175 Prajurit TNI Konga XX-N Misi Pasukan Perdamaian tiba di Kongo

Prajurit TNI Konga XX-N
Prajurit TNI Konga XX-N 

Setelah menempuh perjalanan route Jakarta-Kongo/Afrika dengan Pesawat UN, sebanyak 175 Prajurit TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas Kompi Zeni (Satgas Kizi) TNI Konga XX-N/Monusco (Mission de L’Organisation des Nations Unies pour La Stabilisation en Republique Democratique du Congo) dibawah pimpinan Mayor Czi Nur Alam Sucipto, S.Sos. selaku Komandan Satgas (Dansatgas), tiba di Republik Demokratik Kongo, Minggu (29/1/2017).
Dalam perjalanan menuju ke Republik Demokratik Kongo, 175 Prajurit Satgas Kizi TNI Konga XX-N/Monusco terlebih dahulu melakukan transit di Bandara Internasional Enteebe-Uganda, dan terbang menuju tiga lokasi misi yang berbeda, yaitu 6 (enam) personel di Bunia, 86 personel di Beni Tactical Operational Base (TOB), dan 83 personel di Dungu Company Operasional Base (COB).
Dansatgas Kizi TNI Mayor Czi Nur Alam Sucipto, S.Sos., dalam pengarahannya kepada seluruh anggota Konga XX-N/Monusco menyampaikan bahwa, tantangan kedepan masih banyak untuk Kontingen Garuda di Kongo. “Keberadaan Indonesia diakui oleh aparatur misi Monusco disini, masyarakat lokalpun menyatakan rasa bangga terhadap Kontingen Indonesia. Ini merupakan langkah awal yang cukup berat untuk mempertahankan citra Indonesia yang telah ditanamkan di sini,” ucapnya.
Lebih lanjut Mayor Czi Nur Alam Sucipto mengatakan bahwa, setiap personel harus melakukan secara cermat dan detail termasuk hal-hal yang menyangkut masalah tehnis di lapangan, baik dari unsur staf Komando Kompi, Tim Kesehatan, Peleton Bantuan maupun Peleton Alat Berat. “Kepada seluruh personel Satgas agar segera menyesuaikan diri dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing, sehingga tidak ada kevakuman kegiatan setelah purnatugas Kompi Zeni TNI Konga XX-M kepada Konga XX-N,” ujarnya.
“Dengan kekompakan para anggota sekalian, koordinasi yang baik ke dalam maupun ke luar, perencanaan yang baik dalam setiap Mission Task, dan disiplin, Insya Allah kita bisa mempertahankan, bahkan meningkatkan kredibilitas kerja Indonesia Engineering Company,” kata Dansatgas Kizi TNI Mayor Czi Nur Alam Sucipto mengakhiri pengarahannya.
Satgas Kizi TNI Konga XX-N/Monusco yang beranggotakan 175 Prajurit TNI dari ketiga angkatan (150 personel TNI AD, 19 personel TNI AL dan 6 personel TNI AU) sebagian besar dari Yonzikon 11 dan Yonzikon 12 yang berdomisili di Jakarta dan Palembang, akan melaksanakan tugas selama satu tahun di Kongo. Satgas ini dipimpin oleh Mayor Czi Nur Alam Sucipto, S.Sos sebagai Komandan Satgas abituren Akademi Militer 2000, saat ini menjabat sebagai Komandan Batalyon Zeni Konstruksi 11/DW, di Matraman, Jakarta Timur.
Sementara itu, sebelum tiba di Republik Demokratik Kongo, Prajurit Satgas Kizi TNI Konga XX-N/Monusco beberapa waktu lalu dilepas keberangkatannya oleh Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI Brigjen TNI Achmad Marzuki di Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur.
Komandan PMPP TNI menekankan kepada seluruh anggota Satgas Kizi TNI Konga XX-N/Monusco untuk selalu menjaga nama baik bangsa dan negara yang selama ini memiliki citra yang baik di dunia Internasional. “Jaga nama baik TNI, bangsa dan negara selama bertugas serta laksanakan tugas secara profesional dan proporsional sesuai koridor yang telah ditentukan oleh PBB,” ucapnya.
“Agar seluruh prajurit untuk tidak melakukan pelanggaran seperti tindakan ilegal yang masih banyak ditemukan akhir-akhir ini, sehingga dapat mengakibatkan nama Bangsa Indonesia menjadi buruk di mata Internasional,” pungkasnya.
Sumber : http://www.tribunnews.com/nasional/2017/01/30/175-prajurit-tni-konga-xx-n-misi-pasukan-perdamaian-tiba-di-kongo

Kisah John Lie, "Hantu Selat Malaka", Pahlawan Penyelundup Senjata...

