hercules yang menjadi pangkalan induk.

Misi Anti Kapal Selam, TNI AL Waspadai “Shadow Zone”

Shadow Zone
Shadow Zone 

Teknologi sonar (Sound Navigation And Ranging) sampai saat ini masih yang paling diandalkan dalam misi peperangan bawah air, khususnya dalam mengendus keberadaan dan posisi kapal selam lawan. Namun, apa yang terjadi bila ada suatu zona di bawah laut yang aman atau bebas dari suhu dan salinitas. Maka yang muncul adalah shadow zone, wilayah di bawah permukaan laut yang tidak dapat dideteksi oleh sonar pencari. Di shadow zone inilah acap kali kapal selam lawan atau kapal selam asing dapat ‘ngetem’ sembari melakulan misi pengintaian.
Berada di shadow zone, kapal selam lawan dapat terbebas dari deteksi sonar yang dipacarkan kapal di permukaan, bisa dikata aktvitasnya tersamarkan atas bantuan alam. Kapal-kapal selam yang masuk ke teretori laut Indonesia lewat ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) kebanyakan tidak terpantau dengan optimal, mengingat jumlah armada kapal patroli yang dilengkapi sonar relatif masih terbatas.
Selain mengandalkan teknologi propulsi yang kian senyap, jamming sonar, material pemantul gelombang suara, dan kemampuan bertahan (endurance) menyelam lebih lama, pada dasarnya sonar pada kapal pemburu dapat dikecoh oleh kapal selam lawan adalah dengan cara kapal selam menyusup ke laut Indonesia dengan memanfaatkan “daerah kedap” transmisi gelombang suara (shadow zone). Shadow Zone ini adalah daerah dimana temperatur dan salinitas laut pada lapisan tersebut dapat memantulkan gelombang suara yang datang. Salinitas dapat mempengaruhi kecepatan gelombang suara di dalam air, terlebih di wilayah lintang tinggi.
Lantas bagaimana mengatasi tantangan dari shadow zone? Letkol Laut (E) Teguh Rumiyarto, Perwira Pembantu Madya Staf Perencanaan dan Anggaran Mabes TNI AL menyebut, bahwa harus dilakukan pengumpulan data dan analisa tentang beragam parameter kelautan secara berkala. “Setiap KRI yang berpatroli secara reguler menjalankan misi pengumpulan data-data untuk update data penting di bawah permukaan air, seperti salinitas misalnya. Hasil data-data yang diperoleh kemudian dianalisa untuk bisa diperkirakan tren yang kemungkinan terjadi di suatu wilayah,” ujar Teguh yang menjadi pembicara dalam workshop “Achieving Defence Superiority Through Underwater Defence Technology” yang diselenggarakan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dan Saab di Jakarta (29/8/2017).
Teguh menambahkan bahwa shadow zone bersifat dinamis, yakni tidak dapat dipetakan posisinya di suatu titik, untuk itu update tentang data-data kelautan mutlak dilakukan secara terus menerus. Dengan output dari hasil analisa, nantinya dapat direkomendasikan penggunaan jenis sonar yang tepat untuk mendeteksi kemungkinan adanya kapal selam di suatu area. Sebagai ilustrasi, hull mounted sonar yang terpasang di bawah lambung kapal permukaan (korvet) tak bisa mendeteksi kapal selam di lokasi yang dimaksud, sebagai solusinya kapal pemburu kapal selam dapat menggunakan variable depth sonar, jenis sonar yang ditarik dari buritan.
Karena menyangkut peristiwa alam, karakteristik shadow zone juga disebut-sebut terkait dengan faktor cuaca, suhu dan musim. Roger Berg, head of technology management Saab Kockums, memberi paparan tentang fenomena shadow zone yang terjadi di Laut Baltik, terutama pada musim dingin dan musim panas. Seperti pada foto dibawah ini yang memperlihatkan perbedaan sound pad di Laut Baltik.
Parabolic Equation
Dalam beberapa jurnal kerap disebut metode parabolic equation dapat digunakan untuk melakukan pemetaan shaodow zone, sehingga dengan hasil deteksi tersebut, TNI AL dapat meminimalisir adanya shadow zone saat berpatroli dengan menggunakan frekuensi sonar dan kedalaman sumber pancaran sonar yang tepat. (Haryo Adjie)