Jahja Daniel Dharma alias John Lie
Jahja Daniel Dharma alias John Lie  

Jahja Daniel Dharma alias John Lie (1911-1988) adalah penyelundup ulung di laut. "Hantu Selat Malaka" julukannya.
Ia satu-satunya milisi Indonesia keturunan Tionghoa yang meraih pangkat Laksamana Muda dan diberikan gelar pahlawan nasional oleh Pemerintah Indonesia.
***
Doa John Lie terjawab. Februari 1946, ia dan teman-teman pelaut asal Indonesia yang bekerja di maskapai pelayaran KPM (Koninlijk Paketvaart Maatschapij) bisa pulang ke Indonesia setelah kekalahan Jepang akibat pengeboman Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945.
Saat singgah di Singapura selama 10 hari, dia memanfaatkan waktu mempelajari sistem pembersihan ranjau laut dari Royal Navy di Pelabuhan Singapura. Ia juga menyegarkan ingatannya soal taktik perang laut dan peranan kapal logistik.
John Lie tidak sabar ingin bergabung bersama laskar perjuangan mengusir penjajah.
Dikutip dari Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran yang ditulis wartawan Kompas, Iwan Santosa, John Lie tidak segera bergabung bersama laskar pejuang sesampainya di Jakarta. Sebulan ia habiskan mengumpulkan uang untuk ke Yogyakarta.
Pada Mei 1946, John Lie menemui pimpinan Laskar Kebaktian Rakyat Indonesia (KRIS) Hans Pandelaki dan Mohede di Jalan Cilacap, Menteng. Ia diterima sebagai anggota KRIS Barisan Laut dan diberi surat pengantar untuk bertemu AA Maramis.
Dari Maramis itulah John Lie diberikan referensi untuk menghadap Kepala Staf Angkatan Laut RI (ALRI) Laksamana M Pardi di Yogyakarta.
Setibanya di hadapan M Pardi di Yogyakarta, John Lie dengan lancar menjelaskan maksud dan tujuannya untuk bergabung bersama perjuangan Indonesia di bidang maritim.
Pardi tertarik dengan pengalaman dan kemampuan John Lie. Mereka membahas pengalaman dan kemampuan John Lie dengan menggunakan bahasa Belanda.
"John Lie maunya pangkat apa? Karena pengalaman saudara banyak," ujar Pardi kala itu.
John Lie dengan tegas menjawab, "Saya datang bukan untuk cari pangkat. Saya datang ke sini mau berjuang di medan laut. Karena hanya inilah yang saya miliki, yaitu pengalaman dan pengetahuan kelautan yang sekadarnya."
Pardi menandatangani izin bergabungnya John Lie di ALRI. John Lie diangkat sebagai Kelasi III. Meski berpangkat rendah, banyak perwira ALRI yang bertanya perihal pengetahuan kelautan ke John Lie.
Pada 29 Agustus 1946, M Pardi menugaskan John Lie pergi ke Pelabuhan Cilacap, bergabung bersama ALRI di sana. John Lie berangkat ke Cilacap dengan menumpang gerbong pos di kereta api uap dari Yogyakarta.
Menjadi penyelundup
September 1947, Kepala Urusan Pertahanan di Luar Negeri membeli sejumlah kapal cepat. Mereka menyaring dan menyusun personalia pelaut untuk mengawaki satuan kapal cepat yang digunakan memasok kebutuhan perlengkapan perjuangan di Indonesia.
John Lie merupakan salah satu yang lolos seleksi. Ia dipercaya memimpin sebuah kapal cepat bernama "The Outlaw".
Tidak disadari, perannya sebagai penyelundup dimulai seketika. Operasi perdana, "The Outlaw" melayari rute Singapura-Labuan Bilik dan Port Swettenham.
Pada Oktober 1947, John Lie mencatat "The Outlaw" memuat perlengkapan militer berupa senjata semi otomatis, ribuan butir peluru dan perbekalan dari salah satu pulau di Selat Johor ke Sumatera.
Sesampainya di Labuan Bilik, pesawat Belanda tampak terbang rendah mengitari pelabuhan. Pesawat meminta "The Outlaw" meninggalkan pelabuhan.
Namun, John Lie nekat berbohong dengan mengatakan kapal sedang kandas dan tidak bisa ke mana-mana.
John Lie bisa melihat jelas dua juru senjata pesawat sudah mengarahkan senapan mesin ke arah "The Outlaw", siap menarik pelatuknya.
Akan tetapi, keajaiban terjadi, usai memutar dan agak menukik, pesawat meninggalkan "The Outlaw". Seketika John Lie masuk ke kabin kemudian berlutut.
John Lie berdoa, mengucap syukur atas kemurahan dan kasih Tuhan, "The Outlaw" menjadi berwibawa di hadapan juru tembak pesawat yang memutuskan pergi.
Belakangan, diketahui pesawat Belanda pergi karena menipisnya bahan bakar. Misi perdana pun sukses. John Lie dan 22 awak kapalnya membongkar muatan senjata dan amunisi dan diserahkan ke Bupati Usman Effendi serta komandan pejuang setempat, Abu Salam.
Keberhasilan "The Outlaw" menyelundupkan senjata ke Indonesia atau hasil bumi ke Singapura hingga Thailand terus terjadi pada misi-misi berikutnya.
Siaran stasiun radio BBC di London sampai-sampai menjuluki kapal tersebut dengan nama "The Black Speedboat".
Kepala Subdinas Sejarah Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Kolonel Syarif Thoyib mengatakan, John Lie memiliki koneksi yang baik dengan orang-orang di pelabuhan Singapura, Thailand, bahkan hingga Afrika.
Maka tidak heran operasi-operasinya berjalan sukses atas bantuan mereka.
"Apalagi di Singapura, beliau begitu dikenal di sana. Wajahnya yang khas keturunan Tionghoa juga yang mungkin membuat dia dibantu sana-sini. Padahal apa yang John Lie lakukan adalah membantu Indonesia merdeka," ujar Syarif saat berbincang dengan Kompas.com, pertengahan Januari 2017.
Dibantu "keajaiban"
Suatu ketika di awal Agustus 1949, "The Outlaw" harus menjalani perbaikan total dengan naik galangan atau docking di Penang.
Selesai perbaikan, "The Outlaw" kembali ke Phuket menjemput awak kapal. Mereka berlayar kembali ke Aceh.
Pagi-pagi buta, saat kapal memasuki Delta Tamiang, kapal Belanda menghadang. Dengan membabibuta, kapal penjajah menembakkan meriam ke badan "The Outlaw".
Suasana sangat mencekam. Peluru mendesing-desing. Ledakan terjadi di jarak 3 meter tempat John Lie berlindung.
Dalam kondisi kritis, "The Outlaw" sama sekali tidak berdaya. Namun ajaib, kapal Belanda mengalami kandas di karang sehingga tidak bisa bergerak lagi. "The Outlaw" melarikan diri bersembunyi di Delta Tamiang.
Lolos dari armada laut Belanda, kini armada udara yang menyergap. Namun, lagi-lagi keajaiban terjadi. Pesawat dengan juru tembaknya hanya berputar-putar di atas delta. Mereka seakan-akan tidak melihat "The Outlaw" yang porak poranda di bawahnya.
"Roh Kudus membungkus kami," ujar John Lie dalam sebuah memoarnya.
Tidak berhenti sampai di situ. John Lie kemudian memutuskan kembali ke Penang. Apalagi, satu baling-baling mesinnya copot. Sulit pasti melarikan diri jika dikejar Belanda.
Pagi-pagi buta keesokan harinya, "The Outlaw" sudah sedikit lagi memasuki Selat Malaka. Namun, di tengah kegelapan malam, sebuah kapal tanker milik Belanda melintas.
Nakhoda kapal tangker itu kemudian menghubungi patroli militer Belanda. Benar saja. Tidak lama kemudian, kapal patroli Belanda kembali menghadang "The Outlaw".
Tembakan meriam Bofors dan senapan mesin 12,7 milimeter memecah kesunyian laut. Sadar jarak ke Penang masih jauh, John Lie dan awak pasrah.
Seisi kapal berserah pada Tuhan. Bahkan, John Lie tidak menyadari kapal Belanda mengirimkan sandi morse agar "The Outlaw" menyerah.
Namun, ajaib. Tiba-tiba cuaca buruk melanda perairan. Kabut menyelimuti permukaan laut. Hujan turun dengan sangat deras.
Gelombang laut tiba-tiba berkecamuk. Kapal Belanda tidak sanggup mengejar "The Outlaw" dengan cuaca yang demikian.
Perjalanan menyeramkan Phuket-Aceh itu juga terus dipantau radio BBC di London. Penyiar menyebut, "The Outlaw" dengan segala pengalamannya lolos dari sergapan itu di luar nalar.
Bahkan, saat John Lie untuk kesekian kalinya bertandang ke Phuket, wartawan Roy Rowan dari majalah Life mengulas secara khusus operasi-operasi "The Outlaw" dari halaman 49 sampai 52.
Pada 30 September 1949, John Lie dipindahkan ke Bangkok. Di sana, ia bertugas di Pos Hubungan Luar Negeri. Tugasnya di darat sama saja, mendapatkan pasokan senjata yang lebih banyak untuk para pejuang di tanah air.
"The Outlaw" kemudian dipimpin Kapten Laut Kusno. Namun dalam pelayaran pertama, seisi kapal tertangkap oleh Belanda.
John Lie sendiri melanjutkan tugasnya di TNI AL dalam sejumlah misi penting. Mulai dari penumpasan DI/TII Kartosuwiryo, penumpasan RMS hingga PRRI-Permesta.
Pangkat tertinggi John Lie adalah Laksamana Muda, pangkat tertinggi bagi pejuang keturunan Tionghoa di Indonesia.
Saat wafat 27 Agustus 1988, anak asuh, pengemis, anak jalanan dan gelandangan memenuhi kediamannya di Menteng, Jakarta Pusat. Seorang Tionghoa yang selama ini menyantuninya telah pergi untuk selama-lamanya.
Namun, pemerintahan era Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2009 menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputera Adipradana kepada mendiang John Lie.
Nama John Lie, pada awal Januari 2017, diabadikan sebagai nama Kapal Perang Indonesia, KRI John Lie.
***
Dalam salah satu wawancara sebelum meninggal, John Lie sempat menggambarkan situasi pada saat itu di mana setiap pejuang harus memiliki inisiatif melakukan apa saja demi menguntungkan negara.
"Tahun 1946-1947 itu kita harus bertindak sendiri. Sebab saya punya semangat untuk bekerja bagi negara, nusa dan bangsa. Apa saja saya hadapi. Membantu Republik pada waktu itu mencari devisa," tutur John Lie.
"Sebab kita banyak orang yang bantu negeri mencari devisa supaya jangan kita dipukul oleh kaum-kaum neokolonialisme. Sebab kita tidak ada dana. Itu tindakan yang baik sekali, dapat dana yang banyak,” ujarnya.
Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2017/01/30/14454621/kisah.john.lie.hantu.selat.malaka.pahlawan.penyelundup.senjata.?page=all

Kapal Perang Yunani dan Turki Bersitegang di Laut Aegea

Militer Turki
Militer Turki 

Kapal perang Yunani dan kapal perang Turki terlibat ketegangan di dekat sekelompok pulau yang disengketakan di Laut Aegea pada hari Minggu. Kapal perang Turki bergerak menjauh beberapa saat setelah kru kapal perang Yunani mengeluarkan peringatakan keras.
Yunani mengklaim kepulauan itu milik Athena, namun Ankara menganggapnya masih menjadi sengketa kedua negara yang sama-sama anggota NATO.
Kementerian pertahanan Yunani mengatakan kapal perang Angkatan Laut Turki bersenjata rudal. ”Bersama dengan dua rakit pasukan khusus, memasuki wilayah perairan Yunani di dekat pulau Imia,” bunyi pernyataan kementerian itu, Senin (30/1/2017).
Turki mengklaim kepulauan berbatu dan tak berpenghuni itu merupakan milik Ankara karena terletak di lepas pantai Turki.
Kementerian Pertahanan Yunani seperti dikutip Guardian, mengatakan kapal penjaga pantai Yunani telah memberikan peringatan kepada kru kapal perang Turki karena sudah melanggar wilayah Athena. Kapal perang Turki lantas meninggalkan area sengketa sekitar tujuh menit setelah peringatan dikeluarkan.
Sementara itu, di Turki, media-media lokal melaporkan bahwa kapal perang Turki yang di dalamnya terdapat Kepala Staf Umum Hulusi Akar diblokade oleh Yunani saat mendekat pulau sengketa.
Salah satu media Turki, Dogan, melaporkan kapal perang kedua pihak bersitegang selama setengah jam sebelum kapal Turki kembali ke Semenanjung Bodrum, Turki.
Tapi angkatan bersenjata Turki, seperti dilaporkan kantor berita Anadolu, membantah bahwa kapal perang mereka telah diblokade Yunani. Militer Turki mengklaim kapal perang penjaga pantai Yunani berukuran kecil dan hanya memantau dari jarak jauh. ”Jenderal Akar di dalam kapal untuk meninjau dan memeriksa kapal Turki di Laut Aegea,” bunyi pernyataan militer Turki.
Sumber : http://international.sindonews.com/read/1175461/41/kapal-perang-yunani-dan-turki-bersitegang-di-laut-aegea-1485769562

Duterte Curiga AS Kerahkan Senjata Nuklir Permanen di Filipina

Rodrigo Duterte
Rodrigo Duterte 

Presiden Filipina Rodrigo Duterte menuduh Amerika Serikat (AS) menempatkan stabilitas Asia berada dalam risiko dengan mengerahkan senjata permanen di negaranya. Dia bahkan curiga, salah satu senjata yang ditempatkan secara permanen adalah senjata nuklir.
Duterte memprotes keras dan menegaskan tidak akan memberikan izin.”Mereka bongkar senjata di Filipina sekarang. Saya sampaikan pemberitahuan kepada angkatan bersenjata AS. Jangan lakukan itu, saya tidak akan mengizinkannya,” kata Duterte dalam konferensi pers yang disiarkan stasiun televisi Filipina semalam.
”Berdasarkan ketentuan dari (perjanjian) Visiting Forces, tidak akan ada fasilitas permanen. Sebuah depot dengan nama lain depot. Ini adalah struktur permanen untuk rumah senjata. Saya bahkan tidak tahu apakah ada (rudal) nuklir sekarang, mereka membongkarnya,” kata Duterte, seperti dikutip IB Times, Senin (30/1/2017).
Pernyataannya muncul setelah Pentagon menyampaikan persetujuan penggunaan gudang baru, landasan pacu dan barak untuk menyimpan senjata di tiga provinsi di Filipina di bawah perjanjian pertahanan kedua negara. Duterte menuduh pemerintah Donald Trump melanggar kesepakatan dengan membangun persenjataan di negaranya.
Perjanjian dengan nama resmi “Enhanced Defence Cooperation” ditandatangani AS dan Filipina pada 2014. Filipina memahami perjanjian itu untuk memungkinkan AS menyebarkan peralatan di wilayahnya hanya untuk misi kemanusiaan atau operasi keamanan maritim. Namun, menurut Duterte, AS menggunakan perjanjian itu untuk rotasi kapal perang dan pesawat tempur di lima basis atau pangkalan militer.
Duterte mengancam akan meninjau ulang perjanjian bahkan jika perlu membatalkannya. Pemimpin Filipina merasa bisa melakukannya dengan sebuah perintah eksekutif.
”Anda menghasut kami, menyemangati kami untuk mamaksakan penegakan putusan arbitrase," kata Duterte, mengacu pada tekanan AS pada Filipina agar menegakkan putusan dari Pengadilan Arbitrase di Den Haag pada Juli 2016 yang membatalkan klaim China atas kawasan sengketa di Laut China Selatan.
Sumber : http://international.sindonews.com/read/1175483/40/duterte-curiga-as-kerahkan-senjata-nuklir-permanen-di-filipina-1485772273