NC-212 200 Aviocar, Pesawat Angkut Ringan Tulang Punggung Tiga Matra dan Polri

NC-212 200
NC-212 200 

Sampai saat ini NC-212 Aviocar masih menempati posisi sebagai produk terlaris PT Dirgantara Indonesia, dengan total unit yang telah dibuat mencapai 105 pesawat untuk pasar domestik dan ekspor. Dan diantara pemesan dari dalam negeri, tiga matra TNI dan Polri telah menjadikan sosok NC-212 sebagai standar pesawat angkut ringan, tak kurang pesanan dari Kementerian Pertahanan (Kemhan) untuk TNI sudah mencapai 33 unit.
Meski hingga kini masih beroperasi penuh untuk beragam misi, usia NC-212 100/200 tak muda lagi, maklum produksi atas lisensi dari EADS CASA (sekarang - Airbus Defence and Space) untuk NC-212 100 untuk PT DI sudah berlangsung sejak tahun 1976, dan dikenal sebagai babak baru PT DI dalam produksi pesawat terbang modern. Dimuolai sejak tahun 1976, PT DI tercatat telah memproduksi 28 unit, dimana sebagian telah diserakan sebagai pesanan TNI AU.
Kemudian di dekade 80-an, seiring CASA merilis varian C-212 200, yakni varian dengan body lebih panjang, mesin baru, kapasitas lebih besar, kemampuan menanjak lebih cepat, dan ramp door lebih besar, PT DI pun ikut ambil bagian dalam produksi berdasarkan lisensi, dan jadilah NC-212 200M. Nah, varian inilah yang saat ini dominan digunakan oleh Puspenerbad TNI AD (4 unit), Skadron Udara 600 Puspenerbal TNI AL (8 unit), Skadron Udara 4 TNI AU (9 - 10 unit) dan Direktorat Polisi Udara (2 unit). Pengiriman pesanan NC-212 200M paling akhir dilangsungkan pada 15 Februari 2016, yaitu satu unit NC-212 200 pesanan tahun 2012 yang diserahkan kepada Skadron Udara 4 di Lanud Abdul Rachman Saleh, Malang, Jawa Timur.
Bagi TNI AD dan TNI AL, NC-212 200M seolah menjadi tulang punggung transportasi untuk lini sayap tetap, terlebih setelah pesawat angkut sedang DHC-5 Buffalo tak lagi dioperasikan sejak tahun 2009 oleh kedua matra tersebut. Sementara untuk TNI AU, hadirnya NC-212 100/200 melengkapi postur lini pesawat angkut yang ada, dimana porsi pesawat angkut berat ada di ‘tangan’ keluarga C-130 B/H Hercules Skadron Udara 31/32, kemudian pesawat angkut sedang di ‘tangan’ CN-235/C-295M Skadron Udara 2, dan lini pesawat ringan yang ditangani Skadron Udara 4 dengan tumpuan pada 10 unit NC-212 100/200.
Sifat NC-212 yang low maintenance, dapat beroperasi secara STOL (Short Take Off and Landing), dan bisa mendarat serta tinggal landas dari unprepared runway, menjadikan sosok NC-212 200 primadona untuk tugas-tugas perintis dan punya peran besar dalam mendukung logistic di pangkalan-pangkalan udara terpencil. Bersamaan dengan daftar belanja TNI AU dalam MEF (Minimum Essential Force) II periode 2014 - 2019, bahkan sudah ada keinginan untuk mengganti armada NC-212. Meski untuk penggantinya belum diketahui persis pesawat apa yang dilirik TNI AU.