AK-12, Revolusi Terbaru Kalashnikov

 Senapan serbu AK-12
 Senapan serbu AK-12 

Sang legenda dunia persenjataan, inventor hebat, dan pahlawan Rusia Mikhail Kalashnikov meninggal dengan tenang pada usia 94 tahun di Kota Izhevsk pada 23 Desember 2013. Senapan serbu AK-47 warisannya telah mengubah wajah pertempuran, membuat prajurit dapat bertempur secara efisien dengan meringankan beban yang harus dibawa serta meningkatkan kapasitas peluru.
Penghargaan apa yang lebih baik bagi seorang penemu selain kelanjutan penggunaan ciptaannya? Angkatan bersenjata Rusia baru-baru ini mengumumkan bahwa AD Rusia akan mengadopsi AK-12 (AK-200) menggantikan AK-74 sebagai senapan serbu standar. Sebagai langkah awal, 70.000 pucuk AK-12 sudah dibeli secara bertahap mulai 2012.
AK-12 adalah lompatan jauh diluar AK-47 dan AK-74. Sejumlah napas penyempurnaan ditiupkan ke dalam AK-12, sehingga memiliki fitur modern dan kini setanding dengan senapan serbu lainnya, atau boleh dikatakan, menjadi revolusi bagi desain AK-47 dan 74, tanpa meninggalkan sisi kepraktisannya yang membuat karya Mikhail Kalashnikov legendaris.
Desain atas AK-12 tidak lagi lahir dari tangan Mikhail Kalashnikov. Sebagai gantinya, tim di bawah arahan Vladimir Zlobin mengembangkan langsung AK-12 sebagai derivat Kalashnikov yang paling sempurna. Tujuan penyempurnaan adalah untuk meningkatkan faktor ergonomi, menambahkan fitur modern agar tetap kompetitif di pasar senjata dunia yang terus berevolusi serta menjaga agar setia pada tradisi keluarga besar AK-47 yang bandel, mudah dan minim perawatan namun akurat.
AK-12 sendiri bentuknya sudah berubah berkali-kali. Bentuk awalnya masih mirip AK-100 series. Lalu setelah berbagai penyempurnaan, AK-12 kini mencapai bentuk kelima, dan dianggap sudah mencapai bentuk final.
Perubahan paling kentara dibanding AK-47 dan AK-74 adalah sosoknya yang menggunakan garis desain tegas. Sisi kiri dan atas terlihat menyudut, berbeda dengan pendahulunya yang banyak menggunakan sudut melengkung.
Receiver dibuat dengan teknik stamping supaya ringan, dan hanya memiliki satu lightening cut di atas lubang magasen (magwell). Dimensi keseluruhannya hanya memiliki bobot kosong 3,2 kg atau penghematan sekitar 31% dari AK-47. Sudah sangat ringan dan setara dengan M16 atau M4A1.
Walaupun lebih ringan namun kaya fitur. Sebagai contoh, untuk pemasangan aksesoris, AK-12 benar-benar ramah pada berbagai macam teleskop. AK-12 menggunakan sistem rel Mil Std-1913 Picattinny Rail.
Pada bagian atas receiver rel membentang dari top cover belakang sampai ke handguard depan yang menutupi tabung gas. Handguard yang terbuat dari aluminium dengan metode CNC juga disiapkan dengan titik lubang pemasangan sistem rel di sisi kiri dan kanan, sementara pada bagian bawah sudah dicetak menyatu dengan handguard. Untuk membantu membuang panas, di setiap sisi handguard dilengkapi delapan lubang lonjong yang tersusun terpisah.
Ubahan lain terlihat pada receiver. Hilang sudah tuas selektor besar yang sekaligus berfungsi sebagai bolt stop dan pengaman. Sebagai gantinya, tim mencangkokkan tuas selektor ala Barat dengan ukuran kecil tetapi masih bisa dijangkau tangan yang menembak. Dan terpenting, tersedia di sisi kiri maupun kanan. Pilihan moda penembakannya unik, yaitu S-1-2-A (Safe, semi auto, 2 rounds, dan Full Auto).
Pemilihan selektor 2 peluru alias double tap dianggap opsi lebih baik dibandingkan 3-round burst karena lebih hemat peluru, dan titik perkenaannya belum bergeser terlalu jauh. Sistem operasi AK-12 tetap mengandalkan piston dengan leher panjang, namun kelihatannya bolt assembly dimodifikasi.
Pada bagian top cover, ubahan dilakukan dengan sistem engsel sehingga pada saat dibuka top cover tetap menempel pada receiver, mengurangi risiko kehilangan top cover saat membongkar senjata. Engsel pada top cover menempati posisi yang dulunya ditempati blok pisir pada AK-47/ 74, di tengah-tengah sisi atas senjata dan menempel ke trunnion. Sistem pisir model AK-47/74 mau tidak mau harus dihilangkan, karena jadi tidak bisa digunakan bila senapan dipasangi teleskop, dan yang kedua, menghalangi pemasangan optik.
Gagang utama (pistol grip) berkontur, dengan sudut lengkung ergonomis dan dilengkapi cerukan untuk jari-jemari yang mengenakan sarung tangan. Trigger guard dan pelatuk dimensinya tidak berubah dari pendahulunya, tetapi tombol rilis magasin benar-benar dirombak, sehingga bisa diraih oleh telunjuk yang menarik pelatuk.
Dengan menekan tombol rilis ke depan, mekanisme pegas akan melepas magasin dan penembak langsung bisa memasang magasin baru. Bandingkan dengan AK-47 dan 74 dimana penembak harus menggunakan tangan kiri untuk menekan tombol rilis baru kemudian memasang magasin. AK-12 memastikan bahwa proses penggantian magasin tidak harus dilakukan dengan mengubah arah bidikan laras senjata, sehingga kewaspadaan situasional penembak tetap terjaga. Untuk magasin, AK-12 tetap mempertahankan penggunaan magasin AK-47 dan AK-74, tergantung kaliber yang dipakai.
Tim Zlobin juga menciptakan drum magasin baru kapasitas 95 peluru bagi yang menggunakannya sebagai senapan otomatis. Tuas pengokang kini bisa dipindah ke kiri atau kanan, dan tidak ikut bergerak seiring irama pergerakan bolt.
Untuk membantu pembidikan, ubahan terbesar dilakukan pada popor. Jika pada AK-74 menggunakan wire stock alias popor rangka lipat, dan AK-100 menggunakan popor pejal yang dilipat, AK-12 menggunakan popor tarik dan lipat, tidak kalah dari desain Barat.
Tabung popornya berbentuk lonjong, beda dengan desain Barat yang rata-rata menggunakan bentuk silinder. Keunggulannya, sisi popor dan sisi receiver bisa dijaga agar tetap sejajar. Untuk melipatnya tinggal menekan tombol bulat di pangkal popor. Satu fitur manis yang disematkan pada popor adalah cincin untuk memasang sling yang melingkar, sehingga kaitan sling bisa diputar ke kiri, bawah, dan kanan tanpa perlu melepasnya.
Fitur ini memudahkan senapan untuk dipasang ke depan dada, diputar ke punggung atau disandang ke samping tanpa perlu tersangkut-sangkut. Fitur macam ini masih jarang pada senapan serbu Barat. Hebatnya, popor AK-12 bisa disetel untuk melipat ke kiri atau kanan hanya dengan mengubah rumah pangkal popor. Fitur ini tentu menarik untuk penembak bertangan kidal, sehingga dapat menyandang senjatanya ke arah kanan. Pada saat popor terlipat, senjata tetap bisa ditembakkan karena tidak menghalangi posisi bolt.
Mengenai masa depan AK-12, Deputi Menteri Pertahanan Rusia Yuri Borisov sudah menyatakan bahwa 70.000 pucuk AK-12 dalam kaliber 5,45x45mm akan diadopsi sebagai senapan serbu standar. Aksi pembelian ini dianggap perlu, mengingat Kalashnikov Concern yang merupakan hasil merger Izmash dan beberapa pabrikan senjata lainnya tengah berada dalam kondisi kritis karena tidak memiliki penjualan yang memadai untuk membiayai operasional perusahaan. Rusia tentu tidak mau kehilangan Kalashnikov Concern yang usianya sudah mendekati seabad sebagai pabrikan senjata utama Rusia.
Di sisi lain, Direktur Utama Kalashnikov Concern Alexey Krivoruchko masih berhati-hati dengan menjawab diplomatis, karena AK-12 masih menjalani ujian dari Angkatan Bersenjata Rusia untuk dijadikan senapan serbu standar pengganti AK-74. Pengujian akhir akan dijalankan pada 2015. Barulah setelah itu dilakukan produksi massal. Walaupun begitu, AK-12 kelihatannya akan segera dipasarkan untuk sipil, dengan target utama pasar Amerika Serikat dimana Kalashnikov Concern sudah memiliki anak perusahaan Kalashnikov-USA.
Walaupun terlihat sebagai ironi, pasar sipil Amerika Serikat justru merupakan pasar terbesar bagi produk mereka, yang mendambakan senjata berharga murah, baik senapannya maupun pelurunya. Biarpun embargo atas Rusia sudah menyurutkan pasokan peluru 7,62x39mm dan 5,45x45mm, kepopuleran produk Rusia tetap menjulang tinggi.
Inilah penyebab AK-12 disiapkan dalam berbagai macam kaliber, termasuk 7,62x51mm NATO dan 5,56x45mm NATO yang tentunya tak akan pernah terbayangkan jika saja Uni Soviet masih berdiri. Inilah arti revolusi dalam bisnis yang sebenarnya, berubahlah mengikuti selera pasar jika anda mau survive dalam persaingan yang buas. Aryo Nugroho
Sumber : http://angkasa.co.id/

Menhan AS Perintahkan Review Program F-35, Apa Alternatifnya?

F-35
F-35
Menepati janji kampanyenya untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap program pertahanan yang tak terkontrol, Presiden Trump melalui Menteri Pertahanan James Mattis akan melakukan review atas program F-35.
Selanjutnya, Menhan AS akan mencari dengan sejumlah alternatif pesawat lain, seperti proposal F-18 Advanced Super Hornet (AHS) yang ditawarkan oleh Boeing dan jelas lebih murah.
F-35 sendiri terus jadi sorotan karena lambannya pengembangan peranti lunak yang dibutuhkan untuk membuat F-35 menjadi pesawat tempur multiperan dan terus membengkaknya biaya pengembangannya.
Untuk melakukan review tersebut, Menhan James Mattis menugaskan Deputinya, Bob Work untuk mengawasi seluruh proses review. Ia akan membandingkan antara F-35C dan kemampuan operasional F/A-18 E/F.
Tujuan dari review adalah untuk mengurangi biaya program F-35 sembari memenuhi seluruh tuntutan spesifikasi yang dijanjikan oleh Lockheed Martin. Review juga melihat apakah pengembangan F-18 Advanced Super Hornet yang ditawarkan Boeing dapat diimplementasikan untuk menyediakan alternatif pesawat tempur yang kompetitif dan berbiaya efektif.
AL AS yang menghadapi problem menyusutnya anggaran dan ancaman kekurangan kapal, jelas berupaya mempertahankan F-35C yang mereka butuhkan. Seperti diketahui, AL AS sendiri mengembangkan konsep doktrin NIFCCA (Naval Integrated Fire Control-Counter Air).
Dalam doktrin yang memvisikan kemampuan pertempuran dalam jaringan manajemen pertempuran tersebut, F-35 akan didapuk sebagai hub yang menghubungkan berbagai platform milik AL AS, termasuk menyediakan data target dan juga kemampuan memandu rudal seperti SM-6 Standard ke sasarannya.
F-35 dengan fusi sensor MADL (Mid Air Data Link) memungkinkannya terhubung tidak hanya ke F-35 lain, tetapi juga ke pesawat AWACS seperti E-2D dan seluruh kapal kombatan permukaan AL AS.
Dengan kemampuannya untuk bergerak lincah, F-35C tentu dianggap punya kemampuan bertahan dan bahkan beradu dengan ancaman yang lebih baik dibandingkan dengan E-2D. AL AS sudah menguji F-35C dan kemampuan NIFCCA beberapa kali, termasuk uji operasional di White Sands Missile Range, New Mexico.
F-18 Advanced Super Hornet sendiri merupakan program peningkatan kemampuan berbasis F/A-18E/F yang ditawarkan oleh Boeing. Sejumlah penyempurnaan yang hendak ditawarkan adalah pemasangan CFT (Conformal Fuel Tank) atau tangki bahan bakar di punggung Super Hornet dengan kapasitas 3.500 pon bahan bakar sehingga menambah jarak terbang sampai 250 km.
F-18 ASH juga akan memiliki modul IRST (Infra Red Scan & Track) yang dapat diandalkan untuk mencari pesawat tempur secara pasif di udara. F-18 ASH juga akan menerima EW (Electronic Warfare) pod baru yang memiliki output lebih besar sehingga memampukan jamming yang lebih efektif.
Sistem avionik juga ikut ditingkatkan dengan pemasangan sistem display baru layar lebar tunggal, seperti pada F-35. Radar AESA diganti dengan yang lebih kuat dan juga sistem datalink yang serupa dengan F-35.
Boeing nampak bangga dan menekankan bahwa program F-18E/F merupakan program yang tepat guna, tepat anggaran, dan paling penting tepat waktu. Pihak Boeing menyatakan bahwa Advanced Super Hornet hanya akan membutuhkan biaya sekitar USD70 juta, lebih murah sekitar USD20 juta dari F-35.
Jika proyek peningkatan kemampuan dimulai dari sekarang, Boeing mengklaim dapat menyerahkan F-18 Advanced Super Hornet pertama lebih cepat daripada F-35C operasional. Aryo Nugroho
Sumber : http://angkasa.co.id/

Pandur II 6×6, Jadi Pilihan Pengadaan Alutsista TNI AD di 2017

Pandur II 6×6
Pandur II 6×6 

Kabar tentang akuisisi panser Pandur II telah diungkapkan KSAD Jenderal TNI Mulyono dalam Rapat Pimpinan TNI AD 2017 (23/1/2017). Dari paparan KSAD ternyata yang akan didatangkan bukan hanya Pandur II 8×8, melainkan ada versi Pandur II 6×6. Dengan memilih ranpur (kendaraan tempur) lapis baja berpenggerak 6×6, maka posisinya akan sejajar dengan panser Pindad Anoa 6×6. Nah, seperti apakah sosok Pandur 6×6 ini? Apa istimewanya sehingga layak dibeli?
Dari laman sang prinsipal, yakni General Dynamic European Land Systems disebutkan bahwa Pandur II 6×6 pada dasarnya dibagi ke dalam sub varian Short Wheel Base (SWB) dan Long Wheel Base (LWB). Berangkat dari platform APC (Armored Personel Carrier), seperti halnya Pandur II 8×8 maka panser Pandur 6×6 juga dapat di setting dalam berbagai versi, kasta paling tinggi Pandur 6×6 dapat dipasangi kubah meriam kaliber 90 mm, atau kalau mau bisa juga dihadirkan sebagai peluncur mortir kaliber 81 mm (indirect fire).
Baik varian SWB dan LWB dimuati oleh 3 awak, yakni komandan, pengemudi, dan penembak. Lain dari itu spesifikasnya mulai berbeda. Bila varian SWB hanya bisa membawa 6 pasukan, maka varian LWB dapat membawa sampai 8 pasukan. Bobot tempur Pandur 6×6 SWB 15,5 ton, sementara Pandur 6×6 LWB 16,5 ton. Begitu pula untuk payload, Pandur 6×6 SWB kapasitas payload-nya 4 ton, dan Pandur 6×6 LWB 5 ton.
Bicara soal proteksi, spesifikasi SWB dan LWB untuk yang ini menyatu, yaitu mendukung model modular, dimana pihak pabrikan merancang panser untuk mampu menahan terjangan granat berpeluncur roket (RPG), tidak itu saja stuktur bodi bagian bawah dengan ground clearance 0,43 meter juga dipersipakan untuk menahan imbas ledakan dari ranjau dan IED.
Bagaimana tentang mesin? Pandur 6×6 disokong mesin diesel Cummins ISC 350 enam silinder dengan direct fuel injection, turbo charged dengan pendingin air/air boost. Dari mesin tersebut didapatkan output kekuatan mesin 221 kW - 335 kW. Transmisi panser sudah mengadopsi otomatis dengan enam gigi maju dan satu gigi mundur. Pandur 6×6 secara teori dapat dibawa melaju sampai kecepatan 105 km per jam. Seperti saudaranya, Pandur 6×6 juga dapat mengarung tanpa persiapan khusus, dengan kombinasi putaran roda dan dua water jet propeller. Panser ini dapat berenang dengan kecepatan 11 km per jam.
Dengan kapasitas bahan bakar penuh (250 liter) Pandur 6×6 SWB dan (300 liter) Pandur 6×6 LWB dapat beroperasi hingga jarak 750 km. Pandur I 6×6 diperkenalkan pada tahun 1996, sedangkan generasi yang lebih baru Pandur II 6×6 dirilis pada tahun 2001. Hingga kini Pandur II telah dipakai oleh AD Austria, Kuwait National Guard, Amerika Serikat, AD Belgia, dan AD Slovenia. (Haryo Adjie)
Spesifikasi Pandur II 6×6 :
  • Panjang: 5,8 meter (SWB)/ 6,32 meter (LWB)
  • Lebar: 2,5 meter (SWB)/ 2,50 - 2,67 meter (LWB)
  • Tinggi: 2,06 meter (SWB)/ 2,08 meter (LWB)
  • Ground clearance: 0,43 meter
  • Radius putar: 8,25 meter (SWB)/ 8,75 meter (LWB)
  • Side slope: 40%
  • Gradient: 70%
  • Sistem elektrik: 24 V

Sumber : http://www.indomiliter.com/

Militer Jerman Perpanjang Sewa Drone Buatan Israel untuk Operasi di Afghanistan

Drone Buatan Israel
Drone Buatan Israel 

Jerman telah memperpanjang kontrak sewa guna UAS Heron 1 dengan IAI (Israel Aerospace Industries).