Bila TNI AU punya rencana untuk mengganti NC-212, lain halnya dengan TNI AL, lewat Skadron Udara 800 yang mengoperasikan pesawat intai maritim, Puspenerbal TNI AL malah tengah menjajaki untuk menambah pesanan NC-212 200 MPA (Maritime Patrol Aircraft). Untuk saat ini Puspenerbal mengoperasikan tiga unit NC-212 200 MPA. Awalnya NC-212 200 MPA adalah varian angkut yang kemudian dikonversi ke varian MPA. Setelah dikonversi menjadi pesawat patroli maritim, ada perbedaaan dari sisi penampakan, yang paling kentara adalah moncong (hidung) pesawat yang jadi mancung, hal ini untuk menampung hardware dari Ocean Master Surveillance Radar.
Bila ditakar dari varian NC-212 200 yang ada di TNI, yang digunakan TNI AL adalah yang paling canggih, betapa tidak NC-212 200 MPA TNI AL sudah dilengkapi perangkat Thales AMASCOS (Airborne Maritime Situation and Control System) yang dipadukan dengan radar Ocean Master Surveillance, jarak jangkau radar ini bisa menjangkau target sejauh 180 km. Perangkat radar tadi dikombinasikan juga dengan Chlio FLIR (Forward Looking Infa Red) yang dapat mendeteksi sasaran sejauh 15 km. FLIR disematkan tepat dibawah moncong pesawat, berkat adanya FLIR maka pesawat dalam kegelapan malam dapat mengendus keberadaan kapal kecil yang sedang melaju, bahkan periskop kapal selam dalam kegelapan malam dapat terpantau lewat FLIR di NC-212 200 MPA.
NC-212i
Airbus Defence and Space (ADS) kini tengah fokus pada produksi pesanan C-295 dan Airbus A-400M Atlas, untuk itu seluruh proses pembuatan pesawat kini dilakukan oleh PT DI, pasalnya ADS telah menyerahkan sepenuhnya fasilitas produksi NC-212 mulai dari jig dan tools hingga pergudangannya (Slow Mover Material) yang semula berada di Spanyol telah dikirimkan seluruhnya ke PT DI.
Dengan fasilitas produksi yang lengkap, PT DI pun mendapat lisensi untuk memproduksi varian terbaru NC-212 400 (NC-212i). Melalui kerja sama yang telah ditandatangani pada tahun 2012 tersebut, PTDI menargetkan akan membangun 6 (enam) buah pesawat NC212i setiap tahunnya. Artinya setiap pesanan dari kawasan Asia Pasifik untuk NC-212i maka akan dibuat oleh PT DI. Indonesia akan diuntungkan karena seluruh proses pembuatan pesawat tersebut dikerjakan PT DI di Bandung.
Sampai saat ini NC-212 400 telah dipesan oleh AU Filipina dan AU Vietnam, bahkan Vetnam memesan tiga unit untuk varian MPA. Sementara dari dalam negeri, Kemhan sejauh ini malah belum mengjukan order pemesana NC-212i ini.
Adapun fitur pesawat NC212i (NC-212 400) adalah sebagai berikut:
  1. Two Honeywell TPE-331-12JR-701C Turboprop engines with two four-bladed Dowty Rotol Propeller
  2. Full Glass Cockpit, Advanced and Modern Avionics Suite and Auto Pilot.
  3. Fixed Landing Gear, High Wing Configuration.
  4. Max Take Off Weight: 8.100 kg
  5. Max Landing Weight: 8.100 kg
  6. Un-pressurized Cabin and Payload : 2.950 kg
  7. The Largest Seat Capacity (up to 28 seats)
  8. Short Take-off and Landing (STOL) Operations
  9. Take-off and Landing on Unpaved Runway Capabilities
  10. High and Hot Airfield Capability
  11. Equipped with Ramp Door for Easy Loading and Unloading