Kontrak sewa sistem pesawat tak berawak (unmanned Aircraft System/UAS) tersebut untuk melanjutkan operasi yang digelar Jerman di Afganistan.
Kabar tersebut seperti yang termuat dalam sebuah pemberitahuan yang dikeluarkan IAI pada 26 Januari lalu.
Dalam pemberitahuan tersebut, menurut IAI, Bundeswehr telah memperbaharui perjanjian sewa gunanya dengan perusahaan (IAI) untuk menambah umur penggunaan Heron 1 hingga Februari 2018.
Pemberitahuan tersebut juga bertepatan dengan pencapaian 30.000 jam terbang tiga drone Heron 1 yang digunakan Bundeswehr yang mereka gunakan untuk operasi pengintaian dalam mendukung pasukan Jerman dan koalisi di Afganistan sejak 2010.
Perpanjangan kontrak akan melihat awal Heron 1 tersebut terbang hingga diperkenalkan ke Jerman drone Heron TP yang lebih besar (disewa kembari dari IAI) yang ditetapkan untuk awal 2018.
Namun saat ini sepertinya ada kemungkinan akan tertunda karena protes yang belum terselesaikan dari General Atomics yang telah menawarkan drone Reaper sebagai ganti Heron 1.
Tunduk pada hasil protes tersebut, Heron TP akan tetap melayani Bundeswehr sebagai sebuah solusi sementara –MALE (medium-altitude long-endurance) UAS—sampai sistem MALE2020 pan-Eropa dioperasionalkan sekitar tahun 2025.
Sumber : http://www.tribunnews.com/internasional/2017/01/29/militer-jerman-perpanjang-sewa-drone-buatan-israel-untuk-operasi-di-afghanistan

Profil Pasukan Khusus Angkatan Udara AS yang Jarang Diketahui Publik

Pasukan Khusus Angkatan Udara AS
Pasukan Khusus Angkatan Udara AS  

Bicara teror, target yang umum disasar tak hanya rakyat sipil melainkan bisa pula fasilitas militer beserta isinya.
Paling tidak, hal itulah yang mendasari Air Mobility Command (AMC) membentuk satuan khusus bernama Phoenix Raven.
Phoenix Raven dibentuk untuk menjalankan tugas pengamanan dan penanggulangan serangan (termasuk teror) terhadap alutsistanya, terutama pesawat-pesawat angkut yang merupakan tulang punggung AMC.
Bahkan di Amerika sendiri, satuan khusus yang satu ini terbilang minim publikasi, apalagi di kalangan awam.
Selain kelahirannya memang belum terlalu lama, jumlah personelnya pun sedikit, ditambah lagi misinya yang tak biasa dan nyaris senantiasa luput dari pantauan media.
Pasukan khusus ini adalah pasukan komando yang beranggotakan sekitar 200-an personel yang merupakan bagian dari Air Force Security Forces (AFSF) yang di-BKO-kan di bawah Air Mobility Command (AMC), sebuah komando utama di bawah AU AS (USAF).
Pengamanan terhadap aset-aset AU AS khususnya pangkalan udara dan isinya diemban oleh AFSF sejak 1942 kala AU AS masih berada di bawah AD AS.
Nama AFSF baru dipakai sejak 1997 seiring reorganisasi besar-besaran yang dilaksanakan pada jajaran militer AS pasca berakhirnya Perang Dingin.
Dalam pelaksanaan misinya, satu tim Phoenix Raven terdiri dari dua hingga enam personel terlatih yang diintegrasikan dalam kru AMC, khususnya AMC Threat Working Group.
Tugas tim Phoenix Raven mulai dari mendeteksi ancaman hingga penangkalannya, pemeriksaan dan penilaian keamanan fasilitas untuk pesawat AMC (hanggar, apron hingga landasannya), hingga memberi masukan atau rekomendasi untuk keamanan para kru AMC lainnya.
Dengan integrasi ini, otomatis personel Phoenix Raven bertanggung jawab langsung padaaircraft commander layaknya kru darat lainnya.
Bahkan dalam misi airlift ke area berbahaya, Phoenix Raven dilibatkan dalam perencanaan prosedur dalam misi.
Sejak dari pesawat mendarat, menuju tempat parkir, kapan dan bagaimana pengamanan dalam proses bongkar muat, hingga pengaturan keamanan muatan, awak dan pesawatnya sendiri.
Phoenix Raven ditugaskan dalam semua misi AMC. Mulai dari TSM (theater support mission),contingency airlift mission, penempatan ke suatu lokasi atau deployment hingga exercise.
Banyaknya tugas di medan tempur tidak berarti di dalam negeri Phoenix Raven menganggur.
Pengamanan aset strategis AMC, seperti pesawat tanker juga dilakoni tim elit ini.
Latar belakang Phoenix Raven tak lepas dari peristiwa teror “9/11”.
Dalam melakoni misi-misi global khususnya Global War On Terror, keberadaan pesawat angkut militer AS rentan diserang.
Karena itulah, salah satu materi latihan yang diberikan pada personel satuan yang sering dijuluki Murder Crews adalah atbara (antiteror bajak udara).
Program pelatihan digawangi oleh United States Air Force Expeditionary Center di pangkalan udara Joint Base McGuire-Dix-Lakehurst, New Jersey, AS.
Pelatihan dilaksanakan secara intensif selama 22 hari, 12 jam per hari, yang terbagi menjadi beberapa materi yang tak jarang melibatkan satuan elite lain.
Beberapa materi yang dilatihkan dalam program Phoenix Raven di antaranya cross-cultural awareness (mendeteksi ancaman secara sosial lewat pemahaman budaya lokal), legal consideration (pengamanan dengan pertimbangan spek legal setempat), hingga airfield survey(survei pangkalan udara).
Salah satu materi yang seru adalah pertempuran jarak dekat (PJD/CQB) dalam ruangan sempit di dalam kabin pesawat.
Di sinilah seninya, bagaimana memprioritaskan keselamatan nyawa manusia terutama awak atau bahkan sandera jika ada.
Lulus dari program pelatihan ini, para personel Murder Crews mempertahankan keahlian lewat latihan rutin, baik fisik maupun latihan misi yang kerap dilakukan bersama AFSOC (Air Force Special Operations Command).
Angkatan pertama Phoenix Raven lulus 1997, dan hingga saat ini sudah meluluskan sekitar 2.000 personel.
Sumber : http://www.tribunnews.com/internasional/2017/01/29/profil-pasukan-khusus-angkatan-udara-as-yang-jarang-diketahui-publik?page=3

Kepada Hollande, Trump Tegaskan Komitmen AS untuk NATO

Amerika - NATO
Amerika - NATO 

Gedung Putih mengatakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan kembali komitmen negaranya terhadap NATO. Hal itu diungkapkannya dalam pembicaraan dengan Presiden Prancis, Francois Hollande. Trump juga menyuarakan keinginannya untuk meningkatkan kerja sama keamanan AS dan Prancis.
"Keduanya membahas kerja sama militer dan pertahanan baik bilateral maupun melalui NATO. Presiden Trump menegaskan kembali komitmen AS untuk NATO dan mencatat pentingnya semua sekutu NATO berbagi beban anggaran pertahanan," bunyi pernyataan yang dikeluarkan Gedung Putih dikutip dari Sputniknews, Minggu (29/1/2017).
Gedung Putih menambahkan bahwa dalam percakapan telepon itu Trump juga menyuarakan keinginannya untuk memperkuat kerja sama keamanan, termasuk di bidang kontraterorisme. Kedua presiden juga menghargai upaya yang dilakukan oleh Washington dan Paris untuk melawan kelompok teroris ISIS, yang dilarang di banyak negara.
Selama pemilihan presiden, Trump berulang kali mengatakan bahwa Washington harus mengurangi dukungan terhadap negara-negara anggota NATO lainnya. Ia juga menyatakan hanya akan melindungi anggota aliansi, yang "memenuhi kewajiban mereka" ke AS.
Sumber : http://international.sindonews.com/read/1175259/42/kepada-hollande-trump-tegaskan-komitmen-as-untuk-nato-1485696342

30-01-1933: Adolf Hitler Jabat Kanselir Jerman

Adolf Hitler
Adolf Hitler 

Hari ini 84 tahun silam. Presiden Jerman, Paul von Hindenburg menunjuk Adolf Hitler, dari Partai Pekerja Nasionalis Sosialis Jerman (Nazi), sebagai Kanselir, setara Perdana Menteri.
Pada 1932, merupakan saat-saat di mana nama Hitler menjadi sangat terkenal di Jerman, karena didorong oleh rasa frustasi masyarakat negeri itu dengan kondisi ekonomi yang suram, serta 'luka' yang ditimbulkan oleh kekalahan di Perang Dunia I melalui Perjanjian Versailles.
Mengutip situs History, sebagai seorang pembicara yang kharismatik, Hitler menyalurkan ketidakpuasan masyarakat menjadi dukungan untuk partai miliknya, Nazi. Partai berlambang swastika itu secara mengejutkan memenangi 230 kursi pemerintahan, bersama kaum komunis yang merupakan partai terbesar kedua, dan mengisi lebih dari setengah kekuasaan di Reichstag (Parlemen).
Munculnya Hitler sebagai Kanselir menandai titik balik penting bagi Jerman, dan pada akhirnya, bagi dunia. Ia merencanakan apa yang dianut oleh sebagian besar warga Jerman adalah untuk melakukan tindakan besar melalui politik dan militer yang membuat Jerman menjadi negara kuat kembali.
Ketika resmi menjadi Kanselir, Hitler segera memerintahkan ekspansi yang cepat kepada lembaga bernama Gestapo atau polisi khusus, dengan menempatkan Hermann Goering sebagai yang bertanggung jawab atas pasukan keamanan baru yang seluruhnya terdiri dari anggota Nazi.
Gestapo juga bertugas untuk membungkam partai-partai yang menentang kebijakan Hitler. Sejak saat itulah Nazi menguasai Jerman dan tidak ada satu pun pihak yang bisa menghentikan langkah Hitler, hingga pecah Perang Dunia II pada September 1939.
Sumber : http://dunia.news.viva.co.id/news/read/876577-30-01-1933-adolf-hitler-jabat-kanselir-jerman

Pertama Kali Tentara AS Tewas Lawan al-Qaeda, Trump Sebut Heroik

Donald Trump
Donald Trump 

Seorang tentara Amerika Serikat (AS) tewas dan tiga lainnya terluka ketika melakukan serangan melawan kelompok militan al-Qaeda di Yaman selatan pada hari Minggu. Ini merupakan operasi pertama sekaligus korban pertama militer AS sejak resmi diperintah Presiden Donald Trump.
Meski satu tentaranya tewas, Presiden Trump menyebut operasi militer itu sukses. ”Amerika sedang sedih pagi ini dengan berita bahwa kehidupan anggota layanan militer yang heroik telah diambil dalam perjuangan kami melawan kejahatan terorisme Islamis radikal,” kata Trump dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Reuters, Senin (30/1/2017).
Pentagon mengatakan militer AS menewaskan 14 gerilyawan dalam serangan terhadap kelompok al- Qaeda di Yaman yang selama ini juga jadi target serangan drone AS. Versi petugas medis di tempat kejadian, sekitar 30 orang, termasuk 10 perempuan dan anak-anak, tewas.
Menurut Pentagon, dua dari tiga tentara AS terluka ketika sebuah pesawat militer Amerika dikirim untuk mengevakuasi pasukan komando yang sedang terluka. Tapi, pesawat itu ditembaki. ”Sengaja dihancurkan di tempat,” kata Pentagon dalam sebuah pernyataan.
Sementara itu, pihak al-Qaeda Yaman mengatakan, baku tembak terjadi Yakla, Provinsi al-Bayda. Pertempuran tersebut menewaskan seorang pemimpin senior al-Qaeda Yaman, Abdulraoof al-Dhahab, bersama dengan para militan lainnya.
Gadis delapan tahun, Anwar al-Awlaki—putri pengkhotbah Yaman kelahiran AS Anwar al-Awlaki—adalah salah satu dari anak-anak yang tewas dalam serangan AS. Ayah gadis itu tewas dalam serangan drone AS tahun 2011. Kakek korban, Nasser al-Awlaki mengecam serangan AS yang merenggut cucunya.
”Dia dihantam dengan peluru di lehernya dan menderita selama dua jam,” kata Nasser kepada Reuters. "Mengapa membunuh anak-anak, apakah ini adalah administrasi baru (AS)? Itu sangat menyedihkan, kejahatan besar,” kesal Nasser.
Sumber : http://international.sindonews.com/read/1175328/42/pertama-kali-tentara-as-tewas-lawan-al-qaeda-trump-sebut-heroik-1485740940

Israel-AS Berhasil Uji Sistem Anti-Rudal David’s Sling

Uji Sistem Anti-Rudal David’s Sling
Uji Sistem Anti-Rudal David’s Sling 

Amerika Serikat (AS) yang mencari sistem penangkal rudal jarak menengah menengok ke Israel untuk mencari solusi tepat guna dan minim pengembangan.
Baru-baru ini Missile Defense Agency dari Departemen Pertahanan AS dan Missile Defense Organization dari Israel bekerjasama dan berhasil menyelesaikan pentahapan uji coba operasional sistem penangkal rudal Kelah Da’vid alias David’s Sling (Ketapel Daud). Ini merupakan hasil kerja baru dua perusahaan produsen misil Rafael dan Raytheon.
Dalam uji coba kelima yang dilaksanakan di medan pengujian Yanat di pantai sebelah Selatan Tel-Aviv, rudal David’s Sling diluncurkan terhadap sejumlah sasaran. Sasaran tersebut disimulasikan sebagai rudal jelajah yang memiliki kemampuan untuk bermanuver dalam trayektorinya.
Pengujian ini hendak melihat kemampuan dan kinerja seluruh sistem mulai dari radar pencari dan pengarah, sampai rudal Stunner sebagai eksekutornya.
Cara kerja sistem David Sling adalah menggunakan MMR (Multi Mission Radar) untuk menjejak sasaran, dimana info vital dari sasaran yang datang akan dikirimkan ke BMC (Battle Management Centre). BMC akan menghitung solusi pencegatan dan titik optimum dimana rudal Stunner akan diluncurkan untuk mencegat rudal jelajah yang datang. Berdasarkan data tersebut, rudal Stunner akan diluncurkan dan mencari sasarannya secara otomatis, atau dengan dipandu MMR.
Sistem David’s Sling dikembangkan untuk menggantikan MIM-23 HAWK (Homing All the Way Killer) dan MIM-104 Patriot. Rudal Stunner yang menjadi unsur pemukul sistem ini memiliki kemampuan untuk mencegat sasaran pada jarak 40 km sampai 300 km dari titik peluncurannya.
David’s Sling didesain untuk mampu menghadang rudal jelajah generasi baru dari Blok Timur seperti Iskander yang memiliki sistem manuver untuk merubah trayektori di udara dan memiliki kemampuan untuk melontarkan sistem decoy untuk membingungkan radar.
Radar MMR pada David’s Sling mengandalkan radar AESA Elta EL/M-2084 yang telah digunakan secara meluas di berbagai platform, termasuk sistem Iron Dome yang dikembangkan terlebih dahulu.
Dengan kemampuannya berpindah frekuensi secara simultan, sistem ini cukup kebal terhadap upaya jamming. Kalaupun jamming berhasil dilakukan, sistem David’s Sling dapat dioperasikan dengan menggunakan sistem bidik elektro optik.
Rudal Stunner sendiri juga dibekali dengan sistem pemandu dan penjejak IR atau emisi infra merah sehingga dapat membedakan antara hululedak rudal asli yang suhunya lebih tinggi dibandingkan dengan decoy.
Sistem David’s Sling sendiri didesain untuk dapat operasional pada 2017, dimana AU Israel sudah mengoperasikan sistem ini sejak 2015 untuk diuji pada fase IOC (Initial Operational Capability). Amerika Serikat berencana mengadopsi sistem ini apabila pengujiannya memuaskan untuk menemani sistem THAAD yang mereka kembangkan sendiri. Aryo Nugroho
Sumber : http://angkasa.co.id/

India Luncurkan Program Upgrade Mandiri Hawk-i

Hawk-i India
Hawk-i India

Angkatan Udara India memiliki ratusan jet tempur garis depan seperti Mirage 2000, MiG-29, dan Su-30MKI. Untuk memastikan bahwa tersedia pilot yang memadai untuk mengawaki jet-jet tempur yang senantiasa siaga tersebut, AU dan AL India membeli ratusan jet latih lanjut British Aerospace Hawk Mk132 AJT (Advanced Jet Trainer), yang merupakan derivat dari pesawat latih BAe Hawk 100 yang juga digunakan oleh TNI AU.
AU India menggunakan 106 unit yang terdiri dari 24 unit yang didatangkan secara langsung dari Inggris pada 2004, 42 unit dirakit dari kit, dan 40 sisanya benar-benar dibuat secara lokal di pabrik HAL (Hindustan Aeronautics Limited). AL India sendiri memiliki 17 unit Hawk Mk132 yang juga dibuat oleh HAL.
Dengan armada pesawat latih lanjut yang seabrek tersebut, AU dan AL India boleh dikata sebagai pengguna terbesar keluarga Hawk di luar Inggris. Dengan pengalaman HAL yang tidak hanya merakit tetapi juga membuat sendiri komponen-komponennya, pabrikan milik pemerintah India tersebut jadi memiliki know how untuk memahami seluk-beluk Hawk Mk132.
Dilandasi dengan semangat berdikari dan lepas dari ketergantungan asing, pada hari Kamis, 26 Januari 2017 pabrikan tersebut melansir Hawk-i, yang merupakan program modernisasi dari Hawk Mk132. Dalam satu upacara roll out yang dihadiri pers dan petinggi pabrikan HAL, satu pesawat demonstrator Hawk-i ditunjukkan ke hadapan publik dan rencananya akan dipamerkan dalam pameran Aero-India 2017.
Dari luar, Hawk-i yang dilabur dengan warna biru glossy cerah ini tidak terlihat berbeda dengan varian Hawk132 biasa. Wajar, karena ternyata cakupan perubahan pada Hawk-i tersebut lebih kepada bagian dalam pesawat.
HAL mencangkokkan komputer misi dan sistem transfer data yang perangkat lunaknya dikembangkan oleh HAL sendiri. Komputer misi yang baru memiliki kemampuan DMG (Digital Map Generation) yang memungkinkan untuk menyajikan peta dalam berbagai moda tampilan sehingga meningkatkan kewaspadaan situasional. Hawk-i juga dilengkapi EVTS (Embedded Virtual Training System) yang bisa menyediakan simulasi pelatihan avionik kepada awaknya.
Perubahan lain yang dibenamkan ke dalam Hawk-i adalah sistem komunikasi radio digital terenkripsi plus sistem datalink. Gunanya mengenalkan pilot dan siswa latih kepada kemampuan bertempur dalam satu jaringan informasi besar pertempuran.
Perubahan yang paling terbesar adalah ditambahkannya sistem HMI (Human-Machine Interface) yang dapat diubah-ubah dan disesuaikan. Artinya, Hawk-i dapat menampilkan simulasi sistem di kokpit dan handling yang dibuat sedekat mungkin dengan pesawat tempur AU dan AL India yang akan diterbangkan siswa latih.
Nah, mengingat TNI AU mengoperasikan pesawat serupa (walaupun dalam fungsi tempur taktis/ serang ringan), bagaimana kalau diusulkan untuk melirik ke India untuk upgrade serupa ke Hawk Mk109? Apalagi sejak dibeli belum pernah kedengaran rencana peningkatan kemampuan Hawk Mk109. Aryo Nugroho
Sumber : http://angkasa.co.id/

Iron Dome, Sistem Proteksi Canggih Ruang Udara Singapura

Saat rudal Tamir berhasil mencegat serangan roket.
Saat rudal Tamir berhasil mencegat serangan roket.