Dan sebagai perbandingan, dibawah ini adalah spesifikasi NC-212 200, jenis Aviocar yang kini eksisting digunakan TNI dan Polri.
Spesifikasi NC-212 200 :
  • Panjang : 15,2 meter
  • Lebar (bentang sayap) : 19 meter
  • Tinggi : 6,3 meter
  • Mesin : 2 - Garret TPE-331-10R-512C Turboprop
  • Propeller : empat bilah baling-baling Dowty Rotol dengan diameter 2,75 meter
  • Kecepatan Max : 370 km/jam
  • Kecepatan Jelajah : 300 km/jam
  • Ketinggian Terbang : 7.925 meter
  • Kecepatan Menanjak : 8,3 meter/detik
  • Kapasitas Bahan Bakar : 1.600 kg
  • Berat Max : 2.820 kg

Perancis Bikin Proyek Rahasia Membuat Tank Siluman

Tank Siluman
Tank Siluman 

Selama nyaris satu abad sejak kelahiran tank, kamuflase merupakan teknik perlindungan yang paling efektif. Dengan penempatan tank yang pas, dilapisi jaring, ranting-ranting, dan dedaunan, monster lapis baja darat ini bisa menghilang dari pandangan. Musuh tidak akan menduga bila lokasi tank sudah sangat dekat sekali sehingga masuk dalam jebakan.
Munculnya teknologi kamera termal pada tahun 1980an membuat pengelabuan semacam itu menjadi usang. Mata bisa tertipu, tetapi sistem optik tidak. Tank yang dalam keadaan stationer tetap menyala mesinnya menjadi makanan empuk sistem optik yang bisa mendeteksi emisi infra merah dari knalpot tank tersebut. Dari yang tadinya pemburu, tank bisa-bisa diburu tanpa sempat mengelak.
Perancis sebagai salah satu pionir dan ahli pembuatan tank pun memikirkan teknologi yang paling pas bagi tank untuk bisa menipu sistem deteksi modern. Pokoknya bagaimana caranya, monster lapis baja puluhan ton itu bisa bersembunyi dari pandangan mata.
Jika pesawat tempur menggunakan prinsip stealth untuk menipu emisi radar, untuk alutsista darat seperti tank perlindungan tersebut lebih diutamakan untuk menipu pembacaan sensor termal yang jadi andalan untuk menemukan tank dalam kegelapan malam atau diantara pekatnya asap. Maklum, sistem kamera termal jadi andalan helikopter tempur dan awak rudal antitank untuk menemukan tank lawan.
Perancis sudah memulai upaya ini ketika melakukan riset rahasia menggunakan Main Battle Tank AMX 30 yang dimodifikasi habis-habisan dengan kode AMX 30DFC pada 1980an. DFC (Demonstrateur Furtif Chenille) alias kendaraan demonstrator roda rantai tak kasat mata ini bertujuan untuk menciptakan tank yang senyap, piawai menghilang dari sorotan optik, dan meredam panas dari kulit kendaraan.
Berbeda dengan AMX 30 biasa yang penuh lekukan, AMX 30 DFC menggunakan material khusus yang dipasangkan ke sekujur hull dan kubah, sehingga bentuknya jadi rata pada kesetiap sisi-sisinya, terlihat sangat futuristik. Kulit luarnya bahkan dilapisi dengan cat RAM (Radar Absorbent Material) yang menyerap pantulan radar sehingga sulit dikenali dari jauh. Para ilmuwannya bahkan juga menciptakan cangkang khusus untuk optik bidik juru tembak sehingga tampil tersembunyi.
Yang paling hebat, di antara penambahan panel dan kulit asli AMX 30 dipasangi pipa-pipa yang dialiri cairan pendingin khusus untuk mencegah panas menjalar ke kulit kedua kendaraan. Sensor canggih akan memerintahkan cairan pendingin disemprotkan sebagai aerosol untuk mengurangi panas apabila terdeteksi adanya panas yang berlebih. Efeknya, suhu luar AMX 30 DFC jadi sama dengan lingkungan sekitarnya, sehingga tank ini sulit dikenali saat diintip dengan sistem optik.
Sayangnya, proyek ini berhenti begitu saja dalam tahap riset pada akhir dekade 1980an, karena biaya yang mahal dan sistemnya yang kurang andal saat digunakan terus-menerus di garis depan. Begitu kena tembakan, sifat kebal radar dan kebal kamera termal akan langsung luruh dan segenap perlindungan yang mahal itu jadi tak berguna. Tank masa kini malah mengandalkan jaring kamuflase baru multispektral yang efektif menyerap emisi IR. Beberapa negara seperti Inggris dan Polandia juga bereksperimen menggunakan teknologi stealth, namun tak ada yang benar-benar masuk ke jalur produksi. (Aryo Nugroho)

India Luncurkan Produksi Helikopter Serang HAL LCH

Helikopter Serang HAL LCH
Helikopter Serang HAL LCH 

India telah meluncurkan produksi Hindustan Aeronautics Limited (HAL) Light Combat Helicopter (LCH) setelah mendapat lampu hijau untuk pengadaan oleh Dewan Akuisisi Pertahanan India (Defense Acquisition Council - DAC) beberapa bulan yang lalu.
Peluncuran LCH, yang dirancang oleh Rotary Wing R&D Centre milik HAL, dilakukan oleh Menteri Pertahanan India Arun Jaitley pada hari Sabtu (26/08) di fasilitas HAL di Bengaluru.
Versi dasar LCH telah lulus oleh Pusat Kelaikan dan Sertifikasi Militer India (Centre for Military Airworthiness and Certification - CEMILAC), dan Dewan Akuisisi Pertahanan (DAC) telah menyetujui untuk pengadaan 15 helikopter LCH dari HAL dalam kategori "Didesain, Dikembangkan dan Diproduksi di Dalam Negeri".
HAL Light Combat Helicopter (LCH) adalah helikopter tempur multirole yang dikembangkan di India oleh Hindustan Aeronautics Limited (HAL) untuk digunakan oleh Angkatan Udara India dan Angkatan Darat India.
LCH merupakan turunan dari HAL Dhruv Advanced Light Helicopter (ALH), yang sudah masuk kedinasan Angkatan Bersenjata India.
LCH ini ditenagai oleh dua mesin turboshaft HAL/Turbomeca Shakti yang memungkinkannya terbang dengan kecepatan 145 knot dan rate of climb 12,7 m/detik.
Desain LCH menampilkan fuselage yang ramping dengan profil stealth, perlindungan armor, dan akan dilengkapi perangkat untuk melakukan operasi tempur siang-malam. Helikopter ini memiliki konfigurasi tempat duduk tandem untuk pilot dan co-pilot/weapon system operator (WSO).
LCH memiliki glass cockpit dengan display multifungsi (MFD), target acquisition and designation system dengan FLIR (forward looking infrared), pengukur jarak dan penunjuk sasaran laser. Senjata akan dibidikkan dengan helmet mounted sight dan akan ada paket electronic warfare (EW) dengan sistem radar warning receiver (RWR), laser warning receiver dan missile approach warning (MAW).
Helikopter ini dipersenjatai dengan turret meriam 20 mm (meriam M621 yang terpasang pada turret Nexter THL 20), peluncur roket 70 mm dan rudal udara-ke-udara.
Helikopter ini mampu bertempur diketinggian tinggi (high-altitude warfare - HAW) karena ketinggian terbang operasionalnya mencapai 6.000-6.500 meter (19.700-21.300 kaki). Pertempuran pada Perang Kargil (konflik bersenjata antara India dan Pakistan di dataran tinggi pegunungan di distrik Kargil, Kashmir pada Mei - Juli 1999) mendorong adanya kebutuhan sebuah helikopter serang yang dibuat untuk operasi ketinggian tinggi semacam itu. LCH telah menunjukkan kemampuannya untuk mendarat dan lepas landas dari Siachen Range dengan muatan, bahan bakar dan senjata yang melebihi kemampuan helikopter tempur lainnya.
LCH tersebut dimaksudkan untuk digunakan dalam pertahanan udara terhadap target udara yang bergerak lambat (misalnya pesawat terbang dan UAV), Counter Surface Force Operation (CSFO), penghancuran operasi pertahanan udara musuh, pengawalan operasi heliborne khusus (special heliborne operations - SHBO), operasi lawan pemberontakan (COIN), serangan dalam perang perkotaan, dukungan operasi search and rescue (SAR) tempur, peran anti-tank dan tugas pengintaian.
Sumber : defpost.com

Setelah Karet dan Sawit, Indonesia Akan Tawarkan Kerupuk kepada Rusia untuk di Barter dengan Sukhoi Su-35

Sukhoi Su-35 buatan Rusia
Sukhoi Su-35 buatan Rusia 

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita memasukkan kerupuk dalam daftar bahan pangan yang akan dibarter dengan sebelas pesawat tempur Sukhoi Su-35 buatan Rusia. Kerupuk diusulkan sebagai produk barter bersamaan dengan bahan pangan seperti karet, kelapa sawit dan juga barang furnitur.
"Saya serius (soal barter kerupuk), karena ada nilai tambahnya," kata Enggartiasto di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (28/8).
Enggartiasto mengatakan daftar bahan pangan dan barang jenis lain akan diserahkan ke Rusia. Nilai barter produk tersebut senilai US$ 570 juta.
Enggar mengatakan banyak produk makanan asal Indonesia yang diminati di luar negeri. Selain bahan makanan, Indonesia juga dapat menawarkan produk lain seperti alat pertahanan yang diproduksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT. Pindad (Persero) sebagai alat barter.
"Kami buat daftarnya, setelah itu negosiasi," katanya. (Baca: Selain Karet, Kelapa Sawit Akan Dibarter Indonesia dengan Sukhoi)
Beberapa waktu lalu dia pernah mengatakan pertukaran pesawat Su-35 dengan karet dan produk lain atas permintaan perusahaan Rusia Rostec. "Rencana imbal dagang ini sudah hampir final. Namun, kami masih menawarkan produk Indonesia lainnya untuk diekspor ke Rusia selain karet yang mereka minta," kata Enggar.
Dalam MoU, tertulis Rostec menjamin akan membeli lebih dari satu komoditas ekspor, termasuk karet olahan dan turunannya serta minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan turunannya. Selain itu, opsi lainnya adalah mesin, kopi dan turunannya, kakao dan turunannya, tekstil, teh, alas kaki, ikan olahan, furnitur, kopra, plastik, dan turunannya, resin, kertas, rempah-rempah, produk industri pertahanan, dan produk lainnya.
Badan Usaha Milik Negara yakni PPI bakal menjadi koordinator pelaksanaan skema imbal beli yang akan berjalan selama dua tahun. Sehingga proses pengadaan akan dilakukan secara bertahap sesuai kesepakatan. Pengadaan komoditas pemenuhan imbal beli, sambungnya, juga bakal melibatkan pihak swasta.
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu juga menyatakan tidak masalah menunggu selama dua tahun untuk dapat menggunakan keseluruhan 11 Su-35. Sebab, Angkatan Udara (AU) akan tetap mendapatkan pesawat dengan kualitas yang baru.