Sebagai negara pulau dengan luas daratan hanya 716 km2, Singapura dikenal sebagai pemilik kekuatan militer termodern di kawasan Asia Tenggara. Dengan dukungan AS dan Israel, Singapura juga mendapat predikat sebagai negara dengan sistem pertahanan udara (hanud) terkuat. Secara teori, nyaris tiada ‘ruang’ untuk menerobos pertahanan udara Singapura. Apalagi doktrin pada hanud terminal Singapura bakal menangkal setiap potensi serangan udara sebelum memasuki teritori udara.
Hal tersebut bisa diyakini melihat dari komponen jet tempur terbaik di kawasan, seperti F-15SG Strike Eagle dan F-16 C/D Block 52 yang ditunjang pesawat tanker Boeing KC-135 dan KC-130B/H Hercules. Jika pun armada intercept masih kebobolan, dan ada risiko daratan Singapura bakal digempur artileri dari seberang lautan, itu pun sudah dipikirkan. Sejak tahun 2010 sudah ada pembicaraan antara Singapura dan Israel untuk memasok Iron Dome ke Negara Pulau tersebut. Padahal di 2010 Iron Dome masih dalam tahap dikembangkan.
Sejauh ini belum keterangan resmi penggunaan Iron Dome oleh militer Singapura, hanya saja dipastikan pada April 2016, Kementerian Pertahanan Republik Singapura telah menyebut membeli ELM-2084 Multi-Mission Radar (MMR) dari ELTA Systems. ELM-2084 tak lain adalah sistem radar yang digunakan pada sistem peluncur Iron Dome. Walau tak diumumkan ke publik, ada yang menyebut arhanud Singapura telah dilengkapi minimal satu baterai Iron Dome.
Sistem Iron Dome dikembangkan oleh manufaktur alutsista kampiun asal Israel, Rafael Advance Defence System. Iron Dome pertama digelar pada 27 Maret 2011 di Kota Bersheba, Israel Bagian Selatan. Hanya dalam hitungan minggu, Iron Dome berhasil pencegatan roket pertama yang diluncurkan dari kawasan Gaza, Palestina. Setahun sesudahnya, sistem ini berhasil mencegat 93 roket, dan saat ini sudah lima baterai Iron Dome yang dioperasikan, diantaranya melindungi Kota Sderot, Gush Dan dan Ashdod. Baterai kelima ditempatkan di Tel Aviv. Meski tiada sistem hanud yang sempurna, tingkat keberhasilan pencegatan Iron Dome sudah mencapai level 80 - 90%.
Iron Dome terdiri dari sistem rudal pencegat (C-RAM/Counter Rocket, Artillery, and Mortar) yang diberinama Tamir, sistem Battle Management & Control (BMC) , dan sistem radar pendeteksi atau counter battery radar. Berbeda dengan sistem hanud Pantsir-S1 dari Rusia yang memadukan komponen radar, rudal dan kanon dalam satu kesatuan, maka Iron Dome digelar dalam paket yang terpisah dan tidak bersifat mobile.
Sistem Tamir dikemas dalam kotak peluncur yang berkapasits 20 rudal. Mobilitas launcher ini dibawa dengan truk 6×6, namun untuk standby peluncur dipasang di atas dudukan mati. Sementara untuk sistem radar dirancang mampu mendeteksi sasaran mulai dari roket, artileri, bahkan sampai proyektil mortir 60 mm. Model pencegatan sasaran dilakukan dengan aman, yakni saat sasaran sedang berada pada lintasan terbangnya. Keharusan dari sistem Iron Dome yakni jaminan bahwa sisa serpihan rudal/roket yang berjatuhan tidak boleh melukai penduduk yang ada dibawahnya.
Sistem kerja Iron Dome dapat dibagi dalam tiga tahap, dimana radar akan mendeteksi ancaman yang datang dan perkiraan arah datangnya. Informasi tersebut kemudian diteruskan ke unit BMC yang akan menghitung lintasan dari target, mulai dari posisi luncur sampai titik perkiraan jatuh. Berdasarkan kalkulasi tersebut, sistem kemudian menyiapkan rudal Tamir untuk mencegat sasaran di koordinat yang tepat.
Untuk mengarahkan Tamir ke sasaran, sistem BMC akan memandu rudal kea rah lintasan pencegatan, sampai pada fase berikutnya sistem elektro optic pada rudal akan bekerja untuk mengenali sasaran dan meledakkan diri saat rudal sudah berada di dekat sasaran. Sampai disitu, apa yang disajikan Iron Dome masih terbilang ‘biasa’ untuk sistem rudal hanud, tapi Iron Dome dibekali kemampuan software dengan algoritma lansiran MPrest. Disini Iron Dome dapat menghitung probabilitas jatuhnya roket/rudal, apabila roket/rudal lawan bakal jatuh di wilayah tidak berpenghuni, maka Iron Dome tidak akan bereaksi. Sebaliknya begitu serangan mengancam area berpenduduk, Iron Dome akan bereaksi secara otomatis untuk meluncurkan Tamir.
Mengapa sampai ada pemilah-milahan pada sasaran? Jawabannya ternyata terkait fulus, harga rudal Tamir per unitnya terhitung mahal, mencapai US$50.000 - US$60.000. Sudah pasti Israel bakal rugi bandar jika rudal semahal ini diluncurkan untuk ‘meladeni’ rudal/roket yang bakal menghantam area kosong. Satu baterai (kompi) Iron Dome terdiri dari 3 - 4 peluncur rudal Tamir, satu unit BMC, dan radar penjejak ELM-2084. Satu baterai Iron Dome digadang untuk melindungi area seluas 12×12 km. Kabarnya untuk menggelar satu baterai (kompi) Iron Dome dibituhkan kocek sekitar US$50 juta.
Selain Israel dan Singapura, Iron Dome juga digunakan AS dan Azerbaijan, sementara negara-negara lain yang berpotensi mengakuisisi sistem rudal ini ada Korea Selatan dan India. (Gilang Perdana)
Spesifikasi Rudal Tamir :
  • Missile length: 3 m
  • Missile diameter: 0.16 m
  • Missile weight: 90 kg
  • Warhead weight: 11 kg
  • Warhead type: Fragmentation
  • Range of fire: 4 - 70 km
  • Speed: Mach 2.2
  • Altitude of fire: -

Sumber : http://www.indomiliter.com/

AS, Inggris dan Prancis Akan Simulasikan Konfrontasi Melawan Iran

Simulasikan Konfrontasi Melawan Iran
Simulasikan Konfrontasi Melawan Iran 

Angkatan laut Amerika Serikat (AS), Inggris dan Prancis berencana menggelar manuver besar-besaran di dekat pantai Bahrain. Militer ketiga negara itu ingin melakukan simulasi konfrontasi melawan Iran.
Latihan besar-besaran yang sedang dipersiapkan itu diberi nama “Unified Trident”. “Dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan bersama, meningkatkan kemampuan taktis dan memperkuat kemitraan dalam memastikan arus bebas perdagangan dan kebebasan navigasi,” klaim pihak Komando Pusat Angkatan Laut AS, seperti dikutip Times of Israel, semalam (27/1/2017).
Latihan besar-besaran ini bakal dijalani pasukan gabungan “Combined Task Force 50”. Latihan akan melibatkan kapal induk, kapal perusak dan fregat dari tiga negara.
Iran selama ini kerap telibat konfrontasi dengan kapal Angkatan Laut AS di Teluk Persia dan di sekitar Selat Hormuz. Salah satu kasus konfrontasi yang paling menonjol adalah ditangkapnya 10 pelaut Angkatan Laut AS pada Januari tahun lalu karena memasuki wilayah Iran secara ilegal.
Pada awal bulan ini sebuah kapal Angkatan Laut AS menembakkan tembakan peringatan tiga kali terhadap sekelompok kapal Iran yang mencoba mendekati dengan kecepatan tinggi di Selat Hormuz.
Saat itu, para pejabat pertahanan AS mengatakan kru kapal USS Mahan meminta empat kapal Korps Pengawal Revolusi Iran agar memperlambat kecepatan. Tapi, empat kapal itu justru terus mendekat dengan kecepatan tinggi. Hal itu membuat kapal USS Mahan meletuskan tembakan peringatan.
Selat Hormuz adalah jalur air sempit yang menghubungkan Teluk Persia ke Laut India. Jalur ini jadi lalu lintas seperlima pasokan minyak dunia.
Iran telah mengancam akan menutup Selat Hormuz di masa lalu ketika terlibat ketegangan dengan AS. Ancaman Iran itu sempat memicu gejolak di pasar minyak global.
Sumber : http://international.sindonews.com/read/1175045/42/as-inggris-dan-prancis-akan-simulasikan-konfrontasi-melawan-iran-1485599358

UEA Hancurkan Drone Buatan Iran di Yaman

AU UEA
AU UEA 

Angkatan udara Uni Emirat Arab (UEA) menembak jatuh sebuah pesawat tak berawak buatan Iran di Yaman. Demikian laporan kantor berita UEA, WAM, mengutip pernyataan seorang perwira militer Yaman.
UAE adalah anggota dari koalisi militer Teluk Arab yang dipimpin oleh Arab Saudi. Koalisi ini mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam perang hampir dua tahun dengan kelompok Houthi, sekutu Iran.
"Pasukan Yaman melihat persiapan untuk meluncurkan pesawat dari atas kendaraan dan berkoordinasi serta berkomunikasi dengan angkatan udara UEA yang beroperasi di Yaman, yang melakukan bagiannya dalam menangani pesawat, menghancurkannya dengan rudal dari darat ke udara," kata WAM dalam laporannya mengutip petugas mengatakan seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (28/1/2017).
Sementara itu Wakil Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Yaman, Mayor Jenderal Ahmed Saif al-Yafei menambahkan bahwa insiden itu terjadi di daerah sekitar pelabuhan Laut Merah al-Mokha. Wilayah itu adalah lokasi pertempuran hebat antara pasukan pemberontak Houthi dan pasukan Yaman yang didukung negara-negara Teluk.
Tidak ada reaksi atas tuduhan itu dari Iran atau kelompok Houthi. Houthi berulang kali membantah tuduhan negara-negara Teluk Arab yang menyatakan kelompok itu menjalankan agenda Teheran di Yaan atau telah dipersenjatai oleh Iran
Sumber : http://international.sindonews.com/read/1175097/44/uea-hancurkan-drone-buatan-iran-di-yaman-1485618784

Prajurit Yonranratfib-2 Mar Laksanakan Latihan Kesenjataan Ranpur LVT 7A-1

 Latihan Kesenjataan Ranpur LVT 7A-1
 Latihan Kesenjataan Ranpur LVT 7A-1 

Dispen Kormar (Jakarta). Dalam rangka mengasah dan menguji keterampilan serta penguasaan kesenjataan Korpas Marinir, Prajurit lapis baja Batalyon Kendaran Pendarat Amfibi-2 Marinir (Yonranratfib-2 Mar) melaksanakan Latihan Perorangan Kesenjataan (LPK) Triwulan l Tahun 2017, bertempat di garase ranpur Yon Ranratfib-2 Mar Cilandak Jakarta selatan, Jumat (27/01/2017).
Kegitan tersebut dipimpin Langsung oleh Komandan Batalyon Kendaran Pendarat Amfibi-2 Marinir (Danyon Ranratfib-2 Mar) Mayor Marinir La Ode Jimmy H Rachman.
Dalam kegiatan latihan ini diawali dengan pengenalan karakteristik senjata M85 12,7 MM dan Ranpur LVT 7A-1, Usai pengenalan dilanjutkan dengan praktek mengemudi LVT 7A-1 dan bongkar pasang Senjata M85 12,7 MM.
Sementara itu Danyon Ranratfib-2 Mar menyampaikan kepada Seluruh Prajurit Yon Ranratfib-2 Mar agar mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh dan memahami karakteristi tiap-tiap Ranpur dan Kesenjataanya agar seluruh prajurit dapat memahami dan mengerti tentang kesenjataan yang di awaki oleh Prajurit guna mendukung tugas- tugas di masa mendatang.
Sumber : http://www.marinir.tnial.mil.id/index.php