Kapal Selam Improved Kilo Project 636 “Varshavyanka" Masuk Bidikan Serius Indonesia

Improved Kilo Project 636 “Varshavyanka"
Improved Kilo Project 636 “Varshavyanka" 

Indonesia tertarik untuk memiliki kapal selam diesel-elektrik Project 636 “Varshavyanka”, kata Kepala Layanan Federal untuk Kerja Sama Teknik Militer Rusia (FSMTC) Dmitry Shugaev dalam sebuah wawancara dengan Kommersant.
Shugaev mencatat bahwa dalam hal ini "trennya bagus". "Kami membahas topik ini dengan mitra Indonesia, kami siap mencari model yang saling menguntungkan," katanya.
Namun pada saat yang sama, kepala FSMTC juga menambahkan bahwa Jakarta juga sedang berupaya mengembangkan produksi peralatan kelautannya sendiri.
Kapal selam Varshavyanka adalah kapal selam generasi ketiga yang memiliki berat benaman 3.950 ton. Dengan bobotnya itu, kapal selam ini bisa melaju di bawah air dengan kecepatan 20 knot dan mampu menyelam sedalam 300 meter. Varshavyanka juga dapat menampung hingga 52 orang awak kapal.
Rusia telah mempertimbangkan kemungkinan pemasokan kapal selam non-nuklir Varshavyanka (Project 636) untuk Indonesia sejak 2016 lalu. Kapal selam Project 636 yang telah dimodifikasi ini memiliki efektivitas tempur yang lebih tinggi.
Varshavyanka dilengkapi dengan torpedo berkaliber 533 milimeter (sebanyak enam unit), bom, dan sistem rudal ‘Kalibr’. Kapal ini juga mampu mendeteksi target pada jarak tiga sampai empat kali lebih besar dibandingkan kemampuan deteksi musuh. Atas kemampuan silumannya tersebut, kapal selam ini mendapat julukan "black hole" oleh NATO.

Sulawesi Utara Segera Jadi Pangkalan Tempur Udara

Pangkalan Angkatan Udara Sam Ratulangi
Pangkalan Angkatan Udara Sam Ratulangi 

Sulawesi Utara semakin kokoh menjadi benteng pertahanan NKRI. Pesawat-pesawat tempur bakalan mondar-mandir di angkasa Sulut.
Diungkapkan Komandan Pangkalan Angkatan Udara Sam Ratulangi (Danlanudsri) Manado Kolonel Pnb Arifaini Dwiyanto, pihaknya sudah mengusulkan ke Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, dalam hal ini Gubernur Olly Dondokambey SE terkait rencana pembangunan skadron udara di ujung utara Indonesia.
“Seperti kita ketahui, Sulawesi Utara memang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Filipina. Nah, pembentukan Skadron sudah sangat dibutuhkan di daerah ini (Sulut) guna semakin memperkuat wilayah udara kita,” ungkap Dwiyanto, ketika diwawancarai harian ini, akhir pekan lalu.
“Rencana tersebut juga untuk mendukung program Presiden RI Joko Widodo, yang ingin terus menguatkan pertahanan udara kita lewat keberadaan pangkalan militer milik TNI AU,” lanjut Dwiyanto.
Menurutnya, sampai sekarang berkas usulan sudah berada di pusat. “Pak Gubernur Olly Dondokambey sangat mendukung usulan kami. Dan kami berterima kasih atas dukungan pemerintah daerah tersebut,” katanya, sembari menyebutkan dirinya optimis usulan tersebut bakal diterima.
Kapan Skadron tersebut bisa dibentuk? Menurutnya, jika dokumen usulan sudah disetujui pusat, tahun depan bahkan tahun ini skadron-nya sudah bisa ada di Sulut.
“Nantinya akan ada pesawat-pesawat tempur yang nongkrong di pangkalan. Nanti kita juga akan perluas pangkalan yang ada sekarang. Misalnya juga ada penambahan fasilitas apron (tempat parkir pesawat) serta semua kebutuhan pangkalan militer lainnya,” papar Danlanudsri termuda itu. “Skadronnya tetap akan berkedudukan di lokasi saat ini (samping Bandara Sam Ratulangi, Manado),” bebernya.
Bagaimana dengan pengadaan alat utama sistem persenjataan (Alutsista)? “Misalnya, di Makassar ada Sukhoi-nya. Maka, di Sulut juga akan ada jet-jet tempur dan pesawat-pesawat tempur canggih pendukung lainnya,” jelasnya. Wilayah operasinya sampai di mana? “Untuk wilayah operasi bakal menjangkau Sulut, Gorontalo, Sulawesi Tengah, hingga ke Sulawesi Selatan. Juga bisa sampai ke Halmahera Maluku,” terang Dwiyanto.
Saat disinggung apakah dengan keberadaan skadron Lanudsri bisa naik tipe A? Danlanudsri yang sering menjadi motivator di beberapa kegiatan kemahasiswaan tersebut menyebutkan, itu bakal terwujud. “Karena salah satu syarat naik ke tipe A itu (pembentukan skadron). Selain penambahan pembangunan kantor pangkalan. Sekarang kan masih tipe B. Jadi kita tunggu saja perkembangannya,” kunci Dwiiyanto. Diketahui, jika Lanudsri sudah tipe A, otomatis komandan Lanudsri bakal dikendalikan jenderal bintang satu dengan pangkat Marsekal Pertama TNI.

PAL Targetkan Konstruksi Kapal TNI AL Capai 45% pada Akhir 2017

PT PAL Indonesia
PT PAL Indonesia 

Perusahaan milik negara sektor perkapalan PT PAL Indonesia menargetkan proses konstruksi kapal milik TNI Angkatan Laut dapat mencapai 45% pada akhir tahun ini. Saat ini, proses pengerjaan telah mencapai 21,7%.
Saat proses peletakan lunas (keel laying) Landing Platform Dock (LPD) atau kapal perang amfibi di Surabaya, PT PAL telah
menyelesaikan proses pengerjaan 13 blok sekaligus dengan beban sebesar 437 ton. Capaian itu di atas ketentuan minimal proses keel laying yang ditetapkan dalam regulasi Marpol/SOLAS yang sebesar 50 ton atau setara 1 - 2 blok.
Direktur Utama PT PAL Budiman Saleh menuturkan perusahaan pelat merah tersebut melakukan proses keel laying lebih cepat empat bulan dari rencana awal yaitu pada 28 Desember 2017.
Dia menyebut PAL berkomitmen menyelesaikan proyek multiyears tersebut secara tepat waktu.
“Melalui pendekatan strategi pembangunan terbaru, PT PAL dapat mempercepat proses konstruksi kapal LPD dari yang sebelumnya membutuhkan waktu 5 - 6 tahun, menjadi hanya 2 - 3 tahun,” ungkap Budiman dalam konferensi pers di area perakitan kapal PT PAL di Surabaya, Senin (28/8/2017).
Budiman menjelaskan aktivitas keel laying merupakan momentum penting dalam suatu konstruksi pembuatan kapal sehingga apabila proses tersebut dapat dipercepat, penyelesaian kapal secara utuh pun diharapkan lebih cepat dari target.
Adapun, kontrak pengadaan kapal LDP Ke-3 TNI AL tersebut ditandatangani pada 11 Januari 2017 dan proses first steel cutting dimulai pada 28 Juni 2017. Dengan proyeksi masa pengerjaan selama 23 bulan, pengiriman (delivery) kapal ditargetkan dapat dilaksanakan pada 28 Desember 2018.
Aslog Kasal Laksamana Muda TNI AL, Mulyadi mengungkapkan TNI AL telah ketiga kalinya melakukan pemesanan kapal kepada PT PAL. Sejauh ini, pembuatan kapal selalu tepat waktu, sehingga proses pembuatan kapal ketiga pun diharapkan tidak molor.
“Nilai pengadaan kapal ini per unitnya sebesar Rp736 miliar. Sebenarnya TNI AL berpotensi memesan lebih banyak namun anggarannya masih terbatas, tapi mudah-mudahan bisa rutin. Percepatan pengerjaan ini merupakan kabar baik bagi kami,” jelas Mulyadi.
Dia menuturkan TNI AL memenuhi amanah pemerintah untuk memberikan kesempatan pada peruahaan dalam negeri untuk terlibat membangun proyek-proyek Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista).
Selain untuk operasional TNI AL kapal LPD juga dapat untuk logistik barang dan kegiatan-kegiatan menjalankan misi kemanusiaan. Menurut Mulyadi, TNI AL juga memiliki 15 kapal tua sehingga diperlukan pembaruan kapal.
Dari dokumen spesifikasi kapal, dijelaskan PT PAL saat ini sedang menyelesaikan LPD dengan panang 124 meter dan lebar 21,8 meter. Total beban full load sebesar 7.200 ton dan kecepatan jelajah sebesar 14 Knot.