Pesawat Tempur Canggih MiG-35 Resmi Diluncurkan

Jet Tempur Multiperan MiG-35
Peluncuran Jet Tempur Multiperan MiG-35

Produsen pesawat terkenal dari Rusia, Mikoyan meluncurkan pesawat tempur terbaru MiG-35, di Moskow, 27 Januari 2017. Pesawat tempur multiperan generasi 4++ MiG-35 ini (NATO menyebutnya Fulcrum-F) merupakan pengembangan dari MiG-29M/M2 dan MiG-29K/KUB.
MiG-35 melakukan terbang demonstrasi, pada 27 Januari 2017. Komandan Pasukan Aerospace Rusia, Viktor Bondarev mengatakan bahwa MiG-35 memiliki karakteristik yang luar biasa, mampu menggempur target di darat dan udara, dan selanjutnya dapat digunakan dalam konflik seperti di Suriah.
Viktor Bondarev, mengutip sputnik, mengatakan bahwa pesawat tempur MiG-35 akan dilengkapi persenjataan laser. Pengamat militer Makar Aksenenko menyebut MiG-35 penting bagi Rusia, karena merupakan pesawat tempur yang hemat biaya dan canggih.
Bondarev juga mengatakan bahwa MiG-35 memiliki jangkauan terbang 3.500 km, tanpa mendarat. Kemampuan ini sesuai dengan kebutuhan Rusia. Komandan Aerospace Rusia ini mengatakan bahwa negaranya akan secepatnya memesan pesawat tempur ini setelah uji coba selesai dan saat diproduksi, Rusia akan menerima MiG-35.
MiG-35 menjadi pesawat tempur Rusia pertama yang menggunakan radar AESA. Radar MiG-35 dapat mendeteksi target di udara hingga radius 160 km dan target permukaan hingga radius 300 km. Pesawat tempur multiperan ini dapat melacak 30 target dan menembak enam target sekaligus.
Pesawat tempur MiG-35 mampu membawarudal udara ke udara R-73 (jarak dekat) dan R-77 (jarak menengah dan jauh). Rudal anti kapal permukaan Kh-31A, rudal anti radar Kh-31P, Rudal Kh-29TE, Kh-29L, dan bom presisi tinggi KAB-500Kr, KAB-500L. MiG-35 dilenkapi dengan sistem proteksi anti jamming ELT/568(V)2. Herru Sustiana
Sumber : TSM

Jet Tempur Multiperan MiG-35 Akan Bergabung dengan Armada Garis Depan Rusia

Jet Tempur Multiperan MiG-35
Jet Tempur Multiperan MiG-35 

Jet tempur multiperan MiG-35 memenuhi kebutuhan pertempuran udara modern, dan akan menjadi tambahan penting dalam armada garis depan armada Rusia, mantan Wakil Komandan Angkatan Udara Rusia Kolonel Jenderal Nikolai Antoshkin mengatakan kepada RIA.
“MiG-35 adalah jet tempur multifungsi untuk lini depan. Ia mengubah peta kekuatan jet tempur modern, dan saya yakin komandan menyadari betul hal itu,” ujar Antoshkin.
Ia menambahkan bahwa MiG-35 akan sangat diminati karena karakteristik taktis dan teknisnya yang unik, membuatnya lebih menonjol dibandingkan rekan-rekannya.
“Jet ini sangat dibutuhkan karena lebih ringan dibandingkan Su-27, Su-30, Su-34, dan Su-35, sehingga ia akan menjadi tambahan bagus untuk armada lini depan kita,” tambah Antoshkin, seraya menambahkan bahwa ia berharap dapat menerbangkan jet ini sendiri.
Presiden Rusia Vladimir Putin turut berharap kemampuan Angkatan Bersenjata Rusia dapat meningkat secara signifikan dengan hadirnya MiG-35.
Sebagai jet tempur generasi 4++ dengan sistem yang lebih canggih dibanding MiG-29, MiG-35 dilengkapi senapan 30 mm dan mampu membawa 1.500 rentetan amunisi. Ia mampu membawa hingga 7.000 kg muatan di 10 tiang eksternal. Ia juga dilengkapi misil udara-ke-udara, misil udara-ke-permukaan, serta sejumlah bom dan roket.
MiG-35 mampu melesat dengan kecepatan hingga 2.700 km/jam, jarak efektif 1.000 kilometer, dan service ceiling 17.500 meter.
Presiden United Aircraft Corporation (UAC) Yury Slyusar mengatakan hari Kamis (26/1) bahwa MiG-35 dapat dibeli mulai 2019 melalui program pengadaan senjata negara.
Sumber : https://sputniknews.com/russia/201701261050036409-russia-new-fighter/

27DD, Kapal Destroyer Jepang dengan Rasa Cruiser

27DD
27DD 

Destroyer bersistem Aegis sejatinya bukan hal baru bagi Jepang, persisnya dalam kurun 1993-1998 sebanyak empat kapal perusak kelas Kongo mulai memperkuat armada AL Jepang. Pada masa itu baru AS yang mengoperasikan kapal perang bersistem Aegis, sehingga pengoperasian oleh Jepang memiliki makna strategis.
Kehadiran JDS Kongo (DDG-173), JDS Kirishima (DDG-174), JDS Myoko (DDG-175) dan JDS Chokai (DDG-176) memberi sinyal tak terbantahkan bahwa Jepang merupakan sekutu utama AS di kawasan Pasifik.
Pada Juli 2015, harian Yomiuri Shimbun memberitakan bahwa pemerintah Jepang telah mengalokasikan dana untuk pembuatan dua kapal perusak baru bersistem Aegis dalam kurun 2015-2016. Sekilas tak ada yang terlalu istimewa dengan berita tersebut, lantaran masih sejalan dengan “2014 National Defense Program Guidelines” yang dirilis 2013.
Di situ disebutkan dalam satu dekade mendatang setidaknya ada dua kapal perang baru bersistem Aegis akan dibangun. Kehebohan merebak lantaran dalam pemberitaan itu disebutkan persenjataan apa saja yang akan melengkapi sepasang destroyer baru itu. Meski tidak dibeberkan rinci, toh mampu membuat banyak pengamat terhenyak.
Destroyer baru Jepang itu belum memiliki nama resmi, baru sebatas kode desainasi “27DD”, di mana DD adalah desainasi untuk destroyer, sementara 27 merupakan angka tahun era Heisei.
Rilis Kemenhan Jepang menyebut angka 8.200 ton sebagai bobot kosong 27DD. Meski tidak dirinci, para pengamat memperkirakan bobot tempur maksimum 27DD nangkring di kisaran 9.500-10.500 ton. Dengan bobot tempur itu, kita bisa melihat bahwa 27DD berada di atas Atago class, yang bobot maksimumnya sudah mendekati cruiser Ticonderoga class AL AS.
Persenjataan bawaan 27DD yang membuat banyak kalangan tertegun adalah high-caliber railgun dan laser point-defense system. Kedua tipe senjata itu konon akan mengubah paradigma dan peta peperangan laut di masa depan.
Sudah jadi rahasia umum kalau Jepang dikenal mumpuni mendesain dan mencipta perangkat elektronik berkemampuan tinggi namun dengan konsumsi daya listrik efisien. Seperti tertera dalam rilis Kemenhan Jepang, 27DD bakal ditenagai propulsi sistem COGLAG (Combined Gas Turbine Electric and Gas Turbine), berbeda dengan Kongo class dan Atago class yang bersistem propulsi COGAG (Combined Gas Turbine and Gas Turbine). Diyakini COGLAG akan mampu menyediakan daya lebih untuk memasok kapasitor bagi railgun.
Kapasitas peluru railgun jauh di atas meriam kapal perang konvensional. Ketiadaan mesiu membuat proyektil railgun lebih ringkas, sehingga jumlah amunisi yang bisa dibawa lebih banyak. Menengok perbandingan kapasitas amunisi meriam pada destroyer baru AL AS Zumwalt-class (1.500 rounds proyektil konvensional versus sekitar 10.000 rounds proyektil railgun), terbayang jumlah amunisi railgun bawaan 27DD. Karena Atago-class memboyong 680 rounds proyektil meriam Mk.45 5 inci (127mm), tak salah jika magasen 27DD diperkirakan bisa membawa sekitar 4.000-an rounds untuk railgun.
Selain railgun dan laser point-defense system, tentu saja 27DD dibekali rudal-rudal jarak jauh, baik untuk keperluan hanud maupun antikapal. Prinsipnya, persenjataan 27DD di luar kedua senjata revolusioner tadi hampir sama dengan Kongo-class dan Atago-class.
Yang paling penting, 27DD juga akan berkemampuan BMD (ballistic missile defense) dengan mengandalkan RIM-161 Standard Missile-3 (SM-3). Agresivitas Korea Utara dalam beberapa percobaan peluncuran rudal balistik jarak menengah-jauh membuat Jepang merasa harus terus memelihara dan meningkatkan kemampuan tangkalnya.
27DD akan melengkapi pertahanan berkemampuan BMD yang sudah dimiliki Kongo dan Atago, yang masih ditambah dengan lima unit Arleigh Burke–class AL AS yang dipangkalkan di Jepang. Antonius KK
Sumber : http://angkasa.co.id/

Radar Acak