India Pilih Rafale Buatan Perancis Dibanding Sukhoi Rusia

Rafale
Rafale 

Saat ini India telah menandatangani kontrak untuk 36 unit jet tempur multi peran Dassault Rafale dari Perancis, setelah negosiasi yang alot dimana India terpaksa melepaskan kewajiban 'Make in India' untuk bisa meminang jet tempur seksi dari Perancis itu. India takluk dari Perancis yang berhasil memaksa India membeli Rafale made in Paris, bukan Delhi.
Di sisi lain, mayoritas pesawat tempur India sendiri sebenarnya adalah buatan Rusia. India memilih Rusia bukan karena kualitas sebagai prioritas, tetapi pada kerelaan Rusia untuk berbagi teknologi, walaupun harga yang harus ditebus ternyata mahal juga. Tapi kalau disuruh memilih, India lebih suka jet-jet Perancis yang umur pakainya lama dan kesiapannya tinggi.
Nah, India sendiri sedang punya proyek pesawat tempur masa depan, Fifth Generation Fighter Aircraft (FGFA). India memang ambisius, mereka tertatih-tatih dengan Tejas, tapi yakin kalau mereka akan berhasil membuat pesawat tempur generasi kelima menyaingi F-22 dan F-35. Modalnya sih, masih mau minta teknologi Rusia. Negeri Presiden Putin itu setuju saja, kalau perlu teknologi Su-57 PAK FA akan diberikan, tetapi hitung-hitungan harganya harus cocok dulu.
India, yang sudah paham tabiat Rusia dalam jualan senjata, jeri kalau mereka ditodong di belakang seperti ketika India ingin mengintegrasikan rudal Brahmos versi peluncur udara ke Su-30MKI. Oleh karena itu, India saat ini tengah mempertimbangkan untuk merealisasikan saja opsi Rafale yang tersisa, atau 36 unit lagi dengan harga hanya 60% dari total pembelian gelombang pertama.
Bagi India, Rafale merupakan solusi yang bisa memuaskan semua pihak. Ongkos akuisisinya bisa diperkirakan pasti, sementara kapabilitasnya, seperti mampu membawa bom nuklir yang dibuat sendiri oleh India, merupakan syarat wajib yang bisa dikerjakan oleh penempur cantik dari Perancis ini. Akses terhadap persenjataan Perancis yang akurat serta sistem elektro optik yang mumpuni adalah tawaran lain yang sukar ditolak. Sebagai catatan, sebelum embargo dikenakan kepada Rusia, Perancis merupakan pemasok sistem elektro optik bagi jet-jet tempur Rusia.
India pun sudah punya rencana untuk menempatkan 36 jet pertamanya, setengah di Hasimara yang berdekatan dengan perbatasan dengan China, dan sisanya di Ambala, atau front Barat dengan Pakistan. Kalau 36 Rafale tersisa dibeli, ya artinya masing-masing pangkalan akan memperoleh 2 skadron, yang artinya semakin meningkatkan kesiapan AU India.
Satu-satunya yang mengganjal tinggal masalah kemandirian, yang bagi India hanya ada satu jalur pasti (mahal): Rusia. Beberapa petinggi militer India meyakini, kalau FGFA, betapapun mahalnya, adalah sistem senjata yang tetap layak dikembangkan untuk memastikan India tidak disetir ke kanan ataupun ke kiri oleh sekutu-sekutunya, dan berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan negara-negara tetangganya. Jadi, apakah 36 Rafale akan jadi dibeli? Jawabannya akan sukar ditebak karena kisah pembelian alutsista India memang sukar diduga. (Aryo Nugroho)

Radar Acak